Saturday, 30 November 2013

Katong Pulang Sudah (Jakarta part 2)


Katong Pulang sudah...
Ini adalah hari jumat, berarti sudah 3 hari kami di Jakarta. Pagi ini kami telah bersiap untuk kunjungan ke Kemendikbud, wajah berseri 5 anakku mengalihkan perutku yang keroncongan karena tak sempat sarapan pagi itu. Aku lega akhirnya mereka bisa membaur dengan teman—temannya, meskipun mereka masih banyak diam. Semoga diam mereka adalah proses mencerna dan belajar. Panitia membagi mereka menjadi 5 kelompok dan membagi bisnya. Beruntung pagi itu tidak macet, pelataran Kemendik menyambut langkah kecil ke 175an peserta KPCI kali itu. Ruangan besar di lantai 3 telah tertata rapi, setelah acara ceremonial selesai tiba saatnya mendengar penganugrahan piala untuk penulis cilik. Berkali aku membesarkan hati anakku, “meskipun kalian tidak ada yang berdiri diatas sana sebagai juara, tapi bagi ibu kalian semua adalah juara buktinya kalian su sampai disini to?,” kataku pada Tresia dan Fikram yang termangu menatap teman—temannya di depan menerima hadiah. Bukan hanya anakku saja yang ingin menerima gelar sebagai juara, pun peseerta lainnya. “Dong hebat ya ibu.” kata fikram
“kalau mau seperti mereka to, kamong harus rajin belajar menulis dan membaca buku.” timpalku. Membaca? Membaca keadaankah? Buku baca untuk anak—anak di tempat mereka masih sangat terbatas, toko bukupun belum ada. Perpustakaan daerah sangat sulit dijangkau karena jaraknya yang jauh. Terlebih untuk anak Pulau, untuk Fakfak dengan kondisi geografis yang unik itu membutuhkan perpustakaan apung sepertinya.
Acara telah usai, peserta putri makan siang sambil menunggu peserta putra solat jumat. Mereka mencari posisi ternyaman untuk makan, ada yang duduk di lantai, bersandar di tembok dan sebagaian di kursi yang tersedia. Aku menyapu lorong lantai 3 mencari dimana Tresia berada, aku menemukan dia duduk di dekat anak tangga. Wajahnya kuyu, seperti tidak bersemangat.
“sudah makan sayang?,” tanyaku sambil jongkok. Dia tak menjawab, hanya menggeleng ringan.
“kenapa? Kamu sakit kah?,” tanyaku lagi. Dia tak menjawab, aku buka kotak makannya. Utuh. Dia tak makan sepertinya. “kamu kenapa tara makan, kau pu perut sakit ka atau pusing?,” tanyaku ulang.
“ibu sa makan macam tara enak, sa pusing makan makanan begini.” jawabnya
“baru kamu tara makan apa– apa, nanti kau pu perut sakit bagaimana?,” balasku.
“Ibu, kapan katong pulang. Katong mau makan keladi.” tambahnya pelan.
Deg, serasa senyap disekitar. Aku tak membayangkan bagaimana rasa rindunya pada keladi. Aku memeluknya, “kamu mau makan keladi? Tapi disini tarada keladi sayang. Makan nasi kosong sudah, sedikit saja. Sebentar kita cari jajan yang kau mau” balasku. Ternyata pagi tadi dia tak makan juga, pantas sepanjang kegiatan ia tak semangat seperti hari sebelumnya. Aku membantunya membereskan makan yang tak dimakan. Aku minta dia masuk ke ruangan bergabung dengan teman—teman kelompoknya. Aku bertanya apakah panitia menyediakan keladi atau kasbi (Singkong) karena Tresia tidak mau makan dari pagi. Well, untung panitia begitu tanggap, tak lama ada yang pergi membelikan ubi dan singkong goreng.
Di satu sisi, keempat anak lelaki itu makan dengan lahab. Tapi banyak lauk yang tak dimakan, mereka bilang itu tidak cukup enak di perut mereka. Maksi makan kue bolu berwarna pink muda itu banyak—banyak. Dia suka nampaknya. Mbak dini, salah satu panitia terlihat senang ketika melihat Maksi makan banyak tidak seperti Tresia tadi. Ketika panitia yang membeli singkong goreng itu datang aku memanggil Tresia, binar wajah Tresia berganti saat melihat singkong goreng di plastik. Ia makan banyak—banyak. Lega, saat senyum Tresia mengembang lagi siang itu.
Karena terlalu banyak, Tresia menyimpannya untuk dimakan sore nanti. Kami kembali ke ruangan. Tak lama setelah makan siang, kami bersiap untuk melanjutkan kegiatan yang ditunggu—tunggu oleh hampir seluruh peserta yaitu ke ‘Kidzania’ . Sebagaian peserta yang datang dari jakarta dan sekitarnya sudah pada tahu tempat apa kidzania itu, tapi tidak untuk 5 anakku. Setelah turun dari bis, semua menghambur ke bangunan penuh lampu itu. Anak—anak menaiki eskalator. Kali itu aku tidak lagi khawatir karena mereka sudah aku training naik eskalator kemarin di bandara Makasar. Setelah masuk di kidzania, wajah semua peserta berubah. Yang tadi sedih menjadi riang, yang sakitpun sembuh instant. Lalu 5 anakku wajahnya sumringah, tak bisa menggambarkan betapa senangnya mereka. Aku membiarkan mereka memilih menu permainan yang mereka suka, Sulthon yang bergabung dengan teman—teman kelompoknya belajar membuat silverqueen, tango dan menikmati menu belajar lainnya. Tresia dengan Novi anak Rote menikmati Modeling Schoolnya Gatsby dan belajar berjalan diatas cat walk. Maksi, Mai dan Fikram mencoba menjadi supir taksi, ikut balap mobil, membuat SIM dan mereka menikmatinnya. Ah, semoga keceriaan mereka bertahan sampai di Fakfak nanti. Mereka mengumpulkan uang yang mereka dapatkan, mereka membelanjakan uangnya di kedai—kedai yang tersedia. Mereka senang bukan main.
Jam tangan Q & Qku menunjukkan pukul 17.30 WIB waktunya kembali ke hotel. Kami menuruni eskalator menuju lobbi depan. Seperti biasa suguhan jakarta dengan macet yang cukup tidak wajar, kami terpaksa harus menunggu bis cukup lama. Wajah ceria yang tadi mereka punya seketika berubah. Aku kembali mengalihkan bosan mereka dengan meminta mereka bercerita menu permainan apa yang sudah mereka coba barusan. Mentah. Mungkin mereka lelah. Kami menikmati 20 menit masa menunggu bis keluar dari parkiran. Berdiri disampingku Maksi dan Tresia, sedangkan yang lain mencari posisi nyamannya. “Ibu, baru katong besok pi mana?,” tanya maksi mengawali.
“Besok kamong jalan—jalan dulu to? Ke Monas, toko buku cari oleh—oleh apa?,” jawabku sambil menundukkan kepalaku demi melihat matanya yang lelah. Dia menaikkan dagu sambil tersenyum datar, senyum yang ia berikan saat lelah dan tidak suka. “baru kapan katong pulang?,” tambahnya.
“Nanti kalau su dapat tiket, sebentar ibu beli tiket dulu.” aku menepuk bahunya.
“Ibu, katong pulang sudah...,” balasnya membuat aku mengernyitkan dahi.
“Maksi, kenapa pengen pulang. Kita belum jalan—jalan lagi.” tambahku. Tresia hanya menjadi pendengar kali itu. “katong su rindu pinang, ibu.” jawabnya jujur. Tresia tertawa kecil, aku menggeleng sambil menghela nafas. Aku tatap mata Maksi dalam, aku mengusap kepalanya berkali.
“Kau, masih bisa tahan tara makan pinang sampai hari senin ka?,” tanyaku, dia tak menjawab ekspresinya sama mengangkat dagu sambil menyunggingkan senyum datarnya.
“disini tarada yang jual pinang lai, bagaimana kalau kau makan gula—gula saja.”tawarku mencari solusi. “Gula—gula tara enak ibu.”timpalnya. Sedangkan Tresia terkekeh saat mendengar pengakuan Maksi tentang Pinang. Aku tidak bisa melarangnya untuk tidak rindu dengan pinang, tapi kali ini aku kehabisan akal bagaimana mencari pinang di Jakarta? Aku merangkulnya.
“Sabar yah, kalau kau su sampai Fakfak kau bisa makan pinang banyak—banyak.” tambahku tak mengobati rindunya. Maafkan ibu nak, tidak menyiapkan apa yang biasa dekat dengan kalian. Batinku sepanjang jalan menuju ke hotel. Mungkin saja kalian rindu dengan mama dan bapak.
Karena ini adalah kali pertama untuk Tresia, Maksi, Sulthon dan Fikram pergi lama dan jauh dari keluarganya. Tapi ibu sudah berusaha menjadi orangtua kalian meskipun tidak sehebat mereka. Ah, aku menitikkan luh juga akhirnya. Aku tak bisa memaksakan anak—anak itu betah di Jakarta dengan kerinduannya pada keladi, pinang yang sesungguhnya itu hanya secuil dari kerinduan mereka pada keluarganya. Macet senja itu terbungkus dengan keharuan mendengar pengakuan rindu dari Tresia dan Maksi. Malam itu juga aku berjanji akan mencari tiket untuk pulang ke Fakfak, mencari penerbangan tercepat dengan budget yang kami punya. Sabar nak, kau hebat pasti bisa menahan rindu sedikit lebih lama dari teman—teman kalian lainnya. Senyum kelima anak hebat itu bermain di langit—langit bis yang aku tumpangi. Gemerlap lampu kota bisu menina bobokan seisi bis yang nampak lelah. Esok akan ada kisah baru bersama mereka... Percayalah :)



Katong Pi Jakarta (Jakarta Part 1)


Ini adalah hari ketiga petualangan mereka di Jakarta. Mengenalkan mereka pada ibu kota negara yang sering diagung—agungkan orang kampung. Baiklah aku akan menceritakan asal muasal kenapa aku dan 5 anak hebat ini ipi kompetisi sesungguhnya. Bahkan sebelumnya mereka tak pernah mengikuti lomba sejenisnya, tapi keberuntungan memihak mereka sehingga keluarlah nama—nama mereka di daftar peserta KPCI. Yah namanya Konferensi Penulis Cilik Indonesia. Tidak mudah untuk bisa sampai di Jakarta, setelah ribet dengan urusan birokrasi dan minimnya dana yang ada menjadikan tantangan apakah mereka berlima bisa hadir di acara tersebut. Aku yakin, Allah akan memberikan jalanNya. Sempurna, ada jalan yang tak disangka. Padahal itu sudah di lobbi juga. Senin sore setelah fix mendapat tiket untuk terbang aku dan salah seorang temanku. Sebut saja Mike nama sesungguhnya, memutuskan untuk naik kampung. Tidak dengan kendaraan umum yang biasa kami pakai untuk ke kota pastinya, karena sudah tidak ada taksi yang jalan di tengah sore menjelang petang begini. Meminjam motor, begitulah jawabnya. Menghitung kilometer yang panjang, 2 jam bersama gelap hutan dan dingin yang menusuk. Sorot jupiter MX itulah yang menjadi penerang sepanjang jalan. Suara jangkrik dan binatang malam menambah sempurna suasana hutan malam itu. Lelah beradu bersama kantuk, kalau tidak sedang dijalan mungkin aku sudah jalan—jalan bersama mimpiku. Ah, aku harus menahannya demi esok pagi. Diujung mata memandang binar lampu kampung Pikpik memancar, memberikan jawaban jika sebentar lagi aku bisa rebahan atau sekedar bersandar. Rumah kepala sekolah SD si Mike menjadi persinggahan pertama dan berlanjut ke rumah hostfam’nya. Setelah merampungkan urusan dengan orangtua murid yang akan ikut berangkat, akhirnya aku bisa benar—benar rebahan di kamar penuh ilmu pengetahuan. Hahhaha, aku suka geli jika menyebut kamar itu. Mike memberi nama kamarnya demikian karena dikamarnya ramai dengan buku—buku. Well, itu tak penting karena esok hari aku harus melanjutkan perjalananku ke kampungku yang kira—kira satu jam dari kampung ini.

sampai di Jakarta. Ajang menulis bergengsi yang diadakan Kemendikbud dan Mizan telah membuka kesempatan bagi anak—anak Fakfak untuk mencic
19 November, aku telah berada di kampungku sekarang. Setelah menyampaikan beberapa hal pada orangtua Sulthon dan Fikram aku kembali lagi ke kota dengan jupiter MX itu lagi. Entah bagaimana ceritanya, Mike lupa ngisi bensin sehingga menyebabkan aku deg—degan setengah mati takut kehabisan bensin ditengah jalan. Ga siap aja dorong motor sampai di kota. Hahhaha, benar saja demi mengurangi resiko ngedorong motor maka setiap jalan turunan kami matikan mesin hahhaha ini demi ngirit. Finally, kami sampai di kota dengan selamat tanpa ngedorong motor. Bagaimana rasa tubuhku saat itu? Akupun tak bisa menceritakan. Kantuk, lelah dan begitu banyak pending matters yang harus diselesaikan ditambah kami langsung ada rapat dengan dinas siang itu. Jika boleh memilih, aku ingin tidur sesiangan. Tapi lagi—lagi demi esok pagi aku harus keluar dari pilihanku dan mengerjakan hal yang semestinya aku kerjakan demi esok pagi.
Malam tidak membiarkan aku tidur lebih cepat karena beberapa hal yang harus aku siapkan. Baik aku akan kenalkan siapa saja yang akan ikut serta dalam petualangan kali itu ada Sulthon yang luar biasa unik, Fikram. Mereka berdua ini dari Sdku. Ada Maksi yang sering dipanggil maksimal, juga Tresia yang paling cantik diantara mereka berlima. Mereka berdua dari SD Mike. Terakhir yang paling cool diantara yang lain adalah si Saharudin, nama beken dikampungnya Mai. Dia dari SD si Fajri. Dan aku sendiri adalah orang yang paling ayu dan ngangenin di antara 6 temanku, hahhaha jangan percaya yah kalu belum ketemu aku.
Nokiaku berbunyi berkali menunjukkan pukul 4, berarti tidurku harus disudahi. Aku membangunkan mereka berlima dan meminta mereka untuk bergegas mandi. Jam 5.30 kami menuju bandara, masih senyap. Ruas—ruas jalan masih kosong, udara pagi itu menusuk pelan.
“ah, aku masih belum percaya jika hari ini anak-anak ini akan berangkat ke Jakarta. Meskipun si Mai sudah pernah mengikuti ajang menulis di bulan kemarin.” batinku sambil menguliti senyum renyah anak –anak dalam taksi. Apron Torea itu sudah penuh dengan orang, karena Wings Air menuju Sorong sudah nangkring di atas lapangan landas. Kami harus melakukan perjalanan jauh  lewat Sorong, pindah pesawat transit Makasar  barulah sampai Jakarta. Ini semua karena tiket Fakfak—Jakarta habis, tak seperti biasanya bukan? Berkali aku sudah mengingatkan anak—anak untuk saling menjaga dan membantu dengan begitu mereka telah menolongku. Ini adalah kali pertama aku melakukan perjalanan jauh dengan 5 anak sekaligus.
Binar mata anak—anak mengatakan betapa mereka bahagia saat menaiki anak tangga Wings air menuju badan pesawat. Perjalanan satu jam menuju Sorong telah habis, doaku saat itu tak banyak mereka mendengar apa kataku dan tidak mabuk perjalanan. Matahari Domine pagi itu sedikit terik, asap rokok mengepul ringan di lorong kedatangan. Setelah mengambil barang—barang kami menyusuri aspalan menuju tempat pemberangkatan.
“Ibu, katong naik pesawat lai jam berapa?,” tanya Maksi
“Jam 11, jadi kita harus nunggu dulu yah.” jawabku sambil mengusap rambut keritingnya.
“ Oh mamae, katong harus menunggu lama begitu Ibu. Sekarang saja baru jam 7.30.” tukas Sulthon.
Benar, kami harus menunggu 3,5 jam ini bukan waktu yang sebentar. Semoga mereka tidak bosan, doa tambahanku. Setelah sarapan soto di kantin bandara, kami hanya duduk—duduk di depan bangku ticketing. Gesture mereka mengatakan ‘bosan’ ditambah terik yang menghardik pagi itu.
“sabar ya nak, sebentar lagi kita bisa check in dan kalian tidak akan kepanasan lagi kalu su di dalam” kataku mencoba menyabarkan mereka. Padahal aku paling tidak sabar menunggu juga, tapi kali itu aku harus memakai topeng untuk menutupi ketidaksabaranku didepan anak—anak.
“Brruuuuk...” suara koper milik Sultho jatuh bersama orangnya. Aku beranjak dari dudukku dan menghampiri dia yang meringis kesakitan.
“Nah, kau tara dengar apa kata ibu to. Jadi syukur kau jatuh...’ kata Fikram ketika melihat sulthon jatuh. “usssst.....” aku memalingkan wajahku pada Fikram dan 3 anak yang lain agar berhenti mengejek. Dari 10 menit yang lalu Sulthon sibuk dengan kopernya, ia duduk diatasnya dan didorong-dorong macam mobilan. Akhirnya ia jatuh.
 ................ bersambung

Wednesday, 30 October 2013

Nenek Koyar Tara Kosong'e....

Matahari terik diluar sana, aku baru menyelesaikan satu SK—Kd tentang KPK bersama anak—anak hari ini. Senang karena hari ini anak—anak telah merampungkan tugas dengan baik. sebagai hadiahnya, aku membacakan cerita berjudul ‘Monster Mata’ ini adalah salah satu cerita kesukaan anak—anak di kelas. Ada beberapa dari mereka yang hafal alur dan dialog ceritanya. Saat sedang asyik membaca cerita, pintu kelas di ketuk berkali-kali. Bukan ketukan indah untuk didengar, aku membukanya. Wanita bertubuh besar, berhidung mancung itu tegap berdiri di depan kelas. Aku memanggilnya Nenek Koyar. Aku sambut dengan senyuman terbaikku, tapi tak mendapatkan balasan.
“Iya nenek, ada apa? mau ada perlu ka deng Mega?,” aku menebak mungkin saja si Nenek mau panggil cucunya. Disini masih sering terjadi orang tua memanggil anaknya untuk disuruh sekalipun jam belajar. Wanita berkepala 5 ini masih diam tak bergeming, ia menata ulang pinang yang ada dimulutnya. “ tarada, sa ada perlu deng ibu.” jawabnya tegas. Aku mengangguk pelan
“Kasih kembali kunci perpustakaan, dong belum bayar sa pu uang batu. Kemarin Bapak ada angkat kunci dan kasih deng ibu to? Kalau ibu mu pi buka, bayar sa pu uang dolo,” kalimat pertama dan dilanjut dengan kalimat makian yang luar biasa keras sehingga membuat anak—anak dikelas ketakutan.
“cukimayu’o... Kambing...” ini adalah salah satu makian yang lumrah. Aku mencoba untuk tenang dan mencerna semua yang disampaikan.
“Nek, sa tara bawa kunci hari ini. sa janji sa tara buka perpustakaan sampai urusan selesai. Jadi nenek tara usah khawatir.” jawabku sedatar mungkin.
“kalau sampai sa liat ibu ada buka perpustakaan, sa palang itu pintu atau sa kasih bakar sekalian.” aku tak lagi menimpali ucapan si nenek. Nenek itu pergi sambil terus memaki, aku tetap berdiri demi melihat si Nenek hilang dari halaman sekolah. Anak –anak berhambur mendekatiku
“Ibu, tara papa to. Aduh ibu’e sa takut setengah mati.” kata Ona dan di sambung anak—anak yang lain. Mereka mengusulkan kalau ada seperti itu lagi, lebih baik Ibu pi sembunyi sudah. Mereka selalu saja menawar emosi yang sedang bergelayut di atap hatiku. Perpustakaan itu masih jadi sengketa sejak kedatanganku, padahal bangunannya sudah gagah berdiri tinggal disini buku dan anak –anak bisa menikmati. Hanya karena masalah uang batu yang tak kunjung dibayar menyebabkan perpustakaan ini dipalang berbulan—bulan. Hari ini nenek Koyar memintaku untuk membayarnya. Membayarnya? Mana mungkin ini bukan kewajibanku, meskipun aku harus melihat gurat sedih diwajah anak—anak saat aku menyatakan ‘kita tidak akan membuka perpustakaan sampai urusan selesai’. Tak seharusnya anak—anak tahu masalah uang batu itu bukan? Tapi apa boleh buat Nenek Koyar telah membuat seluruh penduduk sekolah tahu akan hal ini.

Sejak hari itu aku semakin tidak akrab dengan beliau, aku sudah mencoba membuka diri untuk menyapa atau sekedar melempar senyuman tapi nenek memberikan wajah flatnya. Aku pikir ini akan berjalan sampai akhir penugasanku disini, ini bukan hal yang aku inginkan tentunya. Masalah uang batu itu terkubur berlahan, aku tidak pusing dengan perpustakaan toh anak—anak bisa baca buku di kelas.
Hari ini 28 Oktober 2013, aku dan anak –anak sedang menyiapkan diri untuk ikut kegiatan “pesta siaga’ di Fakfak. Beberapa persiapan telah matang dan tinggal pemantapan untuk tarian sebagai hiburan di opening ceremony. Kami mendapat kesempatan untuk menampilkan tarian Timor dan lakadinding untuk OC. Dari kemarin beberapa orang tua murid sibuk mencarikan seragam baru, perlengkapan pramuka baru dan segala hal. Ini poin positif yang mendukung kelancaran kegiatan bukan? Sore lepas asar segerombolan mace—mace datang kerumah menyebabkan aku dan Mama piaraku bingung. Ada apa gerangan mace—mace ini datang? Ekspresinya tidak begitu santai jadi aku enggan mengira—ira. Nenek Koyar memimpin mace—mace duduk di depan teras. Tanpa harus dipancing, mace—mace ini mengutarakan maksudnya. Luar biasa mulia maksud kedatangan mace –mace ini. “ Jadi ibu, tara usah khawatir deng ongkos taksi. Katong pi sana mau bantu ibu awasi dong. Katong tara bisa bayangkan, ibu sibuk urus makan dong, kegiatan dong. Jadi ibu urus kegiatan supaya katong bisa masak untuk dong.” tegas Nenek Koyar.
Kalian tahu bagaimana rasaku saat nenek Koyar mengutarakan hal itu? Aku senang bukan kepalang bukan karena esok ada yang bantu pas di fakfak tapi lebih karena kekakuan yang terjadi beberapa minggu terakhir karena uang batu itu akan hilang. Aku mengiyakan dan berkali aku mengucapkan terimakasih karena kesediaan mace—mace untuk membantu aku dan anak –anak.
Sempurna, hari rabu 29 Oktober 2013. Mace—mace telah bersiap di depan rumah, beberapa mereka ada yang membawa tagas—tagas (Sayuran yang terdiri dari daun singkong, pepaya&kangkung) ada yang menyumbang beras satu kresek, membawa ikan segar. Aku begitu terharu saat mace—mace itu mengumpulkan sumbangan bahan makanan. Tuhan, ini tak pernah ada dalam bayanganku sebelumnya. Well, setelah persiapan mantap kami naik taksi biru milik Pakde yang sudah menunggu sejam yang lalu. Kami memilih untuk berangkat lebih pagi demi menghindari hujan diperjalanan, karena beberapa ruas jalan sedang di bongkar yang mengakibatkan kami harus lewat jalur darurat yah sedikit mengerikan karena berlumpur. Nenek koyar memang punya power lebih diantara mace—mace yang ada disini, idenya selalu diterima oleh Mace- mace. Tak kusangka memang Nenek Koyar punya sesuatu yang berbeda. "Memang nenek Koyar tra kosonge..."

Tuesday, 15 October 2013

Pak Bakrie

 Karena sebuah pertemuan selalu memberikan kesempatan untuk belajar.
Hari ini,12 Oktober 2013. aku belajar dari sosok luar biasa pak Bakrie, yah begitu orang akrab memanggil lelaki berusia lanjut itu. Senyumnya mengembang pelan saat beberapa kali orang menyapanya. Pertemuan yang tak direncanakan, begitu kataku. Setelah lelah menunggu kedatangan pejabat teras yang mau silaturahmi dengan guru—guru se distrik akhirnya berbuah makna yang luar biasa. Bukan hanya aku yang merasakan sepertinya, tetapi juga peserta lainnya. Tentu bukan karena isi arahan dari pejabat nomor wahid di kabupaten ini, atau karena janjinya yang akan membangunkan rumah dinas untuk guru—guru serta tenaga medis. Lebih karena kehadiran pak Bakri di ruangan itu, yah tidak ada yang sia—sia batinku. Lalu pak Bahar, kepala SMP N 1 Kokas mulai menceritakan perjuangan pak Bakri. Tuhan... Aku tak bisa menahan luhku mengalir saat sosok bersahaja itu mengusap luhnya.
“Pak Bakri mengabdi disini su 30 tahun, dorang tara pernah mengeluh malah dorang tara mau katong suruh istirahat. Dorang bilang, sa tara mau makan gaji buta. Baru kitorang yang muda—muda malah malas—malas pi ngajar.”
Deg, aku merasa tertampar dengan kata—kata pak Bahar barusan. Semoga tamparan itu juga dirasakan guru—guru yang duduk mematung di sampingku. Dia benar dan sangat benar, sesekali pak Bakrie lelaki yang rambutnya telah berganti warna itu menyeka matanya dengan shall yang mengantung dilehernya. Kemudian pertemuan itu berlalu. Setelah ditutup aku tak sabar berkenalan dengan pak bakri, demi menyembunyikan rasa haruku aku menyeka mataku berkali—kali dan menarik nafas panjang. Itu tak mudah dilakukan, apa lagi untuk orang sensitif seperti aku.
“Assalamu’alaikum Bapak,” aku menjabat erat tangannya yang oenuh keriput. Beliau membalas lirih, lalu obrolan ringan mengalir deras, sederas kekagumanku pada sosoknya.
“Dulu waktu bapak sampai disini, Kokas belum ramai dan maju seperti ini. Masih sepi.” Hah? Masih sepi? Bukankah sekarangpun masih sepi. Telisikku. Lalu pak bakri menceritakan perjuangan mengajarnya yang luar biasa.
“Dari tahun 85 sa su mengajar Matematika disini, dan baru tahun 2004 kemarin ada yang membantu sa mengajar. “


Yah, beliau inilah guru matematika satu –satunya dari tahun ketahun. Dulu boleh saja, beliau mengajar beberapa kelas tapi hari ini tidak memungkinkan lagi. Tongkat kaki segitiga itulah yang membantu langkahnya lebih cepat, usianya sudah berkepala 7. semangatnya masih seperti kepala 3. luar biasa...
“Baru, bapak pu rumah dimana ka?,”
“Selebes.” jawabnya singkat. Selebes? Bukankah itu kampung dibelakang bukit ini, yang jalannya belum dibangun sampai hari ini? Kampung yang hanya bisa diakses dengan berjalan kaki kalau hujan turun, dan bisa ditempuh dengan sepeda motor tertentu saja.
“Jauh ya pak, baru bapak kalau pi sekolah deng apa?,”
“Sa jalan saja, ibu.”  Ah tidak, aku tidak bisa membayangkan Pak bakri berjalan dengan tongkatnya menyusuri bukit terjal berbatu itu. Aku terdiam, tergugu lama membayangkan perjuangan pak Bakri. Mataku mulai basah. Tatapanku jatuh saat pak bakri menyeka luhnya juga. Aku muda, ditempatkan di Sd yang mudah dijangkau dengan segala kendaraan, tidak harus mendaki bukit yang terjal tapi kadang aku masih sering mengeluh. Tidak pantas sekali bukan?
“Terimakasih ibu, su mau datang mengajar disini.”
Tidak pak, jangan mengatakan itu. Saya belum melakukan apa –apa pak.
“Iya pak, doakan saya bisa menjadi seperti bapak.”
“Saya yakin ibu pasti bisa lebih baik dari saya., ibu masih muda dan punya semangat jadi bisa melakukan yang lebih dari saya yang su tua ini”
Amin, begitu balasku. Saat itu aku tak bisa menyembunyikan luhku. Aku tak bisa melanjutkan obrolan itu dalam kondisi haru begitu pikirku. Pun aku tak mau guru—guru lain bertanya kenapa aku menangis.
“Bapak, terimakasih banyak. Saya pamit dulu. Semoga ada kesempatan untuk silaturahmi lagi.”
“InsyaAllah ibu, ada.”
“Sekali lagi, terimakasih saya belajar banyak dari ini dari bapak.” Aku kembali menjabat tangan beliau dan berlalu pergi. Beliau beranjak dari kursi biru demi melihatku enyah dari halaman SMP N 1 Kokas. Aku kembali melempar pandanganpada lelaki berkopiah hitam putih, berbaju pramuka dan bercelana coklat muda itu. Tatapannya bersahabat dan senyumnya bersahaja. Ia melambaikan tangannya padaku dan aku balas pelan sambil setengah berlari.
Sepanjang jalan aku sibuk menyeka airmata, dan menata hati untuk menerima makna luar biasa yang diberikan pak bakri hari ini. Guru sepanjang masa, begitulah orang menyebutnya.
Tuhanku Yang Maha baik, akan memberikan balasan bagi siapapun yang melaksanakan kewajibannya dengan penuh tanggungjawab dan penuh ketulusan. Seperti pak bakri yang mengabdikan dirinya tanpa pamrih. Bersama hari ini, kututup bersama senyum senja yang indah merekah, berduyun burung—burung hitam itu terbang mencari sangkarnya. Merekapun membawa cerita tentang hari ini untuk dikisahkan pada induknya.... Indah !

Monday, 14 October 2013

KPK bukan (Kelipatan Persekutuan Kecil)

Minggu ini materi yang ada di kelas Matematika adalah KPK. Tidak terlalu sulit bagi mereka memahami penjelasan dan contoh yang aku berikan. Dari 14 siswa dikelas mungkin tinggal 4 orang saja yang butuh kerja ekstra (Tendi, Majid, Binti dan Halimah) sedangkan yang lain sudah cukup mandiri untuk dilepaskan sendiri.  Butuh waktu lebih untuk keempat anak unik ini. Selain itu mereka juga sedikit terlambat dalam membaca, menyiapkan cerita yang menarik untuk mereka adalah cara memancing minat bacanya.
Minggu—minggu ini anak di kampung memang banyak di sibukkan dengan benda yang bernama Pala. Materi KPK yang seharusnya adalah singkatan dari Kelipatan persekutuan kecil berubah menjadi Katong Pi Kebon. Sudah 4 hari ini Kifil, tidak naik sekolah, berkali aku pesan pada anak—anak yang lain mereka bilang Kifil ada sibuk di Kebon. Hingga aku datangi Kifil kerumahnya, demi memastikan dia baik—baik saja. Yah sekalian silaturahmi. Nihil. Yup, rumahnya kosong melompong. Keesokan harinya aku datangi lagi pagi –pagi berharap keluarga Kifil belum berangkat ke kebun pagi itu. Tapi hasilnya nihil lagi.  “Ibu, dong menginap di rumah kebon. Sebentar sore baru turun.” kata Mama tua. “Terimakasih mama tua.” tukasku.
Satu lagi anak hebat di kelasku yang sudah 8 hari absen, dialah Binti. Rumah binti memang tergolong paling jauh diantara rumah murid—muridku yang lain. Membutuhkan waktu hampir 15-20 menit untuk jalan kaki, setahuku dia anak yang rajin dan berkemauan keras. Beberapa kali aku mencari dia, tapi belum menemukan hasil juga. Malam itu, di pasar malam yang ada di distrik aku bertemu dengan dia. Aku tidak langsung menanyakan kenapa dia absen seminggu terakhir ini, aku hanya menanyakan kabar dan bilang besok Ibu datang ke rumah ya. Dia bilang, jangan karena keluarganya mau pi kebon pagi-pagi. Pun dia. Hari ini aku menunggu waktu yang pas untuk bisa bersilaturahmi dengan orangtua kedua anak hebat ini (Kifil dan Binti) dan bilang "Kamong pi Ke sekolah lai... Ibu su rindu deng kamong"
 Bagaimanapun mereka, aku berjanji akan tetap memberikan senyum terbaikku dibalik kegetiran. Memberikan tanganku untuk meraih mereka dan menyiapkan mata untuk tetap menjaga mereka. Aku percaya mereka akan bersinar dan masa depannya lebih mudah dari soal - soal Matematika yang sering mereka hadapi.

Kampung baru, 9/10/13

Seindah Kata Maaf Mereka

Rabu, 9 Oktober 2013.
Hari ini aku jadwal mengajar di SMA, kelas X A. Semua berjalan normal, 30 menit sebelum pelajaran usai beberapa anak kelas 3,4 dan 5 datang ke SMA. Mereka mengendap—endap di depan pintu, berjalan mondar mandir di halaman dan di kebun belakang sekolah masih dengan seragam putih merahnya. “ibu, ibu liat itu pasukan SD datang. Dong mau perang apa?,” celetuk Usman yang dari tadi mengamati mereka  mondar—mandir dihalaman sekolah.
“Mungkin mereka mau jemput ibu.” jawabku sambil menutup pintu.
Hari ini sebelum aku mengajar di SMA aku telah merampungkan KBM di SD, namun tidak sehangat biasanya. Aku hanya mengucapkan salam dan berlalu pergi, itu memang salah besar.  Ini cara terakhir yang aku lakukan untuk menghadapi mereka. Mereka adalah anak yang unik. Menghadapi merekapun harus dengan cara unik. Hari ini aku merangkap 3 kelas, tidak kondusif. Ya, saat aku mencoba memberikan materi ke kelas 3, kelas lain berhambur keluar main perang-perangan, jajan, panjat pohon pala di belakang sekolahan. Sebagaian bermain karet. Energi mereka begitu luarbiasa terkadang aku tak sanggup mengikuti alur yang mereka berikan. Biasanya aku meneriaki mereka yang melawan dan meminta mereka untuk segera masuk kelas. Hari ini aku tak melakukan hal itu, karena cukup sia—sia. Aku putuskan untuk diam di jam terakhir.
Lamunanku tentang kejadian tadi hilang saat pintu kelas XA di ketuk berkali—kali. Pelan aku membukanya, Haris berdiri di depan pintu. Anak berambut kriting, berkulit gelap itu diam, bulu matanya yang lentik mengedip sesekali.  Dia begitu kuyu, “ Haris, ada keperluan apa kesini?,” tanyaku.
“ Ibu, katong mau minta maaf ke Ibu.” jawabnya sambil menunduk.
Ya Allah, aku kaku mematung di depan kelas. Aku tatap lamat—lamat wajah Haris yang sudah bersusah payah mengejarku ke SMA. Aku raih bahunya, dan berusaha untuk tidak menangis “ Haris, dengar ibu nak. Ibu masih mengajar di sini. Sebentar lagi ibu selesai, haris sama temen—temen tunggu disana yah.” kataku sambil menunjuk pohon randu yang ada di pinggir parit. Dia tak menjawab, hanya menganggukkan kepala sambil berjalan pergi meninggalkan kelas. Langkahnya terseok meninggalkan kelasku saat itu, kakinya luka kemarin malam dia jatuh dan jempol kanannya terobek parah. Pagi tadi aku sempat membersihkan lukanya dan menutupnya dengan perban. Ah, Haris kau memang unik. Aku tarik nafas panjang agar aku sedikit tenang sembari menyaksikan Haris dan anak yang lain lenyap dari halaman SMA.
Setelah pelajaran usai, saat aku membuka pintu aku dapati Haris dan anak yang lain berdiri di depan kelas. Mereka menunduk, “Ibu, jang marah katong.” kata nurul
“Ibu, katong minta maaf su bikin ibu sedih karna katong melawan.” tambah Nahia
Lihat, anak—anakku begitu luarbiasa. Mereka mau mengakui kesalahan mereka sendiri tanpa harus aku tunjukkan.
“Ibu, katong janji deng ibu. Tara melawan lai, tara baribut lai.”
Aku jongkok demi melihat mata mereka, aku tatap satu persatu. “sini dengar ibu nak, ibu tidak marah sama kalian. Sedikitpun tidak.” balasku.
“Ibu, kasih maaf katong to?,”
“Iya, ibu maafin, sekarang kita pulang yah. Pasti kalian su lapar to?,”
Mata mereka berkaca—kaca, aku segera berdiri membuang pandanganku jauh ke pohon randu yang sedang berbunga. Pohonnya kokoh berdiri di seberang parit, bunganya indah. Seindah kejujuran anak – anak siang ini dan setulus kata maaf yang terlontar dari mereka.
Kata yang sulit untuk mereka ucapkan sebelumnya.
Aku meninggalkan kelas XA dan menyusuri halaman berumput menuju jalan utama. Terik siang itu menjadi teduh, gumpalan awan putih bersanding mesra dengan birunya langit Papua siang ini. Haris dan anak—anak mengekor di belakangku.
“Ibu, ibu jang tinggal katong ya.” kata Nurul
“Katong takut kalau ibu marah ibu tinggal katong, kalau begitu ibu tara sayang katong?,” tambahnya. Entah kenapa mereka berpikiran seperti itu, mungkin saja salah satu guru yang ada di sekolah tadi sempat menasehati mereka dan mengatakan aku akan pulang ke Jawa kalau mereka tetap melawan. Tidak, aku bahkan belum membayangkan untuk pulang. Masih banyak yang ingin aku pahat disini bersama kalian, nak. Jawabku dalam hati.
Candaan mereka kembali membumbung sepanjang perjalanan, panasnya jalanan beraspal menjadi kawan bagi kaki kecil mereka. Bergantian mereka mengenggam erat tanganku, genggaman sayang yang mereka tunjukkan dari semua pembuktian hari ini.
 Kejadian hari ini menjadikanku semakin paham siapa mereka dan siapa aku? Mereka tak bersalah, dan aku tak berhak menyalahkan mereka sedikitpun. Mereka hanya belum tahu bagaimana membiasakan diri dengan pola yang coba aku terapkan di sekolah. Mereka butuh waktu dan yang aku butuhkan adalah sabar menunggu waktu itu. Untuk menjadikan semua baik harus diniati dengan kebaikan dan dilakukan dengan hati yang baik juga.

Cita - cita itu apa bu?

Ini tentang Tendy
Tendison, dia selalu rajin di kelas
Hari berganti, tak terasa sudah sebulan Tendi bersama aku dan anak—anak di Kelas 4. perkembangannya bisa diacungi jempol, dia sudah menyelesaikan buka Lancar Membaca tahap 1, minggu ini dia belajar membaca 5 huruf. Lebih cepat dari yang kubayangkan, dan di matematika dia sudah mulai belajar pembagian serta perkalian. Untuk menulis, seperti
nya aku aku tak perlu khawatir. Justru tulisan dia paling rapi diantara anak yang lain.
Siang itu, kelas 4 membuat gambar diri sendiri dan menuliskan cita—cita mereka. Aku menghampiri Tendi yang sibuk mengcrayon gambarannya.
“Ibu, beta tara tau cita—cita itu apa.” ia mengungkap ketidakpahaman makna cita—cita.
“ Cita –cita itu macam keinginan tendi. Kalau kau su besar kau pengen jadi apa?,”
“Owh, sa tau. Sa mau jadi macam bapak tua ibu.”
Bapak tua itu bapak Piaraku, yang bekerja di Distrik. “Kenapa kau ingin jadi speerti bapak Tua.”
“biar sa dapat gaji, baru sa pi Wamena kasih tunjuk ke sa pu ibu.”
Aku tau, dia sedang memikirkan mamanya yang ada di Wamena. Aku terdiam sejenak.
“Ibu, kalau macam bapak tua itu, apa nama pu pekerjaannya?,”
“Pegawai negeri sipil atau PNS.” jawabku.
“ Tapi ibu, kalau sa jadi PNS sa tara bisa ikut perang lai to?,”
“Kau mau ikut perang dimana tend?,”
“Sa mau macam Bapak Rambo biar sa bisa kasih mati penjahat.”
Lalu dia bingung memilih mau jadi apa? aku minta dia untuk memilih dan mengajarinya menulis PNS dan Tentara. Setelah hari itu, dia mulai banyak bicara. Mulai membaur dengan teman-temannya dan tak malu untuk bertanya dalam kelas.
Malam itu, dia mengantarkanku ke SMA untuk mengirim email beasiswa BBM ke dinas. Yah di distrik ada layanan internet gratis yang bisa diakses tiap malam. Membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai disana tentunya dengan jalan kaki. Sepanjang jalan dia menceritakan kampungnya,
“Tend, kau rindu ka deng kau pu kampung?,” selidikku
“Tarada.” jawabnya singkat, menutupi perasaannya.
"tapi kalu sa mu pi ke Wamena sa harus punya uang to ibu?," tanyanya
“Tend, kalau kau su besar kau bisa bekerja baru kau bisa pi naik pesawat pi kau pu kampung.”
“ Iya ibu, sa mau jadi macam bapak Tua saja biar sa pu uang banyak. Baru sa pi tengok sa pu mama.”
Akhirnya, dia memilih menjadi PNS setelah beberapa hari kemarin dia bingung menentukan pilihan. Aku kembali membesarkan hati Tendi, dan meyakinkan dia bahwa dia bisa bertemu dengan mamanya nanti. Berkali aku katakan syarat untuk itu semua adalah rajin belajar.
Lalu malam itu berjalan dalam indah gemintang rembulan tanggal 12, hamparan bintang membentuk gugus—gugus yang sempurna indahnya. Seperti keindahan saat melihat senyum tendi tersungging di balik seragam merah putihnya. Kau luar biasa Tendison...

Kampung Baru, Oktober 2013

Sunday, 29 September 2013

Mama Desa

Aku memanggilnya mama desa
Ya begitulah aku memanggil wanita paruh baya berdarah Buton—Papua ini. Kesederhanaan memancar hangat ketika menatapnya. Berhari-hari ini aku habiskan pagi dan soreku di dapur bersamanya. Kadang aku membantunya memasak atau sekedar menemaninya mengobrol sembari dia memasak. Mama desa selalu saja menghidangkan menu yang nikmat tiap jam makan tiba. Membuatkan kue untuk teman minum teh.
Sore itu aku mendapatkan banyak inside positif dari sosok hebat mama desa. Obrolan hangat yang menyenangkan. Ia mulai mengisahkan masa kecilnya yang menurutku kurang beruntung, ia lahir besar dikeluarga yang sangat pas-pasan bahkan bisa dikatakan kekurangan. Keluarga yang jarang menyajikan nasi sebagai makanan. Sangat jauh dari kemewahan atau sekedar pelengkap 4 sehat 5 sempurna. Hal itulah yang menyebabkan mama desa tidak mau makan nasi dari beras biasa hari ini. Ia hanya makan dari besar bulog atau sagu. Bayangkan beras bulog yang ada disini tidak lebih baik dari rasa nasi tiwul yang ada di kampungku sana. Baunya tidak lagi seperti nasi ketika di masak. Bisa jadi jika beras ini di Jawa sudah tidak ada yang mau makan lagi. Tapi lagi—lagi Jawa dan Papua itu berbeda. Beras biasa menjadi menu mahal dan hanya bisa dinikmati segelintir kalangan saat mama desa masih kecil, mungkin hari inipun tak jauh berbeda.
“Mama tara biasa makan nasi enak ibu.” begitu alasannya. Mulutku menganga sejenak, nasi enak? Bukankah rasa nasi itu sama saja? Bukankah nasi enak itu ketika dimakan dengan lauk yang enak. Atau nasi yang dijual direstaurant beken dengan merk ternama itu?
“kenapa begitu mama? Bukankah nasi itu sama rasanya?,”timpalku.
“Tidak ibu, dari kecil sa makan nasi dari beras bulog tara pernah makan nasi enak. Sa pu bapak tara bisa beli nasi enak” jawabnya tenang. Berkali –kali mama desa mengungkap nasi itu terlalu enak dan terlalu mahal untuk dia makan.
Bukankah sekarang mama adalah istri bapak Desa, bisa dibilang cukup berada dan mapan untuk urusan makan. Tapi kenapa mama tetap pada kebiasaannya waktu masih hidup kekurangan? Lalu aku membayangkan jika negeri ini dipenuhi oleh orang—orang seperti mama desa, yang tetap sederhana meskipun menjadi pejabat. Yang tidak latah dengan gaya hidup yang modern atau menginduk pada hedonisme. Pasti negeri ini akan jauh lebih baik. pun aku tak bisa menyalahkan naluri manusia hari ini, karena kadang aku juga tak bisa sebijak mama desa setiap waktu.
“jadi kalau ada sagu deng nasi enak, sa lebih baik makan sagu, ibu.” tambahnya memutus lamunanku tentang kesederhanaannya. Sagu? Bahkan sampai 4 bulan aku disini aku masih berjuang untuk bisa makan itu. Karena rasanya yang tak bersahabat dengan lidahku. Lalu aku mengutuki diriku sendiri yang sering kesal karena nasi yang kumakan terlalu keras atau kurang pulen. Atau malas makan karena tak ada lauk yang kusukai, dan seringkali membuang nasi yang ada dipiring makan karena selera makanku menurun. Aku begitu dzalim bukan? Yah tak seharusnya aku melakukan itu, kemarin aku bisa melakukan itu (membuang nasi semauku, memilih—milih nasi, atau marah karena nasi kurang masak) tapi hari ini? Tuhan begitu baik padaku hari ini, membiarkan aku belajar dari sosok bersahaja Mama desa tentang hal sederhana menghargai nasi dan mensyukuri apa yang kita makan sebagai rizki.
Cerita tentang nasi enak itu berakhir ketika suara tifa masjid mulai ditabuh, sebagai pertanda magrib telah datang. Lamat—lamat aku menguliti senyum mama desa dibalik senja kali itu, berharap ada kesempatan mendengarkan kisah hebatnya esok hari. Dia bukan hanya istri yang menyenangkan bagi Bapak desa tapi juga sosok ibu yang luar biasa..

Tarak, September 2013

Monday, 23 September 2013

17 Keunikan mereka !

Ini adalah tentang mereka yang menghebatkanku lewat keunikan mereka.  Bagaimanapun mereka, aku yakin Tuhan telah menyiapkan segala keunikan dnegan cara menghadapinya, jika hari ini aku baru menemukan sabagian kecil cara itu maka aku yakin esok aku akan menemukan semua cara untuk mensyukuri keunikan mereka. Hari ini adalah entah hari keberapa aku mengajar di kelas ini dengan kondisi yang tak lebih baik dari awal aku dinobatkan sebagai wali kelas disini. Hari ini, senyum renyah mereka masih mengiringi setiap sudut kelas dan teriakan khas mereka melengking setiap istirahat datang. Disinilah semua kisah aku awali, beberapa kali anak perempuan di kelas ini menangis setelah ribut dengan anak laki—laki. Pukul memukul adalah hal wajar di awal aku datang, tapi hari ini siapapun yang memukul maka dia akan mendapatkan tempat istimewa dikelas ‘Meja Panas’ begitu kami menyebutnya. Meja itu terletak tepat di depan papan tulis dan dekat dengan mejaku, dan meja itu hanya boleh di huni oleh anak yang melanggar kesepakatan kelas. Heran, meja itu tak pernah sepi hampir setiap hari ada anak yang duduk disana. Bahkan aku pernah menambah meja karena lebih dari dua anak yang saat itu melanggar kesepakatan kelas. Seberapa lembutpun aku menegur mereka dan mencoba berdialog dari hati ke hati rasanya bukan cara yang pas. Akhirnya aku putuskan untuk meraba cara lain untuk menghadapi keunikan mereka.
Pagi itu, aku datang kembali setelah 3 hari pelatihan di kota. Beberapa anak sibuk menginventarisir keadaan kelas selama aku tinggalkan.
“ Ibu, Majid tara mau menulis tugas dari ibu’o...” cerita Sulton dan disambung masalah—masalah lain. Ketika aku mencoba konfirmasi atas apa yang dilaporkan mereka sendiri semua diam. Dan hari itupun berjalan lamban, selamban proses menemukan cara menghadapi keunikan mereka.
Selasa, 03 September 2013 ingat betul dimana pertama kalinya aku meneriakkan suaraku keras. Hari itu tidak ada seorang gurupun yang hadir kecuali aku. Jarak antar kelas bagai jarak dari Kota ini ke Jakarta, itu rasanya. Beberapa kelas tidak mau digabung, tidak memungkinkan jika aku harus mobile di 6 kelas hari itu. Jawabannya adalah menggabung kelas kecil dan kelas besar. Memberikan pelajaran yang bisa membuat mereka sibuk yaitu matematika. Itulah senjata terampuh untuk membuat mereka tenang, karena mereka akan sibuk menghitung bukan berbicara.

Hari itu juga, segelintir anak telah membuatku sedikit geram. Saat aku sedang fokus menjelaskan di kelas kecil, tiba—tiba Ona lari turun dan mengadu kejadian di kelas besar.
“Ibu, anak kelas 4 dan kelas 6 baku pukul. Ibu naik sudah.” sempurna, ketika aku hadir disana 5 orang anak menangis dan 2 orang anak berdarah di bibirnya. Ketika aku bertanya siapa yang memulai duluan, semua saling tunjuk. Pelajaran aku hentikan dan aku bawa kedua anak yang bibirnya sobek itu kekantor untuk di obati. Masalah belum selesai, yah setelah itu aku sedikit mengertak mereka dengan suara tinggi. Beberapa anak ketakutan, ini sudah kelewatan begitu pikirku. Setelah memberikan penjelasan kepada mereka, dan menyiapkan hadiah tambahan bagi yang baku pukul aku putuskan untuk memisah kelas. Sedikit messi memang, ditambah beberapa anak kelas 5 bolos pulang saat aku masih mengajar dikelas. Hari itu benar—benar luar biasa.
Keesokan harinya beberapa guru sudah datang, aku hanya merangkap tiga kelas saja kelas 3,4 dan 5. Tidak aku gabung lagi, karena hal itu jauh lebih tidak efektif begitu pikirku terlebih dengan kejadian kemarin. Hal luar biasa yang terjadi hari itu adalah semua display kelas yang sudah terpasang jatuh dan dirobek anak—anak di kelas. Emosi tidak menyelesaikan masalah itu. Aku percaya esok akan menemukan cara untuk menghadapi karakter ke 17 muridku yang unik itu.

Tendison

16 September 2013

Welcome Tendi,
Dari semalam, ia sibuk menyiapkan baju barunya. Sepertinya ia sudah penasaran ingin sekolah. Panggil dia Tendi, dia adalah adik piara di keluarga Nenekku. Dia belum lama tinggal di keluarga kami, hanya berjarak 3 bulan sebelum kedatanganku ke Kampung ini. Wamena, yah dari sanalah Tendi lahir dan besar hingga ada keajaiban kecil yang mempertemukan Tendi dengan Om Kivil. Om Kivil adalah adik Bapak piaraku yang menjadi tentara, dulu pernah bertugas di Wamena tempat tinggal Tendi. Selidik punya selidik, Wamena tempat tinggal Tendi bukanlah kotanya tapi pegunungan. Pertemuan ajaib begitulah aku menyebutnya, tawaran om Kivil untuk membawa Tendi ke Kampung ini mungkin sedikit tidak rasional, bahkan diawal ini ditentang oleh keluarga besarku. Bagaimana mungkin Om Kivil mau mengangkat anak yang baru dikenalnya. Tendi memiliki masa kecil yang tidak biasa dari anak—anak pada umumnya, dia harus melihat pahitnya kematian Ayahnya yang dibunuh oleh Neneknya sendiri karena menentang. Pun aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Tendi ketika melihat Ayahnya dibunuh didepan matanya. Tapi Tendi memang luar biasa, trauma yang ia miliki menjadi cambuk baginya untuk terus melanjutkan kehidupan. Setelah kematian ayahnya yang begitu tragis, ia harus merelakan sekolah tempat ia belajar habis dibakar. Habis. Lebur semua cita—cita Tendi dan teman—temannya saat itu. Bangunan yang bernama sekolah itu lenyap menjadi abu. Guru yang pernah mengajarnya menyelematkan diri, pindah dari Kampungnya dan tak pernah kembali. Bertahun—tahun keadaan membiarkan dirinya tak bersekolah, kesehariannya ia habiskan dengan menjerat dan berburu.
Tendison begitulah anak berusia sekitar 13 tahun ini dipanggil, dia kini menjadi murid di kelas 4 . Aku meminta dia duduk di kelas 4 karena beberapa guru menyuruh dia masuk kelas 1, itu akan membuat dia minder ketika harus bermain dengan temannya yang usianya jauh berbeda dengannya. Selain itu, murid dikelasku Cuma 14 jadi aku bertekad memberikan pelajaran yang berbeda dengan temannya, disesuaikan dengan kemampuan Tendi pastinya. Yah, guru—guru mengijinkan tendi masuk kelas 4, setiap harinya aku menyiapkan bahan ajar khusus untuk Tendi. Aku juga mencoba menjelaskan pada tendi, kenapa dia harus mendapatkan pelajaran yang berbeda dengan temannya yang lain.
“Bukan karena Tendi tidak bisa mengerjakan ini, tapi Tendi mulai dari yang mudah dulu to. Sebentar kalau tendi su paham, ibu kasih soal yang sama deng kau pu teman. Bagaimana tendi?,” begitu jelasku. Dia masih jarang bicara, untuk mengatakan Iya biasanya dia hanya mengangguk dan tersenyum. Persis. Dia melakukan hal itu saat aku menjelaskan itu.
Aku tak mengira, Tendi yang mengaku sudah lama tak bersekolah itu ternyata bisa menulis rapi dan menghitung dengan cepat. Ia begitu cepat mengingat apa yang aku sampaikan di kelas, terlebih saat aku menyampaikan cerita. Dia memang belum bisa membaca, jadi pelajaran harus sering—sering disampaikan melalui cerita agar dia juga bisa mengikuti.
Hari ini yang aku siapkan adalah energi untuk menjawab setiap pertanyaan yang keluar darinya, yah pertanyaan tentang hausnya pengetahuan. Kini dia lebih berani dan aku lebih berani meyakinkan dia berhak atas masa depan yang cemerlang. Tendy tersenyumlah, dunia pasti bangga melihat semangatmu

Saturday, 14 September 2013

Boneka Salju & Imran


Kampung baru, 2013
Kali ini fokusku beralih pada Imran dan Fahri. Imran itu anak tetangga dan fahri itu adik pertamaku di rumah. Ternyata mereka tak mau k*
Imran menunjukkan Bonekanya padaku
alah dengan Anisa dan Fikram. Dan aku yakin mereka akan membuat sesuatu yang berbeda dari anisa serta fikram.
“ Imran, itu bagus sekali sebentar jadi apa?,” tanyaku pelan.
“ibu, ini beta pu wajah. Su mirip to?,” jawabnya sambil menunjukkan ke aku.
Hehhehe dia bilang lagi bikin wajah dia sendiri, sudah miripkah?
“ owh ini kau pu wajah? Mantab—mantab. Coba kau simpan telinga biar mirip dengan kau pu wajah.” dan benar saja dia mengikuti saranku.
“ Eh imran, tara da wajah manusia kotak macam kau pu.” kata Fahri kencang.
“ Beta bi sponge bob jadi wajah pu beta kotak.” jawabnya sambil terkekeh hahahha
Padahal aku takut imran marah ketika fahri mengritik hasil karyanya.  Ternyata mereka terbiasa dengan hal seperti itu. Sela—sela kesibukan mereka berkarya dengan tanah liat aku masih asyik meneleaah kepolosan mereka.
“ Kakak ibu, beta bikin boneka bagus.” kata fahri tiba—tiba menggunting lamunanku.
“kau bikin apa fahri? Mari kakak ibu lihat.” pintaku. Dia membuat dua bola dan di gabungkan di tambah lidi—lidi kecil menancap di kanan kirinya. Sepertinya ini boneka tak asing bagiku, tapi lagi—lagi aku tak mau menebak dengan apa yang sudah aku tahu. Kali saja ini boneka punya nama lain menurut fahri. “ Fahri, boneka apa itu?,” tanyaku menyelidik
“ ini boneka salju, beta su liat di tv dulu.” boneka salju atau nama bekennya snow man, great dia tahu lebih dari teman—temannya.
“ kau tau dimana boneka salju itu hidup?,” tanyaku menggorek pengetahuan dia tentang snow man
“Ooo... Beta tau.” jawabnya terputus tiba—tiba dia lari ke kebun dan memotong daun keladi.
“sebentar ibu, beta lupa ini saljunya.” dia mengangkat boneka saljunya dan meletakkan ulang di atas daun keladi yang berwarna terang. Dia sedang menganalogikan daun itu sebagai salju tempat tinggal si boneka salju itu. Hebat bukan? Bahkan aku saja tak kepikiran sebelumnya jika aku diminta mencari bahan untuk menggambarkan salju. “ibu, kenapa di beta pu kampung tarada salju? Beta pengen liat boneka salju beneran, Ada tidak ibu?” tanyanya.
Oh My God, dia tanya kenapa tak ada salju di tanah Pala ini dan keinginannya melihat snow man sesungguhnya. Memangnya ada ya snow man itu? Tiba—tiba aku terlihat bodoh tentang keberadaan manusia salju sebenarnya.
“Fahri, kitong tara bisa liat salju di sini. Kitong pu negera itu panas, salju itu di tempat yang tinggi dan dingin.”
“ oh beta tau ibu, di kutub kitong bisa bertemu boneka salju to?,”
“Ia pinter.” mantab benar—benar, dulu aku sekecil ini tak terpikir hal—hal yang seperti ini, tenyata jauh tempat tinggal dan terbatasnya listrik serta sinyal tak membunuh pengetahuan dan imajinasi mereka tentang kehidupan. Aku semakin yakin, anak— anak hebat di kota pala ini bisa bersaing dengan anak—anak metropolitan ketika di sentuh dengan cinta dan pengetahuan.
Akhirnya, matahari turun perlahan imran pamit pulang dan fahri nampaknya sudah mulai bosan. Tak lupa mereka membereskan jalan dari bongkahan tanah liat. Aku senang hari ini aku telah belajar dari mereka dan mereka sedang memadatkan imajinasi mereka sepeti saat mereka memadatkan tanah liat itu dan membentuknya menjadi bentuk yang mereka inginkan. Dan aku berharap esok ketika mereka besar mereka mampu memilih tanah yang bagus, memadatkan dan membentuknya menjadi guci yang indah.



Tambelo, Serius ini !


Pagi itu matahari hangat memancar di Kampung baru, bau tanah masih lekat di hidung setelah gerimis tak tuntas membungkus kampungku semalam tadi. Pagi begitu cepat hadir selama disini, dan kokok ayam jantan tergantikan suara anak—anak kecil berlarian di depan rumah mereka menghambur ke pantai meski mata mereka masih terkantuk.
Selepas membereskan dapur dan halaman aku memutuskan untuk membakar sampah di samping di rumah. Pace rahul dan om Rafi berkali—kali melintas di depanku sambil membawa dirigen besar di susul Tete (kakek) dengan goloknya. Nampaknya mereka sedang buru—buru,
“Teteeee...eee beta ikut.” teriakan Anisa memecah konsentrasiku pada sampah di depanku.
Gadis berrambut ikal itu berlari menghambur keluar rumah menuju darmaga kecil di belakang rumah. Aku masih mengikuti langkahnya, karena darmaga itu nampak jelas dari samping rumah.
Aku memadamkan api sampahku dan berlari menuju darmaga, menyusul Anisa, ikram, Pace Rahul dan Tete.
“ mau pergi kamana Te?,”
“Pi cari tambelo.” jawab Tete
Sepertinya menarik dan aku belum pernah tahu apa itu tambelo, aku memberanikan diri untuk ikut.
“ Yeeeee... Kakak ibu ikut cari tambelo.” teriak Anisa menyebabkan anak—anak yang dari tadi main air di sebelah terperanjat dan berhamburan menuju longboat.
“ Beta ikut lai... “
“ beta ... Beta...” semua anak—anak berteriak minta ijin ke Tete untuk ikut cari tambelo pagi itu. Sebelum pergi dengan longboat aku selalu menyempatkan untuk mengambil live vest dan kamera. Untuk keamanan di air aku tak mau coba—coba meski anak—anak akan menertawakanku tapi yang penting aku nyaman. Dan kamera silverku yang tak boleh ketinggalan, bukan kamera bagus sih tapi lumayanlah untuk menyimpan gambar—gambar bersejarah seperti hari itu. Pelan—pelan longboat milik tete melaju meninggalkan darmaga belakang rumah. Perbekalanpun tak ketinggalan, untuk urusan ini jangan ditanya orang Papua lebih tahu bagaimana survival yang baik. Ini adalah kali pertama aku naik longboat di tanah Papua. Terik menyebabkan aku berkali—kali menutup tangan dengan Rabbani merahku.
“Kakak ibu kenapa diam saja? Kakak takut ka?,” tanya Fikram
Hah? Ko dia tahu aku sedang menahan takutku? Aku hanya mengembangkan bibirku yang dari tadi terkatup.
“ Hehhehe... Tarada. Kakak sedang lihat ikan.” alihku.
Ternyata aku tak pandai mengalihkan topik, karena setelah pertanyaan itu Longboat terguncang keras. Ombak lautan Kokas menyapa, sepertinya ia ingin berkenalan denganku. Jemariku menggenggam erat bibir longboat sambil mendoa dalam hati. “tenang, tenang semua akan baik—baik saja.” batinku.

Setelah 35 menit mengarungi biru lautan, longboat tua milik Tete menepi di pantai. Kalau tidak salah namanya ‘Pantai Tanisa’ pasir putihnya menyilaukan mata. Rindang pohon ketapang berjajar rapi. Suguhan mata yang menenangkan. Bahkan kau tidak akan menemukan ditempat lain, ketika menatap ke kanan gugus karang di tengah laut gagah berdiri. Menatap ke kiri, gugus pulau kecil—kecil tertata rapi. Ikan kecil—kecil berenang riang di bibir pantai. Kami bergegas turun dari longboat, menurunkan perbekalan. Perburuanpun dimulai, sedikit lebai memang. Aku menyebutnya perburuan tambelo.
“Kakak, katong tunggu sini sudah. Cari tambelo setengah mati.” kata Anisa
Benarkah susah? Tapi aku harus mencobanya bukan? Aku tak ingin melewatkan satu momentumpun disini. Tapi memang tak semudah yang aku bayangkan, bahkan setelah aku melihat seperti apa tambelo itu rasa penasaranku berubah menjadi rasa geli. Men, tambelo itu lebih menggelikan dari pada melihat cacing tanah. Kulitnya putih, dalamnya berisi lumpur, lebih panjang daripada cacing pada umumnya. Kalau tidak salah ini termasuk kelas kerang—kerangan, semoga masih ada yang ingat pelajaran biologi kelas 1 SMA. Menyentuhnya membutuhkan energi ekstra untuk membunuh kegelian, hahahah.
Yang lebih tidak masuk akal adalah ketika Anisa dan Fikram mengajakku untuk makan.
“Kakak Ibu, mari katong makan sudah.” ajak Anisa
“Apa? Makan mentah begitu?,” tukasku kaget.
“Enak’o.” sahut Fikram dan yang lain.
Oh My God, aku bahkan tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya terlebih ketika tahu dimana tempat tinggalnya dan bentuknya. Fikram dan yang lain makan tambelo seperti makan Nutrijell yang dikeluarkan dari kulkas.
Perburuan tambelo diakhiri ketika Pace Rahul memanggil kami. Lumayan dapat banyak, kami kumpulkan dalam satu loyang besar. Pesta tambelopun dimulai setelah mama tua membuat rica asam dan menuangkan teh dalam sagu.
“Kak, mari makan sudah.”
“terimakasih, sa su kenyang.” bohongku lagi. Bagaimana mungkin aku memakan tambelo itu mentah—mentah? Tidak. Tidak gumanku dalam hati.
“Ibu, kalau su kesini harus makan kalau tara coba pamali. Jadi ibu orang tara bisa balik pi Jawa lai.” kata Pace menyodorkan loyang tambelo padaku.
Pamali? Kalau tau begini aku tidak akan pergi, batinku. Yah aku percaya saja dengan apa kata pace, maka dengan segenap hati aku mengambil sepotong tambelo dan mencucinya di air laut. Semua duduk disampingku, membuat setengah lingkaran yah demi melihat aku memakan makhluk yang bernama tambelo itu. Berkali aku mengernyitkan dahi dan menutup mata, menunggu mulut terbuka untuk menerima makanan baru.
“hug...” suara enegku saat tambelo mentah itu melintas dikerongkonganku. Aku meneguk air teh bergelas—gelas setelah berhasil menelan tambelo mentah itu. Riuh tepuk tangan dan tawa khas Kokas membumbung. Aku berhasil, yah aku berhasil membunuh rasa geliku itu.
“Yeeeee... Kakak su bisa jadi orang Papua.”
“ Hahhahahaaaei, Kakak ibu kena tipu Pace’o.”
Dan aku baru tau kalau pamali yang Pace Rahul katakan tadi adalah bohong. Itu adalah cara agar aku mau mencobanya. Aku tertawa serta sambil menahan kesal. Setidaknya aku bisa menceritakan pada cucuku nanti kalau aku pernah memakan makhluk yang bernama tambelo ini dalam keadaan mentah.
#Pantai Tanisa Juni 2013

MEREKA TAK PERNAH PERGI


Biarkan luh mereka membasahi tanah Pala siang ini. Mendung bergelayut pekat di langit—langit Fakfak dan peluk erat untuk terakhir kali telah mereka berikan.
Di depanku beberapa anak—anak dari Siboru menyanyikan lagu untuk Pak Guru Mario yang telah setahun bersama mereka. Lagu tulus yang begitu menyentuhku
“.... Pagiku cerahku, matahari bersinar kugendong tas merahku di pundak. Slamat pagi semua kunantikan dirimu di depan kelasku menantikan kamu.Pak Mario tersayang, pak mario tercinta tanpamu apalah jadinya aku, meng....”
Deg, siapapun yang berdiri di sana pasti akan menitikkan air mata terlebih anak—anak itu menyanyikan dengan hikmat dan tangis mereka menutup lagu itu. Betapa berharganya setahun bagi anak– anak dan guru muda itu. Tak bisa terlukiskan bagaimana perasaan pak guru Mario pastinya. Gurat haru menggeliat di sudut wajah Pak mario kali itu, setelah memberikan pelukan terakhir untuk anak—anak hebat itu Pak Mario memasuki ruangan. Di susul oleh guru muda lainnya.
Ruangan berukuran 7* 10 itu padat oleh warga, mereka berduyun—duyun datang ke bandara pagi itu demi melihat Pengajar muda angkatan ke 4 terbang meninggalkan mereka siang itu. Awalnya semua aman dan tertib, namun ketika  Guru Muda keluar ruangan berjalan menuju pesawat semua warga berhambur keluar
“ Eh, buka pintu. Kitong mu antar guru muda itu.” kata salah satu ibu—ibu yang mendorong petugas bandara. Wajah kesal dan geram petugas itu nampak jelas.
“ Tidak ini batas penumpang jadi silakan lihat dari dalam.” jawab tegas petugas itu. Namun warga mendorong dan memaksa untuk masuk hanya demi melihat guru muda itu memasuki badan pesawat dan melambaikan tangan untuk terakhir kalinya.
Setelah selang 3 menit, akhirnya petugas itu tak bisa menahan dorongan massa dan membiarkan semua warga masuk. Aku mengikuti langkah mereka dari belakang, beginilah yang akan dilakukan orang—orang yang mencintai kita ketika kita mau meninggalkan mereka. Mereka bisa nekat dan tidak mengindahkan aturan. Pun aku tak menyalahkan siapapun kali ini, karena aku tau betapa kesedihan orang—orang yang ada di bandara siang itu begitu dalam. Tapi guru muda yang akan meninggalkan merekapun sesungguhnya lebih sedih, karena mereka telah mendapatkan banyak pelajaran berharga di sini.
Dan tangis membahana ketika Wings Air mulai lepas landas, pelan—pelan co-pilot melambaikan tangan dan pesawat itu benar—benar terbang. Membawa guru muda bersama keharuan bandara Torea siang itu.
Senyap. Tak ada suara yang bergeming ketika pesawat itu enyah dalam gumpalan awan Fakfak kali itu. Aku yang dari tadi berdiri di paling depan mulai menarik langkahku demi melihat warga yang masih termangu akan kepergian guru muda. Nenek Iha beliau adalah salah satu ibu angkat guru muda yang ada di Kampung Baru, ya perempuan berbadan besar, berkerudung putih itu masih sesegukan di dekat tiang utama di ruang tunggu.
“ Nek, mari pulang...” ajakku mencoba mengalihkan kesedihan nenek
“ Ibu Kopi su pulang...” balasnya terbata. Beliau menjatuhkan kepala di bahuku dan aku memeluknya erat meyakinkan beliau bahwa suatu hari nanti ibu kopi akan datang kemari dan bertemu dengan nenek lagi. Perlahan, kami meninggalkan Apron dan menuju lapangan parkir. Suasana haru masih melekat erat di setiap sudut parkiran Bandara Torea siang itu. Siapapun yang pergi saat itu, tidak akan pernah ada seorangpun yang bisa menggantikan guru muda itu di hati warga. Aku tau itu, dan aku datang bukan untuk menggantikan siapapun di kampungku nanti tapi aku akan menjadi warga baru disana meneruskan perjuangan guru


 Apron Torea, 29 Juni 2013

Wednesday, 31 July 2013

Sebotol Mizone (Bukan Iklan)

Hujan senja ini telah mengantarkan dingin pada semestaku. Membuat malas setiap insan untuk beraktivitas diluar rumah, pun aku. Tapi malas itu harus kubuang dulu sepertinya karena esok aku harus mengajar kembali. Cukup istirahat di kota seharian ini. Akhirnya payung biru tuaku mengantarkan langkahku di depan gang kosan, cukup lama aku menunggu taksi bahkan satu ojekpun tak ada yang melintas. “Aduh kalu sampe ga ada yang lewat gimana nih?,” risauku. Aku takut ga kebagian taksi pulang. Aku menghabiskan hujan di emperan terminal Kokas. Di pojok terminal helak tawa sesak, asap rokok mengepul sesekali tawa khas Fakfak keluar “Haaahahahhahahei...” yah tawa yang mulai akrab dengan gendang telingaku. Berkali kali aku membenahi tempat dudukku, ini bukan karena ada sesuatu yang mengganggu tapi ini tanda aku mulai bosan.
“ Ibu, kalau penumpang tarada katong tara naik ke kampung.” kata sopir taksi padaku.
“ Iya pak, semoga ada.” Jawabku singkat.
Sudah hampir setengah jam aku habiskan dengan menunggu, tadi aku belum asar karena waktu aku berangkat jam di kontrakan baru menunjukkan pukul 15.05 sekarang sudah puluk 15.58 sebentar lagi jam 16.00 dan aku tak tau apakah taksi yang ada didepan mataku ini bakal naik kampung.

Akhirnya obrolan senja itu mengalir seperti air hujan yang terus mendekap terminal kali itu. Ibu itu akrab di panggil mama Dzafa, itu nama anaknya. Pun aku memanggil begitu, awalnya aku pikir ibu ini seperti kebanyakan pedagang yang lain, ternyata tidak. Dari cara dia bicara dan menanggapi pembicaraan memang berbeda, terlebih saat ibu ini membicarakan masalah pendidikan. Tiba—tiba aku penasaran, jangan—jangan ini intel pendidikan yang lagi nyamar. Hahhaha aku ngaco. Lalu aku mulai bertanya tentang siapakah sosok sebenarnya dibalik botol—botol yang berjajar di hadapannya.
“ Ibu, jualan disini setiap hari yah?,” tanyaku
“Tidak mbak, saya jualan disini kalau tidak ada jam ngajar dan lagi liburan aja.” jawabnya
Hah? Kalu lagi ga ada jam ngajar? Berarti ibu ini guru? Atau baiklah dengarkan pernyataan beliau selanjutnya. “Saya nghonor mbak, di SMP 2 di seberang sana.” seberang adalah nama daerah di sebelah pelabuhan, orang—orang akrab menyebutnya seberang. Mungkin karena daerahnya terlihat dari seberang pelabuhan kali yah. Sok tau lagi ni...
“ibu sudah berapa lama ngajar di sana?,” timpalku.
“ belum lama mbak, 4 tahun saja.” jawabnya ringan. Empat tahun ngehonor? Betah? Oh My God... Kenapa ga daftar jadi PNS aja sih gumanku dalam hati. Terang saja ibu itu tidak bisa daftar PNS karena beliau baru menyelesaikan S1’nya tahun lalu. Dan usut punya usut wanita kelahiran Buton, 28 tahun yang lalu ini tinggal di pasar terminal. Begitulah si ibu ini menyebut alamat rumahnya.

Obrolan itu habis, ketika Dzafa anak si ibu itu merajuk pulang. Kemudian ibu itu mengemasi barang—barang dagangannya memasukan ke lemari kayu dan menguncinya. “Ibu, disini masjid atau mushola terdekat dimana ya?,”
“kalau tidak keberatan, mari solat di gubuk saya mbak.” tawarnya.
Dengan senang hati, aku mengiyakan tawaran beliau. Setelah sedikit melobbi sopir agar mau menungguku sejenak akhirnya aku mengekor ibu itu dari belakang. Memang tidak jauh hanya 100meter saja dari terminal. Aku menyelidik mencari bangunan yang disebut rumah, tapi alpa. Yang aku lihat hanya kios—kios kecil tak terurus dan beberapa penjual.
“saya dan suami memilih tinggal disini mbak, dari pada ngontrak rumah. Mahal banget mbak.” tutur ibu itu sambil membuka gembok di pintu papan.
“ iya bu, gak papa yang penting aman.” timpalku mencoba meredam kesedihan si ibu.
“ silakan masuk mbak, maaf tidak ada bangku malah langsung dapur.”

Ruangan yang berukuran 4x3 meter ini penuh dengan alat masak, di belakang ada satu ruangan kecil 2x3 meter yang katanya itu adalah kamar. Aku meletakkan tasku di dekat mesin jahit, tadi si ibu sempat cerita suaminya adalah penjahit di pasar tambaruni. Mungkin ini mesin jahit yang satunya. Si ibu menyerahkan teko plastik padaku, yang tidak lain dan tidak bukan adalah gayung untuk menimba air dari drum besar di belakang kiosnya. Drum air hujan. Subhanaullah ini wudhu ternikmat minggu ini. Akhirnya aku salat di kamar si ibu. Hanya 7 menit saja, lepas itu aku pamit karena aku takut taksi jalan.
Pikiranku masih menganga membayangkan bagaimana ruwetnya tinggal di rumah papan begini, bahkan rumah ini lebih kecil daripada kamarku sebenernya. Aku lebih beruntung bukan? Ketika ditempatkan di daerah ini dan mendapatkan orang tua asuh yang berkecukupan. Aku malu, bagaimana mungkin aku membiarkan diriku mengeluh berkepanjangan ketika rumah hostfamku tidak ada jamban, air tak mengalir atau sepanjang hari lampu tak menyala.
“ Mbak, kalu kemalaman silakan mampir mungkin juga mbak mau bermalam disini.” tawar ibu itu sambil mengantarkanku ke depan pasar. Kemalaman? Menginap? Aku akan memikirkan sejuta kali untuk itu sepertinya, tapi ibu ini memang luar biasa dia tak mengiba dengan keadaannya hari ini.
“Iya bu, terimakasih banyak sudah diijinkan solat disini.” jawabku sambil menyalami wanita paruh umur itu. Jilbab besarnya mengembang tertiup angin, matanya berbinar. Aku melangkahkan kakiku pelan, “ mbak Wik....” teriakan ibu itu menghentikan langkahku.
“ Iya bu saya.” aku menoleh kebelakang. Si ibu berlari kecil menghampiriku,
“Mbak ini bekal untuk batal dijalan.” kata si ibu sambil menyodorkan sebotol Mizone padaku.
Deg, jantungku seakan di hujam parang. Kenapa ibu ini baik banget, padahal aku baru mengenalnya 1.5 jam yang lalu. “ Ibu, kenapa repot—repot.” jawabku
“ Ini sudah jam 5 lebih pasti nanti batal di jalan. Tolong ambil sudah...” si ibu menggenggamkan botol biru 600 ml itu ditangan kananku. Saat itu dunia seakan terhenti sejenak, melihat ketulusan ibu guru honorer yang mau menjadi penjual asongan di terminal. Mataku berkaca—kaca, sambil mengucapkan terimakasih aku berlari kecil meninggalkan si ibu itu. Aku belajar ketulusan yang luar biasa dari ibu itu.
Aku belajar untuk tidak mengeluh atas keadaan yang Tuhan berikan padaku. Dan ibu itu mengajariku tetap bijak menatap kehidupan, hidup ini memang keras tapi jika kita hadapi dengan keras maka tidak akan menghasilkan apa—apa. hidup ini tak akan ada artinya ketika kita tidak mencoba mensyukuri apa yang Tuhan berikan termasuk papan yang nyaman, pangan yang enak dan sandang. bersama hujan yang luar biasa senja itu kututup dengan meneguk Mizone yang berharga itu. membatalkan puasa di tengah hujan di perjalanan. Nikmat... terimakasih Tuhan

Terminal Kokas, bersama senja yang hujan 10 Juli 2013