Monday, 14 October 2013

KPK bukan (Kelipatan Persekutuan Kecil)

Minggu ini materi yang ada di kelas Matematika adalah KPK. Tidak terlalu sulit bagi mereka memahami penjelasan dan contoh yang aku berikan. Dari 14 siswa dikelas mungkin tinggal 4 orang saja yang butuh kerja ekstra (Tendi, Majid, Binti dan Halimah) sedangkan yang lain sudah cukup mandiri untuk dilepaskan sendiri.  Butuh waktu lebih untuk keempat anak unik ini. Selain itu mereka juga sedikit terlambat dalam membaca, menyiapkan cerita yang menarik untuk mereka adalah cara memancing minat bacanya.
Minggu—minggu ini anak di kampung memang banyak di sibukkan dengan benda yang bernama Pala. Materi KPK yang seharusnya adalah singkatan dari Kelipatan persekutuan kecil berubah menjadi Katong Pi Kebon. Sudah 4 hari ini Kifil, tidak naik sekolah, berkali aku pesan pada anak—anak yang lain mereka bilang Kifil ada sibuk di Kebon. Hingga aku datangi Kifil kerumahnya, demi memastikan dia baik—baik saja. Yah sekalian silaturahmi. Nihil. Yup, rumahnya kosong melompong. Keesokan harinya aku datangi lagi pagi –pagi berharap keluarga Kifil belum berangkat ke kebun pagi itu. Tapi hasilnya nihil lagi.  “Ibu, dong menginap di rumah kebon. Sebentar sore baru turun.” kata Mama tua. “Terimakasih mama tua.” tukasku.
Satu lagi anak hebat di kelasku yang sudah 8 hari absen, dialah Binti. Rumah binti memang tergolong paling jauh diantara rumah murid—muridku yang lain. Membutuhkan waktu hampir 15-20 menit untuk jalan kaki, setahuku dia anak yang rajin dan berkemauan keras. Beberapa kali aku mencari dia, tapi belum menemukan hasil juga. Malam itu, di pasar malam yang ada di distrik aku bertemu dengan dia. Aku tidak langsung menanyakan kenapa dia absen seminggu terakhir ini, aku hanya menanyakan kabar dan bilang besok Ibu datang ke rumah ya. Dia bilang, jangan karena keluarganya mau pi kebon pagi-pagi. Pun dia. Hari ini aku menunggu waktu yang pas untuk bisa bersilaturahmi dengan orangtua kedua anak hebat ini (Kifil dan Binti) dan bilang "Kamong pi Ke sekolah lai... Ibu su rindu deng kamong"
 Bagaimanapun mereka, aku berjanji akan tetap memberikan senyum terbaikku dibalik kegetiran. Memberikan tanganku untuk meraih mereka dan menyiapkan mata untuk tetap menjaga mereka. Aku percaya mereka akan bersinar dan masa depannya lebih mudah dari soal - soal Matematika yang sering mereka hadapi.

Kampung baru, 9/10/13

No comments:

Post a Comment