Minggu ini materi yang ada di kelas Matematika adalah KPK. Tidak
terlalu sulit bagi mereka memahami penjelasan dan contoh yang aku
berikan. Dari 14 siswa dikelas mungkin tinggal 4 orang saja yang butuh
kerja ekstra (Tendi, Majid, Binti dan Halimah) sedangkan yang lain sudah
cukup mandiri untuk dilepaskan sendiri. Butuh waktu lebih untuk
keempat anak unik ini. Selain itu mereka juga sedikit terlambat dalam
membaca, menyiapkan cerita yang menarik untuk mereka adalah cara
memancing minat bacanya.
Minggu—minggu ini anak di kampung memang
banyak di sibukkan dengan benda yang bernama Pala. Materi KPK yang
seharusnya adalah singkatan dari Kelipatan persekutuan kecil berubah
menjadi Katong Pi Kebon. Sudah 4 hari ini Kifil, tidak
naik sekolah, berkali aku pesan pada anak—anak yang lain mereka bilang
Kifil ada sibuk di Kebon. Hingga aku datangi Kifil kerumahnya, demi
memastikan dia baik—baik saja. Yah sekalian silaturahmi. Nihil. Yup,
rumahnya kosong melompong. Keesokan harinya aku datangi lagi pagi –pagi
berharap keluarga Kifil belum berangkat ke kebun pagi itu. Tapi hasilnya
nihil lagi. “Ibu, dong menginap di rumah kebon. Sebentar sore baru
turun.” kata Mama tua. “Terimakasih mama tua.” tukasku.
Satu lagi
anak hebat di kelasku yang sudah 8 hari absen, dialah Binti. Rumah binti
memang tergolong paling jauh diantara rumah murid—muridku yang lain.
Membutuhkan waktu hampir 15-20 menit untuk jalan kaki, setahuku dia anak
yang rajin dan berkemauan keras. Beberapa kali aku mencari dia, tapi
belum menemukan hasil juga. Malam itu, di pasar malam yang ada di
distrik aku bertemu dengan dia. Aku tidak langsung menanyakan kenapa dia
absen seminggu terakhir ini, aku hanya menanyakan kabar dan bilang
besok Ibu datang ke rumah ya. Dia bilang, jangan karena keluarganya mau
pi kebon pagi-pagi. Pun dia. Hari ini aku menunggu waktu yang pas untuk
bisa bersilaturahmi dengan orangtua kedua anak hebat ini (Kifil dan
Binti) dan bilang "Kamong pi Ke sekolah lai... Ibu su rindu deng kamong"
Bagaimanapun
mereka, aku berjanji akan tetap memberikan senyum terbaikku dibalik
kegetiran. Memberikan tanganku untuk meraih mereka dan menyiapkan mata
untuk tetap menjaga mereka. Aku percaya mereka akan bersinar dan masa
depannya lebih mudah dari soal - soal Matematika yang sering mereka
hadapi.
Kampung baru, 9/10/13
No comments:
Post a Comment