Pagi itu, aku datang kembali setelah 3 hari pelatihan di kota. Beberapa anak sibuk menginventarisir keadaan kelas selama aku tinggalkan.
“ Ibu, Majid tara mau menulis tugas dari ibu’o...” cerita Sulton dan disambung masalah—masalah lain. Ketika aku mencoba konfirmasi atas apa yang dilaporkan mereka sendiri semua diam. Dan hari itupun berjalan lamban, selamban proses menemukan cara menghadapi keunikan mereka.
Selasa, 03 September 2013 ingat betul dimana pertama kalinya aku meneriakkan suaraku keras. Hari itu tidak ada seorang gurupun yang hadir kecuali aku. Jarak antar kelas bagai jarak dari Kota ini ke Jakarta, itu rasanya. Beberapa kelas tidak mau digabung, tidak memungkinkan jika aku harus mobile di 6 kelas hari itu. Jawabannya adalah menggabung kelas kecil dan kelas besar. Memberikan pelajaran yang bisa membuat mereka sibuk yaitu matematika. Itulah senjata terampuh untuk membuat mereka tenang, karena mereka akan sibuk menghitung bukan berbicara.
Hari itu juga, segelintir anak telah membuatku sedikit geram. Saat aku sedang fokus menjelaskan di kelas kecil, tiba—tiba Ona lari turun dan mengadu kejadian di kelas besar.
“Ibu, anak kelas 4 dan kelas 6 baku pukul. Ibu naik sudah.” sempurna, ketika aku hadir disana 5 orang anak menangis dan 2 orang anak berdarah di bibirnya. Ketika aku bertanya siapa yang memulai duluan, semua saling tunjuk. Pelajaran aku hentikan dan aku bawa kedua anak yang bibirnya sobek itu kekantor untuk di obati. Masalah belum selesai, yah setelah itu aku sedikit mengertak mereka dengan suara tinggi. Beberapa anak ketakutan, ini sudah kelewatan begitu pikirku. Setelah memberikan penjelasan kepada mereka, dan menyiapkan hadiah tambahan bagi yang baku pukul aku putuskan untuk memisah kelas. Sedikit messi memang, ditambah beberapa anak kelas 5 bolos pulang saat aku masih mengajar dikelas. Hari itu benar—benar luar biasa.
Keesokan harinya beberapa guru sudah datang, aku hanya merangkap tiga kelas saja kelas 3,4 dan 5. Tidak aku gabung lagi, karena hal itu jauh lebih tidak efektif begitu pikirku terlebih dengan kejadian kemarin. Hal luar biasa yang terjadi hari itu adalah semua display kelas yang sudah terpasang jatuh dan dirobek anak—anak di kelas. Emosi tidak menyelesaikan masalah itu. Aku percaya esok akan menemukan cara untuk menghadapi karakter ke 17 muridku yang unik itu.
No comments:
Post a Comment