Kampung baru, 2013
Kali ini fokusku beralih pada Imran dan Fahri. Imran itu anak tetangga dan fahri itu adik pertamaku di rumah. Ternyata mereka tak mau k*
alah dengan Anisa dan Fikram. Dan aku yakin mereka akan membuat sesuatu yang berbeda dari anisa serta fikram.
| Imran menunjukkan Bonekanya padaku |
“ Imran, itu bagus sekali sebentar jadi apa?,” tanyaku pelan.
“ibu, ini beta pu wajah. Su mirip to?,” jawabnya sambil menunjukkan ke aku.
Hehhehe dia bilang lagi bikin wajah dia sendiri, sudah miripkah?
“ owh ini kau pu wajah? Mantab—mantab. Coba kau simpan telinga biar mirip dengan kau pu wajah.” dan benar saja dia mengikuti saranku.
“ Eh imran, tara da wajah manusia kotak macam kau pu.” kata Fahri kencang.
“ Beta bi sponge bob jadi wajah pu beta kotak.” jawabnya sambil terkekeh hahahha
Padahal aku takut imran marah ketika fahri mengritik hasil karyanya. Ternyata mereka terbiasa dengan hal seperti itu. Sela—sela kesibukan mereka berkarya dengan tanah liat aku masih asyik meneleaah kepolosan mereka.
“ Kakak ibu, beta bikin boneka bagus.” kata fahri tiba—tiba menggunting lamunanku.
“kau bikin apa fahri? Mari kakak ibu lihat.” pintaku. Dia membuat dua bola dan di gabungkan di tambah lidi—lidi kecil menancap di kanan kirinya. Sepertinya ini boneka tak asing bagiku, tapi lagi—lagi aku tak mau menebak dengan apa yang sudah aku tahu. Kali saja ini boneka punya nama lain menurut fahri. “ Fahri, boneka apa itu?,” tanyaku menyelidik
“ ini boneka salju, beta su liat di tv dulu.” boneka salju atau nama bekennya snow man, great dia tahu lebih dari teman—temannya.
“ kau tau dimana boneka salju itu hidup?,” tanyaku menggorek pengetahuan dia tentang snow man
“Ooo... Beta tau.” jawabnya terputus tiba—tiba dia lari ke kebun dan memotong daun keladi.
“sebentar ibu, beta lupa ini saljunya.” dia mengangkat boneka saljunya dan meletakkan ulang di atas daun keladi yang berwarna terang. Dia sedang menganalogikan daun itu sebagai salju tempat tinggal si boneka salju itu. Hebat bukan? Bahkan aku saja tak kepikiran sebelumnya jika aku diminta mencari bahan untuk menggambarkan salju. “ibu, kenapa di beta pu kampung tarada salju? Beta pengen liat boneka salju beneran, Ada tidak ibu?” tanyanya.
Oh My God, dia tanya kenapa tak ada salju di tanah Pala ini dan keinginannya melihat snow man sesungguhnya. Memangnya ada ya snow man itu? Tiba—tiba aku terlihat bodoh tentang keberadaan manusia salju sebenarnya.
“Fahri, kitong tara bisa liat salju di sini. Kitong pu negera itu panas, salju itu di tempat yang tinggi dan dingin.”
“ oh beta tau ibu, di kutub kitong bisa bertemu boneka salju to?,”
“Ia pinter.” mantab benar—benar, dulu aku sekecil ini tak terpikir hal—hal yang seperti ini, tenyata jauh tempat tinggal dan terbatasnya listrik serta sinyal tak membunuh pengetahuan dan imajinasi mereka tentang kehidupan. Aku semakin yakin, anak— anak hebat di kota pala ini bisa bersaing dengan anak—anak metropolitan ketika di sentuh dengan cinta dan pengetahuan.
Akhirnya, matahari turun perlahan imran pamit pulang dan fahri nampaknya sudah mulai bosan. Tak lupa mereka membereskan jalan dari bongkahan tanah liat. Aku senang hari ini aku telah belajar dari mereka dan mereka sedang memadatkan imajinasi mereka sepeti saat mereka memadatkan tanah liat itu dan membentuknya menjadi bentuk yang mereka inginkan. Dan aku berharap esok ketika mereka besar mereka mampu memilih tanah yang bagus, memadatkan dan membentuknya menjadi guci yang indah.
No comments:
Post a Comment