Biarkan luh mereka membasahi tanah Pala siang ini. Mendung bergelayut pekat di langit—langit Fakfak dan peluk erat untuk terakhir kali telah mereka berikan.
Di depanku beberapa anak—anak dari Siboru menyanyikan lagu untuk Pak Guru Mario yang telah setahun bersama mereka. Lagu tulus yang begitu menyentuhku
“.... Pagiku cerahku, matahari bersinar kugendong tas merahku di pundak. Slamat pagi semua kunantikan dirimu di depan kelasku menantikan kamu.Pak Mario tersayang, pak mario tercinta tanpamu apalah jadinya aku, meng....”
Deg, siapapun yang berdiri di sana pasti akan menitikkan air mata terlebih anak—anak itu menyanyikan dengan hikmat dan tangis mereka menutup lagu itu. Betapa berharganya setahun bagi anak– anak dan guru muda itu. Tak bisa terlukiskan bagaimana perasaan pak guru Mario pastinya. Gurat haru menggeliat di sudut wajah Pak mario kali itu, setelah memberikan pelukan terakhir untuk anak—anak hebat itu Pak Mario memasuki ruangan. Di susul oleh guru muda lainnya.
Ruangan berukuran 7* 10 itu padat oleh warga, mereka berduyun—duyun datang ke bandara pagi itu demi melihat Pengajar muda angkatan ke 4 terbang meninggalkan mereka siang itu. Awalnya semua aman dan tertib, namun ketika Guru Muda keluar ruangan berjalan menuju pesawat semua warga berhambur keluar
“ Eh, buka pintu. Kitong mu antar guru muda itu.” kata salah satu ibu—ibu yang mendorong petugas bandara. Wajah kesal dan geram petugas itu nampak jelas.
“ Tidak ini batas penumpang jadi silakan lihat dari dalam.” jawab tegas petugas itu. Namun warga mendorong dan memaksa untuk masuk hanya demi melihat guru muda itu memasuki badan pesawat dan melambaikan tangan untuk terakhir kalinya.
Setelah selang 3 menit, akhirnya petugas itu tak bisa menahan dorongan massa dan membiarkan semua warga masuk. Aku mengikuti langkah mereka dari belakang, beginilah yang akan dilakukan orang—orang yang mencintai kita ketika kita mau meninggalkan mereka. Mereka bisa nekat dan tidak mengindahkan aturan. Pun aku tak menyalahkan siapapun kali ini, karena aku tau betapa kesedihan orang—orang yang ada di bandara siang itu begitu dalam. Tapi guru muda yang akan meninggalkan merekapun sesungguhnya lebih sedih, karena mereka telah mendapatkan banyak pelajaran berharga di sini.
Dan tangis membahana ketika Wings Air mulai lepas landas, pelan—pelan co-pilot melambaikan tangan dan pesawat itu benar—benar terbang. Membawa guru muda bersama keharuan bandara Torea siang itu.
Senyap. Tak ada suara yang bergeming ketika pesawat itu enyah dalam gumpalan awan Fakfak kali itu. Aku yang dari tadi berdiri di paling depan mulai menarik langkahku demi melihat warga yang masih termangu akan kepergian guru muda. Nenek Iha beliau adalah salah satu ibu angkat guru muda yang ada di Kampung Baru, ya perempuan berbadan besar, berkerudung putih itu masih sesegukan di dekat tiang utama di ruang tunggu.
“ Nek, mari pulang...” ajakku mencoba mengalihkan kesedihan nenek
“ Ibu Kopi su pulang...” balasnya terbata. Beliau menjatuhkan kepala di bahuku dan aku memeluknya erat meyakinkan beliau bahwa suatu hari nanti ibu kopi akan datang kemari dan bertemu dengan nenek lagi. Perlahan, kami meninggalkan Apron dan menuju lapangan parkir. Suasana haru masih melekat erat di setiap sudut parkiran Bandara Torea siang itu. Siapapun yang pergi saat itu, tidak akan pernah ada seorangpun yang bisa menggantikan guru muda itu di hati warga. Aku tau itu, dan aku datang bukan untuk menggantikan siapapun di kampungku nanti tapi aku akan menjadi warga baru disana meneruskan perjuangan guru
Apron Torea, 29 Juni 2013
No comments:
Post a Comment