“Iya nenek, ada apa? mau ada perlu ka deng Mega?,” aku menebak mungkin saja si Nenek mau panggil cucunya. Disini masih sering terjadi orang tua memanggil anaknya untuk disuruh sekalipun jam belajar. Wanita berkepala 5 ini masih diam tak bergeming, ia menata ulang pinang yang ada dimulutnya. “ tarada, sa ada perlu deng ibu.” jawabnya tegas. Aku mengangguk pelan
“Kasih kembali kunci perpustakaan, dong belum bayar sa pu uang batu. Kemarin Bapak ada angkat kunci dan kasih deng ibu to? Kalau ibu mu pi buka, bayar sa pu uang dolo,” kalimat pertama dan dilanjut dengan kalimat makian yang luar biasa keras sehingga membuat anak—anak dikelas ketakutan.
“cukimayu’o... Kambing...” ini adalah salah satu makian yang lumrah. Aku mencoba untuk tenang dan mencerna semua yang disampaikan.
“Nek, sa tara bawa kunci hari ini. sa janji sa tara buka perpustakaan sampai urusan selesai. Jadi nenek tara usah khawatir.” jawabku sedatar mungkin.
“kalau sampai sa liat ibu ada buka perpustakaan, sa palang itu pintu atau sa kasih bakar sekalian.” aku tak lagi menimpali ucapan si nenek. Nenek itu pergi sambil terus memaki, aku tetap berdiri demi melihat si Nenek hilang dari halaman sekolah. Anak –anak berhambur mendekatiku
“Ibu, tara papa to. Aduh ibu’e sa takut setengah mati.” kata Ona dan di sambung anak—anak yang lain. Mereka mengusulkan kalau ada seperti itu lagi, lebih baik Ibu pi sembunyi sudah. Mereka selalu saja menawar emosi yang sedang bergelayut di atap hatiku. Perpustakaan itu masih jadi sengketa sejak kedatanganku, padahal bangunannya sudah gagah berdiri tinggal disini buku dan anak –anak bisa menikmati. Hanya karena masalah uang batu yang tak kunjung dibayar menyebabkan perpustakaan ini dipalang berbulan—bulan. Hari ini nenek Koyar memintaku untuk membayarnya. Membayarnya? Mana mungkin ini bukan kewajibanku, meskipun aku harus melihat gurat sedih diwajah anak—anak saat aku menyatakan ‘kita tidak akan membuka perpustakaan sampai urusan selesai’. Tak seharusnya anak—anak tahu masalah uang batu itu bukan? Tapi apa boleh buat Nenek Koyar telah membuat seluruh penduduk sekolah tahu akan hal ini.
Sejak hari itu aku semakin tidak akrab dengan beliau, aku sudah mencoba membuka diri untuk menyapa atau sekedar melempar senyuman tapi nenek memberikan wajah flatnya. Aku pikir ini akan berjalan sampai akhir penugasanku disini, ini bukan hal yang aku inginkan tentunya. Masalah uang batu itu terkubur berlahan, aku tidak pusing dengan perpustakaan toh anak—anak bisa baca buku di kelas.
Hari ini 28 Oktober 2013, aku dan anak –anak sedang menyiapkan diri untuk ikut kegiatan “pesta siaga’ di Fakfak. Beberapa persiapan telah matang dan tinggal pemantapan untuk tarian sebagai hiburan di opening ceremony. Kami mendapat kesempatan untuk menampilkan tarian Timor dan lakadinding untuk OC. Dari kemarin beberapa orang tua murid sibuk mencarikan seragam baru, perlengkapan pramuka baru dan segala hal. Ini poin positif yang mendukung kelancaran kegiatan bukan? Sore lepas asar segerombolan mace—mace datang kerumah menyebabkan aku dan Mama piaraku bingung. Ada apa gerangan mace—mace ini datang? Ekspresinya tidak begitu santai jadi aku enggan mengira—ira. Nenek Koyar memimpin mace—mace duduk di depan teras. Tanpa harus dipancing, mace—mace ini mengutarakan maksudnya. Luar biasa mulia maksud kedatangan mace –mace ini. “ Jadi ibu, tara usah khawatir deng ongkos taksi. Katong pi sana mau bantu ibu awasi dong. Katong tara bisa bayangkan, ibu sibuk urus makan dong, kegiatan dong. Jadi ibu urus kegiatan supaya katong bisa masak untuk dong.” tegas Nenek Koyar.
Kalian tahu bagaimana rasaku saat nenek Koyar mengutarakan hal itu? Aku senang bukan kepalang bukan karena esok ada yang bantu pas di fakfak tapi lebih karena kekakuan yang terjadi beberapa minggu terakhir karena uang batu itu akan hilang. Aku mengiyakan dan berkali aku mengucapkan terimakasih karena kesediaan mace—mace untuk membantu aku dan anak –anak.
Sempurna, hari rabu 29 Oktober 2013. Mace—mace telah bersiap di depan rumah, beberapa mereka ada yang membawa tagas—tagas (Sayuran yang terdiri dari daun singkong, pepaya&kangkung) ada yang menyumbang beras satu kresek, membawa ikan segar. Aku begitu terharu saat mace—mace itu mengumpulkan sumbangan bahan makanan. Tuhan, ini tak pernah ada dalam bayanganku sebelumnya. Well, setelah persiapan mantap kami naik taksi biru milik Pakde yang sudah menunggu sejam yang lalu. Kami memilih untuk berangkat lebih pagi demi menghindari hujan diperjalanan, karena beberapa ruas jalan sedang di bongkar yang mengakibatkan kami harus lewat jalur darurat yah sedikit mengerikan karena berlumpur. Nenek koyar memang punya power lebih diantara mace—mace yang ada disini, idenya selalu diterima oleh Mace- mace. Tak kusangka memang Nenek Koyar punya sesuatu yang berbeda. "Memang nenek Koyar tra kosonge..."
No comments:
Post a Comment