Monday, 14 October 2013

Seindah Kata Maaf Mereka

Rabu, 9 Oktober 2013.
Hari ini aku jadwal mengajar di SMA, kelas X A. Semua berjalan normal, 30 menit sebelum pelajaran usai beberapa anak kelas 3,4 dan 5 datang ke SMA. Mereka mengendap—endap di depan pintu, berjalan mondar mandir di halaman dan di kebun belakang sekolah masih dengan seragam putih merahnya. “ibu, ibu liat itu pasukan SD datang. Dong mau perang apa?,” celetuk Usman yang dari tadi mengamati mereka  mondar—mandir dihalaman sekolah.
“Mungkin mereka mau jemput ibu.” jawabku sambil menutup pintu.
Hari ini sebelum aku mengajar di SMA aku telah merampungkan KBM di SD, namun tidak sehangat biasanya. Aku hanya mengucapkan salam dan berlalu pergi, itu memang salah besar.  Ini cara terakhir yang aku lakukan untuk menghadapi mereka. Mereka adalah anak yang unik. Menghadapi merekapun harus dengan cara unik. Hari ini aku merangkap 3 kelas, tidak kondusif. Ya, saat aku mencoba memberikan materi ke kelas 3, kelas lain berhambur keluar main perang-perangan, jajan, panjat pohon pala di belakang sekolahan. Sebagaian bermain karet. Energi mereka begitu luarbiasa terkadang aku tak sanggup mengikuti alur yang mereka berikan. Biasanya aku meneriaki mereka yang melawan dan meminta mereka untuk segera masuk kelas. Hari ini aku tak melakukan hal itu, karena cukup sia—sia. Aku putuskan untuk diam di jam terakhir.
Lamunanku tentang kejadian tadi hilang saat pintu kelas XA di ketuk berkali—kali. Pelan aku membukanya, Haris berdiri di depan pintu. Anak berambut kriting, berkulit gelap itu diam, bulu matanya yang lentik mengedip sesekali.  Dia begitu kuyu, “ Haris, ada keperluan apa kesini?,” tanyaku.
“ Ibu, katong mau minta maaf ke Ibu.” jawabnya sambil menunduk.
Ya Allah, aku kaku mematung di depan kelas. Aku tatap lamat—lamat wajah Haris yang sudah bersusah payah mengejarku ke SMA. Aku raih bahunya, dan berusaha untuk tidak menangis “ Haris, dengar ibu nak. Ibu masih mengajar di sini. Sebentar lagi ibu selesai, haris sama temen—temen tunggu disana yah.” kataku sambil menunjuk pohon randu yang ada di pinggir parit. Dia tak menjawab, hanya menganggukkan kepala sambil berjalan pergi meninggalkan kelas. Langkahnya terseok meninggalkan kelasku saat itu, kakinya luka kemarin malam dia jatuh dan jempol kanannya terobek parah. Pagi tadi aku sempat membersihkan lukanya dan menutupnya dengan perban. Ah, Haris kau memang unik. Aku tarik nafas panjang agar aku sedikit tenang sembari menyaksikan Haris dan anak yang lain lenyap dari halaman SMA.
Setelah pelajaran usai, saat aku membuka pintu aku dapati Haris dan anak yang lain berdiri di depan kelas. Mereka menunduk, “Ibu, jang marah katong.” kata nurul
“Ibu, katong minta maaf su bikin ibu sedih karna katong melawan.” tambah Nahia
Lihat, anak—anakku begitu luarbiasa. Mereka mau mengakui kesalahan mereka sendiri tanpa harus aku tunjukkan.
“Ibu, katong janji deng ibu. Tara melawan lai, tara baribut lai.”
Aku jongkok demi melihat mata mereka, aku tatap satu persatu. “sini dengar ibu nak, ibu tidak marah sama kalian. Sedikitpun tidak.” balasku.
“Ibu, kasih maaf katong to?,”
“Iya, ibu maafin, sekarang kita pulang yah. Pasti kalian su lapar to?,”
Mata mereka berkaca—kaca, aku segera berdiri membuang pandanganku jauh ke pohon randu yang sedang berbunga. Pohonnya kokoh berdiri di seberang parit, bunganya indah. Seindah kejujuran anak – anak siang ini dan setulus kata maaf yang terlontar dari mereka.
Kata yang sulit untuk mereka ucapkan sebelumnya.
Aku meninggalkan kelas XA dan menyusuri halaman berumput menuju jalan utama. Terik siang itu menjadi teduh, gumpalan awan putih bersanding mesra dengan birunya langit Papua siang ini. Haris dan anak—anak mengekor di belakangku.
“Ibu, ibu jang tinggal katong ya.” kata Nurul
“Katong takut kalau ibu marah ibu tinggal katong, kalau begitu ibu tara sayang katong?,” tambahnya. Entah kenapa mereka berpikiran seperti itu, mungkin saja salah satu guru yang ada di sekolah tadi sempat menasehati mereka dan mengatakan aku akan pulang ke Jawa kalau mereka tetap melawan. Tidak, aku bahkan belum membayangkan untuk pulang. Masih banyak yang ingin aku pahat disini bersama kalian, nak. Jawabku dalam hati.
Candaan mereka kembali membumbung sepanjang perjalanan, panasnya jalanan beraspal menjadi kawan bagi kaki kecil mereka. Bergantian mereka mengenggam erat tanganku, genggaman sayang yang mereka tunjukkan dari semua pembuktian hari ini.
 Kejadian hari ini menjadikanku semakin paham siapa mereka dan siapa aku? Mereka tak bersalah, dan aku tak berhak menyalahkan mereka sedikitpun. Mereka hanya belum tahu bagaimana membiasakan diri dengan pola yang coba aku terapkan di sekolah. Mereka butuh waktu dan yang aku butuhkan adalah sabar menunggu waktu itu. Untuk menjadikan semua baik harus diniati dengan kebaikan dan dilakukan dengan hati yang baik juga.

No comments:

Post a Comment