Rabu, 9 Oktober 2013.
Hari ini aku jadwal mengajar di SMA,
kelas X A. Semua berjalan normal, 30 menit sebelum pelajaran usai
beberapa anak kelas 3,4 dan 5 datang ke SMA. Mereka mengendap—endap di
depan pintu, berjalan mondar mandir di halaman dan di kebun belakang
sekolah masih dengan seragam putih merahnya. “ibu, ibu liat itu pasukan
SD datang. Dong mau perang apa?,” celetuk Usman yang dari tadi mengamati
mereka mondar—mandir dihalaman sekolah.
“Mungkin mereka mau jemput ibu.” jawabku sambil menutup pintu.
Hari
ini sebelum aku mengajar di SMA aku telah merampungkan KBM di SD, namun
tidak sehangat biasanya. Aku hanya mengucapkan salam dan berlalu pergi,
itu memang salah besar. Ini cara terakhir yang aku lakukan untuk
menghadapi mereka. Mereka adalah anak yang unik. Menghadapi merekapun
harus dengan cara unik. Hari ini aku merangkap 3 kelas, tidak kondusif.
Ya, saat aku mencoba memberikan materi ke kelas 3, kelas lain berhambur
keluar main perang-perangan, jajan, panjat pohon pala di belakang
sekolahan. Sebagaian bermain karet. Energi mereka begitu luarbiasa
terkadang aku tak sanggup mengikuti alur yang mereka berikan. Biasanya
aku meneriaki mereka yang melawan dan meminta mereka untuk segera masuk
kelas. Hari ini aku tak melakukan hal itu, karena cukup sia—sia. Aku
putuskan untuk diam di jam terakhir.
Lamunanku tentang kejadian
tadi hilang saat pintu kelas XA di ketuk berkali—kali. Pelan aku
membukanya, Haris berdiri di depan pintu. Anak berambut kriting,
berkulit gelap itu diam, bulu matanya yang lentik mengedip sesekali.
Dia begitu kuyu, “ Haris, ada keperluan apa kesini?,” tanyaku.
“ Ibu, katong mau minta maaf ke Ibu.” jawabnya sambil menunduk.
Ya
Allah, aku kaku mematung di depan kelas. Aku tatap lamat—lamat wajah
Haris yang sudah bersusah payah mengejarku ke SMA. Aku raih bahunya, dan
berusaha untuk tidak menangis “ Haris, dengar ibu nak. Ibu masih
mengajar di sini. Sebentar lagi ibu selesai, haris sama temen—temen
tunggu disana yah.” kataku sambil menunjuk pohon randu yang ada di
pinggir parit. Dia tak menjawab, hanya menganggukkan kepala sambil
berjalan pergi meninggalkan kelas. Langkahnya terseok meninggalkan
kelasku saat itu, kakinya luka kemarin malam dia jatuh dan jempol
kanannya terobek parah. Pagi tadi aku sempat membersihkan lukanya dan
menutupnya dengan perban. Ah, Haris kau memang unik. Aku tarik nafas
panjang agar aku sedikit tenang sembari menyaksikan Haris dan anak yang
lain lenyap dari halaman SMA.
Setelah pelajaran usai, saat aku
membuka pintu aku dapati Haris dan anak yang lain berdiri di depan
kelas. Mereka menunduk, “Ibu, jang marah katong.” kata nurul
“Ibu, katong minta maaf su bikin ibu sedih karna katong melawan.” tambah Nahia
Lihat, anak—anakku begitu luarbiasa. Mereka mau mengakui kesalahan mereka sendiri tanpa harus aku tunjukkan.
“Ibu, katong janji deng ibu. Tara melawan lai, tara baribut lai.”
Aku
jongkok demi melihat mata mereka, aku tatap satu persatu. “sini dengar
ibu nak, ibu tidak marah sama kalian. Sedikitpun tidak.” balasku.
“Ibu, kasih maaf katong to?,”
“Iya, ibu maafin, sekarang kita pulang yah. Pasti kalian su lapar to?,”
Mata
mereka berkaca—kaca, aku segera berdiri membuang pandanganku jauh ke
pohon randu yang sedang berbunga. Pohonnya kokoh berdiri di seberang
parit, bunganya indah. Seindah kejujuran anak – anak siang ini dan
setulus kata maaf yang terlontar dari mereka.
Kata yang sulit untuk mereka ucapkan sebelumnya.
Aku
meninggalkan kelas XA dan menyusuri halaman berumput menuju jalan
utama. Terik siang itu menjadi teduh, gumpalan awan putih bersanding
mesra dengan birunya langit Papua siang ini. Haris dan anak—anak
mengekor di belakangku.
“Ibu, ibu jang tinggal katong ya.” kata Nurul
“Katong
takut kalau ibu marah ibu tinggal katong, kalau begitu ibu tara sayang
katong?,” tambahnya. Entah kenapa mereka berpikiran seperti itu, mungkin
saja salah satu guru yang ada di sekolah tadi sempat menasehati mereka
dan mengatakan aku akan pulang ke Jawa kalau mereka tetap melawan.
Tidak, aku bahkan belum membayangkan untuk pulang. Masih banyak yang
ingin aku pahat disini bersama kalian, nak. Jawabku dalam hati.
Candaan
mereka kembali membumbung sepanjang perjalanan, panasnya jalanan
beraspal menjadi kawan bagi kaki kecil mereka. Bergantian mereka
mengenggam erat tanganku, genggaman sayang yang mereka tunjukkan dari
semua pembuktian hari ini.
Kejadian hari ini menjadikanku semakin
paham siapa mereka dan siapa aku? Mereka tak bersalah, dan aku tak
berhak menyalahkan mereka sedikitpun. Mereka hanya belum tahu bagaimana
membiasakan diri dengan pola yang coba aku terapkan di sekolah. Mereka
butuh waktu dan yang aku butuhkan adalah sabar menunggu waktu itu. Untuk
menjadikan semua baik harus diniati dengan kebaikan dan dilakukan
dengan hati yang baik juga.
No comments:
Post a Comment