Saturday, 14 September 2013

Tambelo, Serius ini !


Pagi itu matahari hangat memancar di Kampung baru, bau tanah masih lekat di hidung setelah gerimis tak tuntas membungkus kampungku semalam tadi. Pagi begitu cepat hadir selama disini, dan kokok ayam jantan tergantikan suara anak—anak kecil berlarian di depan rumah mereka menghambur ke pantai meski mata mereka masih terkantuk.
Selepas membereskan dapur dan halaman aku memutuskan untuk membakar sampah di samping di rumah. Pace rahul dan om Rafi berkali—kali melintas di depanku sambil membawa dirigen besar di susul Tete (kakek) dengan goloknya. Nampaknya mereka sedang buru—buru,
“Teteeee...eee beta ikut.” teriakan Anisa memecah konsentrasiku pada sampah di depanku.
Gadis berrambut ikal itu berlari menghambur keluar rumah menuju darmaga kecil di belakang rumah. Aku masih mengikuti langkahnya, karena darmaga itu nampak jelas dari samping rumah.
Aku memadamkan api sampahku dan berlari menuju darmaga, menyusul Anisa, ikram, Pace Rahul dan Tete.
“ mau pergi kamana Te?,”
“Pi cari tambelo.” jawab Tete
Sepertinya menarik dan aku belum pernah tahu apa itu tambelo, aku memberanikan diri untuk ikut.
“ Yeeeee... Kakak ibu ikut cari tambelo.” teriak Anisa menyebabkan anak—anak yang dari tadi main air di sebelah terperanjat dan berhamburan menuju longboat.
“ Beta ikut lai... “
“ beta ... Beta...” semua anak—anak berteriak minta ijin ke Tete untuk ikut cari tambelo pagi itu. Sebelum pergi dengan longboat aku selalu menyempatkan untuk mengambil live vest dan kamera. Untuk keamanan di air aku tak mau coba—coba meski anak—anak akan menertawakanku tapi yang penting aku nyaman. Dan kamera silverku yang tak boleh ketinggalan, bukan kamera bagus sih tapi lumayanlah untuk menyimpan gambar—gambar bersejarah seperti hari itu. Pelan—pelan longboat milik tete melaju meninggalkan darmaga belakang rumah. Perbekalanpun tak ketinggalan, untuk urusan ini jangan ditanya orang Papua lebih tahu bagaimana survival yang baik. Ini adalah kali pertama aku naik longboat di tanah Papua. Terik menyebabkan aku berkali—kali menutup tangan dengan Rabbani merahku.
“Kakak ibu kenapa diam saja? Kakak takut ka?,” tanya Fikram
Hah? Ko dia tahu aku sedang menahan takutku? Aku hanya mengembangkan bibirku yang dari tadi terkatup.
“ Hehhehe... Tarada. Kakak sedang lihat ikan.” alihku.
Ternyata aku tak pandai mengalihkan topik, karena setelah pertanyaan itu Longboat terguncang keras. Ombak lautan Kokas menyapa, sepertinya ia ingin berkenalan denganku. Jemariku menggenggam erat bibir longboat sambil mendoa dalam hati. “tenang, tenang semua akan baik—baik saja.” batinku.

Setelah 35 menit mengarungi biru lautan, longboat tua milik Tete menepi di pantai. Kalau tidak salah namanya ‘Pantai Tanisa’ pasir putihnya menyilaukan mata. Rindang pohon ketapang berjajar rapi. Suguhan mata yang menenangkan. Bahkan kau tidak akan menemukan ditempat lain, ketika menatap ke kanan gugus karang di tengah laut gagah berdiri. Menatap ke kiri, gugus pulau kecil—kecil tertata rapi. Ikan kecil—kecil berenang riang di bibir pantai. Kami bergegas turun dari longboat, menurunkan perbekalan. Perburuanpun dimulai, sedikit lebai memang. Aku menyebutnya perburuan tambelo.
“Kakak, katong tunggu sini sudah. Cari tambelo setengah mati.” kata Anisa
Benarkah susah? Tapi aku harus mencobanya bukan? Aku tak ingin melewatkan satu momentumpun disini. Tapi memang tak semudah yang aku bayangkan, bahkan setelah aku melihat seperti apa tambelo itu rasa penasaranku berubah menjadi rasa geli. Men, tambelo itu lebih menggelikan dari pada melihat cacing tanah. Kulitnya putih, dalamnya berisi lumpur, lebih panjang daripada cacing pada umumnya. Kalau tidak salah ini termasuk kelas kerang—kerangan, semoga masih ada yang ingat pelajaran biologi kelas 1 SMA. Menyentuhnya membutuhkan energi ekstra untuk membunuh kegelian, hahahah.
Yang lebih tidak masuk akal adalah ketika Anisa dan Fikram mengajakku untuk makan.
“Kakak Ibu, mari katong makan sudah.” ajak Anisa
“Apa? Makan mentah begitu?,” tukasku kaget.
“Enak’o.” sahut Fikram dan yang lain.
Oh My God, aku bahkan tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya terlebih ketika tahu dimana tempat tinggalnya dan bentuknya. Fikram dan yang lain makan tambelo seperti makan Nutrijell yang dikeluarkan dari kulkas.
Perburuan tambelo diakhiri ketika Pace Rahul memanggil kami. Lumayan dapat banyak, kami kumpulkan dalam satu loyang besar. Pesta tambelopun dimulai setelah mama tua membuat rica asam dan menuangkan teh dalam sagu.
“Kak, mari makan sudah.”
“terimakasih, sa su kenyang.” bohongku lagi. Bagaimana mungkin aku memakan tambelo itu mentah—mentah? Tidak. Tidak gumanku dalam hati.
“Ibu, kalau su kesini harus makan kalau tara coba pamali. Jadi ibu orang tara bisa balik pi Jawa lai.” kata Pace menyodorkan loyang tambelo padaku.
Pamali? Kalau tau begini aku tidak akan pergi, batinku. Yah aku percaya saja dengan apa kata pace, maka dengan segenap hati aku mengambil sepotong tambelo dan mencucinya di air laut. Semua duduk disampingku, membuat setengah lingkaran yah demi melihat aku memakan makhluk yang bernama tambelo itu. Berkali aku mengernyitkan dahi dan menutup mata, menunggu mulut terbuka untuk menerima makanan baru.
“hug...” suara enegku saat tambelo mentah itu melintas dikerongkonganku. Aku meneguk air teh bergelas—gelas setelah berhasil menelan tambelo mentah itu. Riuh tepuk tangan dan tawa khas Kokas membumbung. Aku berhasil, yah aku berhasil membunuh rasa geliku itu.
“Yeeeee... Kakak su bisa jadi orang Papua.”
“ Hahhahahaaaei, Kakak ibu kena tipu Pace’o.”
Dan aku baru tau kalau pamali yang Pace Rahul katakan tadi adalah bohong. Itu adalah cara agar aku mau mencobanya. Aku tertawa serta sambil menahan kesal. Setidaknya aku bisa menceritakan pada cucuku nanti kalau aku pernah memakan makhluk yang bernama tambelo ini dalam keadaan mentah.
#Pantai Tanisa Juni 2013

No comments:

Post a Comment