Aku memanggilnya mama desa
Ya begitulah aku memanggil wanita
paruh baya berdarah Buton—Papua ini. Kesederhanaan memancar hangat
ketika menatapnya. Berhari-hari ini aku habiskan pagi dan soreku di
dapur bersamanya. Kadang aku membantunya memasak atau sekedar
menemaninya mengobrol sembari dia memasak. Mama desa selalu saja
menghidangkan menu yang nikmat tiap jam makan tiba. Membuatkan kue untuk
teman minum teh.
Sore itu aku mendapatkan banyak inside positif
dari sosok hebat mama desa. Obrolan hangat yang menyenangkan. Ia mulai
mengisahkan masa kecilnya yang menurutku kurang beruntung, ia lahir
besar dikeluarga yang sangat pas-pasan bahkan bisa dikatakan kekurangan.
Keluarga yang jarang menyajikan nasi sebagai makanan. Sangat jauh dari
kemewahan atau sekedar pelengkap 4 sehat 5 sempurna. Hal itulah yang
menyebabkan mama desa tidak mau makan nasi dari beras biasa hari ini. Ia
hanya makan dari besar bulog atau sagu. Bayangkan beras bulog yang ada
disini tidak lebih baik dari rasa nasi tiwul yang ada di kampungku sana.
Baunya tidak lagi seperti nasi ketika di masak. Bisa jadi jika beras
ini di Jawa sudah tidak ada yang mau makan lagi. Tapi lagi—lagi Jawa dan
Papua itu berbeda. Beras biasa menjadi menu mahal dan hanya bisa
dinikmati segelintir kalangan saat mama desa masih kecil, mungkin hari
inipun tak jauh berbeda.
“Mama tara biasa makan nasi enak ibu.”
begitu alasannya. Mulutku menganga sejenak, nasi enak? Bukankah rasa
nasi itu sama saja? Bukankah nasi enak itu ketika dimakan dengan lauk
yang enak. Atau nasi yang dijual direstaurant beken dengan merk ternama
itu?
“kenapa begitu mama? Bukankah nasi itu sama rasanya?,”timpalku.
“Tidak
ibu, dari kecil sa makan nasi dari beras bulog tara pernah makan nasi
enak. Sa pu bapak tara bisa beli nasi enak” jawabnya tenang. Berkali
–kali mama desa mengungkap nasi itu terlalu enak dan terlalu mahal untuk
dia makan.
Bukankah sekarang mama adalah istri bapak Desa, bisa
dibilang cukup berada dan mapan untuk urusan makan. Tapi kenapa mama
tetap pada kebiasaannya waktu masih hidup kekurangan? Lalu aku
membayangkan jika negeri ini dipenuhi oleh orang—orang seperti mama
desa, yang tetap sederhana meskipun menjadi pejabat. Yang tidak latah
dengan gaya hidup yang modern atau menginduk pada hedonisme. Pasti
negeri ini akan jauh lebih baik. pun aku tak bisa menyalahkan naluri
manusia hari ini, karena kadang aku juga tak bisa sebijak mama desa
setiap waktu.
“jadi kalau ada sagu deng nasi enak, sa lebih baik
makan sagu, ibu.” tambahnya memutus lamunanku tentang kesederhanaannya.
Sagu? Bahkan sampai 4 bulan aku disini aku masih berjuang untuk bisa
makan itu. Karena rasanya yang tak bersahabat dengan lidahku. Lalu aku
mengutuki diriku sendiri yang sering kesal karena nasi yang kumakan
terlalu keras atau kurang pulen. Atau malas makan karena tak ada lauk
yang kusukai, dan seringkali membuang nasi yang ada dipiring makan
karena selera makanku menurun. Aku begitu dzalim bukan? Yah tak
seharusnya aku melakukan itu, kemarin aku bisa melakukan itu (membuang
nasi semauku, memilih—milih nasi, atau marah karena nasi kurang masak)
tapi hari ini? Tuhan begitu baik padaku hari ini, membiarkan aku belajar
dari sosok bersahaja Mama desa tentang hal sederhana menghargai nasi
dan mensyukuri apa yang kita makan sebagai rizki.
Cerita tentang
nasi enak itu berakhir ketika suara tifa masjid mulai ditabuh, sebagai
pertanda magrib telah datang. Lamat—lamat aku menguliti senyum mama desa
dibalik senja kali itu, berharap ada kesempatan mendengarkan kisah
hebatnya esok hari. Dia bukan hanya istri yang menyenangkan bagi Bapak
desa tapi juga sosok ibu yang luar biasa..
Tarak, September 2013
No comments:
Post a Comment