Showing posts with label Positive Insight # Cerita Pengajar Muda VI Fakfak. Show all posts
Showing posts with label Positive Insight # Cerita Pengajar Muda VI Fakfak. Show all posts

Tuesday, 25 February 2014

Sepenggal Kisah tentang Kwarran Kokas

Rapat Pembentukan Kwarran Kokas Januari 2014

Sudah beberapa hari ini aku hanya mengajar setengah hari, hal ini terpaksa aku lakukan karena aku sedang menyiapkan kegiatan di distrik. Kegiatan yang ku harap bisa menjadi pijakan awal bagi distrik untuk memulai mengibarkan panji – panji tunas kelapa. Ini adalah salah satu capaian dambaanku, mengadakan perkemahan tingkat distrik dan membentuk Kwarran serta DKR. Sederhana sekali bukan. 

Rapat demi rapat telah aku galang, sebagai stimulant untuk orang – orang distrik terutama guru – guru aku menggandeng salah satu guru SMP yang juga gemar pramuka. Ci Halifah, begitu aku memanggilnya. Aku akan menceritakan siapakah dia di episode yang lain. Hahhaha. Aku diskusi lebih dalam tentang pembentukan Kwarran, sebagai pemula aku juga harus belajar. Segala informasi kuhimpun, kemudian aku transfer ke ci Halifah. Kami membentuk tim formatur di pertengahan Januari, sungguh kami harus bekerja keras untuk hal ini. beberapa kali pertemuan nihil hasilnya, tapi berkali itulah kami memulai cara baru untuk mengajak yang lain turun tangan. Jika prosedur yang benar itu runtun dari A- Z tapi kami belum bisa melaksanakan prosedur itu kali ini. Musyawarah tanggal 24 Januari 2014 telah membuka lembaran baru bagi pramuka distrik Kokas. Ketua Kwarran telah terpilih dan aku begitu lega. Pada musyawarah kali itu aku benar – benar jadi penonton, aku percayakan pada ci Halifah dan Ka Amansyah untuk hal itu dan di dampingi seorang andalan dari Kwarcab. Berjalan dengan baik.


Segala hal yang berkaitan dengan pelantikan Kwarran dan mabiran telah aku siapkan, menghubungkan kwarran dengan Kwarcab pun tidak begitu menjadi masalah besar, setelah musyawarah kemarin kami sepakat untuk mengadakan pelantikan di momentum Boden Powell 23 Februari 2014. Hanya selang 3 minggu saja, yah aku berusaha semaksimal mungkin agar pelantikan itu berjalan.

Yah, kebanyakan dari pengurus kwarran atau mabiran tidak punya baju pramuka. aku memahami itu karena ini baru. Di kotapun tidak ada yang jual baju pramuka untuk pembina, kalaupun harus menjahit bisa jadi harga kain dan ongkosnya 4x lipat dari harga di jawa. Entahlah bagaimana ceritanya, mereka meminta saya memesan dari Serang. Yah aku menyanggupinya asalkan mereka siap mengganti harga dan ongkos kirimnya.

kebetulan, kali itu lencana Mabiran, Kwarran sedang kosong di Kwarcab menjadikan aku berpikir bagaimana caranya agar saat hari pelantikan barang itu ada. Mencoba menghubungi relasi yang ada di Sorong, tapi nihil. Akhirnya aku memutuskan untuk memesan dari Serang dengan bantuan Jenal dan dedeh (adikku di Racana Untirta). Merekapun mengirimkan lencana dan beberapa baju serta perlengkapan pramuka yang tidak ada di sini.

Paketan Lencana & Seragam Tak Kunjung datang :’(
Normalnya mengirim barang dari Jawa ke Fakfak itu satu minggu hingga sepuluh hari. Beberapa kali aku mengecek resi online barang- barang itu sudah di Sorong, yah aku pikir sebentar lagi akan tiba. Berkali aku datang ke kantor pos dan nihil, aku sudah khawatir. Orang – orang sudah resah karena tanggal pelantikan semakin dekat, ingin memakai seragam pramuka itulah sebabnya. Aku lebih khawatir karena takut orang – orang marah barang tidak sampai dan tidak mau membayar baju yang sudah di pesan. Jadi ke khawatiranku bertumpuk, hingga hari kamis 20 Februari 2014  paketan itu tak kunjung datang. “Kapal dok, jadi tarada kapal masuk ke fakfak, barangkali besok ada Tatamailau dari sorong ka.” Yah hampir semua orang yang aku tanya di kantor pos menjawab demikian. Memang dua minggu ini tidak ada kapal masuk sehingga barang – barang pos tidak bisa di distribusikan. Akhirnya aku pasrah, Allah tahu yang terbaik. Aku kembali dan mengabarkan kalau paketan itu tidak ada termasuk lencana untuk pelantikan.
Hening. Tak ada yang membalas aku tahu mereka kecewa. Pun aku, tapi tidak ada yang salah dalam masalah kali itu.

Keajaiban itu ada....
Jumat siang, saat peserta jambore sudah hadir dan kami mempersiapkan upacara pembukaan. Ada seorang teman datang menghampiriku, ada kiriman barang dari Jawa. Aku masih tak yakin itu adalah paketan yang aku tunggu. Aku lemas, tak bisa berkata apa – apa saat Fajri mengangkat 2 kardus besar dari dalam taksi. “Ya Allah, terimakasih ...” batinku sambil menahan luh. Fajri di telpon petugas kantor pos dan di minta mengantarkan barang – barang itu. Lega....












Hari Pelantikan itupun tiba....
Majelis Pembimbing Ranting, Kwarran dan DKR Kokas 23 Februari 2014
Lepas upacara HUT Boden Powell, unsur Mabiran dan Kwarran berjalan menuju Gedung pertemuan distrik yang letaknya tak jauh dari Lapangan. Pelantikan di lakukan terpisah demi hikmatnya prosesi pelantikan. Aku memang tidak ada di ruangan itu, karena aku harus mengurus kegiatan Jamboree di Lapangan. Aku memang tidak di sana, tapi doaku mengalir bersama mereka. Berharap ketika aku sepulangnya aku dari sini, Kwarran Kokas sudah mandiri dan bisa mengibarkan panji – panji pramuka itu di daerah basis perang dunia ke dua. 

# Setidaknya sepulangnya aku dari sini, Kwarran dan DKR Kokas telah terbentuk dan satu panji berkibar gagah di belahan timur Indonesia. Tunas kelapa itu akan tumbuh kuat mengakar di sana dan menjadikan penyulut semangat untuk tunas - tunas lainnya.

Thursday, 2 January 2014

Pramuka bukan masalah A B C D ...


Aku bersyukur Tuhan telah mempertemukan aku dengan mereka, seperti menemukan permata dalam lumpur kedua kalinya, setelah aku menemui anak – anak hebat di SD kini aku menemukan semangat membara di mata mereka. Mereka adalah anak – anak SMA yang berhasil kuracuni dengan Pramuka, bukan racun dalam arti sesungguhnya.

Awalnya, aku putus asa ketika aku mulai membuka ekstrakulikuler pramuka di SMA. Hanya ada dua orang saja Sri dan Marten yang hadir tiap latihan. Segala capaian dambaanku tentang kepramukaan hilang di awal – awal bulan pertama latihan, sempat ingin mengakhiri saja ekstrakulikuler itu karena tidak begitu mendapat respon yang baik dari warga sekolah termasuk guru- guru. Tapi niat burukku itu tidak di restui oleh Allah nampaknya, karena semangat Marten dan Sri yang begitu luar biasa mereka berhasil mengajak anak – anak yang lain bergabung. Tanpa seragam pramuka pastinya, sungguh mereka datangpun itu sudah cukup membuatku senang.
Mengajarkan pramuka itu bukan masalah A B C D, atau masalah AD ART/ SKU dan berkemah terlebih pada usia penegak seperti mereka. Ini jauh lebih menantang dari pada mengajarkan penggalang menghafal morse atau semaphore. Akhirnya aku membuat kesepakatan dengan mereka untuk belajar memantaskan diri menjadi pramuka bersama – sama. Menjadi teman bagi mereka, yah itu yang kulakukan agar aku bisa masuk ke dunia mereka. Aku belajar untuk tidak menggurui, tapi menunjukkan yang aku tahu. Latihan demi latihan telah kami lewati, akhir semester ganjil menjadi momentum paling di tunggu bagi mereka, karena aku telah menyiapkan Persami. Dengan dana Rp. 0,-  aku menyetting kegiatan perkemahan yang merupakan perkemahan pertama seumur hidup mereka, menyiapkan kegiatan yang menarik agar mereka tidak kecewa. Tentu saja dengan bantuan mereka semua. Alhamdulillah kegiatan itu berjalan baik, 30 anak ikut serta dalam kegiatan kali itu. Sedikit demi sedikit aku mengenalkan mereka dengan kode etik pramuka, dan segala hal yang berbau pramuka. Perkemahan sederhana yang aku rencanakan itu, aku berharap menjadi jembatan awal dan pembelajaran bagi anak – anak yang ikut. Sungguh aku tak membuat kegiatan yang muluk, yang terpenting mereka tahu prosesnya agar nanti mereka tahu dan bisa membuat kegiatan yang lebih besar dari perkemahan kecil di akhir desember 2013 ini.

Melihat mereka begitu semangat dan antusias menjadikan aku haru, sayang aku hanya sebentar saja di sini batinku. Tapi bagaimanapun aku aku yakin mereka adalah anak – anak pilihan yang sengaja di kirimkan Allah untuk mengajariku lebih banyak hal.  Bersama mereka aku tak hanya belajar untuk menjadi pramuka sekedarnya, tapi belajar menjadi pramuka sebenarnya...


Makrab 14-15 Desember 2013


Wednesday, 30 October 2013

Nenek Koyar Tara Kosong'e....

Matahari terik diluar sana, aku baru menyelesaikan satu SK—Kd tentang KPK bersama anak—anak hari ini. Senang karena hari ini anak—anak telah merampungkan tugas dengan baik. sebagai hadiahnya, aku membacakan cerita berjudul ‘Monster Mata’ ini adalah salah satu cerita kesukaan anak—anak di kelas. Ada beberapa dari mereka yang hafal alur dan dialog ceritanya. Saat sedang asyik membaca cerita, pintu kelas di ketuk berkali-kali. Bukan ketukan indah untuk didengar, aku membukanya. Wanita bertubuh besar, berhidung mancung itu tegap berdiri di depan kelas. Aku memanggilnya Nenek Koyar. Aku sambut dengan senyuman terbaikku, tapi tak mendapatkan balasan.
“Iya nenek, ada apa? mau ada perlu ka deng Mega?,” aku menebak mungkin saja si Nenek mau panggil cucunya. Disini masih sering terjadi orang tua memanggil anaknya untuk disuruh sekalipun jam belajar. Wanita berkepala 5 ini masih diam tak bergeming, ia menata ulang pinang yang ada dimulutnya. “ tarada, sa ada perlu deng ibu.” jawabnya tegas. Aku mengangguk pelan
“Kasih kembali kunci perpustakaan, dong belum bayar sa pu uang batu. Kemarin Bapak ada angkat kunci dan kasih deng ibu to? Kalau ibu mu pi buka, bayar sa pu uang dolo,” kalimat pertama dan dilanjut dengan kalimat makian yang luar biasa keras sehingga membuat anak—anak dikelas ketakutan.
“cukimayu’o... Kambing...” ini adalah salah satu makian yang lumrah. Aku mencoba untuk tenang dan mencerna semua yang disampaikan.
“Nek, sa tara bawa kunci hari ini. sa janji sa tara buka perpustakaan sampai urusan selesai. Jadi nenek tara usah khawatir.” jawabku sedatar mungkin.
“kalau sampai sa liat ibu ada buka perpustakaan, sa palang itu pintu atau sa kasih bakar sekalian.” aku tak lagi menimpali ucapan si nenek. Nenek itu pergi sambil terus memaki, aku tetap berdiri demi melihat si Nenek hilang dari halaman sekolah. Anak –anak berhambur mendekatiku
“Ibu, tara papa to. Aduh ibu’e sa takut setengah mati.” kata Ona dan di sambung anak—anak yang lain. Mereka mengusulkan kalau ada seperti itu lagi, lebih baik Ibu pi sembunyi sudah. Mereka selalu saja menawar emosi yang sedang bergelayut di atap hatiku. Perpustakaan itu masih jadi sengketa sejak kedatanganku, padahal bangunannya sudah gagah berdiri tinggal disini buku dan anak –anak bisa menikmati. Hanya karena masalah uang batu yang tak kunjung dibayar menyebabkan perpustakaan ini dipalang berbulan—bulan. Hari ini nenek Koyar memintaku untuk membayarnya. Membayarnya? Mana mungkin ini bukan kewajibanku, meskipun aku harus melihat gurat sedih diwajah anak—anak saat aku menyatakan ‘kita tidak akan membuka perpustakaan sampai urusan selesai’. Tak seharusnya anak—anak tahu masalah uang batu itu bukan? Tapi apa boleh buat Nenek Koyar telah membuat seluruh penduduk sekolah tahu akan hal ini.

Sejak hari itu aku semakin tidak akrab dengan beliau, aku sudah mencoba membuka diri untuk menyapa atau sekedar melempar senyuman tapi nenek memberikan wajah flatnya. Aku pikir ini akan berjalan sampai akhir penugasanku disini, ini bukan hal yang aku inginkan tentunya. Masalah uang batu itu terkubur berlahan, aku tidak pusing dengan perpustakaan toh anak—anak bisa baca buku di kelas.
Hari ini 28 Oktober 2013, aku dan anak –anak sedang menyiapkan diri untuk ikut kegiatan “pesta siaga’ di Fakfak. Beberapa persiapan telah matang dan tinggal pemantapan untuk tarian sebagai hiburan di opening ceremony. Kami mendapat kesempatan untuk menampilkan tarian Timor dan lakadinding untuk OC. Dari kemarin beberapa orang tua murid sibuk mencarikan seragam baru, perlengkapan pramuka baru dan segala hal. Ini poin positif yang mendukung kelancaran kegiatan bukan? Sore lepas asar segerombolan mace—mace datang kerumah menyebabkan aku dan Mama piaraku bingung. Ada apa gerangan mace—mace ini datang? Ekspresinya tidak begitu santai jadi aku enggan mengira—ira. Nenek Koyar memimpin mace—mace duduk di depan teras. Tanpa harus dipancing, mace—mace ini mengutarakan maksudnya. Luar biasa mulia maksud kedatangan mace –mace ini. “ Jadi ibu, tara usah khawatir deng ongkos taksi. Katong pi sana mau bantu ibu awasi dong. Katong tara bisa bayangkan, ibu sibuk urus makan dong, kegiatan dong. Jadi ibu urus kegiatan supaya katong bisa masak untuk dong.” tegas Nenek Koyar.
Kalian tahu bagaimana rasaku saat nenek Koyar mengutarakan hal itu? Aku senang bukan kepalang bukan karena esok ada yang bantu pas di fakfak tapi lebih karena kekakuan yang terjadi beberapa minggu terakhir karena uang batu itu akan hilang. Aku mengiyakan dan berkali aku mengucapkan terimakasih karena kesediaan mace—mace untuk membantu aku dan anak –anak.
Sempurna, hari rabu 29 Oktober 2013. Mace—mace telah bersiap di depan rumah, beberapa mereka ada yang membawa tagas—tagas (Sayuran yang terdiri dari daun singkong, pepaya&kangkung) ada yang menyumbang beras satu kresek, membawa ikan segar. Aku begitu terharu saat mace—mace itu mengumpulkan sumbangan bahan makanan. Tuhan, ini tak pernah ada dalam bayanganku sebelumnya. Well, setelah persiapan mantap kami naik taksi biru milik Pakde yang sudah menunggu sejam yang lalu. Kami memilih untuk berangkat lebih pagi demi menghindari hujan diperjalanan, karena beberapa ruas jalan sedang di bongkar yang mengakibatkan kami harus lewat jalur darurat yah sedikit mengerikan karena berlumpur. Nenek koyar memang punya power lebih diantara mace—mace yang ada disini, idenya selalu diterima oleh Mace- mace. Tak kusangka memang Nenek Koyar punya sesuatu yang berbeda. "Memang nenek Koyar tra kosonge..."

Sunday, 29 September 2013

Mama Desa

Aku memanggilnya mama desa
Ya begitulah aku memanggil wanita paruh baya berdarah Buton—Papua ini. Kesederhanaan memancar hangat ketika menatapnya. Berhari-hari ini aku habiskan pagi dan soreku di dapur bersamanya. Kadang aku membantunya memasak atau sekedar menemaninya mengobrol sembari dia memasak. Mama desa selalu saja menghidangkan menu yang nikmat tiap jam makan tiba. Membuatkan kue untuk teman minum teh.
Sore itu aku mendapatkan banyak inside positif dari sosok hebat mama desa. Obrolan hangat yang menyenangkan. Ia mulai mengisahkan masa kecilnya yang menurutku kurang beruntung, ia lahir besar dikeluarga yang sangat pas-pasan bahkan bisa dikatakan kekurangan. Keluarga yang jarang menyajikan nasi sebagai makanan. Sangat jauh dari kemewahan atau sekedar pelengkap 4 sehat 5 sempurna. Hal itulah yang menyebabkan mama desa tidak mau makan nasi dari beras biasa hari ini. Ia hanya makan dari besar bulog atau sagu. Bayangkan beras bulog yang ada disini tidak lebih baik dari rasa nasi tiwul yang ada di kampungku sana. Baunya tidak lagi seperti nasi ketika di masak. Bisa jadi jika beras ini di Jawa sudah tidak ada yang mau makan lagi. Tapi lagi—lagi Jawa dan Papua itu berbeda. Beras biasa menjadi menu mahal dan hanya bisa dinikmati segelintir kalangan saat mama desa masih kecil, mungkin hari inipun tak jauh berbeda.
“Mama tara biasa makan nasi enak ibu.” begitu alasannya. Mulutku menganga sejenak, nasi enak? Bukankah rasa nasi itu sama saja? Bukankah nasi enak itu ketika dimakan dengan lauk yang enak. Atau nasi yang dijual direstaurant beken dengan merk ternama itu?
“kenapa begitu mama? Bukankah nasi itu sama rasanya?,”timpalku.
“Tidak ibu, dari kecil sa makan nasi dari beras bulog tara pernah makan nasi enak. Sa pu bapak tara bisa beli nasi enak” jawabnya tenang. Berkali –kali mama desa mengungkap nasi itu terlalu enak dan terlalu mahal untuk dia makan.
Bukankah sekarang mama adalah istri bapak Desa, bisa dibilang cukup berada dan mapan untuk urusan makan. Tapi kenapa mama tetap pada kebiasaannya waktu masih hidup kekurangan? Lalu aku membayangkan jika negeri ini dipenuhi oleh orang—orang seperti mama desa, yang tetap sederhana meskipun menjadi pejabat. Yang tidak latah dengan gaya hidup yang modern atau menginduk pada hedonisme. Pasti negeri ini akan jauh lebih baik. pun aku tak bisa menyalahkan naluri manusia hari ini, karena kadang aku juga tak bisa sebijak mama desa setiap waktu.
“jadi kalau ada sagu deng nasi enak, sa lebih baik makan sagu, ibu.” tambahnya memutus lamunanku tentang kesederhanaannya. Sagu? Bahkan sampai 4 bulan aku disini aku masih berjuang untuk bisa makan itu. Karena rasanya yang tak bersahabat dengan lidahku. Lalu aku mengutuki diriku sendiri yang sering kesal karena nasi yang kumakan terlalu keras atau kurang pulen. Atau malas makan karena tak ada lauk yang kusukai, dan seringkali membuang nasi yang ada dipiring makan karena selera makanku menurun. Aku begitu dzalim bukan? Yah tak seharusnya aku melakukan itu, kemarin aku bisa melakukan itu (membuang nasi semauku, memilih—milih nasi, atau marah karena nasi kurang masak) tapi hari ini? Tuhan begitu baik padaku hari ini, membiarkan aku belajar dari sosok bersahaja Mama desa tentang hal sederhana menghargai nasi dan mensyukuri apa yang kita makan sebagai rizki.
Cerita tentang nasi enak itu berakhir ketika suara tifa masjid mulai ditabuh, sebagai pertanda magrib telah datang. Lamat—lamat aku menguliti senyum mama desa dibalik senja kali itu, berharap ada kesempatan mendengarkan kisah hebatnya esok hari. Dia bukan hanya istri yang menyenangkan bagi Bapak desa tapi juga sosok ibu yang luar biasa..

Tarak, September 2013

Wednesday, 31 July 2013

Sebotol Mizone (Bukan Iklan)

Hujan senja ini telah mengantarkan dingin pada semestaku. Membuat malas setiap insan untuk beraktivitas diluar rumah, pun aku. Tapi malas itu harus kubuang dulu sepertinya karena esok aku harus mengajar kembali. Cukup istirahat di kota seharian ini. Akhirnya payung biru tuaku mengantarkan langkahku di depan gang kosan, cukup lama aku menunggu taksi bahkan satu ojekpun tak ada yang melintas. “Aduh kalu sampe ga ada yang lewat gimana nih?,” risauku. Aku takut ga kebagian taksi pulang. Aku menghabiskan hujan di emperan terminal Kokas. Di pojok terminal helak tawa sesak, asap rokok mengepul sesekali tawa khas Fakfak keluar “Haaahahahhahahei...” yah tawa yang mulai akrab dengan gendang telingaku. Berkali kali aku membenahi tempat dudukku, ini bukan karena ada sesuatu yang mengganggu tapi ini tanda aku mulai bosan.
“ Ibu, kalau penumpang tarada katong tara naik ke kampung.” kata sopir taksi padaku.
“ Iya pak, semoga ada.” Jawabku singkat.
Sudah hampir setengah jam aku habiskan dengan menunggu, tadi aku belum asar karena waktu aku berangkat jam di kontrakan baru menunjukkan pukul 15.05 sekarang sudah puluk 15.58 sebentar lagi jam 16.00 dan aku tak tau apakah taksi yang ada didepan mataku ini bakal naik kampung.

Akhirnya obrolan senja itu mengalir seperti air hujan yang terus mendekap terminal kali itu. Ibu itu akrab di panggil mama Dzafa, itu nama anaknya. Pun aku memanggil begitu, awalnya aku pikir ibu ini seperti kebanyakan pedagang yang lain, ternyata tidak. Dari cara dia bicara dan menanggapi pembicaraan memang berbeda, terlebih saat ibu ini membicarakan masalah pendidikan. Tiba—tiba aku penasaran, jangan—jangan ini intel pendidikan yang lagi nyamar. Hahhaha aku ngaco. Lalu aku mulai bertanya tentang siapakah sosok sebenarnya dibalik botol—botol yang berjajar di hadapannya.
“ Ibu, jualan disini setiap hari yah?,” tanyaku
“Tidak mbak, saya jualan disini kalau tidak ada jam ngajar dan lagi liburan aja.” jawabnya
Hah? Kalu lagi ga ada jam ngajar? Berarti ibu ini guru? Atau baiklah dengarkan pernyataan beliau selanjutnya. “Saya nghonor mbak, di SMP 2 di seberang sana.” seberang adalah nama daerah di sebelah pelabuhan, orang—orang akrab menyebutnya seberang. Mungkin karena daerahnya terlihat dari seberang pelabuhan kali yah. Sok tau lagi ni...
“ibu sudah berapa lama ngajar di sana?,” timpalku.
“ belum lama mbak, 4 tahun saja.” jawabnya ringan. Empat tahun ngehonor? Betah? Oh My God... Kenapa ga daftar jadi PNS aja sih gumanku dalam hati. Terang saja ibu itu tidak bisa daftar PNS karena beliau baru menyelesaikan S1’nya tahun lalu. Dan usut punya usut wanita kelahiran Buton, 28 tahun yang lalu ini tinggal di pasar terminal. Begitulah si ibu ini menyebut alamat rumahnya.

Obrolan itu habis, ketika Dzafa anak si ibu itu merajuk pulang. Kemudian ibu itu mengemasi barang—barang dagangannya memasukan ke lemari kayu dan menguncinya. “Ibu, disini masjid atau mushola terdekat dimana ya?,”
“kalau tidak keberatan, mari solat di gubuk saya mbak.” tawarnya.
Dengan senang hati, aku mengiyakan tawaran beliau. Setelah sedikit melobbi sopir agar mau menungguku sejenak akhirnya aku mengekor ibu itu dari belakang. Memang tidak jauh hanya 100meter saja dari terminal. Aku menyelidik mencari bangunan yang disebut rumah, tapi alpa. Yang aku lihat hanya kios—kios kecil tak terurus dan beberapa penjual.
“saya dan suami memilih tinggal disini mbak, dari pada ngontrak rumah. Mahal banget mbak.” tutur ibu itu sambil membuka gembok di pintu papan.
“ iya bu, gak papa yang penting aman.” timpalku mencoba meredam kesedihan si ibu.
“ silakan masuk mbak, maaf tidak ada bangku malah langsung dapur.”

Ruangan yang berukuran 4x3 meter ini penuh dengan alat masak, di belakang ada satu ruangan kecil 2x3 meter yang katanya itu adalah kamar. Aku meletakkan tasku di dekat mesin jahit, tadi si ibu sempat cerita suaminya adalah penjahit di pasar tambaruni. Mungkin ini mesin jahit yang satunya. Si ibu menyerahkan teko plastik padaku, yang tidak lain dan tidak bukan adalah gayung untuk menimba air dari drum besar di belakang kiosnya. Drum air hujan. Subhanaullah ini wudhu ternikmat minggu ini. Akhirnya aku salat di kamar si ibu. Hanya 7 menit saja, lepas itu aku pamit karena aku takut taksi jalan.
Pikiranku masih menganga membayangkan bagaimana ruwetnya tinggal di rumah papan begini, bahkan rumah ini lebih kecil daripada kamarku sebenernya. Aku lebih beruntung bukan? Ketika ditempatkan di daerah ini dan mendapatkan orang tua asuh yang berkecukupan. Aku malu, bagaimana mungkin aku membiarkan diriku mengeluh berkepanjangan ketika rumah hostfamku tidak ada jamban, air tak mengalir atau sepanjang hari lampu tak menyala.
“ Mbak, kalu kemalaman silakan mampir mungkin juga mbak mau bermalam disini.” tawar ibu itu sambil mengantarkanku ke depan pasar. Kemalaman? Menginap? Aku akan memikirkan sejuta kali untuk itu sepertinya, tapi ibu ini memang luar biasa dia tak mengiba dengan keadaannya hari ini.
“Iya bu, terimakasih banyak sudah diijinkan solat disini.” jawabku sambil menyalami wanita paruh umur itu. Jilbab besarnya mengembang tertiup angin, matanya berbinar. Aku melangkahkan kakiku pelan, “ mbak Wik....” teriakan ibu itu menghentikan langkahku.
“ Iya bu saya.” aku menoleh kebelakang. Si ibu berlari kecil menghampiriku,
“Mbak ini bekal untuk batal dijalan.” kata si ibu sambil menyodorkan sebotol Mizone padaku.
Deg, jantungku seakan di hujam parang. Kenapa ibu ini baik banget, padahal aku baru mengenalnya 1.5 jam yang lalu. “ Ibu, kenapa repot—repot.” jawabku
“ Ini sudah jam 5 lebih pasti nanti batal di jalan. Tolong ambil sudah...” si ibu menggenggamkan botol biru 600 ml itu ditangan kananku. Saat itu dunia seakan terhenti sejenak, melihat ketulusan ibu guru honorer yang mau menjadi penjual asongan di terminal. Mataku berkaca—kaca, sambil mengucapkan terimakasih aku berlari kecil meninggalkan si ibu itu. Aku belajar ketulusan yang luar biasa dari ibu itu.
Aku belajar untuk tidak mengeluh atas keadaan yang Tuhan berikan padaku. Dan ibu itu mengajariku tetap bijak menatap kehidupan, hidup ini memang keras tapi jika kita hadapi dengan keras maka tidak akan menghasilkan apa—apa. hidup ini tak akan ada artinya ketika kita tidak mencoba mensyukuri apa yang Tuhan berikan termasuk papan yang nyaman, pangan yang enak dan sandang. bersama hujan yang luar biasa senja itu kututup dengan meneguk Mizone yang berharga itu. membatalkan puasa di tengah hujan di perjalanan. Nikmat... terimakasih Tuhan

Terminal Kokas, bersama senja yang hujan 10 Juli 2013