16 September 2013
Welcome Tendi,
Dari semalam, ia sibuk
menyiapkan baju barunya. Sepertinya ia sudah penasaran ingin sekolah.
Panggil dia Tendi, dia adalah adik piara di keluarga Nenekku. Dia belum
lama tinggal di keluarga kami, hanya berjarak 3 bulan sebelum
kedatanganku ke Kampung ini. Wamena, yah dari sanalah Tendi lahir dan
besar hingga ada keajaiban kecil yang mempertemukan Tendi dengan Om
Kivil. Om Kivil adalah adik Bapak piaraku yang menjadi tentara, dulu
pernah bertugas di Wamena tempat tinggal Tendi. Selidik punya selidik,
Wamena tempat tinggal Tendi bukanlah kotanya tapi pegunungan. Pertemuan
ajaib begitulah aku menyebutnya, tawaran om Kivil untuk membawa Tendi ke
Kampung ini mungkin sedikit tidak rasional, bahkan diawal ini ditentang
oleh keluarga besarku. Bagaimana mungkin Om Kivil mau mengangkat anak
yang baru dikenalnya. Tendi memiliki masa kecil yang tidak biasa dari
anak—anak pada umumnya, dia harus melihat pahitnya kematian Ayahnya yang
dibunuh oleh Neneknya sendiri karena menentang. Pun aku tak bisa
membayangkan bagaimana perasaan Tendi ketika melihat Ayahnya dibunuh
didepan matanya. Tapi Tendi memang luar biasa, trauma yang ia miliki
menjadi cambuk baginya untuk terus melanjutkan kehidupan. Setelah
kematian ayahnya yang begitu tragis, ia harus merelakan sekolah tempat
ia belajar habis dibakar. Habis. Lebur semua cita—cita Tendi dan
teman—temannya saat itu. Bangunan yang bernama sekolah itu lenyap
menjadi abu. Guru yang pernah mengajarnya menyelematkan diri, pindah
dari Kampungnya dan tak pernah kembali. Bertahun—tahun keadaan
membiarkan dirinya tak bersekolah, kesehariannya ia habiskan dengan
menjerat dan berburu.
Tendison begitulah anak berusia sekitar 13
tahun ini dipanggil, dia kini menjadi murid di kelas 4 . Aku meminta dia
duduk di kelas 4 karena beberapa guru menyuruh dia masuk kelas 1, itu
akan membuat dia minder ketika harus bermain dengan temannya yang
usianya jauh berbeda dengannya. Selain itu, murid dikelasku Cuma 14 jadi
aku bertekad memberikan pelajaran yang berbeda dengan temannya,
disesuaikan dengan kemampuan Tendi pastinya. Yah, guru—guru mengijinkan
tendi masuk kelas 4, setiap harinya aku menyiapkan bahan ajar khusus
untuk Tendi. Aku juga mencoba menjelaskan pada tendi, kenapa dia harus
mendapatkan pelajaran yang berbeda dengan temannya yang lain.
“Bukan
karena Tendi tidak bisa mengerjakan ini, tapi Tendi mulai dari yang
mudah dulu to. Sebentar kalau tendi su paham, ibu kasih soal yang sama
deng kau pu teman. Bagaimana tendi?,” begitu jelasku. Dia masih jarang
bicara, untuk mengatakan Iya biasanya dia hanya mengangguk dan
tersenyum. Persis. Dia melakukan hal itu saat aku menjelaskan itu.
Aku
tak mengira, Tendi yang mengaku sudah lama tak bersekolah itu ternyata
bisa menulis rapi dan menghitung dengan cepat. Ia begitu cepat mengingat
apa yang aku sampaikan di kelas, terlebih saat aku menyampaikan cerita.
Dia memang belum bisa membaca, jadi pelajaran harus sering—sering
disampaikan melalui cerita agar dia juga bisa mengikuti.
Hari ini
yang aku siapkan adalah energi untuk menjawab setiap pertanyaan yang
keluar darinya, yah pertanyaan tentang hausnya pengetahuan. Kini dia
lebih berani dan aku lebih berani meyakinkan dia berhak atas masa depan
yang cemerlang. Tendy tersenyumlah, dunia pasti bangga melihat
semangatmu
No comments:
Post a Comment