Tuesday, 15 October 2013

Pak Bakrie

 Karena sebuah pertemuan selalu memberikan kesempatan untuk belajar.
Hari ini,12 Oktober 2013. aku belajar dari sosok luar biasa pak Bakrie, yah begitu orang akrab memanggil lelaki berusia lanjut itu. Senyumnya mengembang pelan saat beberapa kali orang menyapanya. Pertemuan yang tak direncanakan, begitu kataku. Setelah lelah menunggu kedatangan pejabat teras yang mau silaturahmi dengan guru—guru se distrik akhirnya berbuah makna yang luar biasa. Bukan hanya aku yang merasakan sepertinya, tetapi juga peserta lainnya. Tentu bukan karena isi arahan dari pejabat nomor wahid di kabupaten ini, atau karena janjinya yang akan membangunkan rumah dinas untuk guru—guru serta tenaga medis. Lebih karena kehadiran pak Bakri di ruangan itu, yah tidak ada yang sia—sia batinku. Lalu pak Bahar, kepala SMP N 1 Kokas mulai menceritakan perjuangan pak Bakri. Tuhan... Aku tak bisa menahan luhku mengalir saat sosok bersahaja itu mengusap luhnya.
“Pak Bakri mengabdi disini su 30 tahun, dorang tara pernah mengeluh malah dorang tara mau katong suruh istirahat. Dorang bilang, sa tara mau makan gaji buta. Baru kitorang yang muda—muda malah malas—malas pi ngajar.”
Deg, aku merasa tertampar dengan kata—kata pak Bahar barusan. Semoga tamparan itu juga dirasakan guru—guru yang duduk mematung di sampingku. Dia benar dan sangat benar, sesekali pak Bakrie lelaki yang rambutnya telah berganti warna itu menyeka matanya dengan shall yang mengantung dilehernya. Kemudian pertemuan itu berlalu. Setelah ditutup aku tak sabar berkenalan dengan pak bakri, demi menyembunyikan rasa haruku aku menyeka mataku berkali—kali dan menarik nafas panjang. Itu tak mudah dilakukan, apa lagi untuk orang sensitif seperti aku.
“Assalamu’alaikum Bapak,” aku menjabat erat tangannya yang oenuh keriput. Beliau membalas lirih, lalu obrolan ringan mengalir deras, sederas kekagumanku pada sosoknya.
“Dulu waktu bapak sampai disini, Kokas belum ramai dan maju seperti ini. Masih sepi.” Hah? Masih sepi? Bukankah sekarangpun masih sepi. Telisikku. Lalu pak bakri menceritakan perjuangan mengajarnya yang luar biasa.
“Dari tahun 85 sa su mengajar Matematika disini, dan baru tahun 2004 kemarin ada yang membantu sa mengajar. “


Yah, beliau inilah guru matematika satu –satunya dari tahun ketahun. Dulu boleh saja, beliau mengajar beberapa kelas tapi hari ini tidak memungkinkan lagi. Tongkat kaki segitiga itulah yang membantu langkahnya lebih cepat, usianya sudah berkepala 7. semangatnya masih seperti kepala 3. luar biasa...
“Baru, bapak pu rumah dimana ka?,”
“Selebes.” jawabnya singkat. Selebes? Bukankah itu kampung dibelakang bukit ini, yang jalannya belum dibangun sampai hari ini? Kampung yang hanya bisa diakses dengan berjalan kaki kalau hujan turun, dan bisa ditempuh dengan sepeda motor tertentu saja.
“Jauh ya pak, baru bapak kalau pi sekolah deng apa?,”
“Sa jalan saja, ibu.”  Ah tidak, aku tidak bisa membayangkan Pak bakri berjalan dengan tongkatnya menyusuri bukit terjal berbatu itu. Aku terdiam, tergugu lama membayangkan perjuangan pak Bakri. Mataku mulai basah. Tatapanku jatuh saat pak bakri menyeka luhnya juga. Aku muda, ditempatkan di Sd yang mudah dijangkau dengan segala kendaraan, tidak harus mendaki bukit yang terjal tapi kadang aku masih sering mengeluh. Tidak pantas sekali bukan?
“Terimakasih ibu, su mau datang mengajar disini.”
Tidak pak, jangan mengatakan itu. Saya belum melakukan apa –apa pak.
“Iya pak, doakan saya bisa menjadi seperti bapak.”
“Saya yakin ibu pasti bisa lebih baik dari saya., ibu masih muda dan punya semangat jadi bisa melakukan yang lebih dari saya yang su tua ini”
Amin, begitu balasku. Saat itu aku tak bisa menyembunyikan luhku. Aku tak bisa melanjutkan obrolan itu dalam kondisi haru begitu pikirku. Pun aku tak mau guru—guru lain bertanya kenapa aku menangis.
“Bapak, terimakasih banyak. Saya pamit dulu. Semoga ada kesempatan untuk silaturahmi lagi.”
“InsyaAllah ibu, ada.”
“Sekali lagi, terimakasih saya belajar banyak dari ini dari bapak.” Aku kembali menjabat tangan beliau dan berlalu pergi. Beliau beranjak dari kursi biru demi melihatku enyah dari halaman SMP N 1 Kokas. Aku kembali melempar pandanganpada lelaki berkopiah hitam putih, berbaju pramuka dan bercelana coklat muda itu. Tatapannya bersahabat dan senyumnya bersahaja. Ia melambaikan tangannya padaku dan aku balas pelan sambil setengah berlari.
Sepanjang jalan aku sibuk menyeka airmata, dan menata hati untuk menerima makna luar biasa yang diberikan pak bakri hari ini. Guru sepanjang masa, begitulah orang menyebutnya.
Tuhanku Yang Maha baik, akan memberikan balasan bagi siapapun yang melaksanakan kewajibannya dengan penuh tanggungjawab dan penuh ketulusan. Seperti pak bakri yang mengabdikan dirinya tanpa pamrih. Bersama hari ini, kututup bersama senyum senja yang indah merekah, berduyun burung—burung hitam itu terbang mencari sangkarnya. Merekapun membawa cerita tentang hari ini untuk dikisahkan pada induknya.... Indah !

No comments:

Post a Comment