16 September 2013
Welcome Tendi,
Dari semalam, ia sibuk
menyiapkan baju barunya. Sepertinya ia sudah penasaran ingin sekolah.
Panggil dia Tendi, dia adalah adik piara di keluarga Nenekku. Dia belum
lama tinggal di keluarga kami, hanya berjarak 3 bulan sebelum
kedatanganku ke Kampung ini. Wamena, yah dari sanalah Tendi lahir dan
besar hingga ada keajaiban kecil yang mempertemukan Tendi dengan Om
Kivil. Om Kivil adalah adik Bapak piaraku yang menjadi tentara, dulu
pernah bertugas di Wamena tempat tinggal Tendi. Selidik punya selidik,
Wamena tempat tinggal Tendi bukanlah kotanya tapi pegunungan. Pertemuan
ajaib begitulah aku menyebutnya, tawaran om Kivil untuk membawa Tendi ke
Kampung ini mungkin sedikit tidak rasional, bahkan diawal ini ditentang
oleh keluarga besarku. Bagaimana mungkin Om Kivil mau mengangkat anak
yang baru dikenalnya. Tendi memiliki masa kecil yang tidak biasa dari
anak—anak pada umumnya, dia harus melihat pahitnya kematian Ayahnya yang
dibunuh oleh Neneknya sendiri karena menentang. Pun aku tak bisa
membayangkan bagaimana perasaan Tendi ketika melihat Ayahnya dibunuh
didepan matanya. Tapi Tendi memang luar biasa, trauma yang ia miliki
menjadi cambuk baginya untuk terus melanjutkan kehidupan. Setelah
kematian ayahnya yang begitu tragis, ia harus merelakan sekolah tempat
ia belajar habis dibakar. Habis. Lebur semua cita—cita Tendi dan
teman—temannya saat itu. Bangunan yang bernama sekolah itu lenyap
menjadi abu. Guru yang pernah mengajarnya menyelematkan diri, pindah
dari Kampungnya dan tak pernah kembali. Bertahun—tahun keadaan
membiarkan dirinya tak bersekolah, kesehariannya ia habiskan dengan
menjerat dan berburu.
Tendison begitulah anak berusia sekitar 13
tahun ini dipanggil, dia kini menjadi murid di kelas 4 . Aku meminta dia
duduk di kelas 4 karena beberapa guru menyuruh dia masuk kelas 1, itu
akan membuat dia minder ketika harus bermain dengan temannya yang
usianya jauh berbeda dengannya. Selain itu, murid dikelasku Cuma 14 jadi
aku bertekad memberikan pelajaran yang berbeda dengan temannya,
disesuaikan dengan kemampuan Tendi pastinya. Yah, guru—guru mengijinkan
tendi masuk kelas 4, setiap harinya aku menyiapkan bahan ajar khusus
untuk Tendi. Aku juga mencoba menjelaskan pada tendi, kenapa dia harus
mendapatkan pelajaran yang berbeda dengan temannya yang lain.
“Bukan
karena Tendi tidak bisa mengerjakan ini, tapi Tendi mulai dari yang
mudah dulu to. Sebentar kalau tendi su paham, ibu kasih soal yang sama
deng kau pu teman. Bagaimana tendi?,” begitu jelasku. Dia masih jarang
bicara, untuk mengatakan Iya biasanya dia hanya mengangguk dan
tersenyum. Persis. Dia melakukan hal itu saat aku menjelaskan itu.
Aku
tak mengira, Tendi yang mengaku sudah lama tak bersekolah itu ternyata
bisa menulis rapi dan menghitung dengan cepat. Ia begitu cepat mengingat
apa yang aku sampaikan di kelas, terlebih saat aku menyampaikan cerita.
Dia memang belum bisa membaca, jadi pelajaran harus sering—sering
disampaikan melalui cerita agar dia juga bisa mengikuti.
Hari ini
yang aku siapkan adalah energi untuk menjawab setiap pertanyaan yang
keluar darinya, yah pertanyaan tentang hausnya pengetahuan. Kini dia
lebih berani dan aku lebih berani meyakinkan dia berhak atas masa depan
yang cemerlang. Tendy tersenyumlah, dunia pasti bangga melihat
semangatmu
Monday, 23 September 2013
Saturday, 14 September 2013
Boneka Salju & Imran
Kampung baru, 2013
Kali ini fokusku beralih pada Imran dan Fahri. Imran itu anak tetangga dan fahri itu adik pertamaku di rumah. Ternyata mereka tak mau k*
alah dengan Anisa dan Fikram. Dan aku yakin mereka akan membuat sesuatu yang berbeda dari anisa serta fikram.
| Imran menunjukkan Bonekanya padaku |
“ Imran, itu bagus sekali sebentar jadi apa?,” tanyaku pelan.
“ibu, ini beta pu wajah. Su mirip to?,” jawabnya sambil menunjukkan ke aku.
Hehhehe dia bilang lagi bikin wajah dia sendiri, sudah miripkah?
“ owh ini kau pu wajah? Mantab—mantab. Coba kau simpan telinga biar mirip dengan kau pu wajah.” dan benar saja dia mengikuti saranku.
“ Eh imran, tara da wajah manusia kotak macam kau pu.” kata Fahri kencang.
“ Beta bi sponge bob jadi wajah pu beta kotak.” jawabnya sambil terkekeh hahahha
Padahal aku takut imran marah ketika fahri mengritik hasil karyanya. Ternyata mereka terbiasa dengan hal seperti itu. Sela—sela kesibukan mereka berkarya dengan tanah liat aku masih asyik meneleaah kepolosan mereka.
“ Kakak ibu, beta bikin boneka bagus.” kata fahri tiba—tiba menggunting lamunanku.
“kau bikin apa fahri? Mari kakak ibu lihat.” pintaku. Dia membuat dua bola dan di gabungkan di tambah lidi—lidi kecil menancap di kanan kirinya. Sepertinya ini boneka tak asing bagiku, tapi lagi—lagi aku tak mau menebak dengan apa yang sudah aku tahu. Kali saja ini boneka punya nama lain menurut fahri. “ Fahri, boneka apa itu?,” tanyaku menyelidik
“ ini boneka salju, beta su liat di tv dulu.” boneka salju atau nama bekennya snow man, great dia tahu lebih dari teman—temannya.
“ kau tau dimana boneka salju itu hidup?,” tanyaku menggorek pengetahuan dia tentang snow man
“Ooo... Beta tau.” jawabnya terputus tiba—tiba dia lari ke kebun dan memotong daun keladi.
“sebentar ibu, beta lupa ini saljunya.” dia mengangkat boneka saljunya dan meletakkan ulang di atas daun keladi yang berwarna terang. Dia sedang menganalogikan daun itu sebagai salju tempat tinggal si boneka salju itu. Hebat bukan? Bahkan aku saja tak kepikiran sebelumnya jika aku diminta mencari bahan untuk menggambarkan salju. “ibu, kenapa di beta pu kampung tarada salju? Beta pengen liat boneka salju beneran, Ada tidak ibu?” tanyanya.
Oh My God, dia tanya kenapa tak ada salju di tanah Pala ini dan keinginannya melihat snow man sesungguhnya. Memangnya ada ya snow man itu? Tiba—tiba aku terlihat bodoh tentang keberadaan manusia salju sebenarnya.
“Fahri, kitong tara bisa liat salju di sini. Kitong pu negera itu panas, salju itu di tempat yang tinggi dan dingin.”
“ oh beta tau ibu, di kutub kitong bisa bertemu boneka salju to?,”
“Ia pinter.” mantab benar—benar, dulu aku sekecil ini tak terpikir hal—hal yang seperti ini, tenyata jauh tempat tinggal dan terbatasnya listrik serta sinyal tak membunuh pengetahuan dan imajinasi mereka tentang kehidupan. Aku semakin yakin, anak— anak hebat di kota pala ini bisa bersaing dengan anak—anak metropolitan ketika di sentuh dengan cinta dan pengetahuan.
Akhirnya, matahari turun perlahan imran pamit pulang dan fahri nampaknya sudah mulai bosan. Tak lupa mereka membereskan jalan dari bongkahan tanah liat. Aku senang hari ini aku telah belajar dari mereka dan mereka sedang memadatkan imajinasi mereka sepeti saat mereka memadatkan tanah liat itu dan membentuknya menjadi bentuk yang mereka inginkan. Dan aku berharap esok ketika mereka besar mereka mampu memilih tanah yang bagus, memadatkan dan membentuknya menjadi guci yang indah.
Tambelo, Serius ini !
Pagi itu matahari hangat memancar di Kampung baru, bau tanah masih lekat di hidung setelah gerimis tak tuntas membungkus kampungku semalam tadi. Pagi begitu cepat hadir selama disini, dan kokok ayam jantan tergantikan suara anak—anak kecil berlarian di depan rumah mereka menghambur ke pantai meski mata mereka masih terkantuk.
Selepas membereskan dapur dan halaman aku memutuskan untuk membakar sampah di samping di rumah. Pace rahul dan om Rafi berkali—kali melintas di depanku sambil membawa dirigen besar di susul Tete (kakek) dengan goloknya. Nampaknya mereka sedang buru—buru,
“Teteeee...eee beta ikut.” teriakan Anisa memecah konsentrasiku pada sampah di depanku.
Gadis berrambut ikal itu berlari menghambur keluar rumah menuju darmaga kecil di belakang rumah. Aku masih mengikuti langkahnya, karena darmaga itu nampak jelas dari samping rumah.
Aku memadamkan api sampahku dan berlari menuju darmaga, menyusul Anisa, ikram, Pace Rahul dan Tete.
“ mau pergi kamana Te?,”
“Pi cari tambelo.” jawab Tete
Sepertinya menarik dan aku belum pernah tahu apa itu tambelo, aku memberanikan diri untuk ikut.
“ Yeeeee... Kakak ibu ikut cari tambelo.” teriak Anisa menyebabkan anak—anak yang dari tadi main air di sebelah terperanjat dan berhamburan menuju longboat.
“ Beta ikut lai... “
“Kakak ibu kenapa diam saja? Kakak takut ka?,” tanya Fikram
Hah? Ko dia tahu aku sedang menahan takutku? Aku hanya mengembangkan bibirku yang dari tadi terkatup.
“ Hehhehe... Tarada. Kakak sedang lihat ikan.” alihku.
Ternyata aku tak pandai mengalihkan topik, karena setelah pertanyaan itu Longboat terguncang keras. Ombak lautan Kokas menyapa, sepertinya ia ingin berkenalan denganku. Jemariku menggenggam erat bibir longboat sambil mendoa dalam hati. “tenang, tenang semua akan baik—baik saja.” batinku.
Setelah 35 menit mengarungi biru lautan, longboat tua milik Tete menepi di pantai. Kalau tidak salah namanya ‘Pantai Tanisa’ pasir putihnya menyilaukan mata. Rindang pohon ketapang berjajar rapi. Suguhan mata yang menenangkan. Bahkan kau tidak akan menemukan ditempat lain, ketika menatap ke kanan gugus karang di tengah laut gagah berdiri. Menatap ke kiri, gugus pulau kecil—kecil tertata rapi. Ikan kecil—kecil berenang riang di bibir pantai. Kami bergegas turun dari longboat, menurunkan perbekalan. Perburuanpun dimulai, sedikit lebai memang. Aku menyebutnya perburuan tambelo.
“Kakak, katong tunggu sini sudah. Cari tambelo setengah mati.” kata Anisa
Benarkah susah? Tapi aku harus mencobanya bukan? Aku tak ingin melewatkan satu momentumpun disini. Tapi memang tak semudah yang aku bayangkan, bahkan setelah aku melihat seperti apa tambelo itu rasa penasaranku berubah menjadi rasa geli. Men, tambelo itu lebih menggelikan dari pada melihat cacing tanah. Kulitnya putih, dalamnya berisi lumpur, lebih panjang daripada cacing pada umumnya. Kalau tidak salah ini termasuk kelas kerang—kerangan, semoga masih ada yang ingat pelajaran biologi kelas 1 SMA. Menyentuhnya membutuhkan energi ekstra untuk membunuh kegelian, hahahah.
Yang lebih tidak masuk akal adalah ketika Anisa dan Fikram mengajakku untuk makan.
“Kakak Ibu, mari katong makan sudah.” ajak Anisa
“Apa? Makan mentah begitu?,” tukasku kaget.
“Enak’o.” sahut Fikram dan yang lain.
Oh My God, aku bahkan tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya terlebih ketika tahu dimana tempat tinggalnya dan bentuknya. Fikram dan yang lain makan tambelo seperti makan Nutrijell yang dikeluarkan dari kulkas.
Perburuan tambelo diakhiri ketika Pace Rahul memanggil kami. Lumayan dapat banyak, kami kumpulkan dalam satu loyang besar. Pesta tambelopun dimulai setelah mama tua membuat rica asam dan menuangkan teh dalam sagu.
“Kak, mari makan sudah.”
“terimakasih, sa su kenyang.” bohongku lagi. Bagaimana mungkin aku memakan tambelo itu mentah—mentah? Tidak. Tidak gumanku dalam hati.
“Ibu, kalau su kesini harus makan kalau tara coba pamali. Jadi ibu orang tara bisa balik pi Jawa lai.” kata Pace menyodorkan loyang tambelo padaku.
Pamali? Kalau tau begini aku tidak akan pergi, batinku. Yah aku percaya saja dengan apa kata pace, maka dengan segenap hati aku mengambil sepotong tambelo dan mencucinya di air laut. Semua duduk disampingku, membuat setengah lingkaran yah demi melihat aku memakan makhluk yang bernama tambelo itu. Berkali aku mengernyitkan dahi dan menutup mata, menunggu mulut terbuka untuk menerima makanan baru.
“hug...” suara enegku saat tambelo mentah itu melintas dikerongkonganku. Aku meneguk air teh bergelas—gelas setelah berhasil menelan tambelo mentah itu. Riuh tepuk tangan dan tawa khas Kokas membumbung. Aku berhasil, yah aku berhasil membunuh rasa geliku itu.
“Yeeeee... Kakak su bisa jadi orang Papua.”
“ Hahhahahaaaei, Kakak ibu kena tipu Pace’o.”
Dan aku baru tau kalau pamali yang Pace Rahul katakan tadi adalah bohong. Itu adalah cara agar aku mau mencobanya. Aku tertawa serta sambil menahan kesal. Setidaknya aku bisa menceritakan pada cucuku nanti kalau aku pernah memakan makhluk yang bernama tambelo ini dalam keadaan mentah.
#Pantai Tanisa Juni 2013
MEREKA TAK PERNAH PERGI
Biarkan luh mereka membasahi tanah Pala siang ini. Mendung bergelayut pekat di langit—langit Fakfak dan peluk erat untuk terakhir kali telah mereka berikan.
Di depanku beberapa anak—anak dari Siboru menyanyikan lagu untuk Pak Guru Mario yang telah setahun bersama mereka. Lagu tulus yang begitu menyentuhku
“.... Pagiku cerahku, matahari bersinar kugendong tas merahku di pundak. Slamat pagi semua kunantikan dirimu di depan kelasku menantikan kamu.Pak Mario tersayang, pak mario tercinta tanpamu apalah jadinya aku, meng....”
Deg, siapapun yang berdiri di sana pasti akan menitikkan air mata terlebih anak—anak itu menyanyikan dengan hikmat dan tangis mereka menutup lagu itu. Betapa berharganya setahun bagi anak– anak dan guru muda itu. Tak bisa terlukiskan bagaimana perasaan pak guru Mario pastinya. Gurat haru menggeliat di sudut wajah Pak mario kali itu, setelah memberikan pelukan terakhir untuk anak—anak hebat itu Pak Mario memasuki ruangan. Di susul oleh guru muda lainnya.
Ruangan berukuran 7* 10 itu padat oleh warga, mereka berduyun—duyun datang ke bandara pagi itu demi melihat Pengajar muda angkatan ke 4 terbang meninggalkan mereka siang itu. Awalnya semua aman dan tertib, namun ketika Guru Muda keluar ruangan berjalan menuju pesawat semua warga berhambur keluar
“ Eh, buka pintu. Kitong mu antar guru muda itu.” kata salah satu ibu—ibu yang mendorong petugas bandara. Wajah kesal dan geram petugas itu nampak jelas.
“ Tidak ini batas penumpang jadi silakan lihat dari dalam.” jawab tegas petugas itu. Namun warga mendorong dan memaksa untuk masuk hanya demi melihat guru muda itu memasuki badan pesawat dan melambaikan tangan untuk terakhir kalinya.
Setelah selang 3 menit, akhirnya petugas itu tak bisa menahan dorongan massa dan membiarkan semua warga masuk. Aku mengikuti langkah mereka dari belakang, beginilah yang akan dilakukan orang—orang yang mencintai kita ketika kita mau meninggalkan mereka. Mereka bisa nekat dan tidak mengindahkan aturan. Pun aku tak menyalahkan siapapun kali ini, karena aku tau betapa kesedihan orang—orang yang ada di bandara siang itu begitu dalam. Tapi guru muda yang akan meninggalkan merekapun sesungguhnya lebih sedih, karena mereka telah mendapatkan banyak pelajaran berharga di sini.
Dan tangis membahana ketika Wings Air mulai lepas landas, pelan—pelan co-pilot melambaikan tangan dan pesawat itu benar—benar terbang. Membawa guru muda bersama keharuan bandara Torea siang itu.
Senyap. Tak ada suara yang bergeming ketika pesawat itu enyah dalam gumpalan awan Fakfak kali itu. Aku yang dari tadi berdiri di paling depan mulai menarik langkahku demi melihat warga yang masih termangu akan kepergian guru muda. Nenek Iha beliau adalah salah satu ibu angkat guru muda yang ada di Kampung Baru, ya perempuan berbadan besar, berkerudung putih itu masih sesegukan di dekat tiang utama di ruang tunggu.
“ Nek, mari pulang...” ajakku mencoba mengalihkan kesedihan nenek
“ Ibu Kopi su pulang...” balasnya terbata. Beliau menjatuhkan kepala di bahuku dan aku memeluknya erat meyakinkan beliau bahwa suatu hari nanti ibu kopi akan datang kemari dan bertemu dengan nenek lagi. Perlahan, kami meninggalkan Apron dan menuju lapangan parkir. Suasana haru masih melekat erat di setiap sudut parkiran Bandara Torea siang itu. Siapapun yang pergi saat itu, tidak akan pernah ada seorangpun yang bisa menggantikan guru muda itu di hati warga. Aku tau itu, dan aku datang bukan untuk menggantikan siapapun di kampungku nanti tapi aku akan menjadi warga baru disana meneruskan perjuangan guru
Apron Torea, 29 Juni 2013
Wednesday, 31 July 2013
Sebotol Mizone (Bukan Iklan)
Hujan senja ini telah mengantarkan dingin pada semestaku. Membuat
malas setiap insan untuk beraktivitas diluar rumah, pun aku. Tapi malas
itu harus kubuang dulu sepertinya karena esok aku harus mengajar
kembali. Cukup istirahat di kota seharian ini. Akhirnya payung biru
tuaku mengantarkan langkahku di depan gang kosan, cukup lama aku
menunggu taksi bahkan satu ojekpun tak ada yang melintas. “Aduh kalu
sampe ga ada yang lewat gimana nih?,” risauku. Aku takut ga kebagian
taksi pulang. Aku menghabiskan hujan di emperan terminal Kokas. Di pojok
terminal helak tawa sesak, asap rokok mengepul sesekali tawa khas
Fakfak keluar “Haaahahahhahahei...” yah tawa yang mulai akrab dengan
gendang telingaku. Berkali kali aku membenahi tempat dudukku, ini bukan
karena ada sesuatu yang mengganggu tapi ini tanda aku mulai bosan.
“ Ibu, kalau penumpang tarada katong tara naik ke kampung.” kata sopir taksi padaku.
“ Iya pak, semoga ada.” Jawabku singkat.
Sudah hampir setengah jam aku habiskan dengan menunggu, tadi aku belum asar karena waktu aku berangkat jam di kontrakan baru menunjukkan pukul 15.05 sekarang sudah puluk 15.58 sebentar lagi jam 16.00 dan aku tak tau apakah taksi yang ada didepan mataku ini bakal naik kampung.
Akhirnya obrolan senja itu mengalir seperti air hujan yang terus mendekap terminal kali itu. Ibu itu akrab di panggil mama Dzafa, itu nama anaknya. Pun aku memanggil begitu, awalnya aku pikir ibu ini seperti kebanyakan pedagang yang lain, ternyata tidak. Dari cara dia bicara dan menanggapi pembicaraan memang berbeda, terlebih saat ibu ini membicarakan masalah pendidikan. Tiba—tiba aku penasaran, jangan—jangan ini intel pendidikan yang lagi nyamar. Hahhaha aku ngaco. Lalu aku mulai bertanya tentang siapakah sosok sebenarnya dibalik botol—botol yang berjajar di hadapannya.
“ Ibu, jualan disini setiap hari yah?,” tanyaku
“Tidak mbak, saya jualan disini kalau tidak ada jam ngajar dan lagi liburan aja.” jawabnya
Hah? Kalu lagi ga ada jam ngajar? Berarti ibu ini guru? Atau baiklah dengarkan pernyataan beliau selanjutnya. “Saya nghonor mbak, di SMP 2 di seberang sana.” seberang adalah nama daerah di sebelah pelabuhan, orang—orang akrab menyebutnya seberang. Mungkin karena daerahnya terlihat dari seberang pelabuhan kali yah. Sok tau lagi ni...
“ibu sudah berapa lama ngajar di sana?,” timpalku.
“ belum lama mbak, 4 tahun saja.” jawabnya ringan. Empat tahun ngehonor? Betah? Oh My God... Kenapa ga daftar jadi PNS aja sih gumanku dalam hati. Terang saja ibu itu tidak bisa daftar PNS karena beliau baru menyelesaikan S1’nya tahun lalu. Dan usut punya usut wanita kelahiran Buton, 28 tahun yang lalu ini tinggal di pasar terminal. Begitulah si ibu ini menyebut alamat rumahnya.
Obrolan itu habis, ketika Dzafa anak si ibu itu merajuk pulang. Kemudian ibu itu mengemasi barang—barang dagangannya memasukan ke lemari kayu dan menguncinya. “Ibu, disini masjid atau mushola terdekat dimana ya?,”
“kalau tidak keberatan, mari solat di gubuk saya mbak.” tawarnya.
Dengan senang hati, aku mengiyakan tawaran beliau. Setelah sedikit melobbi sopir agar mau menungguku sejenak akhirnya aku mengekor ibu itu dari belakang. Memang tidak jauh hanya 100meter saja dari terminal. Aku menyelidik mencari bangunan yang disebut rumah, tapi alpa. Yang aku lihat hanya kios—kios kecil tak terurus dan beberapa penjual.
“saya dan suami memilih tinggal disini mbak, dari pada ngontrak rumah. Mahal banget mbak.” tutur ibu itu sambil membuka gembok di pintu papan.
“ iya bu, gak papa yang penting aman.” timpalku mencoba meredam kesedihan si ibu.
“ silakan masuk mbak, maaf tidak ada bangku malah langsung dapur.”
Ruangan yang berukuran 4x3 meter ini penuh dengan alat masak, di belakang ada satu ruangan kecil 2x3 meter yang katanya itu adalah kamar. Aku meletakkan tasku di dekat mesin jahit, tadi si ibu sempat cerita suaminya adalah penjahit di pasar tambaruni. Mungkin ini mesin jahit yang satunya. Si ibu menyerahkan teko plastik padaku, yang tidak lain dan tidak bukan adalah gayung untuk menimba air dari drum besar di belakang kiosnya. Drum air hujan. Subhanaullah ini wudhu ternikmat minggu ini. Akhirnya aku salat di kamar si ibu. Hanya 7 menit saja, lepas itu aku pamit karena aku takut taksi jalan.
Pikiranku masih menganga membayangkan bagaimana ruwetnya tinggal di rumah papan begini, bahkan rumah ini lebih kecil daripada kamarku sebenernya. Aku lebih beruntung bukan? Ketika ditempatkan di daerah ini dan mendapatkan orang tua asuh yang berkecukupan. Aku malu, bagaimana mungkin aku membiarkan diriku mengeluh berkepanjangan ketika rumah hostfamku tidak ada jamban, air tak mengalir atau sepanjang hari lampu tak menyala.
“ Mbak, kalu kemalaman silakan mampir mungkin juga mbak mau bermalam disini.” tawar ibu itu sambil mengantarkanku ke depan pasar. Kemalaman? Menginap? Aku akan memikirkan sejuta kali untuk itu sepertinya, tapi ibu ini memang luar biasa dia tak mengiba dengan keadaannya hari ini.
“Iya bu, terimakasih banyak sudah diijinkan solat disini.” jawabku sambil menyalami wanita paruh umur itu. Jilbab besarnya mengembang tertiup angin, matanya berbinar. Aku melangkahkan kakiku pelan, “ mbak Wik....” teriakan ibu itu menghentikan langkahku.
“ Iya bu saya.” aku menoleh kebelakang. Si ibu berlari kecil menghampiriku,
“Mbak ini bekal untuk batal dijalan.” kata si ibu sambil menyodorkan sebotol Mizone padaku.
Deg, jantungku seakan di hujam parang. Kenapa ibu ini baik banget, padahal aku baru mengenalnya 1.5 jam yang lalu. “ Ibu, kenapa repot—repot.” jawabku
“ Ini sudah jam 5 lebih pasti nanti batal di jalan. Tolong ambil sudah...” si ibu menggenggamkan botol biru 600 ml itu ditangan kananku. Saat itu dunia seakan terhenti sejenak, melihat ketulusan ibu guru honorer yang mau menjadi penjual asongan di terminal. Mataku berkaca—kaca, sambil mengucapkan terimakasih aku berlari kecil meninggalkan si ibu itu. Aku belajar ketulusan yang luar biasa dari ibu itu.
Aku belajar untuk tidak mengeluh atas keadaan yang Tuhan berikan padaku. Dan ibu itu mengajariku tetap bijak menatap kehidupan, hidup ini memang keras tapi jika kita hadapi dengan keras maka tidak akan menghasilkan apa—apa. hidup ini tak akan ada artinya ketika kita tidak mencoba mensyukuri apa yang Tuhan berikan termasuk papan yang nyaman, pangan yang enak dan sandang. bersama hujan yang luar biasa senja itu kututup dengan meneguk Mizone yang berharga itu. membatalkan puasa di tengah hujan di perjalanan. Nikmat... terimakasih Tuhan
Terminal Kokas, bersama senja yang hujan 10 Juli 2013
“ Ibu, kalau penumpang tarada katong tara naik ke kampung.” kata sopir taksi padaku.
“ Iya pak, semoga ada.” Jawabku singkat.
Sudah hampir setengah jam aku habiskan dengan menunggu, tadi aku belum asar karena waktu aku berangkat jam di kontrakan baru menunjukkan pukul 15.05 sekarang sudah puluk 15.58 sebentar lagi jam 16.00 dan aku tak tau apakah taksi yang ada didepan mataku ini bakal naik kampung.
Akhirnya obrolan senja itu mengalir seperti air hujan yang terus mendekap terminal kali itu. Ibu itu akrab di panggil mama Dzafa, itu nama anaknya. Pun aku memanggil begitu, awalnya aku pikir ibu ini seperti kebanyakan pedagang yang lain, ternyata tidak. Dari cara dia bicara dan menanggapi pembicaraan memang berbeda, terlebih saat ibu ini membicarakan masalah pendidikan. Tiba—tiba aku penasaran, jangan—jangan ini intel pendidikan yang lagi nyamar. Hahhaha aku ngaco. Lalu aku mulai bertanya tentang siapakah sosok sebenarnya dibalik botol—botol yang berjajar di hadapannya.
“ Ibu, jualan disini setiap hari yah?,” tanyaku
“Tidak mbak, saya jualan disini kalau tidak ada jam ngajar dan lagi liburan aja.” jawabnya
Hah? Kalu lagi ga ada jam ngajar? Berarti ibu ini guru? Atau baiklah dengarkan pernyataan beliau selanjutnya. “Saya nghonor mbak, di SMP 2 di seberang sana.” seberang adalah nama daerah di sebelah pelabuhan, orang—orang akrab menyebutnya seberang. Mungkin karena daerahnya terlihat dari seberang pelabuhan kali yah. Sok tau lagi ni...
“ibu sudah berapa lama ngajar di sana?,” timpalku.
“ belum lama mbak, 4 tahun saja.” jawabnya ringan. Empat tahun ngehonor? Betah? Oh My God... Kenapa ga daftar jadi PNS aja sih gumanku dalam hati. Terang saja ibu itu tidak bisa daftar PNS karena beliau baru menyelesaikan S1’nya tahun lalu. Dan usut punya usut wanita kelahiran Buton, 28 tahun yang lalu ini tinggal di pasar terminal. Begitulah si ibu ini menyebut alamat rumahnya.
Obrolan itu habis, ketika Dzafa anak si ibu itu merajuk pulang. Kemudian ibu itu mengemasi barang—barang dagangannya memasukan ke lemari kayu dan menguncinya. “Ibu, disini masjid atau mushola terdekat dimana ya?,”
“kalau tidak keberatan, mari solat di gubuk saya mbak.” tawarnya.
Dengan senang hati, aku mengiyakan tawaran beliau. Setelah sedikit melobbi sopir agar mau menungguku sejenak akhirnya aku mengekor ibu itu dari belakang. Memang tidak jauh hanya 100meter saja dari terminal. Aku menyelidik mencari bangunan yang disebut rumah, tapi alpa. Yang aku lihat hanya kios—kios kecil tak terurus dan beberapa penjual.
“saya dan suami memilih tinggal disini mbak, dari pada ngontrak rumah. Mahal banget mbak.” tutur ibu itu sambil membuka gembok di pintu papan.
“ iya bu, gak papa yang penting aman.” timpalku mencoba meredam kesedihan si ibu.
“ silakan masuk mbak, maaf tidak ada bangku malah langsung dapur.”
Ruangan yang berukuran 4x3 meter ini penuh dengan alat masak, di belakang ada satu ruangan kecil 2x3 meter yang katanya itu adalah kamar. Aku meletakkan tasku di dekat mesin jahit, tadi si ibu sempat cerita suaminya adalah penjahit di pasar tambaruni. Mungkin ini mesin jahit yang satunya. Si ibu menyerahkan teko plastik padaku, yang tidak lain dan tidak bukan adalah gayung untuk menimba air dari drum besar di belakang kiosnya. Drum air hujan. Subhanaullah ini wudhu ternikmat minggu ini. Akhirnya aku salat di kamar si ibu. Hanya 7 menit saja, lepas itu aku pamit karena aku takut taksi jalan.
Pikiranku masih menganga membayangkan bagaimana ruwetnya tinggal di rumah papan begini, bahkan rumah ini lebih kecil daripada kamarku sebenernya. Aku lebih beruntung bukan? Ketika ditempatkan di daerah ini dan mendapatkan orang tua asuh yang berkecukupan. Aku malu, bagaimana mungkin aku membiarkan diriku mengeluh berkepanjangan ketika rumah hostfamku tidak ada jamban, air tak mengalir atau sepanjang hari lampu tak menyala.
“ Mbak, kalu kemalaman silakan mampir mungkin juga mbak mau bermalam disini.” tawar ibu itu sambil mengantarkanku ke depan pasar. Kemalaman? Menginap? Aku akan memikirkan sejuta kali untuk itu sepertinya, tapi ibu ini memang luar biasa dia tak mengiba dengan keadaannya hari ini.
“Iya bu, terimakasih banyak sudah diijinkan solat disini.” jawabku sambil menyalami wanita paruh umur itu. Jilbab besarnya mengembang tertiup angin, matanya berbinar. Aku melangkahkan kakiku pelan, “ mbak Wik....” teriakan ibu itu menghentikan langkahku.
“ Iya bu saya.” aku menoleh kebelakang. Si ibu berlari kecil menghampiriku,
“Mbak ini bekal untuk batal dijalan.” kata si ibu sambil menyodorkan sebotol Mizone padaku.
Deg, jantungku seakan di hujam parang. Kenapa ibu ini baik banget, padahal aku baru mengenalnya 1.5 jam yang lalu. “ Ibu, kenapa repot—repot.” jawabku
“ Ini sudah jam 5 lebih pasti nanti batal di jalan. Tolong ambil sudah...” si ibu menggenggamkan botol biru 600 ml itu ditangan kananku. Saat itu dunia seakan terhenti sejenak, melihat ketulusan ibu guru honorer yang mau menjadi penjual asongan di terminal. Mataku berkaca—kaca, sambil mengucapkan terimakasih aku berlari kecil meninggalkan si ibu itu. Aku belajar ketulusan yang luar biasa dari ibu itu.
Aku belajar untuk tidak mengeluh atas keadaan yang Tuhan berikan padaku. Dan ibu itu mengajariku tetap bijak menatap kehidupan, hidup ini memang keras tapi jika kita hadapi dengan keras maka tidak akan menghasilkan apa—apa. hidup ini tak akan ada artinya ketika kita tidak mencoba mensyukuri apa yang Tuhan berikan termasuk papan yang nyaman, pangan yang enak dan sandang. bersama hujan yang luar biasa senja itu kututup dengan meneguk Mizone yang berharga itu. membatalkan puasa di tengah hujan di perjalanan. Nikmat... terimakasih Tuhan
Terminal Kokas, bersama senja yang hujan 10 Juli 2013
Thursday, 4 July 2013
Tentang Kue dan Sandal
21/06/13 @ Kampung Baru, Fakfak
Siang itu begitu terik, selepas makan siang aku menghampiri Fikram, Anisa dan beberapa temannya yang sedang asyik bermain di jalan kecil berlapis semen tepat di bawah pohon kelapa. Mereka asyik dengan bongkahan tanah dan itulah yang membuatku penasaran.
“Fik, kau bikin apa?,” tanyaku
“beta bikin mainan ibu...” jawabnya sambil asyik memadatkan tanah yang ada ditangannya.
“ini tanah liat bukan?,” tanyaku lagi
“tara tau ibu, bapak bilang ini tanah saja.” jawab polos anisa.
Setauku ini tanah liat, itupun kalu belum berganti nama tapi mereka tak tau nampaknya.
“treeeet tet tett.... Selamat ulang taun kami ucapkan ...” tiba—tiba anisa menyanyi sambil mengangkat tumpukan tanah liat yang dari tadi disusunnya. Kali ini aku pasti tak salah tebak,
“ ini kue ulang tahun ya?,”
“iya, ibu benar beta pengen tiup lilin di atas kue sebentar ulang tahun ibu,” jawabnya polos.
“Mari kakak ibu, tiup lilinnya. Tapi kakak ibu harus bawa hadiah buat beta’e.” hahha aku terkekeh Anisa memang lucu dan dari pertama aku hadir disini dialah yang selalu menghadirkan keluguannya yang lucu. Kalu aku harus bawa hadiah lalu siapa yang ulang tahun dan siapa yang meniup lilin, nampaknya dia salah tafsir tentang ulang tahun kali ini.
Aku lupa mengenalkan Fikram dan Anisa mereka berdua ini keponakan dari keluarga piaraku. Dan kakak ibu adalah panggilan akrab mereka ke aku. Kenapa harus kakak ibu? Kenapa bukan kakak saja atau ibu saja? Mama piaraku bilang dirumah aku sebagai kakak bagi keponakan– keponakanku dan di sekolah aku sebagai ibu guru.
“Beta pu mainan su jadi ibu,” kata fikram menyodorkan tumpukan tanah liatnya. Kali ini aku tak mau menebak lagi.
“Eh, fikram apa itu kau buat?,”
“ini sandal ibu, beta tara da pu sandal. Jadi beta bikin untuk dipakai. Mantab to, ibu?,”
Deg, tiba—tiba aku trenyuh dengan jawaban fikram aku tak pernah membayangkan anak sekecil dia berpikir lebih dewasa.
“memangnya sandal fikram kemana?,” tanyaku menyelidik
“mana ada? Beta tara da sandal ibu. Mahal jadi mama bilang tara usah beli sandal saja.” jawabannya ringan tanpa beban.
Seberapa mahal harga sandal di kampung ini? Hingga mama fikram tak sanggup membelikannya.
“baik, kau buat sepasang sudah nanti ibu bantu jemur biar tambah mantap to?,” kataku mengalihkan ketrenyuhanku.
Tapi tetap saja aku tak bisa menahan mata untuk menetes. Sedang Fikram dan Anisa tetap menyibukkan dengan tanah—tanah baru aku masih menata hati untuk bersiap mendengar imajinasi mereka melalui bongkahan tanah liat.
“ kakak ibu, mari kita jemur beta pu kue deng abang fikram pu sandal.” Anisa menarikku pelan.
“ Mari kakak ibu bantu,” sahutku pelan.
Lalu senyum matahari hangat menyapu senyum polos mereka. Aku yakin esok mereka bisa mewujudkan mimpi kecil tentang kue ulang tahun dan sandal . Aku yakin...
Thursday, 27 June 2013
Ubadari
25 Juni 2013
Setelah menikmati kampung lobster, longboat kami melaju pelan. Melintasi gunung Iha, dan beberapa kampung yang aku lupa namanya. Akhirnya longboat kami sandar di darmaga kecil di sebuah kampung, tidak salah ini adalah Ubadari. Kampung dimana Tete lahir dan besar. Semua menghambur masuk kerumah bercat biru yang letaknya tak jauh dari darmaga. Rumah yang dikelilingi pohon palem dan kebun kankung itu asri. Sambutan renyah tuan rumah menjadikan rumah bergaya Papua ini nyaman untuk disinggahi lebih lama.
Selang 15 menit setelah kedatangan kami, bibi menawarkan untuk mandi di air terjun. Aku tidak membayangkan air terjun yang keren disini, karena daerahnya dataran jadi akan berbeda dengan Grojogan Sewu yang ada di Solo.
Setelah menempuh 5 menit dari rumah singgah, mataku tak berkedip beberapa saat. Aku bungkam dan tak percaya ketika Fikram menunjukkan air terjun kepadaku. “Subhanaullah, keren banget.” aku mengerjapkan mulut dan masih tak percaya dengan apa yang aku lihat. Airnya bening mengalir bersusun. Alami. Mata siapapun yang disuguhi dengan pemandangan ini pasti akan merasakan kenyamanan. Bisa saja mengaca diair. Yah semua menghambur mandi di tengah air terjun. Tete bilang, beberapa tahun terakhir ini banyak turis datang ke Ubadari. Ada juga yang meneliti dan air ini sehat tanpa harus di rebus terlebih dahulu. Mengenai kebenarannya, aku belum menjamin karena aku belum bertemu dengan orang yang meneliti air Ubadari. Dari kejernihannya sih, bisa jadi enak diminum tanpa harus direbus. Hehehe. Lagi—lagi Pace Rakib menceritakan tentang Pamali yang menyebabkan aku meminum air Ubadari serta berenang di bawah air terjun. Dingin sangat... Lebih dingin daripada musim salju di Gurun Sahara. Hahah emang di gurun ada salju yah?
Subscribe to:
Posts (Atom)