Thursday, 27 June 2013

Ubadari


25 Juni 2013
Kemarin aku telah menghabiskan hariku dengan berburu tambelo di Pantai tanisa berbakau itu. Pagi ini, jam 7 halaman rumah padat orang—orang. Ini masih keluarga dengan mama piaraku, kalau tidak salah hari ini kami akan pergi silaturahmi ke rumah Nenek di darat. Orang disini jarang menyebutkan arah mata angin seperti timur, selatan begitu. Mereka lebih mudah menyebut darat dan laut. Arah darat adalah arah dimana daratan lebih besar daripada lautan, pun sebaliknya. Kalau hari ini aku tidak menawarkan diri atau ditawarkan untuk ikut karena wajib ikut. Longboat bercat pudar itu telah tersandar di belakang rumah, Bapak tua telah siap dengan mesin jonsonnya. Aku dan yang lain mulai mencari tempat nyaman untuk menempuh perjalanan 2 jam dalam longboat. Ini kali kedua aku melakukan perjalanan laut dengan longboat kecil begini. Wew, rasanya sama deg-degan kaya kemarin. Untung lifevest orange sudah nempel kuat di badanku. Perjalanan terasa jauh, lebih jauh daripada jarak Jakarta—Padang dengan pesawat. Hahha ya iyalah. Hujan mengguyur pagi itu, tapi bapak tua masih gigih mengemudikan mesin jonson menyusuri lautan berbakau yang airnya tak lagi biru. Sepanjang perjalanan aku sibuk menguliti pemandangan yang asing untuk kornea mataku ini. melintasi banyak perkampungan, bukit, gunung dan masjid Yasin. Ini adalah masjid pertama di tanah Papua, bisa dibilang ini adalah masjid tertua di Pulau Cenderawasih ini. bangunannya sederhana dan unik, sayang kurang terawat dengan baik sehingga kesannya kotor.  Masjid ini berada dikampung Patimburak, kampung penghasil kepiting dan lobster terbaik di kota Pala. Kampung ini bisa diakses dengan jalur darat dan laut. Dari Fakfak bisa ditempuh 2-3 jam dengan Taksi jalur Fakfak-Kok
as ongkosnya 25rb, setelah itu dilanjutkan dengan naik ojek. Kalau jalur laut bisa dari Fakfak langsung atau dari Kokas baru naik longboat. Nah kalau biaya yang butuhkan, aku kurang paham karena tidak ada tarif yah seikhlasnya gitulah.
Setelah menikmati kampung lobster, longboat kami melaju pelan. Melintasi gunung Iha, dan beberapa kampung yang aku lupa namanya. Akhirnya longboat kami sandar di darmaga kecil di sebuah kampung, tidak salah ini adalah Ubadari. Kampung dimana Tete lahir dan besar. Semua menghambur masuk kerumah bercat biru yang letaknya tak jauh dari darmaga. Rumah yang dikelilingi pohon palem dan kebun kankung itu asri. Sambutan renyah tuan rumah menjadikan rumah bergaya Papua ini nyaman untuk disinggahi lebih lama.
Selang 15 menit setelah kedatangan kami, bibi menawarkan untuk mandi di air terjun. Aku tidak membayangkan air terjun yang keren disini, karena daerahnya dataran jadi akan berbeda dengan Grojogan Sewu yang ada di Solo.
Setelah menempuh 5 menit dari rumah singgah, mataku tak berkedip beberapa saat. Aku bungkam dan tak percaya ketika Fikram menunjukkan air terjun kepadaku. “Subhanaullah, keren banget.” aku mengerjapkan mulut dan masih tak percaya dengan apa yang aku lihat. Airnya bening mengalir bersusun. Alami. Mata siapapun yang disuguhi dengan pemandangan ini pasti akan merasakan kenyamanan. Bisa saja mengaca diair. Yah semua menghambur mandi di tengah air terjun. Tete bilang, beberapa tahun terakhir ini banyak turis datang ke Ubadari. Ada juga yang meneliti dan air ini sehat tanpa harus di rebus terlebih dahulu. Mengenai kebenarannya, aku belum menjamin karena aku belum bertemu dengan orang yang meneliti air Ubadari. Dari kejernihannya sih, bisa jadi enak diminum tanpa harus direbus. Hehehe. Lagi—lagi Pace Rakib menceritakan tentang Pamali yang menyebabkan aku meminum air Ubadari serta berenang di bawah air terjun. Dingin sangat... Lebih dingin daripada musim salju di Gurun Sahara. Hahah emang di gurun ada salju yah?
Untuk bisa sampai di air terjun ini, ternyata lebih mudah daripada menuju Masjid tertua di Papua. Jika dari arah Fakfak, kita cukup naik taksi sekali saja. Jurusan Kramongmongga atau bisa juga naik truk jurusan Bomberay. Ongkosnya 25rb saja, bisa turun di jembatan Ubadari yang letaknya pas diatas air terjun. Kalau jalur laut bisa ditempuh 2 jam dari Kokas atau bisa juga 4 jam dari Fakfak. Hanya beberapa meter dari jalan raya maka mata kita akan disuguhi pemandangan sungai khas Papua yang menawan. Siapapun yang datang akan menyesal jika tak mandi dan berenang disana. Seperti aku yang awalnya bersikeras untuk tidak mandi karena aku tak bawa baju ganti. Sebenarnya alasan utamanya adalah aku tak bisa renang. Hahahha. Saat aku mengutarakan alasan sesungguhnya, Fikram lari kerumah singgah dan mengambil lifevestku. Akhirnya aku mandi bersama anak—anak, sekalian bounding team seperti apa yang biasa aku dan teman2 lakukan. Hahahha. Main di air terlalu lama menyebabkan lapar mendera, nasi kuning dan ikan tongkol telah disiapkan. Oh ... Ini lezat sangat lezat apalagi dimakan sambil duduk diatas air. Piknik telah usai, kami harus bergegas untuk pulang. Sepanjang perjalanan gerimis membungkus lautan bakau hingga sampai di tanjung belakang rumah. Lelah memang tapi semuanya indah jadi tak ada alasan untuk berkeluh kesah. Kututup cerita piknik hari ini dengan tidur siang. Memimpikan perjalanan baru yang indah kebelahan pulau di Papua lainnya. Semoga ada kesempatan untuk melakukan petualangan lagi...



No comments:

Post a Comment