21/06/13 @ Kampung Baru, Fakfak
Siang itu begitu terik, selepas makan siang aku menghampiri Fikram, Anisa dan beberapa temannya yang sedang asyik bermain di jalan kecil berlapis semen tepat di bawah pohon kelapa. Mereka asyik dengan bongkahan tanah dan itulah yang membuatku penasaran.
“Fik, kau bikin apa?,” tanyaku
“beta bikin mainan ibu...” jawabnya sambil asyik memadatkan tanah yang ada ditangannya.
“ini tanah liat bukan?,” tanyaku lagi
“tara tau ibu, bapak bilang ini tanah saja.” jawab polos anisa.
Setauku ini tanah liat, itupun kalu belum berganti nama tapi mereka tak tau nampaknya.
“treeeet tet tett.... Selamat ulang taun kami ucapkan ...” tiba—tiba anisa menyanyi sambil mengangkat tumpukan tanah liat yang dari tadi disusunnya. Kali ini aku pasti tak salah tebak,
“ ini kue ulang tahun ya?,”
“iya, ibu benar beta pengen tiup lilin di atas kue sebentar ulang tahun ibu,” jawabnya polos.
“Mari kakak ibu, tiup lilinnya. Tapi kakak ibu harus bawa hadiah buat beta’e.” hahha aku terkekeh Anisa memang lucu dan dari pertama aku hadir disini dialah yang selalu menghadirkan keluguannya yang lucu. Kalu aku harus bawa hadiah lalu siapa yang ulang tahun dan siapa yang meniup lilin, nampaknya dia salah tafsir tentang ulang tahun kali ini.
Aku lupa mengenalkan Fikram dan Anisa mereka berdua ini keponakan dari keluarga piaraku. Dan kakak ibu adalah panggilan akrab mereka ke aku. Kenapa harus kakak ibu? Kenapa bukan kakak saja atau ibu saja? Mama piaraku bilang dirumah aku sebagai kakak bagi keponakan– keponakanku dan di sekolah aku sebagai ibu guru.
“Beta pu mainan su jadi ibu,” kata fikram menyodorkan tumpukan tanah liatnya. Kali ini aku tak mau menebak lagi.
“Eh, fikram apa itu kau buat?,”
“ini sandal ibu, beta tara da pu sandal. Jadi beta bikin untuk dipakai. Mantab to, ibu?,”
Deg, tiba—tiba aku trenyuh dengan jawaban fikram aku tak pernah membayangkan anak sekecil dia berpikir lebih dewasa.
“memangnya sandal fikram kemana?,” tanyaku menyelidik
“mana ada? Beta tara da sandal ibu. Mahal jadi mama bilang tara usah beli sandal saja.” jawabannya ringan tanpa beban.
Seberapa mahal harga sandal di kampung ini? Hingga mama fikram tak sanggup membelikannya.
“baik, kau buat sepasang sudah nanti ibu bantu jemur biar tambah mantap to?,” kataku mengalihkan ketrenyuhanku.
Tapi tetap saja aku tak bisa menahan mata untuk menetes. Sedang Fikram dan Anisa tetap menyibukkan dengan tanah—tanah baru aku masih menata hati untuk bersiap mendengar imajinasi mereka melalui bongkahan tanah liat.
“ kakak ibu, mari kita jemur beta pu kue deng abang fikram pu sandal.” Anisa menarikku pelan.
“ Mari kakak ibu bantu,” sahutku pelan.
Lalu senyum matahari hangat menyapu senyum polos mereka. Aku yakin esok mereka bisa mewujudkan mimpi kecil tentang kue ulang tahun dan sandal . Aku yakin...
No comments:
Post a Comment