Aku memanggilnya mama desa
Ya begitulah aku memanggil wanita
paruh baya berdarah Buton—Papua ini. Kesederhanaan memancar hangat
ketika menatapnya. Berhari-hari ini aku habiskan pagi dan soreku di
dapur bersamanya. Kadang aku membantunya memasak atau sekedar
menemaninya mengobrol sembari dia memasak. Mama desa selalu saja
menghidangkan menu yang nikmat tiap jam makan tiba. Membuatkan kue untuk
teman minum teh.
Sore itu aku mendapatkan banyak inside positif
dari sosok hebat mama desa. Obrolan hangat yang menyenangkan. Ia mulai
mengisahkan masa kecilnya yang menurutku kurang beruntung, ia lahir
besar dikeluarga yang sangat pas-pasan bahkan bisa dikatakan kekurangan.
Keluarga yang jarang menyajikan nasi sebagai makanan. Sangat jauh dari
kemewahan atau sekedar pelengkap 4 sehat 5 sempurna. Hal itulah yang
menyebabkan mama desa tidak mau makan nasi dari beras biasa hari ini. Ia
hanya makan dari besar bulog atau sagu. Bayangkan beras bulog yang ada
disini tidak lebih baik dari rasa nasi tiwul yang ada di kampungku sana.
Baunya tidak lagi seperti nasi ketika di masak. Bisa jadi jika beras
ini di Jawa sudah tidak ada yang mau makan lagi. Tapi lagi—lagi Jawa dan
Papua itu berbeda. Beras biasa menjadi menu mahal dan hanya bisa
dinikmati segelintir kalangan saat mama desa masih kecil, mungkin hari
inipun tak jauh berbeda.
“Mama tara biasa makan nasi enak ibu.”
begitu alasannya. Mulutku menganga sejenak, nasi enak? Bukankah rasa
nasi itu sama saja? Bukankah nasi enak itu ketika dimakan dengan lauk
yang enak. Atau nasi yang dijual direstaurant beken dengan merk ternama
itu?
“kenapa begitu mama? Bukankah nasi itu sama rasanya?,”timpalku.
“Tidak
ibu, dari kecil sa makan nasi dari beras bulog tara pernah makan nasi
enak. Sa pu bapak tara bisa beli nasi enak” jawabnya tenang. Berkali
–kali mama desa mengungkap nasi itu terlalu enak dan terlalu mahal untuk
dia makan.
Bukankah sekarang mama adalah istri bapak Desa, bisa
dibilang cukup berada dan mapan untuk urusan makan. Tapi kenapa mama
tetap pada kebiasaannya waktu masih hidup kekurangan? Lalu aku
membayangkan jika negeri ini dipenuhi oleh orang—orang seperti mama
desa, yang tetap sederhana meskipun menjadi pejabat. Yang tidak latah
dengan gaya hidup yang modern atau menginduk pada hedonisme. Pasti
negeri ini akan jauh lebih baik. pun aku tak bisa menyalahkan naluri
manusia hari ini, karena kadang aku juga tak bisa sebijak mama desa
setiap waktu.
“jadi kalau ada sagu deng nasi enak, sa lebih baik
makan sagu, ibu.” tambahnya memutus lamunanku tentang kesederhanaannya.
Sagu? Bahkan sampai 4 bulan aku disini aku masih berjuang untuk bisa
makan itu. Karena rasanya yang tak bersahabat dengan lidahku. Lalu aku
mengutuki diriku sendiri yang sering kesal karena nasi yang kumakan
terlalu keras atau kurang pulen. Atau malas makan karena tak ada lauk
yang kusukai, dan seringkali membuang nasi yang ada dipiring makan
karena selera makanku menurun. Aku begitu dzalim bukan? Yah tak
seharusnya aku melakukan itu, kemarin aku bisa melakukan itu (membuang
nasi semauku, memilih—milih nasi, atau marah karena nasi kurang masak)
tapi hari ini? Tuhan begitu baik padaku hari ini, membiarkan aku belajar
dari sosok bersahaja Mama desa tentang hal sederhana menghargai nasi
dan mensyukuri apa yang kita makan sebagai rizki.
Cerita tentang
nasi enak itu berakhir ketika suara tifa masjid mulai ditabuh, sebagai
pertanda magrib telah datang. Lamat—lamat aku menguliti senyum mama desa
dibalik senja kali itu, berharap ada kesempatan mendengarkan kisah
hebatnya esok hari. Dia bukan hanya istri yang menyenangkan bagi Bapak
desa tapi juga sosok ibu yang luar biasa..
Tarak, September 2013
Sunday, 29 September 2013
Monday, 23 September 2013
17 Keunikan mereka !
Pagi itu, aku datang kembali setelah 3 hari pelatihan di kota. Beberapa anak sibuk menginventarisir keadaan kelas selama aku tinggalkan.
“ Ibu, Majid tara mau menulis tugas dari ibu’o...” cerita Sulton dan disambung masalah—masalah lain. Ketika aku mencoba konfirmasi atas apa yang dilaporkan mereka sendiri semua diam. Dan hari itupun berjalan lamban, selamban proses menemukan cara menghadapi keunikan mereka.
Selasa, 03 September 2013 ingat betul dimana pertama kalinya aku meneriakkan suaraku keras. Hari itu tidak ada seorang gurupun yang hadir kecuali aku. Jarak antar kelas bagai jarak dari Kota ini ke Jakarta, itu rasanya. Beberapa kelas tidak mau digabung, tidak memungkinkan jika aku harus mobile di 6 kelas hari itu. Jawabannya adalah menggabung kelas kecil dan kelas besar. Memberikan pelajaran yang bisa membuat mereka sibuk yaitu matematika. Itulah senjata terampuh untuk membuat mereka tenang, karena mereka akan sibuk menghitung bukan berbicara.
Hari itu juga, segelintir anak telah membuatku sedikit geram. Saat aku sedang fokus menjelaskan di kelas kecil, tiba—tiba Ona lari turun dan mengadu kejadian di kelas besar.
“Ibu, anak kelas 4 dan kelas 6 baku pukul. Ibu naik sudah.” sempurna, ketika aku hadir disana 5 orang anak menangis dan 2 orang anak berdarah di bibirnya. Ketika aku bertanya siapa yang memulai duluan, semua saling tunjuk. Pelajaran aku hentikan dan aku bawa kedua anak yang bibirnya sobek itu kekantor untuk di obati. Masalah belum selesai, yah setelah itu aku sedikit mengertak mereka dengan suara tinggi. Beberapa anak ketakutan, ini sudah kelewatan begitu pikirku. Setelah memberikan penjelasan kepada mereka, dan menyiapkan hadiah tambahan bagi yang baku pukul aku putuskan untuk memisah kelas. Sedikit messi memang, ditambah beberapa anak kelas 5 bolos pulang saat aku masih mengajar dikelas. Hari itu benar—benar luar biasa.
Keesokan harinya beberapa guru sudah datang, aku hanya merangkap tiga kelas saja kelas 3,4 dan 5. Tidak aku gabung lagi, karena hal itu jauh lebih tidak efektif begitu pikirku terlebih dengan kejadian kemarin. Hal luar biasa yang terjadi hari itu adalah semua display kelas yang sudah terpasang jatuh dan dirobek anak—anak di kelas. Emosi tidak menyelesaikan masalah itu. Aku percaya esok akan menemukan cara untuk menghadapi karakter ke 17 muridku yang unik itu.
Tendison
16 September 2013
Welcome Tendi,
Dari semalam, ia sibuk menyiapkan baju barunya. Sepertinya ia sudah penasaran ingin sekolah. Panggil dia Tendi, dia adalah adik piara di keluarga Nenekku. Dia belum lama tinggal di keluarga kami, hanya berjarak 3 bulan sebelum kedatanganku ke Kampung ini. Wamena, yah dari sanalah Tendi lahir dan besar hingga ada keajaiban kecil yang mempertemukan Tendi dengan Om Kivil. Om Kivil adalah adik Bapak piaraku yang menjadi tentara, dulu pernah bertugas di Wamena tempat tinggal Tendi. Selidik punya selidik, Wamena tempat tinggal Tendi bukanlah kotanya tapi pegunungan. Pertemuan ajaib begitulah aku menyebutnya, tawaran om Kivil untuk membawa Tendi ke Kampung ini mungkin sedikit tidak rasional, bahkan diawal ini ditentang oleh keluarga besarku. Bagaimana mungkin Om Kivil mau mengangkat anak yang baru dikenalnya. Tendi memiliki masa kecil yang tidak biasa dari anak—anak pada umumnya, dia harus melihat pahitnya kematian Ayahnya yang dibunuh oleh Neneknya sendiri karena menentang. Pun aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Tendi ketika melihat Ayahnya dibunuh didepan matanya. Tapi Tendi memang luar biasa, trauma yang ia miliki menjadi cambuk baginya untuk terus melanjutkan kehidupan. Setelah kematian ayahnya yang begitu tragis, ia harus merelakan sekolah tempat ia belajar habis dibakar. Habis. Lebur semua cita—cita Tendi dan teman—temannya saat itu. Bangunan yang bernama sekolah itu lenyap menjadi abu. Guru yang pernah mengajarnya menyelematkan diri, pindah dari Kampungnya dan tak pernah kembali. Bertahun—tahun keadaan membiarkan dirinya tak bersekolah, kesehariannya ia habiskan dengan menjerat dan berburu.
Tendison begitulah anak berusia sekitar 13 tahun ini dipanggil, dia kini menjadi murid di kelas 4 . Aku meminta dia duduk di kelas 4 karena beberapa guru menyuruh dia masuk kelas 1, itu akan membuat dia minder ketika harus bermain dengan temannya yang usianya jauh berbeda dengannya. Selain itu, murid dikelasku Cuma 14 jadi aku bertekad memberikan pelajaran yang berbeda dengan temannya, disesuaikan dengan kemampuan Tendi pastinya. Yah, guru—guru mengijinkan tendi masuk kelas 4, setiap harinya aku menyiapkan bahan ajar khusus untuk Tendi. Aku juga mencoba menjelaskan pada tendi, kenapa dia harus mendapatkan pelajaran yang berbeda dengan temannya yang lain.
“Bukan karena Tendi tidak bisa mengerjakan ini, tapi Tendi mulai dari yang mudah dulu to. Sebentar kalau tendi su paham, ibu kasih soal yang sama deng kau pu teman. Bagaimana tendi?,” begitu jelasku. Dia masih jarang bicara, untuk mengatakan Iya biasanya dia hanya mengangguk dan tersenyum. Persis. Dia melakukan hal itu saat aku menjelaskan itu.
Aku tak mengira, Tendi yang mengaku sudah lama tak bersekolah itu ternyata bisa menulis rapi dan menghitung dengan cepat. Ia begitu cepat mengingat apa yang aku sampaikan di kelas, terlebih saat aku menyampaikan cerita. Dia memang belum bisa membaca, jadi pelajaran harus sering—sering disampaikan melalui cerita agar dia juga bisa mengikuti.
Hari ini yang aku siapkan adalah energi untuk menjawab setiap pertanyaan yang keluar darinya, yah pertanyaan tentang hausnya pengetahuan. Kini dia lebih berani dan aku lebih berani meyakinkan dia berhak atas masa depan yang cemerlang. Tendy tersenyumlah, dunia pasti bangga melihat semangatmu
Welcome Tendi,
Dari semalam, ia sibuk menyiapkan baju barunya. Sepertinya ia sudah penasaran ingin sekolah. Panggil dia Tendi, dia adalah adik piara di keluarga Nenekku. Dia belum lama tinggal di keluarga kami, hanya berjarak 3 bulan sebelum kedatanganku ke Kampung ini. Wamena, yah dari sanalah Tendi lahir dan besar hingga ada keajaiban kecil yang mempertemukan Tendi dengan Om Kivil. Om Kivil adalah adik Bapak piaraku yang menjadi tentara, dulu pernah bertugas di Wamena tempat tinggal Tendi. Selidik punya selidik, Wamena tempat tinggal Tendi bukanlah kotanya tapi pegunungan. Pertemuan ajaib begitulah aku menyebutnya, tawaran om Kivil untuk membawa Tendi ke Kampung ini mungkin sedikit tidak rasional, bahkan diawal ini ditentang oleh keluarga besarku. Bagaimana mungkin Om Kivil mau mengangkat anak yang baru dikenalnya. Tendi memiliki masa kecil yang tidak biasa dari anak—anak pada umumnya, dia harus melihat pahitnya kematian Ayahnya yang dibunuh oleh Neneknya sendiri karena menentang. Pun aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Tendi ketika melihat Ayahnya dibunuh didepan matanya. Tapi Tendi memang luar biasa, trauma yang ia miliki menjadi cambuk baginya untuk terus melanjutkan kehidupan. Setelah kematian ayahnya yang begitu tragis, ia harus merelakan sekolah tempat ia belajar habis dibakar. Habis. Lebur semua cita—cita Tendi dan teman—temannya saat itu. Bangunan yang bernama sekolah itu lenyap menjadi abu. Guru yang pernah mengajarnya menyelematkan diri, pindah dari Kampungnya dan tak pernah kembali. Bertahun—tahun keadaan membiarkan dirinya tak bersekolah, kesehariannya ia habiskan dengan menjerat dan berburu.
Tendison begitulah anak berusia sekitar 13 tahun ini dipanggil, dia kini menjadi murid di kelas 4 . Aku meminta dia duduk di kelas 4 karena beberapa guru menyuruh dia masuk kelas 1, itu akan membuat dia minder ketika harus bermain dengan temannya yang usianya jauh berbeda dengannya. Selain itu, murid dikelasku Cuma 14 jadi aku bertekad memberikan pelajaran yang berbeda dengan temannya, disesuaikan dengan kemampuan Tendi pastinya. Yah, guru—guru mengijinkan tendi masuk kelas 4, setiap harinya aku menyiapkan bahan ajar khusus untuk Tendi. Aku juga mencoba menjelaskan pada tendi, kenapa dia harus mendapatkan pelajaran yang berbeda dengan temannya yang lain.
“Bukan karena Tendi tidak bisa mengerjakan ini, tapi Tendi mulai dari yang mudah dulu to. Sebentar kalau tendi su paham, ibu kasih soal yang sama deng kau pu teman. Bagaimana tendi?,” begitu jelasku. Dia masih jarang bicara, untuk mengatakan Iya biasanya dia hanya mengangguk dan tersenyum. Persis. Dia melakukan hal itu saat aku menjelaskan itu.
Aku tak mengira, Tendi yang mengaku sudah lama tak bersekolah itu ternyata bisa menulis rapi dan menghitung dengan cepat. Ia begitu cepat mengingat apa yang aku sampaikan di kelas, terlebih saat aku menyampaikan cerita. Dia memang belum bisa membaca, jadi pelajaran harus sering—sering disampaikan melalui cerita agar dia juga bisa mengikuti.
Hari ini yang aku siapkan adalah energi untuk menjawab setiap pertanyaan yang keluar darinya, yah pertanyaan tentang hausnya pengetahuan. Kini dia lebih berani dan aku lebih berani meyakinkan dia berhak atas masa depan yang cemerlang. Tendy tersenyumlah, dunia pasti bangga melihat semangatmu
Saturday, 14 September 2013
Boneka Salju & Imran
Kampung baru, 2013
Kali ini fokusku beralih pada Imran dan Fahri. Imran itu anak tetangga dan fahri itu adik pertamaku di rumah. Ternyata mereka tak mau k*
alah dengan Anisa dan Fikram. Dan aku yakin mereka akan membuat sesuatu yang berbeda dari anisa serta fikram.
| Imran menunjukkan Bonekanya padaku |
“ Imran, itu bagus sekali sebentar jadi apa?,” tanyaku pelan.
“ibu, ini beta pu wajah. Su mirip to?,” jawabnya sambil menunjukkan ke aku.
Hehhehe dia bilang lagi bikin wajah dia sendiri, sudah miripkah?
“ owh ini kau pu wajah? Mantab—mantab. Coba kau simpan telinga biar mirip dengan kau pu wajah.” dan benar saja dia mengikuti saranku.
“ Eh imran, tara da wajah manusia kotak macam kau pu.” kata Fahri kencang.
“ Beta bi sponge bob jadi wajah pu beta kotak.” jawabnya sambil terkekeh hahahha
Padahal aku takut imran marah ketika fahri mengritik hasil karyanya. Ternyata mereka terbiasa dengan hal seperti itu. Sela—sela kesibukan mereka berkarya dengan tanah liat aku masih asyik meneleaah kepolosan mereka.
“ Kakak ibu, beta bikin boneka bagus.” kata fahri tiba—tiba menggunting lamunanku.
“kau bikin apa fahri? Mari kakak ibu lihat.” pintaku. Dia membuat dua bola dan di gabungkan di tambah lidi—lidi kecil menancap di kanan kirinya. Sepertinya ini boneka tak asing bagiku, tapi lagi—lagi aku tak mau menebak dengan apa yang sudah aku tahu. Kali saja ini boneka punya nama lain menurut fahri. “ Fahri, boneka apa itu?,” tanyaku menyelidik
“ ini boneka salju, beta su liat di tv dulu.” boneka salju atau nama bekennya snow man, great dia tahu lebih dari teman—temannya.
“ kau tau dimana boneka salju itu hidup?,” tanyaku menggorek pengetahuan dia tentang snow man
“Ooo... Beta tau.” jawabnya terputus tiba—tiba dia lari ke kebun dan memotong daun keladi.
“sebentar ibu, beta lupa ini saljunya.” dia mengangkat boneka saljunya dan meletakkan ulang di atas daun keladi yang berwarna terang. Dia sedang menganalogikan daun itu sebagai salju tempat tinggal si boneka salju itu. Hebat bukan? Bahkan aku saja tak kepikiran sebelumnya jika aku diminta mencari bahan untuk menggambarkan salju. “ibu, kenapa di beta pu kampung tarada salju? Beta pengen liat boneka salju beneran, Ada tidak ibu?” tanyanya.
Oh My God, dia tanya kenapa tak ada salju di tanah Pala ini dan keinginannya melihat snow man sesungguhnya. Memangnya ada ya snow man itu? Tiba—tiba aku terlihat bodoh tentang keberadaan manusia salju sebenarnya.
“Fahri, kitong tara bisa liat salju di sini. Kitong pu negera itu panas, salju itu di tempat yang tinggi dan dingin.”
“ oh beta tau ibu, di kutub kitong bisa bertemu boneka salju to?,”
“Ia pinter.” mantab benar—benar, dulu aku sekecil ini tak terpikir hal—hal yang seperti ini, tenyata jauh tempat tinggal dan terbatasnya listrik serta sinyal tak membunuh pengetahuan dan imajinasi mereka tentang kehidupan. Aku semakin yakin, anak— anak hebat di kota pala ini bisa bersaing dengan anak—anak metropolitan ketika di sentuh dengan cinta dan pengetahuan.
Akhirnya, matahari turun perlahan imran pamit pulang dan fahri nampaknya sudah mulai bosan. Tak lupa mereka membereskan jalan dari bongkahan tanah liat. Aku senang hari ini aku telah belajar dari mereka dan mereka sedang memadatkan imajinasi mereka sepeti saat mereka memadatkan tanah liat itu dan membentuknya menjadi bentuk yang mereka inginkan. Dan aku berharap esok ketika mereka besar mereka mampu memilih tanah yang bagus, memadatkan dan membentuknya menjadi guci yang indah.
Tambelo, Serius ini !
Pagi itu matahari hangat memancar di Kampung baru, bau tanah masih lekat di hidung setelah gerimis tak tuntas membungkus kampungku semalam tadi. Pagi begitu cepat hadir selama disini, dan kokok ayam jantan tergantikan suara anak—anak kecil berlarian di depan rumah mereka menghambur ke pantai meski mata mereka masih terkantuk.
Selepas membereskan dapur dan halaman aku memutuskan untuk membakar sampah di samping di rumah. Pace rahul dan om Rafi berkali—kali melintas di depanku sambil membawa dirigen besar di susul Tete (kakek) dengan goloknya. Nampaknya mereka sedang buru—buru,
“Teteeee...eee beta ikut.” teriakan Anisa memecah konsentrasiku pada sampah di depanku.
Gadis berrambut ikal itu berlari menghambur keluar rumah menuju darmaga kecil di belakang rumah. Aku masih mengikuti langkahnya, karena darmaga itu nampak jelas dari samping rumah.
Aku memadamkan api sampahku dan berlari menuju darmaga, menyusul Anisa, ikram, Pace Rahul dan Tete.
“ mau pergi kamana Te?,”
“Pi cari tambelo.” jawab Tete
Sepertinya menarik dan aku belum pernah tahu apa itu tambelo, aku memberanikan diri untuk ikut.
“ Yeeeee... Kakak ibu ikut cari tambelo.” teriak Anisa menyebabkan anak—anak yang dari tadi main air di sebelah terperanjat dan berhamburan menuju longboat.
“ Beta ikut lai... “
“Kakak ibu kenapa diam saja? Kakak takut ka?,” tanya Fikram
Hah? Ko dia tahu aku sedang menahan takutku? Aku hanya mengembangkan bibirku yang dari tadi terkatup.
“ Hehhehe... Tarada. Kakak sedang lihat ikan.” alihku.
Ternyata aku tak pandai mengalihkan topik, karena setelah pertanyaan itu Longboat terguncang keras. Ombak lautan Kokas menyapa, sepertinya ia ingin berkenalan denganku. Jemariku menggenggam erat bibir longboat sambil mendoa dalam hati. “tenang, tenang semua akan baik—baik saja.” batinku.
Setelah 35 menit mengarungi biru lautan, longboat tua milik Tete menepi di pantai. Kalau tidak salah namanya ‘Pantai Tanisa’ pasir putihnya menyilaukan mata. Rindang pohon ketapang berjajar rapi. Suguhan mata yang menenangkan. Bahkan kau tidak akan menemukan ditempat lain, ketika menatap ke kanan gugus karang di tengah laut gagah berdiri. Menatap ke kiri, gugus pulau kecil—kecil tertata rapi. Ikan kecil—kecil berenang riang di bibir pantai. Kami bergegas turun dari longboat, menurunkan perbekalan. Perburuanpun dimulai, sedikit lebai memang. Aku menyebutnya perburuan tambelo.
“Kakak, katong tunggu sini sudah. Cari tambelo setengah mati.” kata Anisa
Benarkah susah? Tapi aku harus mencobanya bukan? Aku tak ingin melewatkan satu momentumpun disini. Tapi memang tak semudah yang aku bayangkan, bahkan setelah aku melihat seperti apa tambelo itu rasa penasaranku berubah menjadi rasa geli. Men, tambelo itu lebih menggelikan dari pada melihat cacing tanah. Kulitnya putih, dalamnya berisi lumpur, lebih panjang daripada cacing pada umumnya. Kalau tidak salah ini termasuk kelas kerang—kerangan, semoga masih ada yang ingat pelajaran biologi kelas 1 SMA. Menyentuhnya membutuhkan energi ekstra untuk membunuh kegelian, hahahah.
Yang lebih tidak masuk akal adalah ketika Anisa dan Fikram mengajakku untuk makan.
“Kakak Ibu, mari katong makan sudah.” ajak Anisa
“Apa? Makan mentah begitu?,” tukasku kaget.
“Enak’o.” sahut Fikram dan yang lain.
Oh My God, aku bahkan tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya terlebih ketika tahu dimana tempat tinggalnya dan bentuknya. Fikram dan yang lain makan tambelo seperti makan Nutrijell yang dikeluarkan dari kulkas.
Perburuan tambelo diakhiri ketika Pace Rahul memanggil kami. Lumayan dapat banyak, kami kumpulkan dalam satu loyang besar. Pesta tambelopun dimulai setelah mama tua membuat rica asam dan menuangkan teh dalam sagu.
“Kak, mari makan sudah.”
“terimakasih, sa su kenyang.” bohongku lagi. Bagaimana mungkin aku memakan tambelo itu mentah—mentah? Tidak. Tidak gumanku dalam hati.
“Ibu, kalau su kesini harus makan kalau tara coba pamali. Jadi ibu orang tara bisa balik pi Jawa lai.” kata Pace menyodorkan loyang tambelo padaku.
Pamali? Kalau tau begini aku tidak akan pergi, batinku. Yah aku percaya saja dengan apa kata pace, maka dengan segenap hati aku mengambil sepotong tambelo dan mencucinya di air laut. Semua duduk disampingku, membuat setengah lingkaran yah demi melihat aku memakan makhluk yang bernama tambelo itu. Berkali aku mengernyitkan dahi dan menutup mata, menunggu mulut terbuka untuk menerima makanan baru.
“hug...” suara enegku saat tambelo mentah itu melintas dikerongkonganku. Aku meneguk air teh bergelas—gelas setelah berhasil menelan tambelo mentah itu. Riuh tepuk tangan dan tawa khas Kokas membumbung. Aku berhasil, yah aku berhasil membunuh rasa geliku itu.
“Yeeeee... Kakak su bisa jadi orang Papua.”
“ Hahhahahaaaei, Kakak ibu kena tipu Pace’o.”
Dan aku baru tau kalau pamali yang Pace Rahul katakan tadi adalah bohong. Itu adalah cara agar aku mau mencobanya. Aku tertawa serta sambil menahan kesal. Setidaknya aku bisa menceritakan pada cucuku nanti kalau aku pernah memakan makhluk yang bernama tambelo ini dalam keadaan mentah.
#Pantai Tanisa Juni 2013
MEREKA TAK PERNAH PERGI
Biarkan luh mereka membasahi tanah Pala siang ini. Mendung bergelayut pekat di langit—langit Fakfak dan peluk erat untuk terakhir kali telah mereka berikan.
Di depanku beberapa anak—anak dari Siboru menyanyikan lagu untuk Pak Guru Mario yang telah setahun bersama mereka. Lagu tulus yang begitu menyentuhku
“.... Pagiku cerahku, matahari bersinar kugendong tas merahku di pundak. Slamat pagi semua kunantikan dirimu di depan kelasku menantikan kamu.Pak Mario tersayang, pak mario tercinta tanpamu apalah jadinya aku, meng....”
Deg, siapapun yang berdiri di sana pasti akan menitikkan air mata terlebih anak—anak itu menyanyikan dengan hikmat dan tangis mereka menutup lagu itu. Betapa berharganya setahun bagi anak– anak dan guru muda itu. Tak bisa terlukiskan bagaimana perasaan pak guru Mario pastinya. Gurat haru menggeliat di sudut wajah Pak mario kali itu, setelah memberikan pelukan terakhir untuk anak—anak hebat itu Pak Mario memasuki ruangan. Di susul oleh guru muda lainnya.
Ruangan berukuran 7* 10 itu padat oleh warga, mereka berduyun—duyun datang ke bandara pagi itu demi melihat Pengajar muda angkatan ke 4 terbang meninggalkan mereka siang itu. Awalnya semua aman dan tertib, namun ketika Guru Muda keluar ruangan berjalan menuju pesawat semua warga berhambur keluar
“ Eh, buka pintu. Kitong mu antar guru muda itu.” kata salah satu ibu—ibu yang mendorong petugas bandara. Wajah kesal dan geram petugas itu nampak jelas.
“ Tidak ini batas penumpang jadi silakan lihat dari dalam.” jawab tegas petugas itu. Namun warga mendorong dan memaksa untuk masuk hanya demi melihat guru muda itu memasuki badan pesawat dan melambaikan tangan untuk terakhir kalinya.
Setelah selang 3 menit, akhirnya petugas itu tak bisa menahan dorongan massa dan membiarkan semua warga masuk. Aku mengikuti langkah mereka dari belakang, beginilah yang akan dilakukan orang—orang yang mencintai kita ketika kita mau meninggalkan mereka. Mereka bisa nekat dan tidak mengindahkan aturan. Pun aku tak menyalahkan siapapun kali ini, karena aku tau betapa kesedihan orang—orang yang ada di bandara siang itu begitu dalam. Tapi guru muda yang akan meninggalkan merekapun sesungguhnya lebih sedih, karena mereka telah mendapatkan banyak pelajaran berharga di sini.
Dan tangis membahana ketika Wings Air mulai lepas landas, pelan—pelan co-pilot melambaikan tangan dan pesawat itu benar—benar terbang. Membawa guru muda bersama keharuan bandara Torea siang itu.
Senyap. Tak ada suara yang bergeming ketika pesawat itu enyah dalam gumpalan awan Fakfak kali itu. Aku yang dari tadi berdiri di paling depan mulai menarik langkahku demi melihat warga yang masih termangu akan kepergian guru muda. Nenek Iha beliau adalah salah satu ibu angkat guru muda yang ada di Kampung Baru, ya perempuan berbadan besar, berkerudung putih itu masih sesegukan di dekat tiang utama di ruang tunggu.
“ Nek, mari pulang...” ajakku mencoba mengalihkan kesedihan nenek
“ Ibu Kopi su pulang...” balasnya terbata. Beliau menjatuhkan kepala di bahuku dan aku memeluknya erat meyakinkan beliau bahwa suatu hari nanti ibu kopi akan datang kemari dan bertemu dengan nenek lagi. Perlahan, kami meninggalkan Apron dan menuju lapangan parkir. Suasana haru masih melekat erat di setiap sudut parkiran Bandara Torea siang itu. Siapapun yang pergi saat itu, tidak akan pernah ada seorangpun yang bisa menggantikan guru muda itu di hati warga. Aku tau itu, dan aku datang bukan untuk menggantikan siapapun di kampungku nanti tapi aku akan menjadi warga baru disana meneruskan perjuangan guru
Apron Torea, 29 Juni 2013
Subscribe to:
Comments (Atom)