Thursday, 2 January 2014

Pramuka bukan masalah A B C D ...


Aku bersyukur Tuhan telah mempertemukan aku dengan mereka, seperti menemukan permata dalam lumpur kedua kalinya, setelah aku menemui anak – anak hebat di SD kini aku menemukan semangat membara di mata mereka. Mereka adalah anak – anak SMA yang berhasil kuracuni dengan Pramuka, bukan racun dalam arti sesungguhnya.

Awalnya, aku putus asa ketika aku mulai membuka ekstrakulikuler pramuka di SMA. Hanya ada dua orang saja Sri dan Marten yang hadir tiap latihan. Segala capaian dambaanku tentang kepramukaan hilang di awal – awal bulan pertama latihan, sempat ingin mengakhiri saja ekstrakulikuler itu karena tidak begitu mendapat respon yang baik dari warga sekolah termasuk guru- guru. Tapi niat burukku itu tidak di restui oleh Allah nampaknya, karena semangat Marten dan Sri yang begitu luar biasa mereka berhasil mengajak anak – anak yang lain bergabung. Tanpa seragam pramuka pastinya, sungguh mereka datangpun itu sudah cukup membuatku senang.
Mengajarkan pramuka itu bukan masalah A B C D, atau masalah AD ART/ SKU dan berkemah terlebih pada usia penegak seperti mereka. Ini jauh lebih menantang dari pada mengajarkan penggalang menghafal morse atau semaphore. Akhirnya aku membuat kesepakatan dengan mereka untuk belajar memantaskan diri menjadi pramuka bersama – sama. Menjadi teman bagi mereka, yah itu yang kulakukan agar aku bisa masuk ke dunia mereka. Aku belajar untuk tidak menggurui, tapi menunjukkan yang aku tahu. Latihan demi latihan telah kami lewati, akhir semester ganjil menjadi momentum paling di tunggu bagi mereka, karena aku telah menyiapkan Persami. Dengan dana Rp. 0,-  aku menyetting kegiatan perkemahan yang merupakan perkemahan pertama seumur hidup mereka, menyiapkan kegiatan yang menarik agar mereka tidak kecewa. Tentu saja dengan bantuan mereka semua. Alhamdulillah kegiatan itu berjalan baik, 30 anak ikut serta dalam kegiatan kali itu. Sedikit demi sedikit aku mengenalkan mereka dengan kode etik pramuka, dan segala hal yang berbau pramuka. Perkemahan sederhana yang aku rencanakan itu, aku berharap menjadi jembatan awal dan pembelajaran bagi anak – anak yang ikut. Sungguh aku tak membuat kegiatan yang muluk, yang terpenting mereka tahu prosesnya agar nanti mereka tahu dan bisa membuat kegiatan yang lebih besar dari perkemahan kecil di akhir desember 2013 ini.

Melihat mereka begitu semangat dan antusias menjadikan aku haru, sayang aku hanya sebentar saja di sini batinku. Tapi bagaimanapun aku aku yakin mereka adalah anak – anak pilihan yang sengaja di kirimkan Allah untuk mengajariku lebih banyak hal.  Bersama mereka aku tak hanya belajar untuk menjadi pramuka sekedarnya, tapi belajar menjadi pramuka sebenarnya...


Makrab 14-15 Desember 2013


Saturday, 30 November 2013

Katong Pulang Sudah (Jakarta part 2)


Katong Pulang sudah...
Ini adalah hari jumat, berarti sudah 3 hari kami di Jakarta. Pagi ini kami telah bersiap untuk kunjungan ke Kemendikbud, wajah berseri 5 anakku mengalihkan perutku yang keroncongan karena tak sempat sarapan pagi itu. Aku lega akhirnya mereka bisa membaur dengan teman—temannya, meskipun mereka masih banyak diam. Semoga diam mereka adalah proses mencerna dan belajar. Panitia membagi mereka menjadi 5 kelompok dan membagi bisnya. Beruntung pagi itu tidak macet, pelataran Kemendik menyambut langkah kecil ke 175an peserta KPCI kali itu. Ruangan besar di lantai 3 telah tertata rapi, setelah acara ceremonial selesai tiba saatnya mendengar penganugrahan piala untuk penulis cilik. Berkali aku membesarkan hati anakku, “meskipun kalian tidak ada yang berdiri diatas sana sebagai juara, tapi bagi ibu kalian semua adalah juara buktinya kalian su sampai disini to?,” kataku pada Tresia dan Fikram yang termangu menatap teman—temannya di depan menerima hadiah. Bukan hanya anakku saja yang ingin menerima gelar sebagai juara, pun peseerta lainnya. “Dong hebat ya ibu.” kata fikram
“kalau mau seperti mereka to, kamong harus rajin belajar menulis dan membaca buku.” timpalku. Membaca? Membaca keadaankah? Buku baca untuk anak—anak di tempat mereka masih sangat terbatas, toko bukupun belum ada. Perpustakaan daerah sangat sulit dijangkau karena jaraknya yang jauh. Terlebih untuk anak Pulau, untuk Fakfak dengan kondisi geografis yang unik itu membutuhkan perpustakaan apung sepertinya.
Acara telah usai, peserta putri makan siang sambil menunggu peserta putra solat jumat. Mereka mencari posisi ternyaman untuk makan, ada yang duduk di lantai, bersandar di tembok dan sebagaian di kursi yang tersedia. Aku menyapu lorong lantai 3 mencari dimana Tresia berada, aku menemukan dia duduk di dekat anak tangga. Wajahnya kuyu, seperti tidak bersemangat.
“sudah makan sayang?,” tanyaku sambil jongkok. Dia tak menjawab, hanya menggeleng ringan.
“kenapa? Kamu sakit kah?,” tanyaku lagi. Dia tak menjawab, aku buka kotak makannya. Utuh. Dia tak makan sepertinya. “kamu kenapa tara makan, kau pu perut sakit ka atau pusing?,” tanyaku ulang.
“ibu sa makan macam tara enak, sa pusing makan makanan begini.” jawabnya
“baru kamu tara makan apa– apa, nanti kau pu perut sakit bagaimana?,” balasku.
“Ibu, kapan katong pulang. Katong mau makan keladi.” tambahnya pelan.
Deg, serasa senyap disekitar. Aku tak membayangkan bagaimana rasa rindunya pada keladi. Aku memeluknya, “kamu mau makan keladi? Tapi disini tarada keladi sayang. Makan nasi kosong sudah, sedikit saja. Sebentar kita cari jajan yang kau mau” balasku. Ternyata pagi tadi dia tak makan juga, pantas sepanjang kegiatan ia tak semangat seperti hari sebelumnya. Aku membantunya membereskan makan yang tak dimakan. Aku minta dia masuk ke ruangan bergabung dengan teman—teman kelompoknya. Aku bertanya apakah panitia menyediakan keladi atau kasbi (Singkong) karena Tresia tidak mau makan dari pagi. Well, untung panitia begitu tanggap, tak lama ada yang pergi membelikan ubi dan singkong goreng.
Di satu sisi, keempat anak lelaki itu makan dengan lahab. Tapi banyak lauk yang tak dimakan, mereka bilang itu tidak cukup enak di perut mereka. Maksi makan kue bolu berwarna pink muda itu banyak—banyak. Dia suka nampaknya. Mbak dini, salah satu panitia terlihat senang ketika melihat Maksi makan banyak tidak seperti Tresia tadi. Ketika panitia yang membeli singkong goreng itu datang aku memanggil Tresia, binar wajah Tresia berganti saat melihat singkong goreng di plastik. Ia makan banyak—banyak. Lega, saat senyum Tresia mengembang lagi siang itu.
Karena terlalu banyak, Tresia menyimpannya untuk dimakan sore nanti. Kami kembali ke ruangan. Tak lama setelah makan siang, kami bersiap untuk melanjutkan kegiatan yang ditunggu—tunggu oleh hampir seluruh peserta yaitu ke ‘Kidzania’ . Sebagaian peserta yang datang dari jakarta dan sekitarnya sudah pada tahu tempat apa kidzania itu, tapi tidak untuk 5 anakku. Setelah turun dari bis, semua menghambur ke bangunan penuh lampu itu. Anak—anak menaiki eskalator. Kali itu aku tidak lagi khawatir karena mereka sudah aku training naik eskalator kemarin di bandara Makasar. Setelah masuk di kidzania, wajah semua peserta berubah. Yang tadi sedih menjadi riang, yang sakitpun sembuh instant. Lalu 5 anakku wajahnya sumringah, tak bisa menggambarkan betapa senangnya mereka. Aku membiarkan mereka memilih menu permainan yang mereka suka, Sulthon yang bergabung dengan teman—teman kelompoknya belajar membuat silverqueen, tango dan menikmati menu belajar lainnya. Tresia dengan Novi anak Rote menikmati Modeling Schoolnya Gatsby dan belajar berjalan diatas cat walk. Maksi, Mai dan Fikram mencoba menjadi supir taksi, ikut balap mobil, membuat SIM dan mereka menikmatinnya. Ah, semoga keceriaan mereka bertahan sampai di Fakfak nanti. Mereka mengumpulkan uang yang mereka dapatkan, mereka membelanjakan uangnya di kedai—kedai yang tersedia. Mereka senang bukan main.
Jam tangan Q & Qku menunjukkan pukul 17.30 WIB waktunya kembali ke hotel. Kami menuruni eskalator menuju lobbi depan. Seperti biasa suguhan jakarta dengan macet yang cukup tidak wajar, kami terpaksa harus menunggu bis cukup lama. Wajah ceria yang tadi mereka punya seketika berubah. Aku kembali mengalihkan bosan mereka dengan meminta mereka bercerita menu permainan apa yang sudah mereka coba barusan. Mentah. Mungkin mereka lelah. Kami menikmati 20 menit masa menunggu bis keluar dari parkiran. Berdiri disampingku Maksi dan Tresia, sedangkan yang lain mencari posisi nyamannya. “Ibu, baru katong besok pi mana?,” tanya maksi mengawali.
“Besok kamong jalan—jalan dulu to? Ke Monas, toko buku cari oleh—oleh apa?,” jawabku sambil menundukkan kepalaku demi melihat matanya yang lelah. Dia menaikkan dagu sambil tersenyum datar, senyum yang ia berikan saat lelah dan tidak suka. “baru kapan katong pulang?,” tambahnya.
“Nanti kalau su dapat tiket, sebentar ibu beli tiket dulu.” aku menepuk bahunya.
“Ibu, katong pulang sudah...,” balasnya membuat aku mengernyitkan dahi.
“Maksi, kenapa pengen pulang. Kita belum jalan—jalan lagi.” tambahku. Tresia hanya menjadi pendengar kali itu. “katong su rindu pinang, ibu.” jawabnya jujur. Tresia tertawa kecil, aku menggeleng sambil menghela nafas. Aku tatap mata Maksi dalam, aku mengusap kepalanya berkali.
“Kau, masih bisa tahan tara makan pinang sampai hari senin ka?,” tanyaku, dia tak menjawab ekspresinya sama mengangkat dagu sambil menyunggingkan senyum datarnya.
“disini tarada yang jual pinang lai, bagaimana kalau kau makan gula—gula saja.”tawarku mencari solusi. “Gula—gula tara enak ibu.”timpalnya. Sedangkan Tresia terkekeh saat mendengar pengakuan Maksi tentang Pinang. Aku tidak bisa melarangnya untuk tidak rindu dengan pinang, tapi kali ini aku kehabisan akal bagaimana mencari pinang di Jakarta? Aku merangkulnya.
“Sabar yah, kalau kau su sampai Fakfak kau bisa makan pinang banyak—banyak.” tambahku tak mengobati rindunya. Maafkan ibu nak, tidak menyiapkan apa yang biasa dekat dengan kalian. Batinku sepanjang jalan menuju ke hotel. Mungkin saja kalian rindu dengan mama dan bapak.
Karena ini adalah kali pertama untuk Tresia, Maksi, Sulthon dan Fikram pergi lama dan jauh dari keluarganya. Tapi ibu sudah berusaha menjadi orangtua kalian meskipun tidak sehebat mereka. Ah, aku menitikkan luh juga akhirnya. Aku tak bisa memaksakan anak—anak itu betah di Jakarta dengan kerinduannya pada keladi, pinang yang sesungguhnya itu hanya secuil dari kerinduan mereka pada keluarganya. Macet senja itu terbungkus dengan keharuan mendengar pengakuan rindu dari Tresia dan Maksi. Malam itu juga aku berjanji akan mencari tiket untuk pulang ke Fakfak, mencari penerbangan tercepat dengan budget yang kami punya. Sabar nak, kau hebat pasti bisa menahan rindu sedikit lebih lama dari teman—teman kalian lainnya. Senyum kelima anak hebat itu bermain di langit—langit bis yang aku tumpangi. Gemerlap lampu kota bisu menina bobokan seisi bis yang nampak lelah. Esok akan ada kisah baru bersama mereka... Percayalah :)



Katong Pi Jakarta (Jakarta Part 1)


Ini adalah hari ketiga petualangan mereka di Jakarta. Mengenalkan mereka pada ibu kota negara yang sering diagung—agungkan orang kampung. Baiklah aku akan menceritakan asal muasal kenapa aku dan 5 anak hebat ini ipi kompetisi sesungguhnya. Bahkan sebelumnya mereka tak pernah mengikuti lomba sejenisnya, tapi keberuntungan memihak mereka sehingga keluarlah nama—nama mereka di daftar peserta KPCI. Yah namanya Konferensi Penulis Cilik Indonesia. Tidak mudah untuk bisa sampai di Jakarta, setelah ribet dengan urusan birokrasi dan minimnya dana yang ada menjadikan tantangan apakah mereka berlima bisa hadir di acara tersebut. Aku yakin, Allah akan memberikan jalanNya. Sempurna, ada jalan yang tak disangka. Padahal itu sudah di lobbi juga. Senin sore setelah fix mendapat tiket untuk terbang aku dan salah seorang temanku. Sebut saja Mike nama sesungguhnya, memutuskan untuk naik kampung. Tidak dengan kendaraan umum yang biasa kami pakai untuk ke kota pastinya, karena sudah tidak ada taksi yang jalan di tengah sore menjelang petang begini. Meminjam motor, begitulah jawabnya. Menghitung kilometer yang panjang, 2 jam bersama gelap hutan dan dingin yang menusuk. Sorot jupiter MX itulah yang menjadi penerang sepanjang jalan. Suara jangkrik dan binatang malam menambah sempurna suasana hutan malam itu. Lelah beradu bersama kantuk, kalau tidak sedang dijalan mungkin aku sudah jalan—jalan bersama mimpiku. Ah, aku harus menahannya demi esok pagi. Diujung mata memandang binar lampu kampung Pikpik memancar, memberikan jawaban jika sebentar lagi aku bisa rebahan atau sekedar bersandar. Rumah kepala sekolah SD si Mike menjadi persinggahan pertama dan berlanjut ke rumah hostfam’nya. Setelah merampungkan urusan dengan orangtua murid yang akan ikut berangkat, akhirnya aku bisa benar—benar rebahan di kamar penuh ilmu pengetahuan. Hahhaha, aku suka geli jika menyebut kamar itu. Mike memberi nama kamarnya demikian karena dikamarnya ramai dengan buku—buku. Well, itu tak penting karena esok hari aku harus melanjutkan perjalananku ke kampungku yang kira—kira satu jam dari kampung ini.

sampai di Jakarta. Ajang menulis bergengsi yang diadakan Kemendikbud dan Mizan telah membuka kesempatan bagi anak—anak Fakfak untuk mencic
19 November, aku telah berada di kampungku sekarang. Setelah menyampaikan beberapa hal pada orangtua Sulthon dan Fikram aku kembali lagi ke kota dengan jupiter MX itu lagi. Entah bagaimana ceritanya, Mike lupa ngisi bensin sehingga menyebabkan aku deg—degan setengah mati takut kehabisan bensin ditengah jalan. Ga siap aja dorong motor sampai di kota. Hahhaha, benar saja demi mengurangi resiko ngedorong motor maka setiap jalan turunan kami matikan mesin hahhaha ini demi ngirit. Finally, kami sampai di kota dengan selamat tanpa ngedorong motor. Bagaimana rasa tubuhku saat itu? Akupun tak bisa menceritakan. Kantuk, lelah dan begitu banyak pending matters yang harus diselesaikan ditambah kami langsung ada rapat dengan dinas siang itu. Jika boleh memilih, aku ingin tidur sesiangan. Tapi lagi—lagi demi esok pagi aku harus keluar dari pilihanku dan mengerjakan hal yang semestinya aku kerjakan demi esok pagi.
Malam tidak membiarkan aku tidur lebih cepat karena beberapa hal yang harus aku siapkan. Baik aku akan kenalkan siapa saja yang akan ikut serta dalam petualangan kali itu ada Sulthon yang luar biasa unik, Fikram. Mereka berdua ini dari Sdku. Ada Maksi yang sering dipanggil maksimal, juga Tresia yang paling cantik diantara mereka berlima. Mereka berdua dari SD Mike. Terakhir yang paling cool diantara yang lain adalah si Saharudin, nama beken dikampungnya Mai. Dia dari SD si Fajri. Dan aku sendiri adalah orang yang paling ayu dan ngangenin di antara 6 temanku, hahhaha jangan percaya yah kalu belum ketemu aku.
Nokiaku berbunyi berkali menunjukkan pukul 4, berarti tidurku harus disudahi. Aku membangunkan mereka berlima dan meminta mereka untuk bergegas mandi. Jam 5.30 kami menuju bandara, masih senyap. Ruas—ruas jalan masih kosong, udara pagi itu menusuk pelan.
“ah, aku masih belum percaya jika hari ini anak-anak ini akan berangkat ke Jakarta. Meskipun si Mai sudah pernah mengikuti ajang menulis di bulan kemarin.” batinku sambil menguliti senyum renyah anak –anak dalam taksi. Apron Torea itu sudah penuh dengan orang, karena Wings Air menuju Sorong sudah nangkring di atas lapangan landas. Kami harus melakukan perjalanan jauh  lewat Sorong, pindah pesawat transit Makasar  barulah sampai Jakarta. Ini semua karena tiket Fakfak—Jakarta habis, tak seperti biasanya bukan? Berkali aku sudah mengingatkan anak—anak untuk saling menjaga dan membantu dengan begitu mereka telah menolongku. Ini adalah kali pertama aku melakukan perjalanan jauh dengan 5 anak sekaligus.
Binar mata anak—anak mengatakan betapa mereka bahagia saat menaiki anak tangga Wings air menuju badan pesawat. Perjalanan satu jam menuju Sorong telah habis, doaku saat itu tak banyak mereka mendengar apa kataku dan tidak mabuk perjalanan. Matahari Domine pagi itu sedikit terik, asap rokok mengepul ringan di lorong kedatangan. Setelah mengambil barang—barang kami menyusuri aspalan menuju tempat pemberangkatan.
“Ibu, katong naik pesawat lai jam berapa?,” tanya Maksi
“Jam 11, jadi kita harus nunggu dulu yah.” jawabku sambil mengusap rambut keritingnya.
“ Oh mamae, katong harus menunggu lama begitu Ibu. Sekarang saja baru jam 7.30.” tukas Sulthon.
Benar, kami harus menunggu 3,5 jam ini bukan waktu yang sebentar. Semoga mereka tidak bosan, doa tambahanku. Setelah sarapan soto di kantin bandara, kami hanya duduk—duduk di depan bangku ticketing. Gesture mereka mengatakan ‘bosan’ ditambah terik yang menghardik pagi itu.
“sabar ya nak, sebentar lagi kita bisa check in dan kalian tidak akan kepanasan lagi kalu su di dalam” kataku mencoba menyabarkan mereka. Padahal aku paling tidak sabar menunggu juga, tapi kali itu aku harus memakai topeng untuk menutupi ketidaksabaranku didepan anak—anak.
“Brruuuuk...” suara koper milik Sultho jatuh bersama orangnya. Aku beranjak dari dudukku dan menghampiri dia yang meringis kesakitan.
“Nah, kau tara dengar apa kata ibu to. Jadi syukur kau jatuh...’ kata Fikram ketika melihat sulthon jatuh. “usssst.....” aku memalingkan wajahku pada Fikram dan 3 anak yang lain agar berhenti mengejek. Dari 10 menit yang lalu Sulthon sibuk dengan kopernya, ia duduk diatasnya dan didorong-dorong macam mobilan. Akhirnya ia jatuh.
 ................ bersambung

Wednesday, 30 October 2013

Nenek Koyar Tara Kosong'e....

Matahari terik diluar sana, aku baru menyelesaikan satu SK—Kd tentang KPK bersama anak—anak hari ini. Senang karena hari ini anak—anak telah merampungkan tugas dengan baik. sebagai hadiahnya, aku membacakan cerita berjudul ‘Monster Mata’ ini adalah salah satu cerita kesukaan anak—anak di kelas. Ada beberapa dari mereka yang hafal alur dan dialog ceritanya. Saat sedang asyik membaca cerita, pintu kelas di ketuk berkali-kali. Bukan ketukan indah untuk didengar, aku membukanya. Wanita bertubuh besar, berhidung mancung itu tegap berdiri di depan kelas. Aku memanggilnya Nenek Koyar. Aku sambut dengan senyuman terbaikku, tapi tak mendapatkan balasan.
“Iya nenek, ada apa? mau ada perlu ka deng Mega?,” aku menebak mungkin saja si Nenek mau panggil cucunya. Disini masih sering terjadi orang tua memanggil anaknya untuk disuruh sekalipun jam belajar. Wanita berkepala 5 ini masih diam tak bergeming, ia menata ulang pinang yang ada dimulutnya. “ tarada, sa ada perlu deng ibu.” jawabnya tegas. Aku mengangguk pelan
“Kasih kembali kunci perpustakaan, dong belum bayar sa pu uang batu. Kemarin Bapak ada angkat kunci dan kasih deng ibu to? Kalau ibu mu pi buka, bayar sa pu uang dolo,” kalimat pertama dan dilanjut dengan kalimat makian yang luar biasa keras sehingga membuat anak—anak dikelas ketakutan.
“cukimayu’o... Kambing...” ini adalah salah satu makian yang lumrah. Aku mencoba untuk tenang dan mencerna semua yang disampaikan.
“Nek, sa tara bawa kunci hari ini. sa janji sa tara buka perpustakaan sampai urusan selesai. Jadi nenek tara usah khawatir.” jawabku sedatar mungkin.
“kalau sampai sa liat ibu ada buka perpustakaan, sa palang itu pintu atau sa kasih bakar sekalian.” aku tak lagi menimpali ucapan si nenek. Nenek itu pergi sambil terus memaki, aku tetap berdiri demi melihat si Nenek hilang dari halaman sekolah. Anak –anak berhambur mendekatiku
“Ibu, tara papa to. Aduh ibu’e sa takut setengah mati.” kata Ona dan di sambung anak—anak yang lain. Mereka mengusulkan kalau ada seperti itu lagi, lebih baik Ibu pi sembunyi sudah. Mereka selalu saja menawar emosi yang sedang bergelayut di atap hatiku. Perpustakaan itu masih jadi sengketa sejak kedatanganku, padahal bangunannya sudah gagah berdiri tinggal disini buku dan anak –anak bisa menikmati. Hanya karena masalah uang batu yang tak kunjung dibayar menyebabkan perpustakaan ini dipalang berbulan—bulan. Hari ini nenek Koyar memintaku untuk membayarnya. Membayarnya? Mana mungkin ini bukan kewajibanku, meskipun aku harus melihat gurat sedih diwajah anak—anak saat aku menyatakan ‘kita tidak akan membuka perpustakaan sampai urusan selesai’. Tak seharusnya anak—anak tahu masalah uang batu itu bukan? Tapi apa boleh buat Nenek Koyar telah membuat seluruh penduduk sekolah tahu akan hal ini.

Sejak hari itu aku semakin tidak akrab dengan beliau, aku sudah mencoba membuka diri untuk menyapa atau sekedar melempar senyuman tapi nenek memberikan wajah flatnya. Aku pikir ini akan berjalan sampai akhir penugasanku disini, ini bukan hal yang aku inginkan tentunya. Masalah uang batu itu terkubur berlahan, aku tidak pusing dengan perpustakaan toh anak—anak bisa baca buku di kelas.
Hari ini 28 Oktober 2013, aku dan anak –anak sedang menyiapkan diri untuk ikut kegiatan “pesta siaga’ di Fakfak. Beberapa persiapan telah matang dan tinggal pemantapan untuk tarian sebagai hiburan di opening ceremony. Kami mendapat kesempatan untuk menampilkan tarian Timor dan lakadinding untuk OC. Dari kemarin beberapa orang tua murid sibuk mencarikan seragam baru, perlengkapan pramuka baru dan segala hal. Ini poin positif yang mendukung kelancaran kegiatan bukan? Sore lepas asar segerombolan mace—mace datang kerumah menyebabkan aku dan Mama piaraku bingung. Ada apa gerangan mace—mace ini datang? Ekspresinya tidak begitu santai jadi aku enggan mengira—ira. Nenek Koyar memimpin mace—mace duduk di depan teras. Tanpa harus dipancing, mace—mace ini mengutarakan maksudnya. Luar biasa mulia maksud kedatangan mace –mace ini. “ Jadi ibu, tara usah khawatir deng ongkos taksi. Katong pi sana mau bantu ibu awasi dong. Katong tara bisa bayangkan, ibu sibuk urus makan dong, kegiatan dong. Jadi ibu urus kegiatan supaya katong bisa masak untuk dong.” tegas Nenek Koyar.
Kalian tahu bagaimana rasaku saat nenek Koyar mengutarakan hal itu? Aku senang bukan kepalang bukan karena esok ada yang bantu pas di fakfak tapi lebih karena kekakuan yang terjadi beberapa minggu terakhir karena uang batu itu akan hilang. Aku mengiyakan dan berkali aku mengucapkan terimakasih karena kesediaan mace—mace untuk membantu aku dan anak –anak.
Sempurna, hari rabu 29 Oktober 2013. Mace—mace telah bersiap di depan rumah, beberapa mereka ada yang membawa tagas—tagas (Sayuran yang terdiri dari daun singkong, pepaya&kangkung) ada yang menyumbang beras satu kresek, membawa ikan segar. Aku begitu terharu saat mace—mace itu mengumpulkan sumbangan bahan makanan. Tuhan, ini tak pernah ada dalam bayanganku sebelumnya. Well, setelah persiapan mantap kami naik taksi biru milik Pakde yang sudah menunggu sejam yang lalu. Kami memilih untuk berangkat lebih pagi demi menghindari hujan diperjalanan, karena beberapa ruas jalan sedang di bongkar yang mengakibatkan kami harus lewat jalur darurat yah sedikit mengerikan karena berlumpur. Nenek koyar memang punya power lebih diantara mace—mace yang ada disini, idenya selalu diterima oleh Mace- mace. Tak kusangka memang Nenek Koyar punya sesuatu yang berbeda. "Memang nenek Koyar tra kosonge..."

Tuesday, 15 October 2013

Pak Bakrie

 Karena sebuah pertemuan selalu memberikan kesempatan untuk belajar.
Hari ini,12 Oktober 2013. aku belajar dari sosok luar biasa pak Bakrie, yah begitu orang akrab memanggil lelaki berusia lanjut itu. Senyumnya mengembang pelan saat beberapa kali orang menyapanya. Pertemuan yang tak direncanakan, begitu kataku. Setelah lelah menunggu kedatangan pejabat teras yang mau silaturahmi dengan guru—guru se distrik akhirnya berbuah makna yang luar biasa. Bukan hanya aku yang merasakan sepertinya, tetapi juga peserta lainnya. Tentu bukan karena isi arahan dari pejabat nomor wahid di kabupaten ini, atau karena janjinya yang akan membangunkan rumah dinas untuk guru—guru serta tenaga medis. Lebih karena kehadiran pak Bakri di ruangan itu, yah tidak ada yang sia—sia batinku. Lalu pak Bahar, kepala SMP N 1 Kokas mulai menceritakan perjuangan pak Bakri. Tuhan... Aku tak bisa menahan luhku mengalir saat sosok bersahaja itu mengusap luhnya.
“Pak Bakri mengabdi disini su 30 tahun, dorang tara pernah mengeluh malah dorang tara mau katong suruh istirahat. Dorang bilang, sa tara mau makan gaji buta. Baru kitorang yang muda—muda malah malas—malas pi ngajar.”
Deg, aku merasa tertampar dengan kata—kata pak Bahar barusan. Semoga tamparan itu juga dirasakan guru—guru yang duduk mematung di sampingku. Dia benar dan sangat benar, sesekali pak Bakrie lelaki yang rambutnya telah berganti warna itu menyeka matanya dengan shall yang mengantung dilehernya. Kemudian pertemuan itu berlalu. Setelah ditutup aku tak sabar berkenalan dengan pak bakri, demi menyembunyikan rasa haruku aku menyeka mataku berkali—kali dan menarik nafas panjang. Itu tak mudah dilakukan, apa lagi untuk orang sensitif seperti aku.
“Assalamu’alaikum Bapak,” aku menjabat erat tangannya yang oenuh keriput. Beliau membalas lirih, lalu obrolan ringan mengalir deras, sederas kekagumanku pada sosoknya.
“Dulu waktu bapak sampai disini, Kokas belum ramai dan maju seperti ini. Masih sepi.” Hah? Masih sepi? Bukankah sekarangpun masih sepi. Telisikku. Lalu pak bakri menceritakan perjuangan mengajarnya yang luar biasa.
“Dari tahun 85 sa su mengajar Matematika disini, dan baru tahun 2004 kemarin ada yang membantu sa mengajar. “


Yah, beliau inilah guru matematika satu –satunya dari tahun ketahun. Dulu boleh saja, beliau mengajar beberapa kelas tapi hari ini tidak memungkinkan lagi. Tongkat kaki segitiga itulah yang membantu langkahnya lebih cepat, usianya sudah berkepala 7. semangatnya masih seperti kepala 3. luar biasa...
“Baru, bapak pu rumah dimana ka?,”
“Selebes.” jawabnya singkat. Selebes? Bukankah itu kampung dibelakang bukit ini, yang jalannya belum dibangun sampai hari ini? Kampung yang hanya bisa diakses dengan berjalan kaki kalau hujan turun, dan bisa ditempuh dengan sepeda motor tertentu saja.
“Jauh ya pak, baru bapak kalau pi sekolah deng apa?,”
“Sa jalan saja, ibu.”  Ah tidak, aku tidak bisa membayangkan Pak bakri berjalan dengan tongkatnya menyusuri bukit terjal berbatu itu. Aku terdiam, tergugu lama membayangkan perjuangan pak Bakri. Mataku mulai basah. Tatapanku jatuh saat pak bakri menyeka luhnya juga. Aku muda, ditempatkan di Sd yang mudah dijangkau dengan segala kendaraan, tidak harus mendaki bukit yang terjal tapi kadang aku masih sering mengeluh. Tidak pantas sekali bukan?
“Terimakasih ibu, su mau datang mengajar disini.”
Tidak pak, jangan mengatakan itu. Saya belum melakukan apa –apa pak.
“Iya pak, doakan saya bisa menjadi seperti bapak.”
“Saya yakin ibu pasti bisa lebih baik dari saya., ibu masih muda dan punya semangat jadi bisa melakukan yang lebih dari saya yang su tua ini”
Amin, begitu balasku. Saat itu aku tak bisa menyembunyikan luhku. Aku tak bisa melanjutkan obrolan itu dalam kondisi haru begitu pikirku. Pun aku tak mau guru—guru lain bertanya kenapa aku menangis.
“Bapak, terimakasih banyak. Saya pamit dulu. Semoga ada kesempatan untuk silaturahmi lagi.”
“InsyaAllah ibu, ada.”
“Sekali lagi, terimakasih saya belajar banyak dari ini dari bapak.” Aku kembali menjabat tangan beliau dan berlalu pergi. Beliau beranjak dari kursi biru demi melihatku enyah dari halaman SMP N 1 Kokas. Aku kembali melempar pandanganpada lelaki berkopiah hitam putih, berbaju pramuka dan bercelana coklat muda itu. Tatapannya bersahabat dan senyumnya bersahaja. Ia melambaikan tangannya padaku dan aku balas pelan sambil setengah berlari.
Sepanjang jalan aku sibuk menyeka airmata, dan menata hati untuk menerima makna luar biasa yang diberikan pak bakri hari ini. Guru sepanjang masa, begitulah orang menyebutnya.
Tuhanku Yang Maha baik, akan memberikan balasan bagi siapapun yang melaksanakan kewajibannya dengan penuh tanggungjawab dan penuh ketulusan. Seperti pak bakri yang mengabdikan dirinya tanpa pamrih. Bersama hari ini, kututup bersama senyum senja yang indah merekah, berduyun burung—burung hitam itu terbang mencari sangkarnya. Merekapun membawa cerita tentang hari ini untuk dikisahkan pada induknya.... Indah !

Monday, 14 October 2013

KPK bukan (Kelipatan Persekutuan Kecil)

Minggu ini materi yang ada di kelas Matematika adalah KPK. Tidak terlalu sulit bagi mereka memahami penjelasan dan contoh yang aku berikan. Dari 14 siswa dikelas mungkin tinggal 4 orang saja yang butuh kerja ekstra (Tendi, Majid, Binti dan Halimah) sedangkan yang lain sudah cukup mandiri untuk dilepaskan sendiri.  Butuh waktu lebih untuk keempat anak unik ini. Selain itu mereka juga sedikit terlambat dalam membaca, menyiapkan cerita yang menarik untuk mereka adalah cara memancing minat bacanya.
Minggu—minggu ini anak di kampung memang banyak di sibukkan dengan benda yang bernama Pala. Materi KPK yang seharusnya adalah singkatan dari Kelipatan persekutuan kecil berubah menjadi Katong Pi Kebon. Sudah 4 hari ini Kifil, tidak naik sekolah, berkali aku pesan pada anak—anak yang lain mereka bilang Kifil ada sibuk di Kebon. Hingga aku datangi Kifil kerumahnya, demi memastikan dia baik—baik saja. Yah sekalian silaturahmi. Nihil. Yup, rumahnya kosong melompong. Keesokan harinya aku datangi lagi pagi –pagi berharap keluarga Kifil belum berangkat ke kebun pagi itu. Tapi hasilnya nihil lagi.  “Ibu, dong menginap di rumah kebon. Sebentar sore baru turun.” kata Mama tua. “Terimakasih mama tua.” tukasku.
Satu lagi anak hebat di kelasku yang sudah 8 hari absen, dialah Binti. Rumah binti memang tergolong paling jauh diantara rumah murid—muridku yang lain. Membutuhkan waktu hampir 15-20 menit untuk jalan kaki, setahuku dia anak yang rajin dan berkemauan keras. Beberapa kali aku mencari dia, tapi belum menemukan hasil juga. Malam itu, di pasar malam yang ada di distrik aku bertemu dengan dia. Aku tidak langsung menanyakan kenapa dia absen seminggu terakhir ini, aku hanya menanyakan kabar dan bilang besok Ibu datang ke rumah ya. Dia bilang, jangan karena keluarganya mau pi kebon pagi-pagi. Pun dia. Hari ini aku menunggu waktu yang pas untuk bisa bersilaturahmi dengan orangtua kedua anak hebat ini (Kifil dan Binti) dan bilang "Kamong pi Ke sekolah lai... Ibu su rindu deng kamong"
 Bagaimanapun mereka, aku berjanji akan tetap memberikan senyum terbaikku dibalik kegetiran. Memberikan tanganku untuk meraih mereka dan menyiapkan mata untuk tetap menjaga mereka. Aku percaya mereka akan bersinar dan masa depannya lebih mudah dari soal - soal Matematika yang sering mereka hadapi.

Kampung baru, 9/10/13

Seindah Kata Maaf Mereka

Rabu, 9 Oktober 2013.
Hari ini aku jadwal mengajar di SMA, kelas X A. Semua berjalan normal, 30 menit sebelum pelajaran usai beberapa anak kelas 3,4 dan 5 datang ke SMA. Mereka mengendap—endap di depan pintu, berjalan mondar mandir di halaman dan di kebun belakang sekolah masih dengan seragam putih merahnya. “ibu, ibu liat itu pasukan SD datang. Dong mau perang apa?,” celetuk Usman yang dari tadi mengamati mereka  mondar—mandir dihalaman sekolah.
“Mungkin mereka mau jemput ibu.” jawabku sambil menutup pintu.
Hari ini sebelum aku mengajar di SMA aku telah merampungkan KBM di SD, namun tidak sehangat biasanya. Aku hanya mengucapkan salam dan berlalu pergi, itu memang salah besar.  Ini cara terakhir yang aku lakukan untuk menghadapi mereka. Mereka adalah anak yang unik. Menghadapi merekapun harus dengan cara unik. Hari ini aku merangkap 3 kelas, tidak kondusif. Ya, saat aku mencoba memberikan materi ke kelas 3, kelas lain berhambur keluar main perang-perangan, jajan, panjat pohon pala di belakang sekolahan. Sebagaian bermain karet. Energi mereka begitu luarbiasa terkadang aku tak sanggup mengikuti alur yang mereka berikan. Biasanya aku meneriaki mereka yang melawan dan meminta mereka untuk segera masuk kelas. Hari ini aku tak melakukan hal itu, karena cukup sia—sia. Aku putuskan untuk diam di jam terakhir.
Lamunanku tentang kejadian tadi hilang saat pintu kelas XA di ketuk berkali—kali. Pelan aku membukanya, Haris berdiri di depan pintu. Anak berambut kriting, berkulit gelap itu diam, bulu matanya yang lentik mengedip sesekali.  Dia begitu kuyu, “ Haris, ada keperluan apa kesini?,” tanyaku.
“ Ibu, katong mau minta maaf ke Ibu.” jawabnya sambil menunduk.
Ya Allah, aku kaku mematung di depan kelas. Aku tatap lamat—lamat wajah Haris yang sudah bersusah payah mengejarku ke SMA. Aku raih bahunya, dan berusaha untuk tidak menangis “ Haris, dengar ibu nak. Ibu masih mengajar di sini. Sebentar lagi ibu selesai, haris sama temen—temen tunggu disana yah.” kataku sambil menunjuk pohon randu yang ada di pinggir parit. Dia tak menjawab, hanya menganggukkan kepala sambil berjalan pergi meninggalkan kelas. Langkahnya terseok meninggalkan kelasku saat itu, kakinya luka kemarin malam dia jatuh dan jempol kanannya terobek parah. Pagi tadi aku sempat membersihkan lukanya dan menutupnya dengan perban. Ah, Haris kau memang unik. Aku tarik nafas panjang agar aku sedikit tenang sembari menyaksikan Haris dan anak yang lain lenyap dari halaman SMA.
Setelah pelajaran usai, saat aku membuka pintu aku dapati Haris dan anak yang lain berdiri di depan kelas. Mereka menunduk, “Ibu, jang marah katong.” kata nurul
“Ibu, katong minta maaf su bikin ibu sedih karna katong melawan.” tambah Nahia
Lihat, anak—anakku begitu luarbiasa. Mereka mau mengakui kesalahan mereka sendiri tanpa harus aku tunjukkan.
“Ibu, katong janji deng ibu. Tara melawan lai, tara baribut lai.”
Aku jongkok demi melihat mata mereka, aku tatap satu persatu. “sini dengar ibu nak, ibu tidak marah sama kalian. Sedikitpun tidak.” balasku.
“Ibu, kasih maaf katong to?,”
“Iya, ibu maafin, sekarang kita pulang yah. Pasti kalian su lapar to?,”
Mata mereka berkaca—kaca, aku segera berdiri membuang pandanganku jauh ke pohon randu yang sedang berbunga. Pohonnya kokoh berdiri di seberang parit, bunganya indah. Seindah kejujuran anak – anak siang ini dan setulus kata maaf yang terlontar dari mereka.
Kata yang sulit untuk mereka ucapkan sebelumnya.
Aku meninggalkan kelas XA dan menyusuri halaman berumput menuju jalan utama. Terik siang itu menjadi teduh, gumpalan awan putih bersanding mesra dengan birunya langit Papua siang ini. Haris dan anak—anak mengekor di belakangku.
“Ibu, ibu jang tinggal katong ya.” kata Nurul
“Katong takut kalau ibu marah ibu tinggal katong, kalau begitu ibu tara sayang katong?,” tambahnya. Entah kenapa mereka berpikiran seperti itu, mungkin saja salah satu guru yang ada di sekolah tadi sempat menasehati mereka dan mengatakan aku akan pulang ke Jawa kalau mereka tetap melawan. Tidak, aku bahkan belum membayangkan untuk pulang. Masih banyak yang ingin aku pahat disini bersama kalian, nak. Jawabku dalam hati.
Candaan mereka kembali membumbung sepanjang perjalanan, panasnya jalanan beraspal menjadi kawan bagi kaki kecil mereka. Bergantian mereka mengenggam erat tanganku, genggaman sayang yang mereka tunjukkan dari semua pembuktian hari ini.
 Kejadian hari ini menjadikanku semakin paham siapa mereka dan siapa aku? Mereka tak bersalah, dan aku tak berhak menyalahkan mereka sedikitpun. Mereka hanya belum tahu bagaimana membiasakan diri dengan pola yang coba aku terapkan di sekolah. Mereka butuh waktu dan yang aku butuhkan adalah sabar menunggu waktu itu. Untuk menjadikan semua baik harus diniati dengan kebaikan dan dilakukan dengan hati yang baik juga.