Saturday, 14 September 2013

MEREKA TAK PERNAH PERGI


Biarkan luh mereka membasahi tanah Pala siang ini. Mendung bergelayut pekat di langit—langit Fakfak dan peluk erat untuk terakhir kali telah mereka berikan.
Di depanku beberapa anak—anak dari Siboru menyanyikan lagu untuk Pak Guru Mario yang telah setahun bersama mereka. Lagu tulus yang begitu menyentuhku
“.... Pagiku cerahku, matahari bersinar kugendong tas merahku di pundak. Slamat pagi semua kunantikan dirimu di depan kelasku menantikan kamu.Pak Mario tersayang, pak mario tercinta tanpamu apalah jadinya aku, meng....”
Deg, siapapun yang berdiri di sana pasti akan menitikkan air mata terlebih anak—anak itu menyanyikan dengan hikmat dan tangis mereka menutup lagu itu. Betapa berharganya setahun bagi anak– anak dan guru muda itu. Tak bisa terlukiskan bagaimana perasaan pak guru Mario pastinya. Gurat haru menggeliat di sudut wajah Pak mario kali itu, setelah memberikan pelukan terakhir untuk anak—anak hebat itu Pak Mario memasuki ruangan. Di susul oleh guru muda lainnya.
Ruangan berukuran 7* 10 itu padat oleh warga, mereka berduyun—duyun datang ke bandara pagi itu demi melihat Pengajar muda angkatan ke 4 terbang meninggalkan mereka siang itu. Awalnya semua aman dan tertib, namun ketika  Guru Muda keluar ruangan berjalan menuju pesawat semua warga berhambur keluar
“ Eh, buka pintu. Kitong mu antar guru muda itu.” kata salah satu ibu—ibu yang mendorong petugas bandara. Wajah kesal dan geram petugas itu nampak jelas.
“ Tidak ini batas penumpang jadi silakan lihat dari dalam.” jawab tegas petugas itu. Namun warga mendorong dan memaksa untuk masuk hanya demi melihat guru muda itu memasuki badan pesawat dan melambaikan tangan untuk terakhir kalinya.
Setelah selang 3 menit, akhirnya petugas itu tak bisa menahan dorongan massa dan membiarkan semua warga masuk. Aku mengikuti langkah mereka dari belakang, beginilah yang akan dilakukan orang—orang yang mencintai kita ketika kita mau meninggalkan mereka. Mereka bisa nekat dan tidak mengindahkan aturan. Pun aku tak menyalahkan siapapun kali ini, karena aku tau betapa kesedihan orang—orang yang ada di bandara siang itu begitu dalam. Tapi guru muda yang akan meninggalkan merekapun sesungguhnya lebih sedih, karena mereka telah mendapatkan banyak pelajaran berharga di sini.
Dan tangis membahana ketika Wings Air mulai lepas landas, pelan—pelan co-pilot melambaikan tangan dan pesawat itu benar—benar terbang. Membawa guru muda bersama keharuan bandara Torea siang itu.
Senyap. Tak ada suara yang bergeming ketika pesawat itu enyah dalam gumpalan awan Fakfak kali itu. Aku yang dari tadi berdiri di paling depan mulai menarik langkahku demi melihat warga yang masih termangu akan kepergian guru muda. Nenek Iha beliau adalah salah satu ibu angkat guru muda yang ada di Kampung Baru, ya perempuan berbadan besar, berkerudung putih itu masih sesegukan di dekat tiang utama di ruang tunggu.
“ Nek, mari pulang...” ajakku mencoba mengalihkan kesedihan nenek
“ Ibu Kopi su pulang...” balasnya terbata. Beliau menjatuhkan kepala di bahuku dan aku memeluknya erat meyakinkan beliau bahwa suatu hari nanti ibu kopi akan datang kemari dan bertemu dengan nenek lagi. Perlahan, kami meninggalkan Apron dan menuju lapangan parkir. Suasana haru masih melekat erat di setiap sudut parkiran Bandara Torea siang itu. Siapapun yang pergi saat itu, tidak akan pernah ada seorangpun yang bisa menggantikan guru muda itu di hati warga. Aku tau itu, dan aku datang bukan untuk menggantikan siapapun di kampungku nanti tapi aku akan menjadi warga baru disana meneruskan perjuangan guru


 Apron Torea, 29 Juni 2013

Wednesday, 31 July 2013

Sebotol Mizone (Bukan Iklan)

Hujan senja ini telah mengantarkan dingin pada semestaku. Membuat malas setiap insan untuk beraktivitas diluar rumah, pun aku. Tapi malas itu harus kubuang dulu sepertinya karena esok aku harus mengajar kembali. Cukup istirahat di kota seharian ini. Akhirnya payung biru tuaku mengantarkan langkahku di depan gang kosan, cukup lama aku menunggu taksi bahkan satu ojekpun tak ada yang melintas. “Aduh kalu sampe ga ada yang lewat gimana nih?,” risauku. Aku takut ga kebagian taksi pulang. Aku menghabiskan hujan di emperan terminal Kokas. Di pojok terminal helak tawa sesak, asap rokok mengepul sesekali tawa khas Fakfak keluar “Haaahahahhahahei...” yah tawa yang mulai akrab dengan gendang telingaku. Berkali kali aku membenahi tempat dudukku, ini bukan karena ada sesuatu yang mengganggu tapi ini tanda aku mulai bosan.
“ Ibu, kalau penumpang tarada katong tara naik ke kampung.” kata sopir taksi padaku.
“ Iya pak, semoga ada.” Jawabku singkat.
Sudah hampir setengah jam aku habiskan dengan menunggu, tadi aku belum asar karena waktu aku berangkat jam di kontrakan baru menunjukkan pukul 15.05 sekarang sudah puluk 15.58 sebentar lagi jam 16.00 dan aku tak tau apakah taksi yang ada didepan mataku ini bakal naik kampung.

Akhirnya obrolan senja itu mengalir seperti air hujan yang terus mendekap terminal kali itu. Ibu itu akrab di panggil mama Dzafa, itu nama anaknya. Pun aku memanggil begitu, awalnya aku pikir ibu ini seperti kebanyakan pedagang yang lain, ternyata tidak. Dari cara dia bicara dan menanggapi pembicaraan memang berbeda, terlebih saat ibu ini membicarakan masalah pendidikan. Tiba—tiba aku penasaran, jangan—jangan ini intel pendidikan yang lagi nyamar. Hahhaha aku ngaco. Lalu aku mulai bertanya tentang siapakah sosok sebenarnya dibalik botol—botol yang berjajar di hadapannya.
“ Ibu, jualan disini setiap hari yah?,” tanyaku
“Tidak mbak, saya jualan disini kalau tidak ada jam ngajar dan lagi liburan aja.” jawabnya
Hah? Kalu lagi ga ada jam ngajar? Berarti ibu ini guru? Atau baiklah dengarkan pernyataan beliau selanjutnya. “Saya nghonor mbak, di SMP 2 di seberang sana.” seberang adalah nama daerah di sebelah pelabuhan, orang—orang akrab menyebutnya seberang. Mungkin karena daerahnya terlihat dari seberang pelabuhan kali yah. Sok tau lagi ni...
“ibu sudah berapa lama ngajar di sana?,” timpalku.
“ belum lama mbak, 4 tahun saja.” jawabnya ringan. Empat tahun ngehonor? Betah? Oh My God... Kenapa ga daftar jadi PNS aja sih gumanku dalam hati. Terang saja ibu itu tidak bisa daftar PNS karena beliau baru menyelesaikan S1’nya tahun lalu. Dan usut punya usut wanita kelahiran Buton, 28 tahun yang lalu ini tinggal di pasar terminal. Begitulah si ibu ini menyebut alamat rumahnya.

Obrolan itu habis, ketika Dzafa anak si ibu itu merajuk pulang. Kemudian ibu itu mengemasi barang—barang dagangannya memasukan ke lemari kayu dan menguncinya. “Ibu, disini masjid atau mushola terdekat dimana ya?,”
“kalau tidak keberatan, mari solat di gubuk saya mbak.” tawarnya.
Dengan senang hati, aku mengiyakan tawaran beliau. Setelah sedikit melobbi sopir agar mau menungguku sejenak akhirnya aku mengekor ibu itu dari belakang. Memang tidak jauh hanya 100meter saja dari terminal. Aku menyelidik mencari bangunan yang disebut rumah, tapi alpa. Yang aku lihat hanya kios—kios kecil tak terurus dan beberapa penjual.
“saya dan suami memilih tinggal disini mbak, dari pada ngontrak rumah. Mahal banget mbak.” tutur ibu itu sambil membuka gembok di pintu papan.
“ iya bu, gak papa yang penting aman.” timpalku mencoba meredam kesedihan si ibu.
“ silakan masuk mbak, maaf tidak ada bangku malah langsung dapur.”

Ruangan yang berukuran 4x3 meter ini penuh dengan alat masak, di belakang ada satu ruangan kecil 2x3 meter yang katanya itu adalah kamar. Aku meletakkan tasku di dekat mesin jahit, tadi si ibu sempat cerita suaminya adalah penjahit di pasar tambaruni. Mungkin ini mesin jahit yang satunya. Si ibu menyerahkan teko plastik padaku, yang tidak lain dan tidak bukan adalah gayung untuk menimba air dari drum besar di belakang kiosnya. Drum air hujan. Subhanaullah ini wudhu ternikmat minggu ini. Akhirnya aku salat di kamar si ibu. Hanya 7 menit saja, lepas itu aku pamit karena aku takut taksi jalan.
Pikiranku masih menganga membayangkan bagaimana ruwetnya tinggal di rumah papan begini, bahkan rumah ini lebih kecil daripada kamarku sebenernya. Aku lebih beruntung bukan? Ketika ditempatkan di daerah ini dan mendapatkan orang tua asuh yang berkecukupan. Aku malu, bagaimana mungkin aku membiarkan diriku mengeluh berkepanjangan ketika rumah hostfamku tidak ada jamban, air tak mengalir atau sepanjang hari lampu tak menyala.
“ Mbak, kalu kemalaman silakan mampir mungkin juga mbak mau bermalam disini.” tawar ibu itu sambil mengantarkanku ke depan pasar. Kemalaman? Menginap? Aku akan memikirkan sejuta kali untuk itu sepertinya, tapi ibu ini memang luar biasa dia tak mengiba dengan keadaannya hari ini.
“Iya bu, terimakasih banyak sudah diijinkan solat disini.” jawabku sambil menyalami wanita paruh umur itu. Jilbab besarnya mengembang tertiup angin, matanya berbinar. Aku melangkahkan kakiku pelan, “ mbak Wik....” teriakan ibu itu menghentikan langkahku.
“ Iya bu saya.” aku menoleh kebelakang. Si ibu berlari kecil menghampiriku,
“Mbak ini bekal untuk batal dijalan.” kata si ibu sambil menyodorkan sebotol Mizone padaku.
Deg, jantungku seakan di hujam parang. Kenapa ibu ini baik banget, padahal aku baru mengenalnya 1.5 jam yang lalu. “ Ibu, kenapa repot—repot.” jawabku
“ Ini sudah jam 5 lebih pasti nanti batal di jalan. Tolong ambil sudah...” si ibu menggenggamkan botol biru 600 ml itu ditangan kananku. Saat itu dunia seakan terhenti sejenak, melihat ketulusan ibu guru honorer yang mau menjadi penjual asongan di terminal. Mataku berkaca—kaca, sambil mengucapkan terimakasih aku berlari kecil meninggalkan si ibu itu. Aku belajar ketulusan yang luar biasa dari ibu itu.
Aku belajar untuk tidak mengeluh atas keadaan yang Tuhan berikan padaku. Dan ibu itu mengajariku tetap bijak menatap kehidupan, hidup ini memang keras tapi jika kita hadapi dengan keras maka tidak akan menghasilkan apa—apa. hidup ini tak akan ada artinya ketika kita tidak mencoba mensyukuri apa yang Tuhan berikan termasuk papan yang nyaman, pangan yang enak dan sandang. bersama hujan yang luar biasa senja itu kututup dengan meneguk Mizone yang berharga itu. membatalkan puasa di tengah hujan di perjalanan. Nikmat... terimakasih Tuhan

Terminal Kokas, bersama senja yang hujan 10 Juli 2013

Thursday, 4 July 2013

Tentang Kue dan Sandal


 21/06/13 @ Kampung Baru, Fakfak

Siang itu begitu terik, selepas makan siang aku menghampiri  Fikram, Anisa dan beberapa temannya yang sedang asyik bermain di jalan kecil berlapis semen tepat di bawah pohon kelapa. Mereka asyik dengan bongkahan tanah dan itulah yang membuatku penasaran.
“Fik, kau bikin apa?,” tanyaku
“beta bikin mainan ibu...” jawabnya sambil asyik memadatkan tanah yang ada ditangannya.
“ini tanah liat bukan?,” tanyaku lagi
“tara tau ibu, bapak bilang ini tanah saja.” jawab polos anisa.
Setauku ini tanah liat, itupun kalu belum berganti nama tapi mereka tak tau nampaknya.
“treeeet tet tett.... Selamat ulang taun kami ucapkan ...” tiba—tiba anisa menyanyi sambil mengangkat tumpukan tanah liat yang dari tadi disusunnya. Kali ini aku pasti tak salah tebak,
“ ini kue ulang tahun ya?,”
“iya, ibu benar beta pengen tiup lilin di atas kue sebentar ulang tahun ibu,” jawabnya polos.
“Mari kakak ibu, tiup lilinnya. Tapi kakak ibu harus bawa hadiah buat beta’e.” hahha aku terkekeh Anisa memang lucu dan dari pertama aku hadir disini dialah yang selalu menghadirkan keluguannya yang lucu. Kalu aku harus bawa hadiah lalu siapa yang ulang tahun dan siapa yang meniup lilin, nampaknya dia salah tafsir tentang ulang tahun kali ini.
Aku lupa mengenalkan Fikram dan Anisa mereka berdua ini keponakan dari keluarga piaraku. Dan kakak ibu adalah panggilan akrab mereka ke aku. Kenapa harus kakak ibu? Kenapa bukan kakak saja atau ibu saja? Mama piaraku bilang dirumah aku sebagai kakak bagi keponakan– keponakanku dan di sekolah aku sebagai ibu guru.
“Beta pu mainan su jadi ibu,” kata fikram menyodorkan tumpukan tanah liatnya. Kali ini aku tak mau menebak lagi.
“Eh, fikram apa itu kau buat?,”
“ini sandal ibu, beta tara da pu sandal. Jadi beta bikin untuk dipakai. Mantab to, ibu?,”
Deg, tiba—tiba aku trenyuh dengan jawaban fikram aku tak pernah membayangkan anak sekecil dia berpikir lebih dewasa.
“memangnya sandal fikram kemana?,” tanyaku menyelidik
“mana ada? Beta tara da sandal ibu. Mahal jadi mama bilang tara usah beli sandal saja.” jawabannya ringan tanpa beban.
Seberapa mahal harga sandal di kampung ini? Hingga mama fikram tak sanggup membelikannya.
“baik, kau buat sepasang sudah nanti ibu bantu jemur biar tambah mantap to?,” kataku mengalihkan ketrenyuhanku.
Tapi tetap saja aku tak bisa menahan mata untuk menetes. Sedang Fikram dan Anisa tetap menyibukkan dengan tanah—tanah baru aku masih menata hati untuk bersiap mendengar imajinasi mereka melalui bongkahan tanah liat.
“ kakak ibu, mari kita jemur beta pu kue deng abang fikram pu sandal.” Anisa menarikku pelan.
“ Mari kakak ibu bantu,” sahutku pelan.
Lalu senyum matahari hangat menyapu senyum polos mereka. Aku yakin esok mereka bisa mewujudkan mimpi kecil tentang kue ulang tahun dan sandal . Aku yakin...

Thursday, 27 June 2013

Ubadari


25 Juni 2013
Kemarin aku telah menghabiskan hariku dengan berburu tambelo di Pantai tanisa berbakau itu. Pagi ini, jam 7 halaman rumah padat orang—orang. Ini masih keluarga dengan mama piaraku, kalau tidak salah hari ini kami akan pergi silaturahmi ke rumah Nenek di darat. Orang disini jarang menyebutkan arah mata angin seperti timur, selatan begitu. Mereka lebih mudah menyebut darat dan laut. Arah darat adalah arah dimana daratan lebih besar daripada lautan, pun sebaliknya. Kalau hari ini aku tidak menawarkan diri atau ditawarkan untuk ikut karena wajib ikut. Longboat bercat pudar itu telah tersandar di belakang rumah, Bapak tua telah siap dengan mesin jonsonnya. Aku dan yang lain mulai mencari tempat nyaman untuk menempuh perjalanan 2 jam dalam longboat. Ini kali kedua aku melakukan perjalanan laut dengan longboat kecil begini. Wew, rasanya sama deg-degan kaya kemarin. Untung lifevest orange sudah nempel kuat di badanku. Perjalanan terasa jauh, lebih jauh daripada jarak Jakarta—Padang dengan pesawat. Hahha ya iyalah. Hujan mengguyur pagi itu, tapi bapak tua masih gigih mengemudikan mesin jonson menyusuri lautan berbakau yang airnya tak lagi biru. Sepanjang perjalanan aku sibuk menguliti pemandangan yang asing untuk kornea mataku ini. melintasi banyak perkampungan, bukit, gunung dan masjid Yasin. Ini adalah masjid pertama di tanah Papua, bisa dibilang ini adalah masjid tertua di Pulau Cenderawasih ini. bangunannya sederhana dan unik, sayang kurang terawat dengan baik sehingga kesannya kotor.  Masjid ini berada dikampung Patimburak, kampung penghasil kepiting dan lobster terbaik di kota Pala. Kampung ini bisa diakses dengan jalur darat dan laut. Dari Fakfak bisa ditempuh 2-3 jam dengan Taksi jalur Fakfak-Kok
as ongkosnya 25rb, setelah itu dilanjutkan dengan naik ojek. Kalau jalur laut bisa dari Fakfak langsung atau dari Kokas baru naik longboat. Nah kalau biaya yang butuhkan, aku kurang paham karena tidak ada tarif yah seikhlasnya gitulah.
Setelah menikmati kampung lobster, longboat kami melaju pelan. Melintasi gunung Iha, dan beberapa kampung yang aku lupa namanya. Akhirnya longboat kami sandar di darmaga kecil di sebuah kampung, tidak salah ini adalah Ubadari. Kampung dimana Tete lahir dan besar. Semua menghambur masuk kerumah bercat biru yang letaknya tak jauh dari darmaga. Rumah yang dikelilingi pohon palem dan kebun kankung itu asri. Sambutan renyah tuan rumah menjadikan rumah bergaya Papua ini nyaman untuk disinggahi lebih lama.
Selang 15 menit setelah kedatangan kami, bibi menawarkan untuk mandi di air terjun. Aku tidak membayangkan air terjun yang keren disini, karena daerahnya dataran jadi akan berbeda dengan Grojogan Sewu yang ada di Solo.
Setelah menempuh 5 menit dari rumah singgah, mataku tak berkedip beberapa saat. Aku bungkam dan tak percaya ketika Fikram menunjukkan air terjun kepadaku. “Subhanaullah, keren banget.” aku mengerjapkan mulut dan masih tak percaya dengan apa yang aku lihat. Airnya bening mengalir bersusun. Alami. Mata siapapun yang disuguhi dengan pemandangan ini pasti akan merasakan kenyamanan. Bisa saja mengaca diair. Yah semua menghambur mandi di tengah air terjun. Tete bilang, beberapa tahun terakhir ini banyak turis datang ke Ubadari. Ada juga yang meneliti dan air ini sehat tanpa harus di rebus terlebih dahulu. Mengenai kebenarannya, aku belum menjamin karena aku belum bertemu dengan orang yang meneliti air Ubadari. Dari kejernihannya sih, bisa jadi enak diminum tanpa harus direbus. Hehehe. Lagi—lagi Pace Rakib menceritakan tentang Pamali yang menyebabkan aku meminum air Ubadari serta berenang di bawah air terjun. Dingin sangat... Lebih dingin daripada musim salju di Gurun Sahara. Hahah emang di gurun ada salju yah?
Untuk bisa sampai di air terjun ini, ternyata lebih mudah daripada menuju Masjid tertua di Papua. Jika dari arah Fakfak, kita cukup naik taksi sekali saja. Jurusan Kramongmongga atau bisa juga naik truk jurusan Bomberay. Ongkosnya 25rb saja, bisa turun di jembatan Ubadari yang letaknya pas diatas air terjun. Kalau jalur laut bisa ditempuh 2 jam dari Kokas atau bisa juga 4 jam dari Fakfak. Hanya beberapa meter dari jalan raya maka mata kita akan disuguhi pemandangan sungai khas Papua yang menawan. Siapapun yang datang akan menyesal jika tak mandi dan berenang disana. Seperti aku yang awalnya bersikeras untuk tidak mandi karena aku tak bawa baju ganti. Sebenarnya alasan utamanya adalah aku tak bisa renang. Hahahha. Saat aku mengutarakan alasan sesungguhnya, Fikram lari kerumah singgah dan mengambil lifevestku. Akhirnya aku mandi bersama anak—anak, sekalian bounding team seperti apa yang biasa aku dan teman2 lakukan. Hahahha. Main di air terlalu lama menyebabkan lapar mendera, nasi kuning dan ikan tongkol telah disiapkan. Oh ... Ini lezat sangat lezat apalagi dimakan sambil duduk diatas air. Piknik telah usai, kami harus bergegas untuk pulang. Sepanjang perjalanan gerimis membungkus lautan bakau hingga sampai di tanjung belakang rumah. Lelah memang tapi semuanya indah jadi tak ada alasan untuk berkeluh kesah. Kututup cerita piknik hari ini dengan tidur siang. Memimpikan perjalanan baru yang indah kebelahan pulau di Papua lainnya. Semoga ada kesempatan untuk melakukan petualangan lagi...



Tuesday, 20 November 2012

Kuukir masa depan


Aku sedang mengukir masa depanku diatas batu,
Dengan darah dan peluh yang tak henti menetes
Aku sedang melukis matahari di bawah mendung
Menjalani segala hal daamketerbatasan dan
Ketidakmungkinan yang mereka ciptakan
Itu semua hanya karsa mereka tidak realita yang ada
Hari ini aku sedang mengukir keadilan yang sarat makna
Dan sebuah kejujuran yang hilang
Aku bertahan dan terus mencobanya
karena aku yakin
tangan Tuhan akan membantuku menemukan 
kegalauan atas segala yang kurisaukan ...
Kenapa mereka tidak mencobanya?

Thursday, 11 October 2012

Let's see to our deepst heart

If you plant honesty, you will reap trust
If you plant goodness, you will reap friends
If you plant humility, you will reap greatness.
If you plant perseverance, you will reap victory
If you plant consideration, you will reap harmony.
If you plant hard work, you will reap success
If you plant forgiveness, you will reap reconciliation
If you plant faith, you will reap miracles.
If you plant hard work, you will reap success.

So, be careful what you plant now;
it will determine what you will reap tomorrow.


"Whatever You Give To Life, Life Gives You Back"
Let's see to our deepest heart, just asks do we plant goodness? 

Wednesday, 10 October 2012

Aku belajar darimu Tith,


First October in NziS
Aku panggil dia Tith, dia anak yang lincah dan baik. Begitulah yang aku lihat dari dia, meski di awal pertemuanku dengannya harus disapa oleh gigi2 runcing dan cubitan tangannya yang halus. Aku tau dia melakukan semua itu karena ia tak tau bagaimana mengungkapkan apa maunya.
Dia baru saja pindah ke Jakarta seminggu yang lalu, dan hari ini dia ada di dekatku. Rambut cepak dan senyum yang terus tersungging di bibir kecilnya tak menampakkan stress yang ia alami. Culture Shock, begitulah nama beken bagi orang2 yang baru pindah ke luar kota atau negeri dan belum bisa beradaptasi. Terlebih anak2 Vietnam masih minor disini, dia butuh translator agar ia bisa beradaptasi. Mungkin itulah yang bikin ia stress, karena hampir setengah hari ia habiskan di sekolah bersama orang2 yang belum bisa mengerti dia.
 Setiap pagi dia datang dengan ibunya, dan melepaskan sepuluh menit pertama di sekolah bersama ibunya. Hanya dengan ibunya, karena dia belum bisa berinteraksi dengan teman2nya.
Setelah bell berdering, dia ditinggal oleh ibunya. Dia mulai mencari sesuatu yang ia anggap menarik, tapi hari itu tidak ada yang menarik sepertinya. Ia hanya duduk di playground, sambil memandangi ibunya yang pergi. Ia nampak sedih, entahlah kenapa?
“ kau baik2 saja kan Tith?”  tentu saja ia hanya diam, kalaupun dia jawab aku belum tentu tau maksudnya. Dia berlari ke arah ibunya... aku mengejarnya, dia teriak sekencang mungkin hingga ibunya mendengar dan kembali ke playground.
Mereka berbincang dalam bahasa Vietnam, sesekali ibunya mengarahkan jari kemuka Tith. Roman mukanya berubah,
“ dia agak malas, harus di paksa untuk melakukan sesuatu,” begitu kata ibunya ketika mau meninggalkan tith.
Sepanjang pagi itu, dia diam dan tak seceria kemarin2.
Keesokan harinya, ia menangis di playground. Kenapa tith? Tapi dia tak menjawab apapun. Dia menarikku, berjalan menuju pagar pemisah TK dengan SD. Ia lambaikan tangan ke ibunya yang baru keluar dari kelas kakaknya. Ia menangis lagi, sepanjang pagi itu ibunya menemaninya di playground, dan ia kembali sedih ketika ibunya pergi.
Aku tak tau kenapa dan ada apa, karena aku tak pernah paham dengan maunya dan apa yang ia katakan, sepertinya ia sedih karena ia belum mendapatkan teman yang pas dengan hatinya. Lalu aku tau, apapun dan dimanapun ibu adalah tempat yang nyaman untuk membunuh risau, galau dan sedih yang membara. Dan ibulah yang paling tau apa dan bagaimana yang terbaik bagi anaknya,
Romantisme ibu dan anak yang aku saksikan pagi itu menjadikan aku rindu pada Emak. Seperti kembali di masa TK’ku, saat aku menangis ditinggal emak.
Tith, aku akan belajar untuk tetap bertahan di tempat yang mungkin belum bisa dan tak bisa mengerti aku. Seperti kamu hari ini, yang belajar untuk memahami hal – hal baru yang ada disini. Percayalah Tith, kau bisa menjadi hebat.