First October in NziSAku panggil dia Tith, dia anak yang lincah dan baik. Begitulah yang aku lihat dari dia, meski di awal pertemuanku dengannya harus disapa oleh gigi2 runcing dan cubitan tangannya yang halus. Aku tau dia melakukan semua itu karena ia tak tau bagaimana mengungkapkan apa maunya.Dia baru saja pindah ke Jakarta seminggu yang lalu, dan hari ini dia ada di dekatku. Rambut cepak dan senyum yang terus tersungging di bibir kecilnya tak menampakkan stress yang ia alami. Culture Shock, begitulah nama beken bagi orang2 yang baru pindah ke luar kota atau negeri dan belum bisa beradaptasi. Terlebih anak2 Vietnam masih minor disini, dia butuh translator agar ia bisa beradaptasi. Mungkin itulah yang bikin ia stress, karena hampir setengah hari ia habiskan di sekolah bersama orang2 yang belum bisa mengerti dia.Setiap pagi dia datang dengan ibunya, dan melepaskan sepuluh menit pertama di sekolah bersama ibunya. Hanya dengan ibunya, karena dia belum bisa berinteraksi dengan teman2nya.Setelah bell berdering, dia ditinggal oleh ibunya. Dia mulai mencari sesuatu yang ia anggap menarik, tapi hari itu tidak ada yang menarik sepertinya. Ia hanya duduk di playground, sambil memandangi ibunya yang pergi. Ia nampak sedih, entahlah kenapa?“ kau baik2 saja kan Tith?” tentu saja ia hanya diam, kalaupun dia jawab aku belum tentu tau maksudnya. Dia berlari ke arah ibunya... aku mengejarnya, dia teriak sekencang mungkin hingga ibunya mendengar dan kembali ke playground.Mereka berbincang dalam bahasa Vietnam, sesekali ibunya mengarahkan jari kemuka Tith. Roman mukanya berubah,“ dia agak malas, harus di paksa untuk melakukan sesuatu,” begitu kata ibunya ketika mau meninggalkan tith.Sepanjang pagi itu, dia diam dan tak seceria kemarin2.Keesokan harinya, ia menangis di playground. Kenapa tith? Tapi dia tak menjawab apapun. Dia menarikku, berjalan menuju pagar pemisah TK dengan SD. Ia lambaikan tangan ke ibunya yang baru keluar dari kelas kakaknya. Ia menangis lagi, sepanjang pagi itu ibunya menemaninya di playground, dan ia kembali sedih ketika ibunya pergi.Aku tak tau kenapa dan ada apa, karena aku tak pernah paham dengan maunya dan apa yang ia katakan, sepertinya ia sedih karena ia belum mendapatkan teman yang pas dengan hatinya. Lalu aku tau, apapun dan dimanapun ibu adalah tempat yang nyaman untuk membunuh risau, galau dan sedih yang membara. Dan ibulah yang paling tau apa dan bagaimana yang terbaik bagi anaknya,Romantisme ibu dan anak yang aku saksikan pagi itu menjadikan aku rindu pada Emak. Seperti kembali di masa TK’ku, saat aku menangis ditinggal emak.Tith, aku akan belajar untuk tetap bertahan di tempat yang mungkin belum bisa dan tak bisa mengerti aku. Seperti kamu hari ini, yang belajar untuk memahami hal – hal baru yang ada disini. Percayalah Tith, kau bisa menjadi hebat.
Wednesday, 10 October 2012
Aku belajar darimu Tith,
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment