Sunday, 14 September 2014
My Blog. My Journey: 17 Keunikan mereka !
My Blog. My Journey: 17 Keunikan mereka !: Ini adalah tentang mereka yang menghebatkanku lewat keunikan mereka. Bagaimanapun mereka, aku yakin Tuhan telah menyiapkan segala keunikan...
Tuesday, 25 February 2014
Sepenggal Kisah tentang Kwarran Kokas
| Rapat Pembentukan Kwarran Kokas Januari 2014 |
Sudah beberapa hari ini aku hanya mengajar setengah hari, hal ini terpaksa aku lakukan karena aku sedang menyiapkan kegiatan di distrik. Kegiatan yang ku harap bisa menjadi pijakan awal bagi distrik untuk memulai mengibarkan panji – panji tunas kelapa. Ini adalah salah satu capaian dambaanku, mengadakan perkemahan tingkat distrik dan membentuk Kwarran serta DKR. Sederhana sekali bukan.
Rapat demi rapat telah aku galang, sebagai stimulant untuk orang – orang distrik terutama guru – guru aku menggandeng salah satu guru SMP yang juga gemar pramuka. Ci Halifah, begitu aku memanggilnya. Aku akan menceritakan siapakah dia di episode yang lain. Hahhaha. Aku diskusi lebih dalam tentang pembentukan Kwarran, sebagai pemula aku juga harus belajar. Segala informasi kuhimpun, kemudian aku transfer ke ci Halifah. Kami membentuk tim formatur di pertengahan Januari, sungguh kami harus bekerja keras untuk hal ini. beberapa kali pertemuan nihil hasilnya, tapi berkali itulah kami memulai cara baru untuk mengajak yang lain turun tangan. Jika prosedur yang benar itu runtun dari A- Z tapi kami belum bisa melaksanakan prosedur itu kali ini. Musyawarah tanggal 24 Januari 2014 telah membuka lembaran baru bagi pramuka distrik Kokas. Ketua Kwarran telah terpilih dan aku begitu lega. Pada musyawarah kali itu aku benar – benar jadi penonton, aku percayakan pada ci Halifah dan Ka Amansyah untuk hal itu dan di dampingi seorang andalan dari Kwarcab. Berjalan dengan baik.
Segala hal yang berkaitan dengan pelantikan Kwarran dan mabiran telah aku siapkan, menghubungkan kwarran dengan Kwarcab pun tidak begitu menjadi masalah besar, setelah musyawarah kemarin kami sepakat untuk mengadakan pelantikan di momentum Boden Powell 23 Februari 2014. Hanya selang 3 minggu saja, yah aku berusaha semaksimal mungkin agar pelantikan itu berjalan.
Yah, kebanyakan dari pengurus kwarran atau mabiran tidak punya baju pramuka. aku memahami itu karena ini baru. Di kotapun tidak ada yang jual baju pramuka untuk pembina, kalaupun harus menjahit bisa jadi harga kain dan ongkosnya 4x lipat dari harga di jawa. Entahlah bagaimana ceritanya, mereka meminta saya memesan dari Serang. Yah aku menyanggupinya asalkan mereka siap mengganti harga dan ongkos kirimnya.
kebetulan, kali itu lencana Mabiran, Kwarran sedang kosong di Kwarcab menjadikan aku berpikir bagaimana caranya agar saat hari pelantikan barang itu ada. Mencoba menghubungi relasi yang ada di Sorong, tapi nihil. Akhirnya aku memutuskan untuk memesan dari Serang dengan bantuan Jenal dan dedeh (adikku di Racana Untirta). Merekapun mengirimkan lencana dan beberapa baju serta perlengkapan pramuka yang tidak ada di sini.
Paketan Lencana & Seragam Tak Kunjung datang :’(
Normalnya mengirim barang dari Jawa ke Fakfak itu satu minggu hingga sepuluh hari. Beberapa kali aku mengecek resi online barang- barang itu sudah di Sorong, yah aku pikir sebentar lagi akan tiba. Berkali aku datang ke kantor pos dan nihil, aku sudah khawatir. Orang – orang sudah resah karena tanggal pelantikan semakin dekat, ingin memakai seragam pramuka itulah sebabnya. Aku lebih khawatir karena takut orang – orang marah barang tidak sampai dan tidak mau membayar baju yang sudah di pesan. Jadi ke khawatiranku bertumpuk, hingga hari kamis 20 Februari 2014 paketan itu tak kunjung datang. “Kapal dok, jadi tarada kapal masuk ke fakfak, barangkali besok ada Tatamailau dari sorong ka.” Yah hampir semua orang yang aku tanya di kantor pos menjawab demikian. Memang dua minggu ini tidak ada kapal masuk sehingga barang – barang pos tidak bisa di distribusikan. Akhirnya aku pasrah, Allah tahu yang terbaik. Aku kembali dan mengabarkan kalau paketan itu tidak ada termasuk lencana untuk pelantikan.
Hening. Tak ada yang membalas aku tahu mereka kecewa. Pun aku, tapi tidak ada yang salah dalam masalah kali itu.
Keajaiban itu ada....
Hari Pelantikan itupun tiba....
| Majelis Pembimbing Ranting, Kwarran dan DKR Kokas 23 Februari 2014 |
Lepas upacara HUT Boden Powell, unsur Mabiran dan Kwarran berjalan menuju Gedung pertemuan distrik yang letaknya tak jauh dari Lapangan. Pelantikan di lakukan terpisah demi hikmatnya prosesi pelantikan. Aku memang tidak ada di ruangan itu, karena aku harus mengurus kegiatan Jamboree di Lapangan. Aku memang tidak di sana, tapi doaku mengalir bersama mereka. Berharap ketika aku sepulangnya aku dari sini, Kwarran Kokas sudah mandiri dan bisa mengibarkan panji – panji pramuka itu di daerah basis perang dunia ke dua.
# Setidaknya sepulangnya aku dari sini, Kwarran dan DKR Kokas telah terbentuk dan satu panji berkibar gagah di belahan timur Indonesia. Tunas kelapa itu akan tumbuh kuat mengakar di sana dan menjadikan penyulut semangat untuk tunas - tunas lainnya.
Friday, 14 February 2014
Merekalah Obat Mujarab
Semalam sudah cukup begadang dengan rasa sakit yang tak tertahan. Ini
adalah kali pertama aku mendapati sakit seperti ini, beberapa treatment
kecil sudah aku lakukan. Menggosok minyak, memijitnya dan menalinya
erat agar sakit ini bisa sedikit reda tapi alpa. Listrik telah padam,
hanya lampu cas kecil menggantung diruang tengah. Itu adalah sumber
cahaya satu—satunya di rumah kami ketika listrik telah padam. Gemuruh
angin dan riuh hujan menelan eranganku malam ini, yah diluar sana hujan
membungkus kampung dengan lebatnya. Mungkin saja didepan rumah air sudah
menggenang. Seisi rumah telah mengayuh malam bersama mimpi, hanya
tinggal aku yang merintih menahan sakit yang tak karuan. Jika boleh
memilih sakit maka aku tak akan memilihnya. Malam itu menjadi malam
paling panjang untuk di lalui, berkali aku mengganti posisi tidur ke
duduk, tengkurap dan terlentang tapi rasa sakitnya semakin hebat. Rusuk
belakang sebelah kiri, yah kurang lebih disanalah pusat sakit itu turun
hingga ke pinggang dan tembus ke perut depan. Klimaks, aku menangis
sejadinya. Beberapa lembar tisu terhambur di lantai keramik bercorak
merah muda itu. Yah, tangisku semakin kuat saat ngilu dan nyeri beradu.
Aku begitu merindukan Emak, bisa jadi kalau ada emak sekarang aku sudah
mendapat penanganan yang lebih. Ah, aku terlalu manja karena sakit ini.
Bukankah seharusnya aku bisa menghadapinya tanpa menjadi cengeng seperti
ini.
Aku kembalikan semua pada Allah, segala kemungkinan terburuk membayang. Hingga akhirnya setelah lail, aku tertidur sejenak.
Pagi itu, aku pikir sakitku berangsur reda hingga aku putuskan untuk tetap kesekolah. Di luar hujan masih memeluk erat sepanjang mata memandang. Sepanjang jalan air mengenang menyebabkan cipratan air ketika motor melintas kencang. Pagi itu, masih gelap meskipun jam tangan hitamku menunjukkan pukul 07.30 WIT. Sekolah masih sunyi, hanya beberapa anak yang datang dengan payung dan ada yang membawa pelepah pisang sebagai payung. Aku menembus tanah lapang yang becek dan sedikit berlumpur depan kantor demi mencapai kelasku. Seperti biasa aku melakukan apersepsi di awal pembelajaran sambil menunggu anak—anak yang lain datang. Baru 7 orang saja yang datang, normalnya ada 16 orang. Jam pertama kami bermain dengan satuan waktu, harusnya materi ini disampaikan di semester satu tapi waktunya tidak cukup sehingga aku harus membayarnya disemester dua. Semua berjalan dengan baik dan sakitku kembali terasa saat istirahat tiba.
“Ibu, ibu pi pulang sudah. Ibu pu muka su pucat begitu.”
kata Milham yang tahu aku mulai menahan sakit. Tapi aku tersenyum
menimpali usulnya itu.
“ Tuhane, ko liat ibu su pucat begitu. Aduh ibu, katong antar pulang sudahe.” tambah Astuti sambil mendekatiku.
“Ah, tarada ibu baik—baik, sekarang ko pi istirahat sudah, sedikit lagi masuk lho.” aku berusaha menyembunyikan sakitku tapi gagal.
“ Ibu, katong pijat ibu sudahe.” Onah mendekat dan mulai memijat bahuku. Disusul Astuti yang membantu memijat lenganku.
“Ibu, naik pi rumah sakit sudah. Biar ibu cepat sembuh to.”
“ Terimakasih yah.” kataku lirih. Aku menahan luh, bukan karena sakit ini tapi karena haruh melihat niat baik anak—anak dan betapa mereka sangat menyayangiku dengan cara yang kadang sulit aku pahami.
Bel masuk telah berbunyi, anak—anak menghambur masuk. Sambil menahan sakit aku memberikan ice breaking demi membawa anak—anak ke alpha zone. Kami akan belajar Bahasa Indonesia kali itu, dan sakitku semakin kuat terasa. Berkali anak—anak memintaku untuk pulang dan istirahat tapi aku menolaknya aku meyakinkan mereka aku baik—baik saja.
Sepanjang pelajaran berlangsung mereka begitu tenang menerima penjelasanku, karena tadi Ismail sudah mewanti—wanti mereka untuk tenang dan tak membuat aku kesal hari ini.
“Sebentar sapa yang baribut to katong marah dia, kalau tidak katong pukul dia. Sapa yang bikin ibu marah berarti dong tara sayang ibu. Kasiane ibu sedang sakit begitu.”
Yah aku dengar saat dia mengatakan itu diluar sebelum masuk jam Bahasa Indonesia. Benar saja mereka begitu menyenangkan, aku berharap ini akan permanen bukan hanya karena aku sakit saja. Klimaks siang itu, nyeri yang begitu hebat bak mencabik rusuk kiriku. Aku tak bisa menyembunyikan sakitku benar. setelah berdoa pulang anak—anak membantuku turun ke kantor dan aku bersandar cukup lama di tembok sambil menahan sakit. Dan pelan aku menyusuri sepanjang jalanan berair menuju rumah sambil menahan sakit yang tak karuan.
"Besok kalau ibu masih sakit, ibu istirahat di rumah sudah. katong tara tega lihat ibu sakit begini." kata - kata Ismail terniang sepanjang jalan. " Ibu pasti sembuh sayang, dan esok ibu pasti mengajar." timpalku tadi.
Benar saja, keesokan harinya tawa renyah anak - anak membius sakitku dan mengalihkan fokus sakit kali itu. aku tahu, mereka adalah obat mujarab bagi segala sakit selama aku disini. melihat mereka begitu antusias menyanyikan lagu "Good morning everybody how are you... " menjadikan aku malu " Maafkan ibu nak, semoga kalian tak malu punya guru serapuh ibu, tapi ibu berjanji akan belajar menjadi kuat dan tak cengeng seperti hari kemarin demi kalian." batinku sambil menguliti senyum mereka pagi itu dan aku sadar merekalah obat mujarab bagi sakitku. tetaplah bersinar nak...
Aku kembalikan semua pada Allah, segala kemungkinan terburuk membayang. Hingga akhirnya setelah lail, aku tertidur sejenak.
Pagi itu, aku pikir sakitku berangsur reda hingga aku putuskan untuk tetap kesekolah. Di luar hujan masih memeluk erat sepanjang mata memandang. Sepanjang jalan air mengenang menyebabkan cipratan air ketika motor melintas kencang. Pagi itu, masih gelap meskipun jam tangan hitamku menunjukkan pukul 07.30 WIT. Sekolah masih sunyi, hanya beberapa anak yang datang dengan payung dan ada yang membawa pelepah pisang sebagai payung. Aku menembus tanah lapang yang becek dan sedikit berlumpur depan kantor demi mencapai kelasku. Seperti biasa aku melakukan apersepsi di awal pembelajaran sambil menunggu anak—anak yang lain datang. Baru 7 orang saja yang datang, normalnya ada 16 orang. Jam pertama kami bermain dengan satuan waktu, harusnya materi ini disampaikan di semester satu tapi waktunya tidak cukup sehingga aku harus membayarnya disemester dua. Semua berjalan dengan baik dan sakitku kembali terasa saat istirahat tiba.
“ Tuhane, ko liat ibu su pucat begitu. Aduh ibu, katong antar pulang sudahe.” tambah Astuti sambil mendekatiku.
“Ah, tarada ibu baik—baik, sekarang ko pi istirahat sudah, sedikit lagi masuk lho.” aku berusaha menyembunyikan sakitku tapi gagal.
“ Ibu, katong pijat ibu sudahe.” Onah mendekat dan mulai memijat bahuku. Disusul Astuti yang membantu memijat lenganku.
“Ibu, naik pi rumah sakit sudah. Biar ibu cepat sembuh to.”
“ Terimakasih yah.” kataku lirih. Aku menahan luh, bukan karena sakit ini tapi karena haruh melihat niat baik anak—anak dan betapa mereka sangat menyayangiku dengan cara yang kadang sulit aku pahami.
Bel masuk telah berbunyi, anak—anak menghambur masuk. Sambil menahan sakit aku memberikan ice breaking demi membawa anak—anak ke alpha zone. Kami akan belajar Bahasa Indonesia kali itu, dan sakitku semakin kuat terasa. Berkali anak—anak memintaku untuk pulang dan istirahat tapi aku menolaknya aku meyakinkan mereka aku baik—baik saja.
Sepanjang pelajaran berlangsung mereka begitu tenang menerima penjelasanku, karena tadi Ismail sudah mewanti—wanti mereka untuk tenang dan tak membuat aku kesal hari ini.
“Sebentar sapa yang baribut to katong marah dia, kalau tidak katong pukul dia. Sapa yang bikin ibu marah berarti dong tara sayang ibu. Kasiane ibu sedang sakit begitu.”
Yah aku dengar saat dia mengatakan itu diluar sebelum masuk jam Bahasa Indonesia. Benar saja mereka begitu menyenangkan, aku berharap ini akan permanen bukan hanya karena aku sakit saja. Klimaks siang itu, nyeri yang begitu hebat bak mencabik rusuk kiriku. Aku tak bisa menyembunyikan sakitku benar. setelah berdoa pulang anak—anak membantuku turun ke kantor dan aku bersandar cukup lama di tembok sambil menahan sakit. Dan pelan aku menyusuri sepanjang jalanan berair menuju rumah sambil menahan sakit yang tak karuan.
"Besok kalau ibu masih sakit, ibu istirahat di rumah sudah. katong tara tega lihat ibu sakit begini." kata - kata Ismail terniang sepanjang jalan. " Ibu pasti sembuh sayang, dan esok ibu pasti mengajar." timpalku tadi.
Benar saja, keesokan harinya tawa renyah anak - anak membius sakitku dan mengalihkan fokus sakit kali itu. aku tahu, mereka adalah obat mujarab bagi segala sakit selama aku disini. melihat mereka begitu antusias menyanyikan lagu "Good morning everybody how are you... " menjadikan aku malu " Maafkan ibu nak, semoga kalian tak malu punya guru serapuh ibu, tapi ibu berjanji akan belajar menjadi kuat dan tak cengeng seperti hari kemarin demi kalian." batinku sambil menguliti senyum mereka pagi itu dan aku sadar merekalah obat mujarab bagi sakitku. tetaplah bersinar nak...
Thursday, 2 January 2014
Pramuka bukan masalah A B C D ...
Awalnya, aku putus asa ketika aku mulai membuka ekstrakulikuler pramuka di SMA. Hanya ada dua orang saja Sri dan Marten yang hadir tiap latihan. Segala capaian dambaanku tentang kepramukaan hilang di awal – awal bulan pertama latihan, sempat ingin mengakhiri saja ekstrakulikuler itu karena tidak begitu mendapat respon yang baik dari warga sekolah termasuk guru- guru. Tapi niat burukku itu tidak di restui oleh Allah nampaknya, karena semangat Marten dan Sri yang begitu luar biasa mereka berhasil mengajak anak – anak yang lain bergabung. Tanpa seragam pramuka pastinya, sungguh mereka datangpun itu sudah cukup membuatku senang.
Melihat mereka begitu semangat dan antusias menjadikan aku haru, sayang aku hanya sebentar saja di sini batinku. Tapi bagaimanapun aku aku yakin mereka adalah anak – anak pilihan yang sengaja di kirimkan Allah untuk mengajariku lebih banyak hal. Bersama mereka aku tak hanya belajar untuk menjadi pramuka sekedarnya, tapi belajar menjadi pramuka sebenarnya...
| Makrab 14-15 Desember 2013 |
Subscribe to:
Comments (Atom)