Monday, 23 September 2013

17 Keunikan mereka !

Ini adalah tentang mereka yang menghebatkanku lewat keunikan mereka.  Bagaimanapun mereka, aku yakin Tuhan telah menyiapkan segala keunikan dnegan cara menghadapinya, jika hari ini aku baru menemukan sabagian kecil cara itu maka aku yakin esok aku akan menemukan semua cara untuk mensyukuri keunikan mereka. Hari ini adalah entah hari keberapa aku mengajar di kelas ini dengan kondisi yang tak lebih baik dari awal aku dinobatkan sebagai wali kelas disini. Hari ini, senyum renyah mereka masih mengiringi setiap sudut kelas dan teriakan khas mereka melengking setiap istirahat datang. Disinilah semua kisah aku awali, beberapa kali anak perempuan di kelas ini menangis setelah ribut dengan anak laki—laki. Pukul memukul adalah hal wajar di awal aku datang, tapi hari ini siapapun yang memukul maka dia akan mendapatkan tempat istimewa dikelas ‘Meja Panas’ begitu kami menyebutnya. Meja itu terletak tepat di depan papan tulis dan dekat dengan mejaku, dan meja itu hanya boleh di huni oleh anak yang melanggar kesepakatan kelas. Heran, meja itu tak pernah sepi hampir setiap hari ada anak yang duduk disana. Bahkan aku pernah menambah meja karena lebih dari dua anak yang saat itu melanggar kesepakatan kelas. Seberapa lembutpun aku menegur mereka dan mencoba berdialog dari hati ke hati rasanya bukan cara yang pas. Akhirnya aku putuskan untuk meraba cara lain untuk menghadapi keunikan mereka.
Pagi itu, aku datang kembali setelah 3 hari pelatihan di kota. Beberapa anak sibuk menginventarisir keadaan kelas selama aku tinggalkan.
“ Ibu, Majid tara mau menulis tugas dari ibu’o...” cerita Sulton dan disambung masalah—masalah lain. Ketika aku mencoba konfirmasi atas apa yang dilaporkan mereka sendiri semua diam. Dan hari itupun berjalan lamban, selamban proses menemukan cara menghadapi keunikan mereka.
Selasa, 03 September 2013 ingat betul dimana pertama kalinya aku meneriakkan suaraku keras. Hari itu tidak ada seorang gurupun yang hadir kecuali aku. Jarak antar kelas bagai jarak dari Kota ini ke Jakarta, itu rasanya. Beberapa kelas tidak mau digabung, tidak memungkinkan jika aku harus mobile di 6 kelas hari itu. Jawabannya adalah menggabung kelas kecil dan kelas besar. Memberikan pelajaran yang bisa membuat mereka sibuk yaitu matematika. Itulah senjata terampuh untuk membuat mereka tenang, karena mereka akan sibuk menghitung bukan berbicara.

Hari itu juga, segelintir anak telah membuatku sedikit geram. Saat aku sedang fokus menjelaskan di kelas kecil, tiba—tiba Ona lari turun dan mengadu kejadian di kelas besar.
“Ibu, anak kelas 4 dan kelas 6 baku pukul. Ibu naik sudah.” sempurna, ketika aku hadir disana 5 orang anak menangis dan 2 orang anak berdarah di bibirnya. Ketika aku bertanya siapa yang memulai duluan, semua saling tunjuk. Pelajaran aku hentikan dan aku bawa kedua anak yang bibirnya sobek itu kekantor untuk di obati. Masalah belum selesai, yah setelah itu aku sedikit mengertak mereka dengan suara tinggi. Beberapa anak ketakutan, ini sudah kelewatan begitu pikirku. Setelah memberikan penjelasan kepada mereka, dan menyiapkan hadiah tambahan bagi yang baku pukul aku putuskan untuk memisah kelas. Sedikit messi memang, ditambah beberapa anak kelas 5 bolos pulang saat aku masih mengajar dikelas. Hari itu benar—benar luar biasa.
Keesokan harinya beberapa guru sudah datang, aku hanya merangkap tiga kelas saja kelas 3,4 dan 5. Tidak aku gabung lagi, karena hal itu jauh lebih tidak efektif begitu pikirku terlebih dengan kejadian kemarin. Hal luar biasa yang terjadi hari itu adalah semua display kelas yang sudah terpasang jatuh dan dirobek anak—anak di kelas. Emosi tidak menyelesaikan masalah itu. Aku percaya esok akan menemukan cara untuk menghadapi karakter ke 17 muridku yang unik itu.

No comments:

Post a Comment