Friday, 14 February 2014

Merekalah Obat Mujarab

Semalam sudah cukup begadang dengan rasa sakit yang tak tertahan. Ini adalah kali pertama aku mendapati sakit seperti ini, beberapa treatment kecil sudah aku lakukan. Menggosok minyak, memijitnya dan menalinya erat agar sakit ini bisa sedikit reda tapi alpa. Listrik telah padam, hanya lampu cas kecil menggantung diruang tengah. Itu adalah sumber cahaya satu—satunya di rumah kami ketika listrik telah padam. Gemuruh angin dan riuh hujan menelan eranganku malam ini, yah diluar sana hujan membungkus kampung dengan lebatnya. Mungkin saja didepan rumah air sudah menggenang. Seisi rumah telah mengayuh malam bersama mimpi, hanya tinggal aku yang merintih menahan sakit yang tak karuan. Jika boleh memilih sakit maka aku tak akan memilihnya. Malam itu menjadi malam paling panjang untuk di lalui, berkali aku mengganti posisi tidur ke duduk, tengkurap dan terlentang tapi rasa sakitnya semakin hebat. Rusuk belakang sebelah kiri, yah kurang lebih disanalah pusat sakit itu turun hingga ke pinggang dan tembus ke perut depan. Klimaks, aku menangis sejadinya. Beberapa lembar tisu terhambur di lantai keramik bercorak merah muda itu. Yah, tangisku semakin kuat saat ngilu dan nyeri beradu. Aku begitu merindukan Emak, bisa jadi kalau ada emak sekarang aku sudah mendapat penanganan yang lebih. Ah, aku terlalu manja karena sakit ini. Bukankah seharusnya aku bisa menghadapinya tanpa menjadi cengeng seperti ini.
Aku kembalikan semua pada Allah, segala kemungkinan terburuk membayang. Hingga akhirnya setelah lail, aku tertidur sejenak.
Pagi itu, aku pikir sakitku berangsur reda hingga aku putuskan untuk tetap kesekolah. Di luar hujan masih memeluk erat sepanjang mata memandang. Sepanjang jalan air mengenang menyebabkan cipratan air ketika motor melintas kencang. Pagi itu, masih gelap meskipun jam tangan hitamku menunjukkan pukul 07.30 WIT.  Sekolah masih sunyi, hanya beberapa anak yang datang dengan payung dan ada yang membawa pelepah pisang sebagai payung. Aku menembus tanah lapang yang becek dan sedikit berlumpur depan kantor demi mencapai kelasku. Seperti biasa aku melakukan apersepsi di awal pembelajaran sambil menunggu anak—anak yang lain datang. Baru 7 orang saja yang datang, normalnya ada 16 orang. Jam pertama kami bermain dengan satuan waktu, harusnya materi ini disampaikan di semester satu tapi waktunya tidak cukup sehingga aku harus membayarnya disemester dua. Semua berjalan dengan baik dan sakitku kembali terasa saat istirahat tiba.
“Ibu, ibu pi pulang sudah. Ibu pu muka su pucat begitu.” kata Milham yang tahu aku mulai menahan sakit. Tapi aku tersenyum menimpali usulnya itu.
“ Tuhane, ko liat ibu su pucat begitu. Aduh ibu, katong antar pulang sudahe.” tambah Astuti sambil mendekatiku.
“Ah, tarada ibu baik—baik, sekarang ko pi istirahat sudah, sedikit lagi masuk lho.” aku berusaha menyembunyikan sakitku tapi gagal.
“ Ibu, katong pijat ibu sudahe.” Onah mendekat dan mulai memijat bahuku. Disusul Astuti yang membantu memijat lenganku.
“Ibu, naik pi rumah sakit sudah. Biar ibu cepat sembuh to.”
“ Terimakasih yah.” kataku lirih. Aku menahan luh, bukan karena sakit ini tapi karena haruh melihat niat baik anak—anak dan betapa mereka sangat menyayangiku dengan cara yang kadang sulit aku pahami.

Bel masuk telah berbunyi, anak—anak menghambur masuk. Sambil menahan sakit aku memberikan ice breaking demi membawa anak—anak ke alpha zone. Kami akan belajar Bahasa Indonesia kali itu, dan sakitku semakin kuat terasa. Berkali anak—anak memintaku untuk pulang dan istirahat tapi aku menolaknya aku meyakinkan mereka aku baik—baik saja.
Sepanjang pelajaran berlangsung mereka begitu tenang menerima penjelasanku, karena tadi Ismail sudah mewanti—wanti mereka untuk tenang dan tak membuat aku kesal hari ini.
“Sebentar sapa yang baribut to katong marah dia, kalau tidak katong pukul dia. Sapa yang bikin ibu marah berarti dong tara sayang ibu. Kasiane ibu sedang sakit begitu.”
Yah aku dengar saat dia mengatakan itu diluar sebelum masuk jam Bahasa Indonesia. Benar saja mereka begitu menyenangkan, aku berharap ini akan permanen bukan hanya karena aku sakit saja. Klimaks siang itu, nyeri yang begitu hebat bak mencabik rusuk kiriku. Aku tak bisa menyembunyikan sakitku benar. setelah berdoa pulang anak—anak membantuku turun ke kantor dan aku bersandar cukup lama di tembok sambil menahan sakit. Dan pelan aku menyusuri sepanjang jalanan berair menuju rumah sambil menahan sakit yang tak karuan.
"Besok kalau ibu masih sakit, ibu istirahat di rumah sudah. katong tara tega lihat ibu sakit begini." kata - kata Ismail terniang sepanjang jalan. " Ibu pasti sembuh sayang, dan esok ibu pasti mengajar." timpalku tadi.
Benar saja, keesokan harinya tawa renyah anak - anak membius sakitku dan mengalihkan fokus sakit kali itu. aku tahu, mereka adalah obat mujarab bagi segala sakit selama aku disini. melihat mereka begitu antusias menyanyikan lagu "Good morning everybody how are you... " menjadikan aku malu " Maafkan ibu nak, semoga kalian tak malu punya guru serapuh ibu, tapi ibu berjanji akan belajar menjadi kuat dan tak cengeng seperti hari kemarin demi kalian." batinku sambil menguliti senyum mereka pagi itu dan aku sadar merekalah obat mujarab bagi sakitku. tetaplah bersinar nak...

No comments:

Post a Comment