Aku kembalikan semua pada Allah, segala kemungkinan terburuk membayang. Hingga akhirnya setelah lail, aku tertidur sejenak.
Pagi itu, aku pikir sakitku berangsur reda hingga aku putuskan untuk tetap kesekolah. Di luar hujan masih memeluk erat sepanjang mata memandang. Sepanjang jalan air mengenang menyebabkan cipratan air ketika motor melintas kencang. Pagi itu, masih gelap meskipun jam tangan hitamku menunjukkan pukul 07.30 WIT. Sekolah masih sunyi, hanya beberapa anak yang datang dengan payung dan ada yang membawa pelepah pisang sebagai payung. Aku menembus tanah lapang yang becek dan sedikit berlumpur depan kantor demi mencapai kelasku. Seperti biasa aku melakukan apersepsi di awal pembelajaran sambil menunggu anak—anak yang lain datang. Baru 7 orang saja yang datang, normalnya ada 16 orang. Jam pertama kami bermain dengan satuan waktu, harusnya materi ini disampaikan di semester satu tapi waktunya tidak cukup sehingga aku harus membayarnya disemester dua. Semua berjalan dengan baik dan sakitku kembali terasa saat istirahat tiba.
“ Tuhane, ko liat ibu su pucat begitu. Aduh ibu, katong antar pulang sudahe.” tambah Astuti sambil mendekatiku.
“Ah, tarada ibu baik—baik, sekarang ko pi istirahat sudah, sedikit lagi masuk lho.” aku berusaha menyembunyikan sakitku tapi gagal.
“ Ibu, katong pijat ibu sudahe.” Onah mendekat dan mulai memijat bahuku. Disusul Astuti yang membantu memijat lenganku.
“Ibu, naik pi rumah sakit sudah. Biar ibu cepat sembuh to.”
“ Terimakasih yah.” kataku lirih. Aku menahan luh, bukan karena sakit ini tapi karena haruh melihat niat baik anak—anak dan betapa mereka sangat menyayangiku dengan cara yang kadang sulit aku pahami.
Bel masuk telah berbunyi, anak—anak menghambur masuk. Sambil menahan sakit aku memberikan ice breaking demi membawa anak—anak ke alpha zone. Kami akan belajar Bahasa Indonesia kali itu, dan sakitku semakin kuat terasa. Berkali anak—anak memintaku untuk pulang dan istirahat tapi aku menolaknya aku meyakinkan mereka aku baik—baik saja.
Sepanjang pelajaran berlangsung mereka begitu tenang menerima penjelasanku, karena tadi Ismail sudah mewanti—wanti mereka untuk tenang dan tak membuat aku kesal hari ini.
“Sebentar sapa yang baribut to katong marah dia, kalau tidak katong pukul dia. Sapa yang bikin ibu marah berarti dong tara sayang ibu. Kasiane ibu sedang sakit begitu.”
Yah aku dengar saat dia mengatakan itu diluar sebelum masuk jam Bahasa Indonesia. Benar saja mereka begitu menyenangkan, aku berharap ini akan permanen bukan hanya karena aku sakit saja. Klimaks siang itu, nyeri yang begitu hebat bak mencabik rusuk kiriku. Aku tak bisa menyembunyikan sakitku benar. setelah berdoa pulang anak—anak membantuku turun ke kantor dan aku bersandar cukup lama di tembok sambil menahan sakit. Dan pelan aku menyusuri sepanjang jalanan berair menuju rumah sambil menahan sakit yang tak karuan.
"Besok kalau ibu masih sakit, ibu istirahat di rumah sudah. katong tara tega lihat ibu sakit begini." kata - kata Ismail terniang sepanjang jalan. " Ibu pasti sembuh sayang, dan esok ibu pasti mengajar." timpalku tadi.
Benar saja, keesokan harinya tawa renyah anak - anak membius sakitku dan mengalihkan fokus sakit kali itu. aku tahu, mereka adalah obat mujarab bagi segala sakit selama aku disini. melihat mereka begitu antusias menyanyikan lagu "Good morning everybody how are you... " menjadikan aku malu " Maafkan ibu nak, semoga kalian tak malu punya guru serapuh ibu, tapi ibu berjanji akan belajar menjadi kuat dan tak cengeng seperti hari kemarin demi kalian." batinku sambil menguliti senyum mereka pagi itu dan aku sadar merekalah obat mujarab bagi sakitku. tetaplah bersinar nak...
No comments:
Post a Comment