Wednesday, 30 October 2013

Nenek Koyar Tara Kosong'e....

Matahari terik diluar sana, aku baru menyelesaikan satu SK—Kd tentang KPK bersama anak—anak hari ini. Senang karena hari ini anak—anak telah merampungkan tugas dengan baik. sebagai hadiahnya, aku membacakan cerita berjudul ‘Monster Mata’ ini adalah salah satu cerita kesukaan anak—anak di kelas. Ada beberapa dari mereka yang hafal alur dan dialog ceritanya. Saat sedang asyik membaca cerita, pintu kelas di ketuk berkali-kali. Bukan ketukan indah untuk didengar, aku membukanya. Wanita bertubuh besar, berhidung mancung itu tegap berdiri di depan kelas. Aku memanggilnya Nenek Koyar. Aku sambut dengan senyuman terbaikku, tapi tak mendapatkan balasan.
“Iya nenek, ada apa? mau ada perlu ka deng Mega?,” aku menebak mungkin saja si Nenek mau panggil cucunya. Disini masih sering terjadi orang tua memanggil anaknya untuk disuruh sekalipun jam belajar. Wanita berkepala 5 ini masih diam tak bergeming, ia menata ulang pinang yang ada dimulutnya. “ tarada, sa ada perlu deng ibu.” jawabnya tegas. Aku mengangguk pelan
“Kasih kembali kunci perpustakaan, dong belum bayar sa pu uang batu. Kemarin Bapak ada angkat kunci dan kasih deng ibu to? Kalau ibu mu pi buka, bayar sa pu uang dolo,” kalimat pertama dan dilanjut dengan kalimat makian yang luar biasa keras sehingga membuat anak—anak dikelas ketakutan.
“cukimayu’o... Kambing...” ini adalah salah satu makian yang lumrah. Aku mencoba untuk tenang dan mencerna semua yang disampaikan.
“Nek, sa tara bawa kunci hari ini. sa janji sa tara buka perpustakaan sampai urusan selesai. Jadi nenek tara usah khawatir.” jawabku sedatar mungkin.
“kalau sampai sa liat ibu ada buka perpustakaan, sa palang itu pintu atau sa kasih bakar sekalian.” aku tak lagi menimpali ucapan si nenek. Nenek itu pergi sambil terus memaki, aku tetap berdiri demi melihat si Nenek hilang dari halaman sekolah. Anak –anak berhambur mendekatiku
“Ibu, tara papa to. Aduh ibu’e sa takut setengah mati.” kata Ona dan di sambung anak—anak yang lain. Mereka mengusulkan kalau ada seperti itu lagi, lebih baik Ibu pi sembunyi sudah. Mereka selalu saja menawar emosi yang sedang bergelayut di atap hatiku. Perpustakaan itu masih jadi sengketa sejak kedatanganku, padahal bangunannya sudah gagah berdiri tinggal disini buku dan anak –anak bisa menikmati. Hanya karena masalah uang batu yang tak kunjung dibayar menyebabkan perpustakaan ini dipalang berbulan—bulan. Hari ini nenek Koyar memintaku untuk membayarnya. Membayarnya? Mana mungkin ini bukan kewajibanku, meskipun aku harus melihat gurat sedih diwajah anak—anak saat aku menyatakan ‘kita tidak akan membuka perpustakaan sampai urusan selesai’. Tak seharusnya anak—anak tahu masalah uang batu itu bukan? Tapi apa boleh buat Nenek Koyar telah membuat seluruh penduduk sekolah tahu akan hal ini.

Sejak hari itu aku semakin tidak akrab dengan beliau, aku sudah mencoba membuka diri untuk menyapa atau sekedar melempar senyuman tapi nenek memberikan wajah flatnya. Aku pikir ini akan berjalan sampai akhir penugasanku disini, ini bukan hal yang aku inginkan tentunya. Masalah uang batu itu terkubur berlahan, aku tidak pusing dengan perpustakaan toh anak—anak bisa baca buku di kelas.
Hari ini 28 Oktober 2013, aku dan anak –anak sedang menyiapkan diri untuk ikut kegiatan “pesta siaga’ di Fakfak. Beberapa persiapan telah matang dan tinggal pemantapan untuk tarian sebagai hiburan di opening ceremony. Kami mendapat kesempatan untuk menampilkan tarian Timor dan lakadinding untuk OC. Dari kemarin beberapa orang tua murid sibuk mencarikan seragam baru, perlengkapan pramuka baru dan segala hal. Ini poin positif yang mendukung kelancaran kegiatan bukan? Sore lepas asar segerombolan mace—mace datang kerumah menyebabkan aku dan Mama piaraku bingung. Ada apa gerangan mace—mace ini datang? Ekspresinya tidak begitu santai jadi aku enggan mengira—ira. Nenek Koyar memimpin mace—mace duduk di depan teras. Tanpa harus dipancing, mace—mace ini mengutarakan maksudnya. Luar biasa mulia maksud kedatangan mace –mace ini. “ Jadi ibu, tara usah khawatir deng ongkos taksi. Katong pi sana mau bantu ibu awasi dong. Katong tara bisa bayangkan, ibu sibuk urus makan dong, kegiatan dong. Jadi ibu urus kegiatan supaya katong bisa masak untuk dong.” tegas Nenek Koyar.
Kalian tahu bagaimana rasaku saat nenek Koyar mengutarakan hal itu? Aku senang bukan kepalang bukan karena esok ada yang bantu pas di fakfak tapi lebih karena kekakuan yang terjadi beberapa minggu terakhir karena uang batu itu akan hilang. Aku mengiyakan dan berkali aku mengucapkan terimakasih karena kesediaan mace—mace untuk membantu aku dan anak –anak.
Sempurna, hari rabu 29 Oktober 2013. Mace—mace telah bersiap di depan rumah, beberapa mereka ada yang membawa tagas—tagas (Sayuran yang terdiri dari daun singkong, pepaya&kangkung) ada yang menyumbang beras satu kresek, membawa ikan segar. Aku begitu terharu saat mace—mace itu mengumpulkan sumbangan bahan makanan. Tuhan, ini tak pernah ada dalam bayanganku sebelumnya. Well, setelah persiapan mantap kami naik taksi biru milik Pakde yang sudah menunggu sejam yang lalu. Kami memilih untuk berangkat lebih pagi demi menghindari hujan diperjalanan, karena beberapa ruas jalan sedang di bongkar yang mengakibatkan kami harus lewat jalur darurat yah sedikit mengerikan karena berlumpur. Nenek koyar memang punya power lebih diantara mace—mace yang ada disini, idenya selalu diterima oleh Mace- mace. Tak kusangka memang Nenek Koyar punya sesuatu yang berbeda. "Memang nenek Koyar tra kosonge..."

Tuesday, 15 October 2013

Pak Bakrie

 Karena sebuah pertemuan selalu memberikan kesempatan untuk belajar.
Hari ini,12 Oktober 2013. aku belajar dari sosok luar biasa pak Bakrie, yah begitu orang akrab memanggil lelaki berusia lanjut itu. Senyumnya mengembang pelan saat beberapa kali orang menyapanya. Pertemuan yang tak direncanakan, begitu kataku. Setelah lelah menunggu kedatangan pejabat teras yang mau silaturahmi dengan guru—guru se distrik akhirnya berbuah makna yang luar biasa. Bukan hanya aku yang merasakan sepertinya, tetapi juga peserta lainnya. Tentu bukan karena isi arahan dari pejabat nomor wahid di kabupaten ini, atau karena janjinya yang akan membangunkan rumah dinas untuk guru—guru serta tenaga medis. Lebih karena kehadiran pak Bakri di ruangan itu, yah tidak ada yang sia—sia batinku. Lalu pak Bahar, kepala SMP N 1 Kokas mulai menceritakan perjuangan pak Bakri. Tuhan... Aku tak bisa menahan luhku mengalir saat sosok bersahaja itu mengusap luhnya.
“Pak Bakri mengabdi disini su 30 tahun, dorang tara pernah mengeluh malah dorang tara mau katong suruh istirahat. Dorang bilang, sa tara mau makan gaji buta. Baru kitorang yang muda—muda malah malas—malas pi ngajar.”
Deg, aku merasa tertampar dengan kata—kata pak Bahar barusan. Semoga tamparan itu juga dirasakan guru—guru yang duduk mematung di sampingku. Dia benar dan sangat benar, sesekali pak Bakrie lelaki yang rambutnya telah berganti warna itu menyeka matanya dengan shall yang mengantung dilehernya. Kemudian pertemuan itu berlalu. Setelah ditutup aku tak sabar berkenalan dengan pak bakri, demi menyembunyikan rasa haruku aku menyeka mataku berkali—kali dan menarik nafas panjang. Itu tak mudah dilakukan, apa lagi untuk orang sensitif seperti aku.
“Assalamu’alaikum Bapak,” aku menjabat erat tangannya yang oenuh keriput. Beliau membalas lirih, lalu obrolan ringan mengalir deras, sederas kekagumanku pada sosoknya.
“Dulu waktu bapak sampai disini, Kokas belum ramai dan maju seperti ini. Masih sepi.” Hah? Masih sepi? Bukankah sekarangpun masih sepi. Telisikku. Lalu pak bakri menceritakan perjuangan mengajarnya yang luar biasa.
“Dari tahun 85 sa su mengajar Matematika disini, dan baru tahun 2004 kemarin ada yang membantu sa mengajar. “


Yah, beliau inilah guru matematika satu –satunya dari tahun ketahun. Dulu boleh saja, beliau mengajar beberapa kelas tapi hari ini tidak memungkinkan lagi. Tongkat kaki segitiga itulah yang membantu langkahnya lebih cepat, usianya sudah berkepala 7. semangatnya masih seperti kepala 3. luar biasa...
“Baru, bapak pu rumah dimana ka?,”
“Selebes.” jawabnya singkat. Selebes? Bukankah itu kampung dibelakang bukit ini, yang jalannya belum dibangun sampai hari ini? Kampung yang hanya bisa diakses dengan berjalan kaki kalau hujan turun, dan bisa ditempuh dengan sepeda motor tertentu saja.
“Jauh ya pak, baru bapak kalau pi sekolah deng apa?,”
“Sa jalan saja, ibu.”  Ah tidak, aku tidak bisa membayangkan Pak bakri berjalan dengan tongkatnya menyusuri bukit terjal berbatu itu. Aku terdiam, tergugu lama membayangkan perjuangan pak Bakri. Mataku mulai basah. Tatapanku jatuh saat pak bakri menyeka luhnya juga. Aku muda, ditempatkan di Sd yang mudah dijangkau dengan segala kendaraan, tidak harus mendaki bukit yang terjal tapi kadang aku masih sering mengeluh. Tidak pantas sekali bukan?
“Terimakasih ibu, su mau datang mengajar disini.”
Tidak pak, jangan mengatakan itu. Saya belum melakukan apa –apa pak.
“Iya pak, doakan saya bisa menjadi seperti bapak.”
“Saya yakin ibu pasti bisa lebih baik dari saya., ibu masih muda dan punya semangat jadi bisa melakukan yang lebih dari saya yang su tua ini”
Amin, begitu balasku. Saat itu aku tak bisa menyembunyikan luhku. Aku tak bisa melanjutkan obrolan itu dalam kondisi haru begitu pikirku. Pun aku tak mau guru—guru lain bertanya kenapa aku menangis.
“Bapak, terimakasih banyak. Saya pamit dulu. Semoga ada kesempatan untuk silaturahmi lagi.”
“InsyaAllah ibu, ada.”
“Sekali lagi, terimakasih saya belajar banyak dari ini dari bapak.” Aku kembali menjabat tangan beliau dan berlalu pergi. Beliau beranjak dari kursi biru demi melihatku enyah dari halaman SMP N 1 Kokas. Aku kembali melempar pandanganpada lelaki berkopiah hitam putih, berbaju pramuka dan bercelana coklat muda itu. Tatapannya bersahabat dan senyumnya bersahaja. Ia melambaikan tangannya padaku dan aku balas pelan sambil setengah berlari.
Sepanjang jalan aku sibuk menyeka airmata, dan menata hati untuk menerima makna luar biasa yang diberikan pak bakri hari ini. Guru sepanjang masa, begitulah orang menyebutnya.
Tuhanku Yang Maha baik, akan memberikan balasan bagi siapapun yang melaksanakan kewajibannya dengan penuh tanggungjawab dan penuh ketulusan. Seperti pak bakri yang mengabdikan dirinya tanpa pamrih. Bersama hari ini, kututup bersama senyum senja yang indah merekah, berduyun burung—burung hitam itu terbang mencari sangkarnya. Merekapun membawa cerita tentang hari ini untuk dikisahkan pada induknya.... Indah !

Monday, 14 October 2013

KPK bukan (Kelipatan Persekutuan Kecil)

Minggu ini materi yang ada di kelas Matematika adalah KPK. Tidak terlalu sulit bagi mereka memahami penjelasan dan contoh yang aku berikan. Dari 14 siswa dikelas mungkin tinggal 4 orang saja yang butuh kerja ekstra (Tendi, Majid, Binti dan Halimah) sedangkan yang lain sudah cukup mandiri untuk dilepaskan sendiri.  Butuh waktu lebih untuk keempat anak unik ini. Selain itu mereka juga sedikit terlambat dalam membaca, menyiapkan cerita yang menarik untuk mereka adalah cara memancing minat bacanya.
Minggu—minggu ini anak di kampung memang banyak di sibukkan dengan benda yang bernama Pala. Materi KPK yang seharusnya adalah singkatan dari Kelipatan persekutuan kecil berubah menjadi Katong Pi Kebon. Sudah 4 hari ini Kifil, tidak naik sekolah, berkali aku pesan pada anak—anak yang lain mereka bilang Kifil ada sibuk di Kebon. Hingga aku datangi Kifil kerumahnya, demi memastikan dia baik—baik saja. Yah sekalian silaturahmi. Nihil. Yup, rumahnya kosong melompong. Keesokan harinya aku datangi lagi pagi –pagi berharap keluarga Kifil belum berangkat ke kebun pagi itu. Tapi hasilnya nihil lagi.  “Ibu, dong menginap di rumah kebon. Sebentar sore baru turun.” kata Mama tua. “Terimakasih mama tua.” tukasku.
Satu lagi anak hebat di kelasku yang sudah 8 hari absen, dialah Binti. Rumah binti memang tergolong paling jauh diantara rumah murid—muridku yang lain. Membutuhkan waktu hampir 15-20 menit untuk jalan kaki, setahuku dia anak yang rajin dan berkemauan keras. Beberapa kali aku mencari dia, tapi belum menemukan hasil juga. Malam itu, di pasar malam yang ada di distrik aku bertemu dengan dia. Aku tidak langsung menanyakan kenapa dia absen seminggu terakhir ini, aku hanya menanyakan kabar dan bilang besok Ibu datang ke rumah ya. Dia bilang, jangan karena keluarganya mau pi kebon pagi-pagi. Pun dia. Hari ini aku menunggu waktu yang pas untuk bisa bersilaturahmi dengan orangtua kedua anak hebat ini (Kifil dan Binti) dan bilang "Kamong pi Ke sekolah lai... Ibu su rindu deng kamong"
 Bagaimanapun mereka, aku berjanji akan tetap memberikan senyum terbaikku dibalik kegetiran. Memberikan tanganku untuk meraih mereka dan menyiapkan mata untuk tetap menjaga mereka. Aku percaya mereka akan bersinar dan masa depannya lebih mudah dari soal - soal Matematika yang sering mereka hadapi.

Kampung baru, 9/10/13

Seindah Kata Maaf Mereka

Rabu, 9 Oktober 2013.
Hari ini aku jadwal mengajar di SMA, kelas X A. Semua berjalan normal, 30 menit sebelum pelajaran usai beberapa anak kelas 3,4 dan 5 datang ke SMA. Mereka mengendap—endap di depan pintu, berjalan mondar mandir di halaman dan di kebun belakang sekolah masih dengan seragam putih merahnya. “ibu, ibu liat itu pasukan SD datang. Dong mau perang apa?,” celetuk Usman yang dari tadi mengamati mereka  mondar—mandir dihalaman sekolah.
“Mungkin mereka mau jemput ibu.” jawabku sambil menutup pintu.
Hari ini sebelum aku mengajar di SMA aku telah merampungkan KBM di SD, namun tidak sehangat biasanya. Aku hanya mengucapkan salam dan berlalu pergi, itu memang salah besar.  Ini cara terakhir yang aku lakukan untuk menghadapi mereka. Mereka adalah anak yang unik. Menghadapi merekapun harus dengan cara unik. Hari ini aku merangkap 3 kelas, tidak kondusif. Ya, saat aku mencoba memberikan materi ke kelas 3, kelas lain berhambur keluar main perang-perangan, jajan, panjat pohon pala di belakang sekolahan. Sebagaian bermain karet. Energi mereka begitu luarbiasa terkadang aku tak sanggup mengikuti alur yang mereka berikan. Biasanya aku meneriaki mereka yang melawan dan meminta mereka untuk segera masuk kelas. Hari ini aku tak melakukan hal itu, karena cukup sia—sia. Aku putuskan untuk diam di jam terakhir.
Lamunanku tentang kejadian tadi hilang saat pintu kelas XA di ketuk berkali—kali. Pelan aku membukanya, Haris berdiri di depan pintu. Anak berambut kriting, berkulit gelap itu diam, bulu matanya yang lentik mengedip sesekali.  Dia begitu kuyu, “ Haris, ada keperluan apa kesini?,” tanyaku.
“ Ibu, katong mau minta maaf ke Ibu.” jawabnya sambil menunduk.
Ya Allah, aku kaku mematung di depan kelas. Aku tatap lamat—lamat wajah Haris yang sudah bersusah payah mengejarku ke SMA. Aku raih bahunya, dan berusaha untuk tidak menangis “ Haris, dengar ibu nak. Ibu masih mengajar di sini. Sebentar lagi ibu selesai, haris sama temen—temen tunggu disana yah.” kataku sambil menunjuk pohon randu yang ada di pinggir parit. Dia tak menjawab, hanya menganggukkan kepala sambil berjalan pergi meninggalkan kelas. Langkahnya terseok meninggalkan kelasku saat itu, kakinya luka kemarin malam dia jatuh dan jempol kanannya terobek parah. Pagi tadi aku sempat membersihkan lukanya dan menutupnya dengan perban. Ah, Haris kau memang unik. Aku tarik nafas panjang agar aku sedikit tenang sembari menyaksikan Haris dan anak yang lain lenyap dari halaman SMA.
Setelah pelajaran usai, saat aku membuka pintu aku dapati Haris dan anak yang lain berdiri di depan kelas. Mereka menunduk, “Ibu, jang marah katong.” kata nurul
“Ibu, katong minta maaf su bikin ibu sedih karna katong melawan.” tambah Nahia
Lihat, anak—anakku begitu luarbiasa. Mereka mau mengakui kesalahan mereka sendiri tanpa harus aku tunjukkan.
“Ibu, katong janji deng ibu. Tara melawan lai, tara baribut lai.”
Aku jongkok demi melihat mata mereka, aku tatap satu persatu. “sini dengar ibu nak, ibu tidak marah sama kalian. Sedikitpun tidak.” balasku.
“Ibu, kasih maaf katong to?,”
“Iya, ibu maafin, sekarang kita pulang yah. Pasti kalian su lapar to?,”
Mata mereka berkaca—kaca, aku segera berdiri membuang pandanganku jauh ke pohon randu yang sedang berbunga. Pohonnya kokoh berdiri di seberang parit, bunganya indah. Seindah kejujuran anak – anak siang ini dan setulus kata maaf yang terlontar dari mereka.
Kata yang sulit untuk mereka ucapkan sebelumnya.
Aku meninggalkan kelas XA dan menyusuri halaman berumput menuju jalan utama. Terik siang itu menjadi teduh, gumpalan awan putih bersanding mesra dengan birunya langit Papua siang ini. Haris dan anak—anak mengekor di belakangku.
“Ibu, ibu jang tinggal katong ya.” kata Nurul
“Katong takut kalau ibu marah ibu tinggal katong, kalau begitu ibu tara sayang katong?,” tambahnya. Entah kenapa mereka berpikiran seperti itu, mungkin saja salah satu guru yang ada di sekolah tadi sempat menasehati mereka dan mengatakan aku akan pulang ke Jawa kalau mereka tetap melawan. Tidak, aku bahkan belum membayangkan untuk pulang. Masih banyak yang ingin aku pahat disini bersama kalian, nak. Jawabku dalam hati.
Candaan mereka kembali membumbung sepanjang perjalanan, panasnya jalanan beraspal menjadi kawan bagi kaki kecil mereka. Bergantian mereka mengenggam erat tanganku, genggaman sayang yang mereka tunjukkan dari semua pembuktian hari ini.
 Kejadian hari ini menjadikanku semakin paham siapa mereka dan siapa aku? Mereka tak bersalah, dan aku tak berhak menyalahkan mereka sedikitpun. Mereka hanya belum tahu bagaimana membiasakan diri dengan pola yang coba aku terapkan di sekolah. Mereka butuh waktu dan yang aku butuhkan adalah sabar menunggu waktu itu. Untuk menjadikan semua baik harus diniati dengan kebaikan dan dilakukan dengan hati yang baik juga.

Cita - cita itu apa bu?

Ini tentang Tendy
Tendison, dia selalu rajin di kelas
Hari berganti, tak terasa sudah sebulan Tendi bersama aku dan anak—anak di Kelas 4. perkembangannya bisa diacungi jempol, dia sudah menyelesaikan buka Lancar Membaca tahap 1, minggu ini dia belajar membaca 5 huruf. Lebih cepat dari yang kubayangkan, dan di matematika dia sudah mulai belajar pembagian serta perkalian. Untuk menulis, seperti
nya aku aku tak perlu khawatir. Justru tulisan dia paling rapi diantara anak yang lain.
Siang itu, kelas 4 membuat gambar diri sendiri dan menuliskan cita—cita mereka. Aku menghampiri Tendi yang sibuk mengcrayon gambarannya.
“Ibu, beta tara tau cita—cita itu apa.” ia mengungkap ketidakpahaman makna cita—cita.
“ Cita –cita itu macam keinginan tendi. Kalau kau su besar kau pengen jadi apa?,”
“Owh, sa tau. Sa mau jadi macam bapak tua ibu.”
Bapak tua itu bapak Piaraku, yang bekerja di Distrik. “Kenapa kau ingin jadi speerti bapak Tua.”
“biar sa dapat gaji, baru sa pi Wamena kasih tunjuk ke sa pu ibu.”
Aku tau, dia sedang memikirkan mamanya yang ada di Wamena. Aku terdiam sejenak.
“Ibu, kalau macam bapak tua itu, apa nama pu pekerjaannya?,”
“Pegawai negeri sipil atau PNS.” jawabku.
“ Tapi ibu, kalau sa jadi PNS sa tara bisa ikut perang lai to?,”
“Kau mau ikut perang dimana tend?,”
“Sa mau macam Bapak Rambo biar sa bisa kasih mati penjahat.”
Lalu dia bingung memilih mau jadi apa? aku minta dia untuk memilih dan mengajarinya menulis PNS dan Tentara. Setelah hari itu, dia mulai banyak bicara. Mulai membaur dengan teman-temannya dan tak malu untuk bertanya dalam kelas.
Malam itu, dia mengantarkanku ke SMA untuk mengirim email beasiswa BBM ke dinas. Yah di distrik ada layanan internet gratis yang bisa diakses tiap malam. Membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai disana tentunya dengan jalan kaki. Sepanjang jalan dia menceritakan kampungnya,
“Tend, kau rindu ka deng kau pu kampung?,” selidikku
“Tarada.” jawabnya singkat, menutupi perasaannya.
"tapi kalu sa mu pi ke Wamena sa harus punya uang to ibu?," tanyanya
“Tend, kalau kau su besar kau bisa bekerja baru kau bisa pi naik pesawat pi kau pu kampung.”
“ Iya ibu, sa mau jadi macam bapak Tua saja biar sa pu uang banyak. Baru sa pi tengok sa pu mama.”
Akhirnya, dia memilih menjadi PNS setelah beberapa hari kemarin dia bingung menentukan pilihan. Aku kembali membesarkan hati Tendi, dan meyakinkan dia bahwa dia bisa bertemu dengan mamanya nanti. Berkali aku katakan syarat untuk itu semua adalah rajin belajar.
Lalu malam itu berjalan dalam indah gemintang rembulan tanggal 12, hamparan bintang membentuk gugus—gugus yang sempurna indahnya. Seperti keindahan saat melihat senyum tendi tersungging di balik seragam merah putihnya. Kau luar biasa Tendison...

Kampung Baru, Oktober 2013