Namaku alin,
aku lahir tanpa ayah. Ibuku seorang wanita perkasa diantara wanita2 yang ada dibumi ini. Bagaimana tdk? Ibuku selalu berangkat sblm subuh dan pulang tengah malam, ibuku cantik lebih cantik dari syahrini yang sedang dipuja2. Banyak lelaki yg mengaku sebagai ayahku, hingga aku bingung siapa yg pantas kupanggil ayah. Namaku alin,
aku besar diantara deruan knalp0t dan teriakan kenek. Kehidupanku ramai dan penuh kebisingan. Tempat bermainku tak selayaknya anak2 seusiaku. Jika teman2 sebayaku akrab dg barbie dan kitchen set maka aku akrab dg botol air mineral dan kardus bekas. Kepulan rokok dan bau miras semakin akrab di faringku. Namaku alin, aku tak pernah merasakan indahnya bersekolah. Memakai seragam merah putih dan mengend0ng tas penuh buku. Pernah aku tanyakan pada ibuku, kenapa aku tak disekolahkan saja? Biar aku bisa merubah nasib keluarga. Ibuku geram dan menjawab
"sekolah biar apa?"
"aku ingin pintar bu" jawabku lugu.
"hidup kita sudah ditakdirkan begini, menyekolahkanmu hanya akan membuat beban ibu bertambah"
aku menahan air mata saat ibu mengatakan hal itu padaku.
Pagi itu ibu sakit, dia tak bisa bekerja lagi. Ibu memaksaku untuk pergi ke terminal dan menemui bang pepen.
"ada bang pepen pak?"tanyaku pada seorang lelaki bertato berambut g0ndr0ng.
"gua pepen, lu siapa?" suaranya menggelegar, aku kaget. Aku diam
"lu alin yah, anaknya titis" dia menarik tanganku.
"i... Ia bang, ibu saya sakit jadi tdk bs kerja hari ini"
"gua uda tau, ibu lu uda bilang. Ayo buruan, lu yg gantiin tugas ibu lu hari ini"
hah? Aku kaget saat org yg bernama pepen itu blg aku yg harus menggantikan tugas ibuku hari ini. Aku alin, anak yang tidak pernah tau apa pekerjaan ibuku selama 8 tahun ini. Dan hari ini aku menggantikan ibuku menjadi kenek di sebuah bus dalam kota.
Seribu mata menganga menatapku bergelayut di metromini dan berteriak2 "Blok M..."
inilah kehidupan yang ibu sembunyikan selama ini.
"ga sekolah dek?" tanya seorang ibu paruh baya
"tdk bu, saya belum pernah sekolah." jawabku menyembunyikan sedih.
Mereka bilang, jalanan terlalu keras untuk anak seusiaku. Jalanan tdk pernah memandang kecil, muda dan tua. Segala hal adalah halal selama bisa menghasilkan uang.
Di tengah perjalanan hari pertamaku menjadi kenek aku menangis di pojok mushola. Tempat orang2 menyembah Tuhan mereka. Lalu siapa Tuhanku? Kenapa ibu tidak pernah sekalipun mengenalkanku pada Tuhan. Penjaga mushola itu memanggilku,
"kemari nak, sepertinya kau butuh minum"
lelaki tua itu menyodorkan segelas air. Aku meneguknya seperti orang yang kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Aku menguliti lelaki itu pelan, jauh sekali perangainya dengan bang pepen sopir bis yang aku kenek'i.
Pak tua ini lebih mendamaikan dan lebih halus. Apakah ayahku seperti pak tua ini? Atau justru seperti bang pepen? Tiba2 pertanyaan itu melayang di otakku.
" pak, kenapa si orang2 suka ke mushola?"
"karna mereka ingin bertemu dengan Tuhan."
"caranya gimana pak? Kok ibu saya tdk pernah mengajari saya bertemu dg Tuhan,"
"solatlah nak jika kau muslim, ke tempat ibadahlah sesuai agamamu"
perkataan pak tua itu membuatku berpikir seharian. Aku ingin bertemu Tuhan, aku ingin minta pada Tuhan dikirimkan seorang ayah yang baik dan kaya biar ibuku berhenti jadi kenek dan aku bisa sekolah.
Malam datang dan aku pulang bersama rasa lelah. Ibuku menyiapkan sayur bayam dan sambal terasi sepertinya enak. Menu yang tak pernah berubah di bawah tudung saji.
"mana hasil ngenek hari ini?" kata ibu seraya memeriksa kantong kaosku.
Selembar 50ribuan ibu dapatkan.
"darimana kamu dapat uang ini? Kamu nyolong ya?"
aku menggeleng
#Bersambung ...............
: sepanjang kp. Rambutan_Cipete @ Kopaja_
No comments:
Post a Comment