Saturday, 21 April 2012

On Becoming a Learner


>: terinspirasi setelah membaca buku Andrias Harefa :<
Secara manusiawi kita sebagai manusia lahir mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tak jauh berbeda dengan manusia lainnya. Namun terkadang yang membedakan kita dengan manusia lainnya adalah cara kita menyikapi kehidupan yang akan menentukan seberapa besar tanggung jawab kita pada masyarakat. Yang perlu kita tahu adalah kita adalah makhluk yang sengaja di ciptakan oleh Tuhan dengan segala kesempurnaan, dan pusat dari kesempurnaan itu adalah Otak. Dimana bagian terkecil itulah yang menentukan hal – hal besar dalam hidup kita. Karena dari situlah segala hal kita proses, (kaya makanan aja)
Tugas manusia yang pertama adalah sebagai pembelajar, pembelajar yang belajar terus menerus di sekolah besar kehidupan nyata untuk semakin memanusiawikan dirinya. Kedua, menjadi pemimpin sejati dengan cara menerima tanggung jawab yang diberikan untuk menciptakan masa depan bagi dirinya, lingkungannya, perusahaan dan organisasi dimana ia bekerja. Ketiga, bertumbuh menjadi guru bagi dirinya (yang hasilnya akan dilihat dari attitude yang dimilikinya), guru bagi lingkungannya yang merupakan efek dari keberhasilan dari proses sebelumnya, Namun yang paling mulia adalah mampu menjadi guru bagi bangsanya, bagi seluruh umat manusia di sekolah besar yang diberi nama kehidupan.
Konsep tri tugas, tanggung jawab dan panggilan kemanusiaan ini merupakan gagasan penulis kondang Andrias Harefa, yang ia merasa kecewa dengan keadaan yang memaksa kita untuk mengamini segala hal yang di sajikan dalam pendidikan formal yang kadang tak mampu menjawab permasalahan yang ada dewasa ini.
“ aku tulis buku ini karena
Aku mendengar, melihat, dan merasakan
Jiwa bangsaku sekarat berat
Rakyat lapar dan melarat
Negara kesepian tak punya teman untuk berutang tanpa ancaman.
Masyarakat dan pejabat sama tercela, munafik, dan tak bermoral
Umat telah lama menjadi murtad dari ajaran kitab_Nya
Aku tulis buku ini karena,
Jiwaku tersiksa dan meronta – ronta
Menyaksikan rakyatku saling bertengkar
Menyaksikan kelompok – kelompok sectarian
Saling cakar mencakar
Menyaksikan elit politik, khususnya MPR dan parpol jewer menjewer
Menyaksikan konglomerat tak kunjung bertobat
Menyaksikan koruptor yang masih di setor – setor
Menyaksikan kolusi masih lestari
Menyaksikan nepotisme- kronisme masih berseri
Menyaksikan pakar – pakar kehilangan nalar
Kekurangan gizi dan kasih
Menyaksikan sikap anarki dan suka main hakim sendiri
Menyaksikan etnis cina diperkosa sambil tertawa
Menyaksikan peluru menembus dada mahasiswa
Menyaksikan pelajar makin kurang ajar
Meyaksikan ibu pertiwi diancam disintegrasi
Anak kandungnya sendiri
Menyaksikan guru – guru dikencingi murid – muridnya sendiri
Menyaksikan … menyaksikan

Aku tulis buku ini karena
Aku masih punya sedikit akal sehat
Aku masih punya sedikit hati nurani
Aku masih punya determinasi

Aku tulis buku ini karena
Aku berutang pada tuhanku
Aku berutang pada rakyatku
Aku berutang pada alam negeriku
Aku berutang pada diriku

Aku tulis buku ini karena
Aku ingin menjadi pembelajar
Yang mengekspresikan jiwaku lewat perbuatan
Yang menghitung uang dan waktu dengan nalar
Yang mengasah ketrampilan dengan perkataan
…..
“Sepenggal tulisan Andrias Harefa”
Rasanya haruh ketika kita yang notabene sebagai makhluk pembelajar tak bisa menjawab peliknya kehidupan, rumitnya kasus yang sengaja diciptakan oleh segelintir orang. Lantas siapakah yang bertanggung jawab atas out put dari sebuah pendidikan dewasa ini.
Sering kita temui pelatihan, training dan kawan – kawannya yang tujuannya meningkatkan kinerja dan kualitas pendidikan yang kita miliki. Sesungguhnya bukan seberapa tenar trainer yang dihadirkan, seberapa banyak orang yang ada atau seberapa sering kita ikuti pelatihan untuk mengintegrasikan pendidikan yang kita miliki, tapi seberapa lapang hati kita untuk berubah dan mengualitaskan diri kita dengan pendidikan yang kita miliki. Seperti kata Winston Churchil “we are shaping the world faster than we can change ourselves and we are applying to the presents the habist of the past” (kita mengubah dunia lebih cepat dari kemampuan kita mengubah diri sendiri dan kita menerapkan pada masa kini kebiasaan masa lalu)
Ketika kita mau menerima kebaikan yang sesungguhnya maka.
jkita bisa Memandang masa depan nanti:
  • -      Kita akan belajar, bahwa tidaklah penting apa yang kita miliki, tetapi yang penting adalah siapa diri kita ini sebenarnya (sebagai pribadi, sebagai kelompok, sebagai organisasi, dan sebagai bangsa Indonesia)
  • -      Kita akan belajar bahwa lingkungan akan memoengaruhi pribadi kita, tetapi kita harus bertanggung jawab untuk apa yang kita lakukan
  • -      Kita akan belajar, bahwa dua manusia dapat melihat hal yang sama persis, tetapi terkadang dari sudut pandang yang amat berbeda, dan itu manusiawi
  • -      Kita akan belajar bahwa mengampuni diri sendiri dan orang lain itu perlu kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus
  • -      Kita akan belajar bahwa butuh waktu bertahun – tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya
  • -      Kita akan belajar bahwa kita tidak dapat memaksa oranglain untuk memaksa oranglain untuk mencintai kita, kita hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang kita cintai
  • -      Kita akan belajar bahwa kritik yang tulus dari seorang lawan lebih berharga dari pujian palsu seorang kawan
  • -      Kita akan belajar bahwa sebaik – baiknya pasangan itu adalah mereka yang pasti pernah melukai perasaan kita dan untuk itu kita harus belajar memaafkannya
  • -      Kita akan belajar bahwa tidak ada yang instan atau serba cepat di dunia ini, semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali kita ingin sakit hati dan dikecewakan
  • -      Kita akan belajar, bahwa kita harus memilih apakah kita menguasai sikap dan emosi atau kita membiarkan sikap dan emosi itu yang menguasai kita
  • -      Kita akan belajar, bahwa kita punya hak untuk marah tanpa harus menjadi beringas terhadap sesame
  • -      Kita akan belajar, bahwa kata – kata manis tanpa tindangan adalah kemunafikan psiko-spiritual
  • -      Dan kita akan belajar banyak hal ketika kita mau membuka pikiran dan hati kita untuk menjadi manusia pembelajar yang bijak.



“kesenangan belajar memisahkan kaum muda dengan kaum tua, sepanjang anda mau belajar anda tidak pernah menjadi tua” Rosalyn S. Yallow
“ orang bijak tak harus terpelajar, dan kaum terpelajar tak selalu bijak” Robert G.

No comments:

Post a Comment