Saturday, 18 February 2012

Desember on my diary..

Desember 2010 
bulan ini telah mengantarkanku pada kehidupan baru, kehidupan yang tak pernah kuharapkan dalam sepanjang diary. dulu aku rajin keluar masuk rumah sakit karena penyakit yang berbeda, tapi bulan itu tidak aku harus menghabiskan minggu terakhir desemberku di Bangsal Wijaya, ruangan berukuran 3x3 itu engap. hanya aku seorang sendiri, menguliti waktu yang mencekam setelah gejala penyakitku akut selama 3 minggu. batuk semakin tak wajar, tubuhku semakin tak bertenaga, tinggal kulit pembungkus tulang. Papah... aku hanya mengharapkan keajaiban hadir saat itu, berhari demam tinggi... batuk dan akhirnya dr. Chrisni mengirimku pada ruang isolasi. bukan karena aku sakit aneh saat itu, tapi aku sedih karena saat aku sakit aku hanya seorang diri. Kakakku baru saja melahirkan, tak baik jika keponakanku yang masih kecil itu harus lama - lama diruanganku karena hal itu kan beresiko menularkan penyakitku."Dok, sebenarnya saya sakit apa? kenapa saya harus di isolasi?" pertanyaanku satu pagi ketika dokter chrisni memeriksaku. ia hanya diam dan tersenyum"Uda gpp, sebentar lagi sembuh, yang penting doyan makan." jawaban yang tak aku harapkan.sudah 4 hari aku begini begini saja, demam tiap malam dan kepanasan tiap pagi, bolak balik ke Toilet. minum obat, disuntik dan check darah."Mas, kenapa tiap saya tanya dokter ga pernah dijawab emang saya sakit apa si mas?" tanyaku sedikit memaksa pada seorang perawat yang sedang mengganti infusku."Nanti ya mba, sedang di liat dulu. besok pasti tau ko ..."Hening, aku bosan dengan kondisi seperti ini. berhari teman2ku datang silih berganti menjagaku, aku merasa merepotkan mereka sangat. Arrrgggghhh.... 
Kamis, 23 Desember 2010 
Dokter Chrisni dan beberapa perawat datang kekamarku. semua terlihat tegang... aku hanya tersenyum"selamat pagi dok..." sapaku"pagi, gimana masih demam?" balasnya dengan lirih karena tertutup masker.tak lama perawat menyuruhku duduk dan mengatakan akan ada pembedahan kecil (penyedotan cairan dari paru2ku) aku hanya diam terbata mengucapkan "baiklah". tak ada kakakku, hanya ada Icha (sahabatku) saat itu. aku berharap semua akan baik - baik saja setelah bius pertama disuntikkan ke bagian bawah pundakku. sakit... sakit"Hiks ibu ... " aku mulai menangis pelan.jemariku erat menggenggam bantal, 2jam berlalu dan akhirnya aku pingsan setelah cairan itu tak lagi mengalir. setelah terbangun perawat yang biasa mengontrolku mengatakan" Uda mba, minum obatnya semoga besok bisa lebih baik dan bisa pulang..."luhku menetes, Icha mendekatiku. tangannya meraih jemariku yang lemah." Uda jangan nangis uda kelar ko, mau lihat ga tad proses penyedotan? tadi aku videoin ko..."yah aku liat semuanya dari awal pembedahan hingga berakhir. 2500 ml bukan sedikit jika itu menggenangi paru2. cairan berwarna hijau lumut itu masih ada di bawah dipan rumah sakit, apa ini cairan air Danau saat aku tenggelam di Palembang awal bulan desember lalu? itulah pertanyaan yang hadir.Kondisiku memang berangsur baik tapi aku semakin schock saat dokter chrisni mengijinkanku pulang "Besok pulang dan pengobatan berlanjut 7 bulan."aku masih terbata mengkaji maksud dokter berambut pendek berkaca mata tebal itu. sebelum pulang perawat yang biasa aku panggil 'mas' itu mengantarkanku ke Radiologi untuk kesekian kalinya aku menjalani rongten paru. hasilnya memang tak begitu baik, tapi lebih baik dari kondisi awal saat aku masuk. 
Sabtu, 26 Desember 2010 
aku diijinkan pulang dan dokter chrisni memberitahukan kenapa aku harus diisolasi? kenapa aku harus menjalani terapi obat selama itu dan mengapa aku harus begini begitu dan...TB Paru melekat pada diriku hari itu. aku tak berani mengatakan apa penyakitku pada orang2 karena aku tak siap dengan resiko, dijauhi mereka. Dan lambat laun orang2 sekitarkupun tau tentang sakit yang aku derita.  

January, 2011 
aku masih menjalani terapi yang dianjurkan oleh dokterku. setiap sebulan sekali kontrol dan dapat obat baru, setiap hari berteman dengan obat. Berat badanku berangsur normal, rutinitasku berangsur normal pula tapi tidak dengan perlakuan mereka terhadapku.aku menjalani semua prosesnya aku berharap Tuhan memberikan yang terbaik dan aku yakin selalu ada makna yang terselubung dari sakit yang Dia kirimkan untuk Hamba_Nya. 

Aku penderita TB Paru yang tak pernah rela jika aku dan sesama penderitaku diasingkan dari kehidupan. tak ada seorangpun yang terlahir kedunia ini mau dan mengharapkan satu penyakit pada tubuhnya, termasuk aku. aku memang tak seharusnya begini, tapi aku kesal ketika aku harus dijauhi karena penyakit ini. aku sudah sakit dengan penyakit ini ditambah sakit hati karena perlakuan mereka. aku berhak atas diriku, aku tau apa yang harus dan tak harus aku lakukan selama masa pengobatan ini belum berakhir. aku ingin mereka tau, orang2 seperti aku tak seharusnya di jauhi atau diasingkan karena hal ini akan membuat kondisi kejiwaan penderita semakin rapuh. saat seperti ini aku butuh semangat dan dukungan dari orang2 terdekatku bukan perlakuan mereka.

No comments:

Post a Comment