If you plant honesty, you will reap trust
If you plant goodness, you will reap friends
If you plant humility, you will reap greatness.
If you plant perseverance, you will reap victory
If you plant consideration, you will reap harmony.
If you plant hard work, you will reap success
If you plant forgiveness, you will reap reconciliation
If you plant faith, you will reap miracles.
If you plant hard work, you will reap success.
So, be careful what you plant now;
it will determine what you will reap tomorrow.
"Whatever You Give To Life, Life Gives You Back"
Let's see to our deepest heart, just asks do we plant goodness?
Thursday, 11 October 2012
Let's see to our deepst heart
Wednesday, 10 October 2012
Aku belajar darimu Tith,
First October in NziSAku panggil dia Tith, dia anak yang lincah dan baik. Begitulah yang aku lihat dari dia, meski di awal pertemuanku dengannya harus disapa oleh gigi2 runcing dan cubitan tangannya yang halus. Aku tau dia melakukan semua itu karena ia tak tau bagaimana mengungkapkan apa maunya.Dia baru saja pindah ke Jakarta seminggu yang lalu, dan hari ini dia ada di dekatku. Rambut cepak dan senyum yang terus tersungging di bibir kecilnya tak menampakkan stress yang ia alami. Culture Shock, begitulah nama beken bagi orang2 yang baru pindah ke luar kota atau negeri dan belum bisa beradaptasi. Terlebih anak2 Vietnam masih minor disini, dia butuh translator agar ia bisa beradaptasi. Mungkin itulah yang bikin ia stress, karena hampir setengah hari ia habiskan di sekolah bersama orang2 yang belum bisa mengerti dia.Setiap pagi dia datang dengan ibunya, dan melepaskan sepuluh menit pertama di sekolah bersama ibunya. Hanya dengan ibunya, karena dia belum bisa berinteraksi dengan teman2nya.Setelah bell berdering, dia ditinggal oleh ibunya. Dia mulai mencari sesuatu yang ia anggap menarik, tapi hari itu tidak ada yang menarik sepertinya. Ia hanya duduk di playground, sambil memandangi ibunya yang pergi. Ia nampak sedih, entahlah kenapa?“ kau baik2 saja kan Tith?” tentu saja ia hanya diam, kalaupun dia jawab aku belum tentu tau maksudnya. Dia berlari ke arah ibunya... aku mengejarnya, dia teriak sekencang mungkin hingga ibunya mendengar dan kembali ke playground.Mereka berbincang dalam bahasa Vietnam, sesekali ibunya mengarahkan jari kemuka Tith. Roman mukanya berubah,“ dia agak malas, harus di paksa untuk melakukan sesuatu,” begitu kata ibunya ketika mau meninggalkan tith.Sepanjang pagi itu, dia diam dan tak seceria kemarin2.Keesokan harinya, ia menangis di playground. Kenapa tith? Tapi dia tak menjawab apapun. Dia menarikku, berjalan menuju pagar pemisah TK dengan SD. Ia lambaikan tangan ke ibunya yang baru keluar dari kelas kakaknya. Ia menangis lagi, sepanjang pagi itu ibunya menemaninya di playground, dan ia kembali sedih ketika ibunya pergi.Aku tak tau kenapa dan ada apa, karena aku tak pernah paham dengan maunya dan apa yang ia katakan, sepertinya ia sedih karena ia belum mendapatkan teman yang pas dengan hatinya. Lalu aku tau, apapun dan dimanapun ibu adalah tempat yang nyaman untuk membunuh risau, galau dan sedih yang membara. Dan ibulah yang paling tau apa dan bagaimana yang terbaik bagi anaknya,Romantisme ibu dan anak yang aku saksikan pagi itu menjadikan aku rindu pada Emak. Seperti kembali di masa TK’ku, saat aku menangis ditinggal emak.Tith, aku akan belajar untuk tetap bertahan di tempat yang mungkin belum bisa dan tak bisa mengerti aku. Seperti kamu hari ini, yang belajar untuk memahami hal – hal baru yang ada disini. Percayalah Tith, kau bisa menjadi hebat.
Wednesday, 11 July 2012
Judul apa?
Terkadang kita sulit membedakan mana gula dan mana garam, karena keduanya memiliki tekstur yang hampir sama. selain itu warnanya pun tak jauh berbeda. namun ketika kita rasakan maka akan terlihat mana yang asin dan mana yang manis. kenapa saya mengambil analogi garam dan gula kali ini,
hari ini cukup di dewasakan keadaan oleh orang2 yang seharusnya lebih dewasa dari aku. secara usia memang orang - orang itu lebih dewasa, tapi mungkin tidak dalam cara berpikir. Gula itu anggap sebagai sesuatu yang baik dan Garam itu anggap saja sebagai sesuatu yang buruk. Kebaikan dan kejahatan itu beda tipis, ketika kita tak menelaahnya. Orang baik dan orang jahat itu sulit di bedakan, ketika kejahatan dan kebaikan itu hadir keduanya sama mendekati kita. kita tidak tau apakah kebaikan ato kejahatan yang menghampiri itu, hanya akan terasa jika semua telah di penghujung proses itu. kebaikan itu bisa menghancurkan jika tidak bisa memanagenya, iah karena kebaikan yang salah digunakan.
bersambung....
Thursday, 24 May 2012
Asa untuk menang 24:05:12
Sudah lama menjadi topeng dalam sandiwara ini,
Mengalah dan diam meski jatuh dan tertindas,
Bukan karena aku tak sanggup melawan
Tapi aku ingin belajar kelemahan mereka.
Agar aku bisa berlari ketika mereka kelelahan
Dan aku ingin menjadi pemenang nantinya,
Tak harus sakit hati dengan keadaan yang tak sepaham.
Karena akulah yang kurang pandai memahami kehidupan
Yang kulakukan hari ini demi sebuah asa yang pernah tenggelam
-asa untuk menang dalam segala keterbatasan-
Saturday, 21 April 2012
Hadiah
Bayangkan bila ada sebuah bank yang memberi anda pinjaman uang sejumlah Rp 86.400,- setiap paginya. Semua uang itu harus anda gunakan. Pada malam hari, bank akan menghapus sisa uang yang tidak anda gunakan selama sehari. Coba tebak, apa yang akan anda lakukan? Tentu saja anda akan menghabiskan semua uang pinjaman itu kan?
Setiap orang sebenarnya memiliki bank seperti itu, bank itu adalah waktu. Setipa pagi dia akan memberi anda 86.400 detik. Pada malam harinya ia akan menghapus sisa waktu yang tidak anda gunakan untuk tujuan baik. Karena ia tidak memberikan sisa waktunya kepada anda maka ia juga tidak memberikan waktu tambahan. Setiap hari ia akan membuat rekening baru untuk anda. Setiap malam ia akan menghanguskan yang tersisa. Jika anda tidak menggunakannya dengan baik maka kerugian akan menimpa anda. Anda tidak bisa menariknya kembali. Anda juga tidak bisa meminta "uang muka" untuk keesokan harinya. Anda harus hidup dengan simpanan hari ini. Untuk itu, investasikanlah untuk kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesan anda.
Jam terus berdetak, gunakan waktu anda dengan sebaik-baiknya.
Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN, maka tanyakanlah pada murid yanggagal naik kelas.
Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN, tanyakanlah pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU, tanyakanlah pada editor majalah mingguan.
Agar tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada teman yang menunggu untuk bertemu.
Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggaln pesawat terbang.
Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru terhindar dari kecelakaan.
Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK, maka anda harus bertanya kepada peraih medali perak Olimpiade.
Setiap orang sebenarnya memiliki bank seperti itu, bank itu adalah waktu. Setipa pagi dia akan memberi anda 86.400 detik. Pada malam harinya ia akan menghapus sisa waktu yang tidak anda gunakan untuk tujuan baik. Karena ia tidak memberikan sisa waktunya kepada anda maka ia juga tidak memberikan waktu tambahan. Setiap hari ia akan membuat rekening baru untuk anda. Setiap malam ia akan menghanguskan yang tersisa. Jika anda tidak menggunakannya dengan baik maka kerugian akan menimpa anda. Anda tidak bisa menariknya kembali. Anda juga tidak bisa meminta "uang muka" untuk keesokan harinya. Anda harus hidup dengan simpanan hari ini. Untuk itu, investasikanlah untuk kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesan anda.
Jam terus berdetak, gunakan waktu anda dengan sebaik-baiknya.
Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN, maka tanyakanlah pada murid yanggagal naik kelas.
Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN, tanyakanlah pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU, tanyakanlah pada editor majalah mingguan.
Agar tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada teman yang menunggu untuk bertemu.
Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggaln pesawat terbang.
Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru terhindar dari kecelakaan.
Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK, maka anda harus bertanya kepada peraih medali perak Olimpiade.
On Becoming a Learner
>: terinspirasi setelah membaca buku Andrias Harefa :<
Secara manusiawi kita sebagai manusia lahir
mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tak jauh berbeda dengan manusia
lainnya. Namun terkadang yang membedakan kita dengan manusia lainnya adalah
cara kita menyikapi kehidupan yang akan menentukan seberapa besar tanggung
jawab kita pada masyarakat. Yang perlu kita tahu adalah kita adalah makhluk
yang sengaja di ciptakan oleh Tuhan dengan segala kesempurnaan, dan pusat dari
kesempurnaan itu adalah Otak. Dimana bagian terkecil itulah yang menentukan hal
– hal besar dalam hidup kita. Karena dari situlah segala hal kita proses, (kaya
makanan aja)
Tugas manusia yang pertama adalah sebagai
pembelajar, pembelajar yang belajar terus menerus di sekolah besar kehidupan
nyata untuk semakin memanusiawikan dirinya. Kedua, menjadi pemimpin sejati
dengan cara menerima tanggung jawab yang diberikan untuk menciptakan masa depan
bagi dirinya, lingkungannya, perusahaan dan organisasi dimana ia bekerja.
Ketiga, bertumbuh menjadi guru bagi dirinya (yang hasilnya akan dilihat dari
attitude yang dimilikinya), guru bagi lingkungannya yang merupakan efek dari
keberhasilan dari proses sebelumnya, Namun yang paling mulia adalah mampu
menjadi guru bagi bangsanya, bagi seluruh umat manusia di sekolah besar yang
diberi nama kehidupan.
Konsep tri tugas, tanggung jawab dan panggilan
kemanusiaan ini merupakan gagasan penulis kondang Andrias Harefa, yang ia
merasa kecewa dengan keadaan yang memaksa kita untuk mengamini segala hal yang
di sajikan dalam pendidikan formal yang kadang tak mampu menjawab permasalahan
yang ada dewasa ini.
“
aku tulis buku ini karena
Aku
mendengar, melihat, dan merasakan
Jiwa
bangsaku sekarat berat
Rakyat
lapar dan melarat
Negara
kesepian tak punya teman untuk berutang tanpa ancaman.
Masyarakat
dan pejabat sama tercela, munafik, dan tak bermoral
Umat
telah lama menjadi murtad dari ajaran kitab_Nya
Aku
tulis buku ini karena,
Jiwaku
tersiksa dan meronta – ronta
Menyaksikan
rakyatku saling bertengkar
Menyaksikan
kelompok – kelompok sectarian
Saling
cakar mencakar
Menyaksikan
elit politik, khususnya MPR dan parpol jewer menjewer
Menyaksikan
konglomerat tak kunjung bertobat
Menyaksikan
koruptor yang masih di setor – setor
Menyaksikan
kolusi masih lestari
Menyaksikan
nepotisme- kronisme masih berseri
Menyaksikan
pakar – pakar kehilangan nalar
Kekurangan
gizi dan kasih
Menyaksikan
sikap anarki dan suka main hakim sendiri
Menyaksikan
etnis cina diperkosa sambil tertawa
Menyaksikan
peluru menembus dada mahasiswa
Menyaksikan
pelajar makin kurang ajar
Meyaksikan
ibu pertiwi diancam disintegrasi
Anak
kandungnya sendiri
Menyaksikan
guru – guru dikencingi murid – muridnya sendiri
Menyaksikan
… menyaksikan
Aku
tulis buku ini karena
Aku
masih punya sedikit akal sehat
Aku
masih punya sedikit hati nurani
Aku
masih punya determinasi
Aku
tulis buku ini karena
Aku
berutang pada tuhanku
Aku
berutang pada rakyatku
Aku
berutang pada alam negeriku
Aku
berutang pada diriku
Aku
tulis buku ini karena
Aku
ingin menjadi pembelajar
Yang
mengekspresikan jiwaku lewat perbuatan
Yang
menghitung uang dan waktu dengan nalar
Yang
mengasah ketrampilan dengan perkataan
…..
“Sepenggal
tulisan Andrias Harefa”
Rasanya haruh ketika kita yang notabene sebagai
makhluk pembelajar tak bisa menjawab peliknya kehidupan, rumitnya kasus yang
sengaja diciptakan oleh segelintir orang. Lantas siapakah yang bertanggung
jawab atas out put dari sebuah pendidikan dewasa ini.
Sering kita temui pelatihan, training dan kawan –
kawannya yang tujuannya meningkatkan kinerja dan kualitas pendidikan yang kita
miliki. Sesungguhnya bukan seberapa tenar trainer yang dihadirkan, seberapa
banyak orang yang ada atau seberapa sering kita ikuti pelatihan untuk
mengintegrasikan pendidikan yang kita miliki, tapi seberapa lapang hati kita
untuk berubah dan mengualitaskan diri kita dengan pendidikan yang kita miliki.
Seperti kata Winston Churchil “we are
shaping the world faster than we can change ourselves and we are applying to
the presents the habist of the past” (kita mengubah dunia lebih cepat dari
kemampuan kita mengubah diri sendiri dan kita menerapkan pada masa kini
kebiasaan masa lalu)
Ketika kita mau menerima kebaikan yang
sesungguhnya maka.
jkita bisa Memandang masa depan nanti:
- - Kita akan belajar, bahwa tidaklah penting apa yang kita miliki, tetapi yang penting adalah siapa diri kita ini sebenarnya (sebagai pribadi, sebagai kelompok, sebagai organisasi, dan sebagai bangsa Indonesia)
- - Kita akan belajar bahwa lingkungan akan memoengaruhi pribadi kita, tetapi kita harus bertanggung jawab untuk apa yang kita lakukan
- - Kita akan belajar, bahwa dua manusia dapat melihat hal yang sama persis, tetapi terkadang dari sudut pandang yang amat berbeda, dan itu manusiawi
- - Kita akan belajar bahwa mengampuni diri sendiri dan orang lain itu perlu kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus
- - Kita akan belajar bahwa butuh waktu bertahun – tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya
- - Kita akan belajar bahwa kita tidak dapat memaksa oranglain untuk memaksa oranglain untuk mencintai kita, kita hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang kita cintai
- - Kita akan belajar bahwa kritik yang tulus dari seorang lawan lebih berharga dari pujian palsu seorang kawan
- - Kita akan belajar bahwa sebaik – baiknya pasangan itu adalah mereka yang pasti pernah melukai perasaan kita dan untuk itu kita harus belajar memaafkannya
- - Kita akan belajar bahwa tidak ada yang instan atau serba cepat di dunia ini, semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali kita ingin sakit hati dan dikecewakan
- - Kita akan belajar, bahwa kita harus memilih apakah kita menguasai sikap dan emosi atau kita membiarkan sikap dan emosi itu yang menguasai kita
- - Kita akan belajar, bahwa kita punya hak untuk marah tanpa harus menjadi beringas terhadap sesame
- - Kita akan belajar, bahwa kata – kata manis tanpa tindangan adalah kemunafikan psiko-spiritual
- - Dan kita akan belajar banyak hal ketika kita mau membuka pikiran dan hati kita untuk menjadi manusia pembelajar yang bijak.
“kesenangan belajar memisahkan kaum muda dengan
kaum tua, sepanjang anda mau belajar anda tidak pernah menjadi tua” Rosalyn S.
Yallow
“ orang bijak tak harus terpelajar, dan kaum
terpelajar tak selalu bijak” Robert G.
Monday, 20 February 2012
Doa Kenek Kecil *) Alin
Namaku alin,
aku lahir tanpa ayah. Ibuku seorang wanita perkasa diantara wanita2 yang ada dibumi ini. Bagaimana tdk? Ibuku selalu berangkat sblm subuh dan pulang tengah malam, ibuku cantik lebih cantik dari syahrini yang sedang dipuja2. Banyak lelaki yg mengaku sebagai ayahku, hingga aku bingung siapa yg pantas kupanggil ayah. Namaku alin,
aku besar diantara deruan knalp0t dan teriakan kenek. Kehidupanku ramai dan penuh kebisingan. Tempat bermainku tak selayaknya anak2 seusiaku. Jika teman2 sebayaku akrab dg barbie dan kitchen set maka aku akrab dg botol air mineral dan kardus bekas. Kepulan rokok dan bau miras semakin akrab di faringku. Namaku alin, aku tak pernah merasakan indahnya bersekolah. Memakai seragam merah putih dan mengend0ng tas penuh buku. Pernah aku tanyakan pada ibuku, kenapa aku tak disekolahkan saja? Biar aku bisa merubah nasib keluarga. Ibuku geram dan menjawab
"sekolah biar apa?"
"aku ingin pintar bu" jawabku lugu.
"hidup kita sudah ditakdirkan begini, menyekolahkanmu hanya akan membuat beban ibu bertambah"
aku menahan air mata saat ibu mengatakan hal itu padaku.
Pagi itu ibu sakit, dia tak bisa bekerja lagi. Ibu memaksaku untuk pergi ke terminal dan menemui bang pepen.
"ada bang pepen pak?"tanyaku pada seorang lelaki bertato berambut g0ndr0ng.
"gua pepen, lu siapa?" suaranya menggelegar, aku kaget. Aku diam
"lu alin yah, anaknya titis" dia menarik tanganku.
"i... Ia bang, ibu saya sakit jadi tdk bs kerja hari ini"
"gua uda tau, ibu lu uda bilang. Ayo buruan, lu yg gantiin tugas ibu lu hari ini"
hah? Aku kaget saat org yg bernama pepen itu blg aku yg harus menggantikan tugas ibuku hari ini. Aku alin, anak yang tidak pernah tau apa pekerjaan ibuku selama 8 tahun ini. Dan hari ini aku menggantikan ibuku menjadi kenek di sebuah bus dalam kota.
Seribu mata menganga menatapku bergelayut di metromini dan berteriak2 "Blok M..."
inilah kehidupan yang ibu sembunyikan selama ini.
"ga sekolah dek?" tanya seorang ibu paruh baya
"tdk bu, saya belum pernah sekolah." jawabku menyembunyikan sedih.
Mereka bilang, jalanan terlalu keras untuk anak seusiaku. Jalanan tdk pernah memandang kecil, muda dan tua. Segala hal adalah halal selama bisa menghasilkan uang.
Di tengah perjalanan hari pertamaku menjadi kenek aku menangis di pojok mushola. Tempat orang2 menyembah Tuhan mereka. Lalu siapa Tuhanku? Kenapa ibu tidak pernah sekalipun mengenalkanku pada Tuhan. Penjaga mushola itu memanggilku,
"kemari nak, sepertinya kau butuh minum"
lelaki tua itu menyodorkan segelas air. Aku meneguknya seperti orang yang kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Aku menguliti lelaki itu pelan, jauh sekali perangainya dengan bang pepen sopir bis yang aku kenek'i.
Pak tua ini lebih mendamaikan dan lebih halus. Apakah ayahku seperti pak tua ini? Atau justru seperti bang pepen? Tiba2 pertanyaan itu melayang di otakku.
" pak, kenapa si orang2 suka ke mushola?"
"karna mereka ingin bertemu dengan Tuhan."
"caranya gimana pak? Kok ibu saya tdk pernah mengajari saya bertemu dg Tuhan,"
"solatlah nak jika kau muslim, ke tempat ibadahlah sesuai agamamu"
perkataan pak tua itu membuatku berpikir seharian. Aku ingin bertemu Tuhan, aku ingin minta pada Tuhan dikirimkan seorang ayah yang baik dan kaya biar ibuku berhenti jadi kenek dan aku bisa sekolah.
Malam datang dan aku pulang bersama rasa lelah. Ibuku menyiapkan sayur bayam dan sambal terasi sepertinya enak. Menu yang tak pernah berubah di bawah tudung saji.
"mana hasil ngenek hari ini?" kata ibu seraya memeriksa kantong kaosku.
Selembar 50ribuan ibu dapatkan.
"darimana kamu dapat uang ini? Kamu nyolong ya?"
aku menggeleng
#Bersambung ...............
: sepanjang kp. Rambutan_Cipete @ Kopaja_
aku lahir tanpa ayah. Ibuku seorang wanita perkasa diantara wanita2 yang ada dibumi ini. Bagaimana tdk? Ibuku selalu berangkat sblm subuh dan pulang tengah malam, ibuku cantik lebih cantik dari syahrini yang sedang dipuja2. Banyak lelaki yg mengaku sebagai ayahku, hingga aku bingung siapa yg pantas kupanggil ayah. Namaku alin,
aku besar diantara deruan knalp0t dan teriakan kenek. Kehidupanku ramai dan penuh kebisingan. Tempat bermainku tak selayaknya anak2 seusiaku. Jika teman2 sebayaku akrab dg barbie dan kitchen set maka aku akrab dg botol air mineral dan kardus bekas. Kepulan rokok dan bau miras semakin akrab di faringku. Namaku alin, aku tak pernah merasakan indahnya bersekolah. Memakai seragam merah putih dan mengend0ng tas penuh buku. Pernah aku tanyakan pada ibuku, kenapa aku tak disekolahkan saja? Biar aku bisa merubah nasib keluarga. Ibuku geram dan menjawab
"sekolah biar apa?"
"aku ingin pintar bu" jawabku lugu.
"hidup kita sudah ditakdirkan begini, menyekolahkanmu hanya akan membuat beban ibu bertambah"
aku menahan air mata saat ibu mengatakan hal itu padaku.
Pagi itu ibu sakit, dia tak bisa bekerja lagi. Ibu memaksaku untuk pergi ke terminal dan menemui bang pepen.
"ada bang pepen pak?"tanyaku pada seorang lelaki bertato berambut g0ndr0ng.
"gua pepen, lu siapa?" suaranya menggelegar, aku kaget. Aku diam
"lu alin yah, anaknya titis" dia menarik tanganku.
"i... Ia bang, ibu saya sakit jadi tdk bs kerja hari ini"
"gua uda tau, ibu lu uda bilang. Ayo buruan, lu yg gantiin tugas ibu lu hari ini"
hah? Aku kaget saat org yg bernama pepen itu blg aku yg harus menggantikan tugas ibuku hari ini. Aku alin, anak yang tidak pernah tau apa pekerjaan ibuku selama 8 tahun ini. Dan hari ini aku menggantikan ibuku menjadi kenek di sebuah bus dalam kota.
Seribu mata menganga menatapku bergelayut di metromini dan berteriak2 "Blok M..."
inilah kehidupan yang ibu sembunyikan selama ini.
"ga sekolah dek?" tanya seorang ibu paruh baya
"tdk bu, saya belum pernah sekolah." jawabku menyembunyikan sedih.
Mereka bilang, jalanan terlalu keras untuk anak seusiaku. Jalanan tdk pernah memandang kecil, muda dan tua. Segala hal adalah halal selama bisa menghasilkan uang.
Di tengah perjalanan hari pertamaku menjadi kenek aku menangis di pojok mushola. Tempat orang2 menyembah Tuhan mereka. Lalu siapa Tuhanku? Kenapa ibu tidak pernah sekalipun mengenalkanku pada Tuhan. Penjaga mushola itu memanggilku,
"kemari nak, sepertinya kau butuh minum"
lelaki tua itu menyodorkan segelas air. Aku meneguknya seperti orang yang kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Aku menguliti lelaki itu pelan, jauh sekali perangainya dengan bang pepen sopir bis yang aku kenek'i.
Pak tua ini lebih mendamaikan dan lebih halus. Apakah ayahku seperti pak tua ini? Atau justru seperti bang pepen? Tiba2 pertanyaan itu melayang di otakku.
" pak, kenapa si orang2 suka ke mushola?"
"karna mereka ingin bertemu dengan Tuhan."
"caranya gimana pak? Kok ibu saya tdk pernah mengajari saya bertemu dg Tuhan,"
"solatlah nak jika kau muslim, ke tempat ibadahlah sesuai agamamu"
perkataan pak tua itu membuatku berpikir seharian. Aku ingin bertemu Tuhan, aku ingin minta pada Tuhan dikirimkan seorang ayah yang baik dan kaya biar ibuku berhenti jadi kenek dan aku bisa sekolah.
Malam datang dan aku pulang bersama rasa lelah. Ibuku menyiapkan sayur bayam dan sambal terasi sepertinya enak. Menu yang tak pernah berubah di bawah tudung saji.
"mana hasil ngenek hari ini?" kata ibu seraya memeriksa kantong kaosku.
Selembar 50ribuan ibu dapatkan.
"darimana kamu dapat uang ini? Kamu nyolong ya?"
aku menggeleng
#Bersambung ...............
: sepanjang kp. Rambutan_Cipete @ Kopaja_
Subscribe to:
Posts (Atom)
