Thursday, 4 July 2013

Tentang Kue dan Sandal


 21/06/13 @ Kampung Baru, Fakfak

Siang itu begitu terik, selepas makan siang aku menghampiri  Fikram, Anisa dan beberapa temannya yang sedang asyik bermain di jalan kecil berlapis semen tepat di bawah pohon kelapa. Mereka asyik dengan bongkahan tanah dan itulah yang membuatku penasaran.
“Fik, kau bikin apa?,” tanyaku
“beta bikin mainan ibu...” jawabnya sambil asyik memadatkan tanah yang ada ditangannya.
“ini tanah liat bukan?,” tanyaku lagi
“tara tau ibu, bapak bilang ini tanah saja.” jawab polos anisa.
Setauku ini tanah liat, itupun kalu belum berganti nama tapi mereka tak tau nampaknya.
“treeeet tet tett.... Selamat ulang taun kami ucapkan ...” tiba—tiba anisa menyanyi sambil mengangkat tumpukan tanah liat yang dari tadi disusunnya. Kali ini aku pasti tak salah tebak,
“ ini kue ulang tahun ya?,”
“iya, ibu benar beta pengen tiup lilin di atas kue sebentar ulang tahun ibu,” jawabnya polos.
“Mari kakak ibu, tiup lilinnya. Tapi kakak ibu harus bawa hadiah buat beta’e.” hahha aku terkekeh Anisa memang lucu dan dari pertama aku hadir disini dialah yang selalu menghadirkan keluguannya yang lucu. Kalu aku harus bawa hadiah lalu siapa yang ulang tahun dan siapa yang meniup lilin, nampaknya dia salah tafsir tentang ulang tahun kali ini.
Aku lupa mengenalkan Fikram dan Anisa mereka berdua ini keponakan dari keluarga piaraku. Dan kakak ibu adalah panggilan akrab mereka ke aku. Kenapa harus kakak ibu? Kenapa bukan kakak saja atau ibu saja? Mama piaraku bilang dirumah aku sebagai kakak bagi keponakan– keponakanku dan di sekolah aku sebagai ibu guru.
“Beta pu mainan su jadi ibu,” kata fikram menyodorkan tumpukan tanah liatnya. Kali ini aku tak mau menebak lagi.
“Eh, fikram apa itu kau buat?,”
“ini sandal ibu, beta tara da pu sandal. Jadi beta bikin untuk dipakai. Mantab to, ibu?,”
Deg, tiba—tiba aku trenyuh dengan jawaban fikram aku tak pernah membayangkan anak sekecil dia berpikir lebih dewasa.
“memangnya sandal fikram kemana?,” tanyaku menyelidik
“mana ada? Beta tara da sandal ibu. Mahal jadi mama bilang tara usah beli sandal saja.” jawabannya ringan tanpa beban.
Seberapa mahal harga sandal di kampung ini? Hingga mama fikram tak sanggup membelikannya.
“baik, kau buat sepasang sudah nanti ibu bantu jemur biar tambah mantap to?,” kataku mengalihkan ketrenyuhanku.
Tapi tetap saja aku tak bisa menahan mata untuk menetes. Sedang Fikram dan Anisa tetap menyibukkan dengan tanah—tanah baru aku masih menata hati untuk bersiap mendengar imajinasi mereka melalui bongkahan tanah liat.
“ kakak ibu, mari kita jemur beta pu kue deng abang fikram pu sandal.” Anisa menarikku pelan.
“ Mari kakak ibu bantu,” sahutku pelan.
Lalu senyum matahari hangat menyapu senyum polos mereka. Aku yakin esok mereka bisa mewujudkan mimpi kecil tentang kue ulang tahun dan sandal . Aku yakin...

Thursday, 27 June 2013

Ubadari


25 Juni 2013
Kemarin aku telah menghabiskan hariku dengan berburu tambelo di Pantai tanisa berbakau itu. Pagi ini, jam 7 halaman rumah padat orang—orang. Ini masih keluarga dengan mama piaraku, kalau tidak salah hari ini kami akan pergi silaturahmi ke rumah Nenek di darat. Orang disini jarang menyebutkan arah mata angin seperti timur, selatan begitu. Mereka lebih mudah menyebut darat dan laut. Arah darat adalah arah dimana daratan lebih besar daripada lautan, pun sebaliknya. Kalau hari ini aku tidak menawarkan diri atau ditawarkan untuk ikut karena wajib ikut. Longboat bercat pudar itu telah tersandar di belakang rumah, Bapak tua telah siap dengan mesin jonsonnya. Aku dan yang lain mulai mencari tempat nyaman untuk menempuh perjalanan 2 jam dalam longboat. Ini kali kedua aku melakukan perjalanan laut dengan longboat kecil begini. Wew, rasanya sama deg-degan kaya kemarin. Untung lifevest orange sudah nempel kuat di badanku. Perjalanan terasa jauh, lebih jauh daripada jarak Jakarta—Padang dengan pesawat. Hahha ya iyalah. Hujan mengguyur pagi itu, tapi bapak tua masih gigih mengemudikan mesin jonson menyusuri lautan berbakau yang airnya tak lagi biru. Sepanjang perjalanan aku sibuk menguliti pemandangan yang asing untuk kornea mataku ini. melintasi banyak perkampungan, bukit, gunung dan masjid Yasin. Ini adalah masjid pertama di tanah Papua, bisa dibilang ini adalah masjid tertua di Pulau Cenderawasih ini. bangunannya sederhana dan unik, sayang kurang terawat dengan baik sehingga kesannya kotor.  Masjid ini berada dikampung Patimburak, kampung penghasil kepiting dan lobster terbaik di kota Pala. Kampung ini bisa diakses dengan jalur darat dan laut. Dari Fakfak bisa ditempuh 2-3 jam dengan Taksi jalur Fakfak-Kok
as ongkosnya 25rb, setelah itu dilanjutkan dengan naik ojek. Kalau jalur laut bisa dari Fakfak langsung atau dari Kokas baru naik longboat. Nah kalau biaya yang butuhkan, aku kurang paham karena tidak ada tarif yah seikhlasnya gitulah.
Setelah menikmati kampung lobster, longboat kami melaju pelan. Melintasi gunung Iha, dan beberapa kampung yang aku lupa namanya. Akhirnya longboat kami sandar di darmaga kecil di sebuah kampung, tidak salah ini adalah Ubadari. Kampung dimana Tete lahir dan besar. Semua menghambur masuk kerumah bercat biru yang letaknya tak jauh dari darmaga. Rumah yang dikelilingi pohon palem dan kebun kankung itu asri. Sambutan renyah tuan rumah menjadikan rumah bergaya Papua ini nyaman untuk disinggahi lebih lama.
Selang 15 menit setelah kedatangan kami, bibi menawarkan untuk mandi di air terjun. Aku tidak membayangkan air terjun yang keren disini, karena daerahnya dataran jadi akan berbeda dengan Grojogan Sewu yang ada di Solo.
Setelah menempuh 5 menit dari rumah singgah, mataku tak berkedip beberapa saat. Aku bungkam dan tak percaya ketika Fikram menunjukkan air terjun kepadaku. “Subhanaullah, keren banget.” aku mengerjapkan mulut dan masih tak percaya dengan apa yang aku lihat. Airnya bening mengalir bersusun. Alami. Mata siapapun yang disuguhi dengan pemandangan ini pasti akan merasakan kenyamanan. Bisa saja mengaca diair. Yah semua menghambur mandi di tengah air terjun. Tete bilang, beberapa tahun terakhir ini banyak turis datang ke Ubadari. Ada juga yang meneliti dan air ini sehat tanpa harus di rebus terlebih dahulu. Mengenai kebenarannya, aku belum menjamin karena aku belum bertemu dengan orang yang meneliti air Ubadari. Dari kejernihannya sih, bisa jadi enak diminum tanpa harus direbus. Hehehe. Lagi—lagi Pace Rakib menceritakan tentang Pamali yang menyebabkan aku meminum air Ubadari serta berenang di bawah air terjun. Dingin sangat... Lebih dingin daripada musim salju di Gurun Sahara. Hahah emang di gurun ada salju yah?
Untuk bisa sampai di air terjun ini, ternyata lebih mudah daripada menuju Masjid tertua di Papua. Jika dari arah Fakfak, kita cukup naik taksi sekali saja. Jurusan Kramongmongga atau bisa juga naik truk jurusan Bomberay. Ongkosnya 25rb saja, bisa turun di jembatan Ubadari yang letaknya pas diatas air terjun. Kalau jalur laut bisa ditempuh 2 jam dari Kokas atau bisa juga 4 jam dari Fakfak. Hanya beberapa meter dari jalan raya maka mata kita akan disuguhi pemandangan sungai khas Papua yang menawan. Siapapun yang datang akan menyesal jika tak mandi dan berenang disana. Seperti aku yang awalnya bersikeras untuk tidak mandi karena aku tak bawa baju ganti. Sebenarnya alasan utamanya adalah aku tak bisa renang. Hahahha. Saat aku mengutarakan alasan sesungguhnya, Fikram lari kerumah singgah dan mengambil lifevestku. Akhirnya aku mandi bersama anak—anak, sekalian bounding team seperti apa yang biasa aku dan teman2 lakukan. Hahahha. Main di air terlalu lama menyebabkan lapar mendera, nasi kuning dan ikan tongkol telah disiapkan. Oh ... Ini lezat sangat lezat apalagi dimakan sambil duduk diatas air. Piknik telah usai, kami harus bergegas untuk pulang. Sepanjang perjalanan gerimis membungkus lautan bakau hingga sampai di tanjung belakang rumah. Lelah memang tapi semuanya indah jadi tak ada alasan untuk berkeluh kesah. Kututup cerita piknik hari ini dengan tidur siang. Memimpikan perjalanan baru yang indah kebelahan pulau di Papua lainnya. Semoga ada kesempatan untuk melakukan petualangan lagi...



Tuesday, 20 November 2012

Kuukir masa depan


Aku sedang mengukir masa depanku diatas batu,
Dengan darah dan peluh yang tak henti menetes
Aku sedang melukis matahari di bawah mendung
Menjalani segala hal daamketerbatasan dan
Ketidakmungkinan yang mereka ciptakan
Itu semua hanya karsa mereka tidak realita yang ada
Hari ini aku sedang mengukir keadilan yang sarat makna
Dan sebuah kejujuran yang hilang
Aku bertahan dan terus mencobanya
karena aku yakin
tangan Tuhan akan membantuku menemukan 
kegalauan atas segala yang kurisaukan ...
Kenapa mereka tidak mencobanya?

Thursday, 11 October 2012

Let's see to our deepst heart

If you plant honesty, you will reap trust
If you plant goodness, you will reap friends
If you plant humility, you will reap greatness.
If you plant perseverance, you will reap victory
If you plant consideration, you will reap harmony.
If you plant hard work, you will reap success
If you plant forgiveness, you will reap reconciliation
If you plant faith, you will reap miracles.
If you plant hard work, you will reap success.

So, be careful what you plant now;
it will determine what you will reap tomorrow.


"Whatever You Give To Life, Life Gives You Back"
Let's see to our deepest heart, just asks do we plant goodness? 

Wednesday, 10 October 2012

Aku belajar darimu Tith,


First October in NziS
Aku panggil dia Tith, dia anak yang lincah dan baik. Begitulah yang aku lihat dari dia, meski di awal pertemuanku dengannya harus disapa oleh gigi2 runcing dan cubitan tangannya yang halus. Aku tau dia melakukan semua itu karena ia tak tau bagaimana mengungkapkan apa maunya.
Dia baru saja pindah ke Jakarta seminggu yang lalu, dan hari ini dia ada di dekatku. Rambut cepak dan senyum yang terus tersungging di bibir kecilnya tak menampakkan stress yang ia alami. Culture Shock, begitulah nama beken bagi orang2 yang baru pindah ke luar kota atau negeri dan belum bisa beradaptasi. Terlebih anak2 Vietnam masih minor disini, dia butuh translator agar ia bisa beradaptasi. Mungkin itulah yang bikin ia stress, karena hampir setengah hari ia habiskan di sekolah bersama orang2 yang belum bisa mengerti dia.
 Setiap pagi dia datang dengan ibunya, dan melepaskan sepuluh menit pertama di sekolah bersama ibunya. Hanya dengan ibunya, karena dia belum bisa berinteraksi dengan teman2nya.
Setelah bell berdering, dia ditinggal oleh ibunya. Dia mulai mencari sesuatu yang ia anggap menarik, tapi hari itu tidak ada yang menarik sepertinya. Ia hanya duduk di playground, sambil memandangi ibunya yang pergi. Ia nampak sedih, entahlah kenapa?
“ kau baik2 saja kan Tith?”  tentu saja ia hanya diam, kalaupun dia jawab aku belum tentu tau maksudnya. Dia berlari ke arah ibunya... aku mengejarnya, dia teriak sekencang mungkin hingga ibunya mendengar dan kembali ke playground.
Mereka berbincang dalam bahasa Vietnam, sesekali ibunya mengarahkan jari kemuka Tith. Roman mukanya berubah,
“ dia agak malas, harus di paksa untuk melakukan sesuatu,” begitu kata ibunya ketika mau meninggalkan tith.
Sepanjang pagi itu, dia diam dan tak seceria kemarin2.
Keesokan harinya, ia menangis di playground. Kenapa tith? Tapi dia tak menjawab apapun. Dia menarikku, berjalan menuju pagar pemisah TK dengan SD. Ia lambaikan tangan ke ibunya yang baru keluar dari kelas kakaknya. Ia menangis lagi, sepanjang pagi itu ibunya menemaninya di playground, dan ia kembali sedih ketika ibunya pergi.
Aku tak tau kenapa dan ada apa, karena aku tak pernah paham dengan maunya dan apa yang ia katakan, sepertinya ia sedih karena ia belum mendapatkan teman yang pas dengan hatinya. Lalu aku tau, apapun dan dimanapun ibu adalah tempat yang nyaman untuk membunuh risau, galau dan sedih yang membara. Dan ibulah yang paling tau apa dan bagaimana yang terbaik bagi anaknya,
Romantisme ibu dan anak yang aku saksikan pagi itu menjadikan aku rindu pada Emak. Seperti kembali di masa TK’ku, saat aku menangis ditinggal emak.
Tith, aku akan belajar untuk tetap bertahan di tempat yang mungkin belum bisa dan tak bisa mengerti aku. Seperti kamu hari ini, yang belajar untuk memahami hal – hal baru yang ada disini. Percayalah Tith, kau bisa menjadi hebat.


Wednesday, 11 July 2012

Judul apa?

Terkadang kita sulit membedakan mana gula dan mana garam, karena keduanya memiliki tekstur yang hampir sama. selain itu warnanya pun tak jauh berbeda. namun ketika kita rasakan maka akan terlihat mana yang asin dan mana yang manis. kenapa saya mengambil analogi garam dan gula kali ini,
hari ini cukup di dewasakan keadaan oleh orang2 yang seharusnya lebih dewasa dari aku. secara usia memang orang - orang itu lebih dewasa, tapi mungkin tidak dalam cara berpikir. Gula itu anggap sebagai sesuatu yang baik dan Garam itu anggap saja sebagai sesuatu yang buruk. Kebaikan dan kejahatan itu beda tipis, ketika kita tak menelaahnya. Orang baik dan orang jahat itu sulit di bedakan, ketika kejahatan dan kebaikan itu hadir keduanya sama mendekati kita. kita tidak tau apakah kebaikan ato kejahatan yang menghampiri itu, hanya akan terasa jika semua telah di penghujung proses itu. kebaikan itu bisa menghancurkan jika tidak bisa memanagenya, iah karena kebaikan yang salah digunakan. 
bersambung....

Thursday, 24 May 2012

Asa untuk menang 24:05:12

Sudah lama menjadi topeng dalam sandiwara ini,
Mengalah dan diam meski jatuh dan tertindas,
Bukan karena aku tak sanggup melawan
Tapi aku ingin belajar kelemahan mereka.
Agar aku bisa berlari ketika mereka kelelahan
Dan aku ingin menjadi pemenang nantinya,
Tak harus sakit hati dengan keadaan yang tak sepaham.
Karena akulah yang kurang pandai memahami kehidupan
Yang kulakukan hari ini demi sebuah asa yang pernah tenggelam
-asa untuk menang dalam segala keterbatasan-