Wednesday, 31 July 2013

Sebotol Mizone (Bukan Iklan)

Hujan senja ini telah mengantarkan dingin pada semestaku. Membuat malas setiap insan untuk beraktivitas diluar rumah, pun aku. Tapi malas itu harus kubuang dulu sepertinya karena esok aku harus mengajar kembali. Cukup istirahat di kota seharian ini. Akhirnya payung biru tuaku mengantarkan langkahku di depan gang kosan, cukup lama aku menunggu taksi bahkan satu ojekpun tak ada yang melintas. “Aduh kalu sampe ga ada yang lewat gimana nih?,” risauku. Aku takut ga kebagian taksi pulang. Aku menghabiskan hujan di emperan terminal Kokas. Di pojok terminal helak tawa sesak, asap rokok mengepul sesekali tawa khas Fakfak keluar “Haaahahahhahahei...” yah tawa yang mulai akrab dengan gendang telingaku. Berkali kali aku membenahi tempat dudukku, ini bukan karena ada sesuatu yang mengganggu tapi ini tanda aku mulai bosan.
“ Ibu, kalau penumpang tarada katong tara naik ke kampung.” kata sopir taksi padaku.
“ Iya pak, semoga ada.” Jawabku singkat.
Sudah hampir setengah jam aku habiskan dengan menunggu, tadi aku belum asar karena waktu aku berangkat jam di kontrakan baru menunjukkan pukul 15.05 sekarang sudah puluk 15.58 sebentar lagi jam 16.00 dan aku tak tau apakah taksi yang ada didepan mataku ini bakal naik kampung.

Akhirnya obrolan senja itu mengalir seperti air hujan yang terus mendekap terminal kali itu. Ibu itu akrab di panggil mama Dzafa, itu nama anaknya. Pun aku memanggil begitu, awalnya aku pikir ibu ini seperti kebanyakan pedagang yang lain, ternyata tidak. Dari cara dia bicara dan menanggapi pembicaraan memang berbeda, terlebih saat ibu ini membicarakan masalah pendidikan. Tiba—tiba aku penasaran, jangan—jangan ini intel pendidikan yang lagi nyamar. Hahhaha aku ngaco. Lalu aku mulai bertanya tentang siapakah sosok sebenarnya dibalik botol—botol yang berjajar di hadapannya.
“ Ibu, jualan disini setiap hari yah?,” tanyaku
“Tidak mbak, saya jualan disini kalau tidak ada jam ngajar dan lagi liburan aja.” jawabnya
Hah? Kalu lagi ga ada jam ngajar? Berarti ibu ini guru? Atau baiklah dengarkan pernyataan beliau selanjutnya. “Saya nghonor mbak, di SMP 2 di seberang sana.” seberang adalah nama daerah di sebelah pelabuhan, orang—orang akrab menyebutnya seberang. Mungkin karena daerahnya terlihat dari seberang pelabuhan kali yah. Sok tau lagi ni...
“ibu sudah berapa lama ngajar di sana?,” timpalku.
“ belum lama mbak, 4 tahun saja.” jawabnya ringan. Empat tahun ngehonor? Betah? Oh My God... Kenapa ga daftar jadi PNS aja sih gumanku dalam hati. Terang saja ibu itu tidak bisa daftar PNS karena beliau baru menyelesaikan S1’nya tahun lalu. Dan usut punya usut wanita kelahiran Buton, 28 tahun yang lalu ini tinggal di pasar terminal. Begitulah si ibu ini menyebut alamat rumahnya.

Obrolan itu habis, ketika Dzafa anak si ibu itu merajuk pulang. Kemudian ibu itu mengemasi barang—barang dagangannya memasukan ke lemari kayu dan menguncinya. “Ibu, disini masjid atau mushola terdekat dimana ya?,”
“kalau tidak keberatan, mari solat di gubuk saya mbak.” tawarnya.
Dengan senang hati, aku mengiyakan tawaran beliau. Setelah sedikit melobbi sopir agar mau menungguku sejenak akhirnya aku mengekor ibu itu dari belakang. Memang tidak jauh hanya 100meter saja dari terminal. Aku menyelidik mencari bangunan yang disebut rumah, tapi alpa. Yang aku lihat hanya kios—kios kecil tak terurus dan beberapa penjual.
“saya dan suami memilih tinggal disini mbak, dari pada ngontrak rumah. Mahal banget mbak.” tutur ibu itu sambil membuka gembok di pintu papan.
“ iya bu, gak papa yang penting aman.” timpalku mencoba meredam kesedihan si ibu.
“ silakan masuk mbak, maaf tidak ada bangku malah langsung dapur.”

Ruangan yang berukuran 4x3 meter ini penuh dengan alat masak, di belakang ada satu ruangan kecil 2x3 meter yang katanya itu adalah kamar. Aku meletakkan tasku di dekat mesin jahit, tadi si ibu sempat cerita suaminya adalah penjahit di pasar tambaruni. Mungkin ini mesin jahit yang satunya. Si ibu menyerahkan teko plastik padaku, yang tidak lain dan tidak bukan adalah gayung untuk menimba air dari drum besar di belakang kiosnya. Drum air hujan. Subhanaullah ini wudhu ternikmat minggu ini. Akhirnya aku salat di kamar si ibu. Hanya 7 menit saja, lepas itu aku pamit karena aku takut taksi jalan.
Pikiranku masih menganga membayangkan bagaimana ruwetnya tinggal di rumah papan begini, bahkan rumah ini lebih kecil daripada kamarku sebenernya. Aku lebih beruntung bukan? Ketika ditempatkan di daerah ini dan mendapatkan orang tua asuh yang berkecukupan. Aku malu, bagaimana mungkin aku membiarkan diriku mengeluh berkepanjangan ketika rumah hostfamku tidak ada jamban, air tak mengalir atau sepanjang hari lampu tak menyala.
“ Mbak, kalu kemalaman silakan mampir mungkin juga mbak mau bermalam disini.” tawar ibu itu sambil mengantarkanku ke depan pasar. Kemalaman? Menginap? Aku akan memikirkan sejuta kali untuk itu sepertinya, tapi ibu ini memang luar biasa dia tak mengiba dengan keadaannya hari ini.
“Iya bu, terimakasih banyak sudah diijinkan solat disini.” jawabku sambil menyalami wanita paruh umur itu. Jilbab besarnya mengembang tertiup angin, matanya berbinar. Aku melangkahkan kakiku pelan, “ mbak Wik....” teriakan ibu itu menghentikan langkahku.
“ Iya bu saya.” aku menoleh kebelakang. Si ibu berlari kecil menghampiriku,
“Mbak ini bekal untuk batal dijalan.” kata si ibu sambil menyodorkan sebotol Mizone padaku.
Deg, jantungku seakan di hujam parang. Kenapa ibu ini baik banget, padahal aku baru mengenalnya 1.5 jam yang lalu. “ Ibu, kenapa repot—repot.” jawabku
“ Ini sudah jam 5 lebih pasti nanti batal di jalan. Tolong ambil sudah...” si ibu menggenggamkan botol biru 600 ml itu ditangan kananku. Saat itu dunia seakan terhenti sejenak, melihat ketulusan ibu guru honorer yang mau menjadi penjual asongan di terminal. Mataku berkaca—kaca, sambil mengucapkan terimakasih aku berlari kecil meninggalkan si ibu itu. Aku belajar ketulusan yang luar biasa dari ibu itu.
Aku belajar untuk tidak mengeluh atas keadaan yang Tuhan berikan padaku. Dan ibu itu mengajariku tetap bijak menatap kehidupan, hidup ini memang keras tapi jika kita hadapi dengan keras maka tidak akan menghasilkan apa—apa. hidup ini tak akan ada artinya ketika kita tidak mencoba mensyukuri apa yang Tuhan berikan termasuk papan yang nyaman, pangan yang enak dan sandang. bersama hujan yang luar biasa senja itu kututup dengan meneguk Mizone yang berharga itu. membatalkan puasa di tengah hujan di perjalanan. Nikmat... terimakasih Tuhan

Terminal Kokas, bersama senja yang hujan 10 Juli 2013

Thursday, 4 July 2013

Tentang Kue dan Sandal


 21/06/13 @ Kampung Baru, Fakfak

Siang itu begitu terik, selepas makan siang aku menghampiri  Fikram, Anisa dan beberapa temannya yang sedang asyik bermain di jalan kecil berlapis semen tepat di bawah pohon kelapa. Mereka asyik dengan bongkahan tanah dan itulah yang membuatku penasaran.
“Fik, kau bikin apa?,” tanyaku
“beta bikin mainan ibu...” jawabnya sambil asyik memadatkan tanah yang ada ditangannya.
“ini tanah liat bukan?,” tanyaku lagi
“tara tau ibu, bapak bilang ini tanah saja.” jawab polos anisa.
Setauku ini tanah liat, itupun kalu belum berganti nama tapi mereka tak tau nampaknya.
“treeeet tet tett.... Selamat ulang taun kami ucapkan ...” tiba—tiba anisa menyanyi sambil mengangkat tumpukan tanah liat yang dari tadi disusunnya. Kali ini aku pasti tak salah tebak,
“ ini kue ulang tahun ya?,”
“iya, ibu benar beta pengen tiup lilin di atas kue sebentar ulang tahun ibu,” jawabnya polos.
“Mari kakak ibu, tiup lilinnya. Tapi kakak ibu harus bawa hadiah buat beta’e.” hahha aku terkekeh Anisa memang lucu dan dari pertama aku hadir disini dialah yang selalu menghadirkan keluguannya yang lucu. Kalu aku harus bawa hadiah lalu siapa yang ulang tahun dan siapa yang meniup lilin, nampaknya dia salah tafsir tentang ulang tahun kali ini.
Aku lupa mengenalkan Fikram dan Anisa mereka berdua ini keponakan dari keluarga piaraku. Dan kakak ibu adalah panggilan akrab mereka ke aku. Kenapa harus kakak ibu? Kenapa bukan kakak saja atau ibu saja? Mama piaraku bilang dirumah aku sebagai kakak bagi keponakan– keponakanku dan di sekolah aku sebagai ibu guru.
“Beta pu mainan su jadi ibu,” kata fikram menyodorkan tumpukan tanah liatnya. Kali ini aku tak mau menebak lagi.
“Eh, fikram apa itu kau buat?,”
“ini sandal ibu, beta tara da pu sandal. Jadi beta bikin untuk dipakai. Mantab to, ibu?,”
Deg, tiba—tiba aku trenyuh dengan jawaban fikram aku tak pernah membayangkan anak sekecil dia berpikir lebih dewasa.
“memangnya sandal fikram kemana?,” tanyaku menyelidik
“mana ada? Beta tara da sandal ibu. Mahal jadi mama bilang tara usah beli sandal saja.” jawabannya ringan tanpa beban.
Seberapa mahal harga sandal di kampung ini? Hingga mama fikram tak sanggup membelikannya.
“baik, kau buat sepasang sudah nanti ibu bantu jemur biar tambah mantap to?,” kataku mengalihkan ketrenyuhanku.
Tapi tetap saja aku tak bisa menahan mata untuk menetes. Sedang Fikram dan Anisa tetap menyibukkan dengan tanah—tanah baru aku masih menata hati untuk bersiap mendengar imajinasi mereka melalui bongkahan tanah liat.
“ kakak ibu, mari kita jemur beta pu kue deng abang fikram pu sandal.” Anisa menarikku pelan.
“ Mari kakak ibu bantu,” sahutku pelan.
Lalu senyum matahari hangat menyapu senyum polos mereka. Aku yakin esok mereka bisa mewujudkan mimpi kecil tentang kue ulang tahun dan sandal . Aku yakin...