Hujan senja ini telah mengantarkan dingin pada semestaku. Membuat
malas setiap insan untuk beraktivitas diluar rumah, pun aku. Tapi malas
itu harus kubuang dulu sepertinya karena esok aku harus mengajar
kembali. Cukup istirahat di kota seharian ini. Akhirnya payung biru
tuaku mengantarkan langkahku di depan gang kosan, cukup lama aku
menunggu taksi bahkan satu ojekpun tak ada yang melintas. “Aduh kalu
sampe ga ada yang lewat gimana nih?,” risauku. Aku takut ga kebagian
taksi pulang. Aku menghabiskan hujan di emperan terminal Kokas. Di pojok
terminal helak tawa sesak, asap rokok mengepul sesekali tawa khas
Fakfak keluar “Haaahahahhahahei...” yah tawa yang mulai akrab dengan
gendang telingaku. Berkali kali aku membenahi tempat dudukku, ini bukan
karena ada sesuatu yang mengganggu tapi ini tanda aku mulai bosan.
“ Ibu, kalau penumpang tarada katong tara naik ke kampung.” kata sopir taksi padaku.
“ Iya pak, semoga ada.” Jawabku singkat.
Sudah
hampir setengah jam aku habiskan dengan menunggu, tadi aku belum asar
karena waktu aku berangkat jam di kontrakan baru menunjukkan pukul 15.05
sekarang sudah puluk 15.58 sebentar lagi jam 16.00 dan aku tak tau
apakah taksi yang ada didepan mataku ini bakal naik kampung.
Akhirnya
obrolan senja itu mengalir seperti air hujan yang terus mendekap
terminal kali itu. Ibu itu akrab di panggil mama Dzafa, itu nama
anaknya. Pun aku memanggil begitu, awalnya aku pikir ibu ini seperti
kebanyakan pedagang yang lain, ternyata tidak. Dari cara dia bicara dan
menanggapi pembicaraan memang berbeda, terlebih saat ibu ini
membicarakan masalah pendidikan. Tiba—tiba aku penasaran, jangan—jangan
ini intel pendidikan yang lagi nyamar. Hahhaha aku ngaco. Lalu aku mulai
bertanya tentang siapakah sosok sebenarnya dibalik botol—botol yang
berjajar di hadapannya.
“ Ibu, jualan disini setiap hari yah?,” tanyaku
“Tidak mbak, saya jualan disini kalau tidak ada jam ngajar dan lagi liburan aja.” jawabnya
Hah?
Kalu lagi ga ada jam ngajar? Berarti ibu ini guru? Atau baiklah
dengarkan pernyataan beliau selanjutnya. “Saya nghonor mbak, di SMP 2 di
seberang sana.” seberang adalah nama daerah di sebelah pelabuhan,
orang—orang akrab menyebutnya seberang. Mungkin karena daerahnya
terlihat dari seberang pelabuhan kali yah. Sok tau lagi ni...
“ibu sudah berapa lama ngajar di sana?,” timpalku.
“
belum lama mbak, 4 tahun saja.” jawabnya ringan. Empat tahun ngehonor?
Betah? Oh My God... Kenapa ga daftar jadi PNS aja sih gumanku dalam
hati. Terang saja ibu itu tidak bisa daftar PNS karena beliau baru
menyelesaikan S1’nya tahun lalu. Dan usut punya usut wanita kelahiran
Buton, 28 tahun yang lalu ini tinggal di pasar terminal. Begitulah si
ibu ini menyebut alamat rumahnya.
Obrolan itu habis,
ketika Dzafa anak si ibu itu merajuk pulang. Kemudian ibu itu mengemasi
barang—barang dagangannya memasukan ke lemari kayu dan menguncinya.
“Ibu, disini masjid atau mushola terdekat dimana ya?,”
“kalau tidak keberatan, mari solat di gubuk saya mbak.” tawarnya.
Dengan
senang hati, aku mengiyakan tawaran beliau. Setelah sedikit melobbi
sopir agar mau menungguku sejenak akhirnya aku mengekor ibu itu dari
belakang. Memang tidak jauh hanya 100meter saja dari terminal. Aku
menyelidik mencari bangunan yang disebut rumah, tapi alpa. Yang aku
lihat hanya kios—kios kecil tak terurus dan beberapa penjual.
“saya
dan suami memilih tinggal disini mbak, dari pada ngontrak rumah. Mahal
banget mbak.” tutur ibu itu sambil membuka gembok di pintu papan.
“ iya bu, gak papa yang penting aman.” timpalku mencoba meredam kesedihan si ibu.
“ silakan masuk mbak, maaf tidak ada bangku malah langsung dapur.”
Ruangan
yang berukuran 4x3 meter ini penuh dengan alat masak, di belakang ada
satu ruangan kecil 2x3 meter yang katanya itu adalah kamar. Aku
meletakkan tasku di dekat mesin jahit, tadi si ibu sempat cerita
suaminya adalah penjahit di pasar tambaruni. Mungkin ini mesin jahit
yang satunya. Si ibu menyerahkan teko plastik padaku, yang tidak lain
dan tidak bukan adalah gayung untuk menimba air dari drum besar di
belakang kiosnya. Drum air hujan. Subhanaullah ini wudhu ternikmat
minggu ini. Akhirnya aku salat di kamar si ibu. Hanya 7 menit saja,
lepas itu aku pamit karena aku takut taksi jalan.
Pikiranku masih
menganga membayangkan bagaimana ruwetnya tinggal di rumah papan begini,
bahkan rumah ini lebih kecil daripada kamarku sebenernya. Aku lebih
beruntung bukan? Ketika ditempatkan di daerah ini dan mendapatkan orang
tua asuh yang berkecukupan. Aku malu, bagaimana mungkin aku membiarkan
diriku mengeluh berkepanjangan ketika rumah hostfamku tidak ada jamban,
air tak mengalir atau sepanjang hari lampu tak menyala.
“ Mbak,
kalu kemalaman silakan mampir mungkin juga mbak mau bermalam disini.”
tawar ibu itu sambil mengantarkanku ke depan pasar. Kemalaman? Menginap?
Aku akan memikirkan sejuta kali untuk itu sepertinya, tapi ibu ini
memang luar biasa dia tak mengiba dengan keadaannya hari ini.
“Iya
bu, terimakasih banyak sudah diijinkan solat disini.” jawabku sambil
menyalami wanita paruh umur itu. Jilbab besarnya mengembang tertiup
angin, matanya berbinar. Aku melangkahkan kakiku pelan, “ mbak Wik....”
teriakan ibu itu menghentikan langkahku.
“ Iya bu saya.” aku menoleh kebelakang. Si ibu berlari kecil menghampiriku,
“Mbak ini bekal untuk batal dijalan.” kata si ibu sambil menyodorkan sebotol Mizone padaku.
Deg,
jantungku seakan di hujam parang. Kenapa ibu ini baik banget, padahal
aku baru mengenalnya 1.5 jam yang lalu. “ Ibu, kenapa repot—repot.”
jawabku
“ Ini sudah jam 5 lebih pasti nanti batal di jalan. Tolong
ambil sudah...” si ibu menggenggamkan botol biru 600 ml itu ditangan
kananku. Saat itu dunia seakan terhenti sejenak, melihat ketulusan ibu
guru honorer yang mau menjadi penjual asongan di terminal. Mataku
berkaca—kaca, sambil mengucapkan terimakasih aku berlari kecil
meninggalkan si ibu itu. Aku belajar ketulusan yang luar biasa dari ibu
itu.
Aku belajar untuk tidak mengeluh atas keadaan yang Tuhan
berikan padaku. Dan ibu itu mengajariku tetap bijak menatap kehidupan,
hidup ini memang keras tapi jika kita hadapi dengan keras maka tidak
akan menghasilkan apa—apa. hidup ini tak akan ada artinya ketika kita
tidak mencoba mensyukuri apa yang Tuhan berikan termasuk papan yang
nyaman, pangan yang enak dan sandang. bersama hujan yang luar biasa
senja itu kututup dengan meneguk Mizone yang berharga itu. membatalkan
puasa di tengah hujan di perjalanan. Nikmat... terimakasih Tuhan
Terminal Kokas, bersama senja yang hujan 10 Juli 2013
Wednesday, 31 July 2013
Thursday, 4 July 2013
Tentang Kue dan Sandal
21/06/13 @ Kampung Baru, Fakfak
Siang itu begitu terik, selepas makan siang aku menghampiri Fikram, Anisa dan beberapa temannya yang sedang asyik bermain di jalan kecil berlapis semen tepat di bawah pohon kelapa. Mereka asyik dengan bongkahan tanah dan itulah yang membuatku penasaran.
“Fik, kau bikin apa?,” tanyaku
“beta bikin mainan ibu...” jawabnya sambil asyik memadatkan tanah yang ada ditangannya.
“ini tanah liat bukan?,” tanyaku lagi
“tara tau ibu, bapak bilang ini tanah saja.” jawab polos anisa.
Setauku ini tanah liat, itupun kalu belum berganti nama tapi mereka tak tau nampaknya.
“treeeet tet tett.... Selamat ulang taun kami ucapkan ...” tiba—tiba anisa menyanyi sambil mengangkat tumpukan tanah liat yang dari tadi disusunnya. Kali ini aku pasti tak salah tebak,
“ ini kue ulang tahun ya?,”
“iya, ibu benar beta pengen tiup lilin di atas kue sebentar ulang tahun ibu,” jawabnya polos.
“Mari kakak ibu, tiup lilinnya. Tapi kakak ibu harus bawa hadiah buat beta’e.” hahha aku terkekeh Anisa memang lucu dan dari pertama aku hadir disini dialah yang selalu menghadirkan keluguannya yang lucu. Kalu aku harus bawa hadiah lalu siapa yang ulang tahun dan siapa yang meniup lilin, nampaknya dia salah tafsir tentang ulang tahun kali ini.
Aku lupa mengenalkan Fikram dan Anisa mereka berdua ini keponakan dari keluarga piaraku. Dan kakak ibu adalah panggilan akrab mereka ke aku. Kenapa harus kakak ibu? Kenapa bukan kakak saja atau ibu saja? Mama piaraku bilang dirumah aku sebagai kakak bagi keponakan– keponakanku dan di sekolah aku sebagai ibu guru.
“Beta pu mainan su jadi ibu,” kata fikram menyodorkan tumpukan tanah liatnya. Kali ini aku tak mau menebak lagi.
“Eh, fikram apa itu kau buat?,”
“ini sandal ibu, beta tara da pu sandal. Jadi beta bikin untuk dipakai. Mantab to, ibu?,”
Deg, tiba—tiba aku trenyuh dengan jawaban fikram aku tak pernah membayangkan anak sekecil dia berpikir lebih dewasa.
“memangnya sandal fikram kemana?,” tanyaku menyelidik
“mana ada? Beta tara da sandal ibu. Mahal jadi mama bilang tara usah beli sandal saja.” jawabannya ringan tanpa beban.
Seberapa mahal harga sandal di kampung ini? Hingga mama fikram tak sanggup membelikannya.
“baik, kau buat sepasang sudah nanti ibu bantu jemur biar tambah mantap to?,” kataku mengalihkan ketrenyuhanku.
Tapi tetap saja aku tak bisa menahan mata untuk menetes. Sedang Fikram dan Anisa tetap menyibukkan dengan tanah—tanah baru aku masih menata hati untuk bersiap mendengar imajinasi mereka melalui bongkahan tanah liat.
“ kakak ibu, mari kita jemur beta pu kue deng abang fikram pu sandal.” Anisa menarikku pelan.
“ Mari kakak ibu bantu,” sahutku pelan.
Lalu senyum matahari hangat menyapu senyum polos mereka. Aku yakin esok mereka bisa mewujudkan mimpi kecil tentang kue ulang tahun dan sandal . Aku yakin...
Subscribe to:
Comments (Atom)