Tuesday, 20 November 2012

Kuukir masa depan


Aku sedang mengukir masa depanku diatas batu,
Dengan darah dan peluh yang tak henti menetes
Aku sedang melukis matahari di bawah mendung
Menjalani segala hal daamketerbatasan dan
Ketidakmungkinan yang mereka ciptakan
Itu semua hanya karsa mereka tidak realita yang ada
Hari ini aku sedang mengukir keadilan yang sarat makna
Dan sebuah kejujuran yang hilang
Aku bertahan dan terus mencobanya
karena aku yakin
tangan Tuhan akan membantuku menemukan 
kegalauan atas segala yang kurisaukan ...
Kenapa mereka tidak mencobanya?

Thursday, 11 October 2012

Let's see to our deepst heart

If you plant honesty, you will reap trust
If you plant goodness, you will reap friends
If you plant humility, you will reap greatness.
If you plant perseverance, you will reap victory
If you plant consideration, you will reap harmony.
If you plant hard work, you will reap success
If you plant forgiveness, you will reap reconciliation
If you plant faith, you will reap miracles.
If you plant hard work, you will reap success.

So, be careful what you plant now;
it will determine what you will reap tomorrow.


"Whatever You Give To Life, Life Gives You Back"
Let's see to our deepest heart, just asks do we plant goodness? 

Wednesday, 10 October 2012

Aku belajar darimu Tith,


First October in NziS
Aku panggil dia Tith, dia anak yang lincah dan baik. Begitulah yang aku lihat dari dia, meski di awal pertemuanku dengannya harus disapa oleh gigi2 runcing dan cubitan tangannya yang halus. Aku tau dia melakukan semua itu karena ia tak tau bagaimana mengungkapkan apa maunya.
Dia baru saja pindah ke Jakarta seminggu yang lalu, dan hari ini dia ada di dekatku. Rambut cepak dan senyum yang terus tersungging di bibir kecilnya tak menampakkan stress yang ia alami. Culture Shock, begitulah nama beken bagi orang2 yang baru pindah ke luar kota atau negeri dan belum bisa beradaptasi. Terlebih anak2 Vietnam masih minor disini, dia butuh translator agar ia bisa beradaptasi. Mungkin itulah yang bikin ia stress, karena hampir setengah hari ia habiskan di sekolah bersama orang2 yang belum bisa mengerti dia.
 Setiap pagi dia datang dengan ibunya, dan melepaskan sepuluh menit pertama di sekolah bersama ibunya. Hanya dengan ibunya, karena dia belum bisa berinteraksi dengan teman2nya.
Setelah bell berdering, dia ditinggal oleh ibunya. Dia mulai mencari sesuatu yang ia anggap menarik, tapi hari itu tidak ada yang menarik sepertinya. Ia hanya duduk di playground, sambil memandangi ibunya yang pergi. Ia nampak sedih, entahlah kenapa?
“ kau baik2 saja kan Tith?”  tentu saja ia hanya diam, kalaupun dia jawab aku belum tentu tau maksudnya. Dia berlari ke arah ibunya... aku mengejarnya, dia teriak sekencang mungkin hingga ibunya mendengar dan kembali ke playground.
Mereka berbincang dalam bahasa Vietnam, sesekali ibunya mengarahkan jari kemuka Tith. Roman mukanya berubah,
“ dia agak malas, harus di paksa untuk melakukan sesuatu,” begitu kata ibunya ketika mau meninggalkan tith.
Sepanjang pagi itu, dia diam dan tak seceria kemarin2.
Keesokan harinya, ia menangis di playground. Kenapa tith? Tapi dia tak menjawab apapun. Dia menarikku, berjalan menuju pagar pemisah TK dengan SD. Ia lambaikan tangan ke ibunya yang baru keluar dari kelas kakaknya. Ia menangis lagi, sepanjang pagi itu ibunya menemaninya di playground, dan ia kembali sedih ketika ibunya pergi.
Aku tak tau kenapa dan ada apa, karena aku tak pernah paham dengan maunya dan apa yang ia katakan, sepertinya ia sedih karena ia belum mendapatkan teman yang pas dengan hatinya. Lalu aku tau, apapun dan dimanapun ibu adalah tempat yang nyaman untuk membunuh risau, galau dan sedih yang membara. Dan ibulah yang paling tau apa dan bagaimana yang terbaik bagi anaknya,
Romantisme ibu dan anak yang aku saksikan pagi itu menjadikan aku rindu pada Emak. Seperti kembali di masa TK’ku, saat aku menangis ditinggal emak.
Tith, aku akan belajar untuk tetap bertahan di tempat yang mungkin belum bisa dan tak bisa mengerti aku. Seperti kamu hari ini, yang belajar untuk memahami hal – hal baru yang ada disini. Percayalah Tith, kau bisa menjadi hebat.


Wednesday, 11 July 2012

Judul apa?

Terkadang kita sulit membedakan mana gula dan mana garam, karena keduanya memiliki tekstur yang hampir sama. selain itu warnanya pun tak jauh berbeda. namun ketika kita rasakan maka akan terlihat mana yang asin dan mana yang manis. kenapa saya mengambil analogi garam dan gula kali ini,
hari ini cukup di dewasakan keadaan oleh orang2 yang seharusnya lebih dewasa dari aku. secara usia memang orang - orang itu lebih dewasa, tapi mungkin tidak dalam cara berpikir. Gula itu anggap sebagai sesuatu yang baik dan Garam itu anggap saja sebagai sesuatu yang buruk. Kebaikan dan kejahatan itu beda tipis, ketika kita tak menelaahnya. Orang baik dan orang jahat itu sulit di bedakan, ketika kejahatan dan kebaikan itu hadir keduanya sama mendekati kita. kita tidak tau apakah kebaikan ato kejahatan yang menghampiri itu, hanya akan terasa jika semua telah di penghujung proses itu. kebaikan itu bisa menghancurkan jika tidak bisa memanagenya, iah karena kebaikan yang salah digunakan. 
bersambung....

Thursday, 24 May 2012

Asa untuk menang 24:05:12

Sudah lama menjadi topeng dalam sandiwara ini,
Mengalah dan diam meski jatuh dan tertindas,
Bukan karena aku tak sanggup melawan
Tapi aku ingin belajar kelemahan mereka.
Agar aku bisa berlari ketika mereka kelelahan
Dan aku ingin menjadi pemenang nantinya,
Tak harus sakit hati dengan keadaan yang tak sepaham.
Karena akulah yang kurang pandai memahami kehidupan
Yang kulakukan hari ini demi sebuah asa yang pernah tenggelam
-asa untuk menang dalam segala keterbatasan-

Saturday, 21 April 2012

Hadiah

Bayangkan bila ada sebuah bank yang memberi anda pinjaman uang sejumlah Rp 86.400,- setiap paginya. Semua uang itu harus anda gunakan. Pada malam hari, bank akan menghapus sisa uang yang tidak anda gunakan selama sehari. Coba tebak, apa yang akan anda lakukan? Tentu saja anda akan menghabiskan semua uang pinjaman itu kan?

Setiap orang sebenarnya memiliki bank seperti itu, bank itu adalah waktu. Setipa pagi dia akan memberi anda 86.400 detik. Pada malam harinya ia akan menghapus sisa waktu yang tidak anda gunakan untuk tujuan baik. Karena ia tidak memberikan sisa waktunya kepada anda maka ia juga tidak memberikan waktu tambahan. Setiap hari ia akan membuat rekening baru untuk anda. Setiap malam ia akan menghanguskan yang tersisa. Jika anda tidak menggunakannya dengan baik maka kerugian akan menimpa anda. Anda tidak bisa menariknya kembali. Anda juga tidak bisa meminta "uang muka" untuk keesokan harinya. Anda harus hidup dengan simpanan hari ini. Untuk itu, investasikanlah untuk kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesan anda.


Kisah Inspiratif, waktu yang berharga, waktu, motivasi


Jam terus berdetak, gunakan waktu anda dengan sebaik-baiknya.

Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN, maka tanyakanlah pada murid yanggagal naik kelas.

Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN, tanyakanlah pada ibu yang melahirkan bayi prematur.

Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU, tanyakanlah pada editor majalah mingguan.

Agar tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada teman yang menunggu untuk bertemu.

Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggaln pesawat terbang.

Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru terhindar dari kecelakaan.

Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK, maka anda harus bertanya kepada peraih medali perak Olimpiade.

On Becoming a Learner


>: terinspirasi setelah membaca buku Andrias Harefa :<
Secara manusiawi kita sebagai manusia lahir mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tak jauh berbeda dengan manusia lainnya. Namun terkadang yang membedakan kita dengan manusia lainnya adalah cara kita menyikapi kehidupan yang akan menentukan seberapa besar tanggung jawab kita pada masyarakat. Yang perlu kita tahu adalah kita adalah makhluk yang sengaja di ciptakan oleh Tuhan dengan segala kesempurnaan, dan pusat dari kesempurnaan itu adalah Otak. Dimana bagian terkecil itulah yang menentukan hal – hal besar dalam hidup kita. Karena dari situlah segala hal kita proses, (kaya makanan aja)
Tugas manusia yang pertama adalah sebagai pembelajar, pembelajar yang belajar terus menerus di sekolah besar kehidupan nyata untuk semakin memanusiawikan dirinya. Kedua, menjadi pemimpin sejati dengan cara menerima tanggung jawab yang diberikan untuk menciptakan masa depan bagi dirinya, lingkungannya, perusahaan dan organisasi dimana ia bekerja. Ketiga, bertumbuh menjadi guru bagi dirinya (yang hasilnya akan dilihat dari attitude yang dimilikinya), guru bagi lingkungannya yang merupakan efek dari keberhasilan dari proses sebelumnya, Namun yang paling mulia adalah mampu menjadi guru bagi bangsanya, bagi seluruh umat manusia di sekolah besar yang diberi nama kehidupan.
Konsep tri tugas, tanggung jawab dan panggilan kemanusiaan ini merupakan gagasan penulis kondang Andrias Harefa, yang ia merasa kecewa dengan keadaan yang memaksa kita untuk mengamini segala hal yang di sajikan dalam pendidikan formal yang kadang tak mampu menjawab permasalahan yang ada dewasa ini.
“ aku tulis buku ini karena
Aku mendengar, melihat, dan merasakan
Jiwa bangsaku sekarat berat
Rakyat lapar dan melarat
Negara kesepian tak punya teman untuk berutang tanpa ancaman.
Masyarakat dan pejabat sama tercela, munafik, dan tak bermoral
Umat telah lama menjadi murtad dari ajaran kitab_Nya
Aku tulis buku ini karena,
Jiwaku tersiksa dan meronta – ronta
Menyaksikan rakyatku saling bertengkar
Menyaksikan kelompok – kelompok sectarian
Saling cakar mencakar
Menyaksikan elit politik, khususnya MPR dan parpol jewer menjewer
Menyaksikan konglomerat tak kunjung bertobat
Menyaksikan koruptor yang masih di setor – setor
Menyaksikan kolusi masih lestari
Menyaksikan nepotisme- kronisme masih berseri
Menyaksikan pakar – pakar kehilangan nalar
Kekurangan gizi dan kasih
Menyaksikan sikap anarki dan suka main hakim sendiri
Menyaksikan etnis cina diperkosa sambil tertawa
Menyaksikan peluru menembus dada mahasiswa
Menyaksikan pelajar makin kurang ajar
Meyaksikan ibu pertiwi diancam disintegrasi
Anak kandungnya sendiri
Menyaksikan guru – guru dikencingi murid – muridnya sendiri
Menyaksikan … menyaksikan

Aku tulis buku ini karena
Aku masih punya sedikit akal sehat
Aku masih punya sedikit hati nurani
Aku masih punya determinasi

Aku tulis buku ini karena
Aku berutang pada tuhanku
Aku berutang pada rakyatku
Aku berutang pada alam negeriku
Aku berutang pada diriku

Aku tulis buku ini karena
Aku ingin menjadi pembelajar
Yang mengekspresikan jiwaku lewat perbuatan
Yang menghitung uang dan waktu dengan nalar
Yang mengasah ketrampilan dengan perkataan
…..
“Sepenggal tulisan Andrias Harefa”
Rasanya haruh ketika kita yang notabene sebagai makhluk pembelajar tak bisa menjawab peliknya kehidupan, rumitnya kasus yang sengaja diciptakan oleh segelintir orang. Lantas siapakah yang bertanggung jawab atas out put dari sebuah pendidikan dewasa ini.
Sering kita temui pelatihan, training dan kawan – kawannya yang tujuannya meningkatkan kinerja dan kualitas pendidikan yang kita miliki. Sesungguhnya bukan seberapa tenar trainer yang dihadirkan, seberapa banyak orang yang ada atau seberapa sering kita ikuti pelatihan untuk mengintegrasikan pendidikan yang kita miliki, tapi seberapa lapang hati kita untuk berubah dan mengualitaskan diri kita dengan pendidikan yang kita miliki. Seperti kata Winston Churchil “we are shaping the world faster than we can change ourselves and we are applying to the presents the habist of the past” (kita mengubah dunia lebih cepat dari kemampuan kita mengubah diri sendiri dan kita menerapkan pada masa kini kebiasaan masa lalu)
Ketika kita mau menerima kebaikan yang sesungguhnya maka.
jkita bisa Memandang masa depan nanti:
  • -      Kita akan belajar, bahwa tidaklah penting apa yang kita miliki, tetapi yang penting adalah siapa diri kita ini sebenarnya (sebagai pribadi, sebagai kelompok, sebagai organisasi, dan sebagai bangsa Indonesia)
  • -      Kita akan belajar bahwa lingkungan akan memoengaruhi pribadi kita, tetapi kita harus bertanggung jawab untuk apa yang kita lakukan
  • -      Kita akan belajar, bahwa dua manusia dapat melihat hal yang sama persis, tetapi terkadang dari sudut pandang yang amat berbeda, dan itu manusiawi
  • -      Kita akan belajar bahwa mengampuni diri sendiri dan orang lain itu perlu kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus
  • -      Kita akan belajar bahwa butuh waktu bertahun – tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya
  • -      Kita akan belajar bahwa kita tidak dapat memaksa oranglain untuk memaksa oranglain untuk mencintai kita, kita hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang kita cintai
  • -      Kita akan belajar bahwa kritik yang tulus dari seorang lawan lebih berharga dari pujian palsu seorang kawan
  • -      Kita akan belajar bahwa sebaik – baiknya pasangan itu adalah mereka yang pasti pernah melukai perasaan kita dan untuk itu kita harus belajar memaafkannya
  • -      Kita akan belajar bahwa tidak ada yang instan atau serba cepat di dunia ini, semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali kita ingin sakit hati dan dikecewakan
  • -      Kita akan belajar, bahwa kita harus memilih apakah kita menguasai sikap dan emosi atau kita membiarkan sikap dan emosi itu yang menguasai kita
  • -      Kita akan belajar, bahwa kita punya hak untuk marah tanpa harus menjadi beringas terhadap sesame
  • -      Kita akan belajar, bahwa kata – kata manis tanpa tindangan adalah kemunafikan psiko-spiritual
  • -      Dan kita akan belajar banyak hal ketika kita mau membuka pikiran dan hati kita untuk menjadi manusia pembelajar yang bijak.



“kesenangan belajar memisahkan kaum muda dengan kaum tua, sepanjang anda mau belajar anda tidak pernah menjadi tua” Rosalyn S. Yallow
“ orang bijak tak harus terpelajar, dan kaum terpelajar tak selalu bijak” Robert G.