Wednesday, 2 November 2011

Semoga Aku Bisa Dewasa

diary, hari ini berlalu cukup melelahkan itu hal biasa. die, ada yang aneh dengan perjalanan hari ini ada yang ganjil. seperti biasanya aku puasa senin dan mengeja tiap langkah yang kutapaki. rumah ke Paud dan rumah kekampus, hidupku keras die. meski hatiku lembut, tapi kau harus tau perjalananku keras. seperti mengulang masa laluku die, saat aku harus mempertahankan sekolahku pada tiap bungkusan es lilin buatan ibu. tak hanya itu die, kau juga harus tau seberapa sering aku menitihkan luhku saat ribuan kilo beban ibu berayun dikepalaku, aku tak sanggup menyelesaikannya. aku hanya bisa mencari formula untuk menenangkan dan menguatkan ibu die. hari ini tak separah kemarin memang, tapi apa kau tau die hari ini ada statment yang begitu menyudutkanku. 

"Saya kecewa dengan tindakan kamu wik." kata salah seorang teman yang aku pikir seperti kaka bagiku, 

" Kecewa kenapa bang? tindakan yang mana?" aku tegaskan dimana letak kekecewaan abang padaku. 

" Temui saya dikampus jam 2.30." jawab smsnya singkat. 

" Saya tidak mau, jika kamu tidak memberikan alasan yang tepat dan masuk akal bang." 

tak ada reaksi lagi, sore mengantarkanku pada ribuan meter korem - untirta. sore ini suram ronanya, die kau tau kenapa? hemm pasti kau tak tau karena akupun tak tau? bahkan aku sendiri tak paham kenapa hari ini aku tak serenyah kemarin. dosen pertama ga masuk, itu dah biasa dan sepertinya menu tiap minggu. perutku sakit die, tak biasanya seperti ini. suasana hati yang sedang kacau dan aku tak tau harus bagaimana. ingin mengadu tapi pada siapa die? ka wian? yah sosok yang akan memberikan ide bagaimana mencari jalan keluar saat aku terhimpit. respon ka wian yah seperti biasanya sedikit menenangkan, tapi tak mengubah sakit dan suasana hatiku sore ini. aku sudah hampir menangis, sempat aku kirimkan sms pada fikry." aku pengen nangis." respon fikry " kenapa?" 
"Esmosi jiwa." begitu jawabku. dan aku tangguhkan luhku sesaat karena aku tak ingin semestaku berubah iklimnya karena luhku menetes. 

jam 17.45 setelah jam ELS selesai aku putuskan untuk kumpul sejenak di Lab. Kejujuran. aromanya getir... tak seperti biasanya. dan firasatku menjawab semuanya, abang marah padaku. mungkin ini memang salahku, walau tak sepenuhnya. 

" Saya sudah sms km td pagi, kenapa ga konfirmasi jika tidak bisa. Semnas tinggal 2 minggu lagi, surat belum bisa dimintakan ttd ke pak aris. kalau sore begini kan tidak bisa." yah kurang lebih begitu statment awal menyambut kedatanganku dengan teman2. 

" saya kecewa, dan bla... bla ... bla... " 

die, kamu tau apa yang bisa aku lakukan? aku pikir mereka dan abang cukup paham dengan rutinitas pagi yang tak bisa aku tinggalkan 'ngajar' tapi itu bukan alasan yang tepat hari ini. aku hanya diam dan mencoba menghimpun kekuatan untuk bangkit dan segera keluar. aku menahan luhku dihadapan mereka, teman - temanku. padahal sedari tadi siang aku sudah berusaha menahan sakitku, menahan galaunya hatiku untuk tidak menangis tapi aku tak bisa die. aku segera beranjak dari tempat dudukku. 

" Wik, mau kemana?" tanya abang ketika melihatku berdiri 

" Pulang ... " jawabku sambil menahan isak. 

aku tak langsung menangis die, aku mencoba menguatkan hatiku. namun aku manusia, aku wanita, dan aku punya rasa. aku sakit hati die. kulampiaskan tangisku di ruangan di samping UKM Kaffe Ide, Pramuka yah kembali pada dari mana aku mendapati keluargaku. pelukan resti menghalau luhku walau sejenak, memang aku tak pernah menangis sebelumnya. 

" Aku tau sekarang, ternyata kau wanita, wik... menangislah dan luapkan semuanya" kata ka Naovan saat melihatku menangis. 

luapan tangisku masih tertahan dikerongkonganku, sms ka wian menghentikan luhku sesaat. met berbuka ... ucapan itu menyadarkanku jika sebentar lagi magrib menghampiriku. rasanya aku sudah lupa pada haus yang menghampiriku siang tadi, dan aku sudah lupa pada lapar yang menjadikanku lemas siang tadi. 

die, oom, fikry dan temen - temen menghampiriku di pramuka. aku tak bergeming die, kau tau kenapa? aku tak mau banyak bicara saat emosi karena aku takut melukai lawan bicaraku. abang menghampiriku die, tapi aku masih tertunduk menahan isakku 

" Maafkan saya, tak ada niatan untuk membuatmu sakit hati. tadi hanya bercanda." begitu ungkapnya. 

" iah maafkan w2k juga." setelah itu w2k beranjak lagi ke BEM. bukan karena ada hal yang ingin aku selesaikan, aku hanya tak mau meluapkan emosi ne die. bercanda kata abang? yah lucu ko. bahkan sangat lucu, hingga menjatuhkan aku pada situasi jiwa yang jatuh, Astagfirullah... 

die, kau tau aku sering ngawur ngambil keputusan jika sedang emosi kaya gini. makanya aku memilih diam, menunggu redam emosiku. 

aku tau pasti abang punya maksud baik dari kata - kata pedasnya tadi. mungkin saja aku belum bisa menerimanya dengan lapang jika aku memang tak bisa menjadi organizatoris yang baek. aku yakin hal ini akan menjadikanku lebih tau kenapa harus aku yang merasakan? 

kenapa mesti sakit hati juga jika akhirnya tak akan menjadikan iklim di organisasiku menjadi lebih baek. 

- thanks untuk schock terapinya - 

die, thanks ia udah mau dengar curhatku. 
.: Romantika berorganisasi April262010

Pesan Orang Tua kepada Anaknya

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yg semula. Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku, ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dulu aku mengajarimu. 
Ketika aku mengulang kata2 tentang sesuatu yg telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku. Ketika kau kecil, aku selalu mengulang cerita yang telah beribu2 kali kuceritakan agar kau tidur. 
Ketika aku memerlukanmu utk memandikanku, jangan marah padaku. Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara utk membujukmu mandi? 
Ketika aku tak paham sedikit pun tentang teknologi dan hal baru, jangan mengejekku. Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu. 
Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil. 
Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku, apa yg dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas. 
Ketika kau memandang aku mulai menua, janganlah berduka. Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan. Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalani sisa hidupku. Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu. 

.: copied of Serra fonna's book pg. 170-171. 
Semoga menginspirasi kita untuk melakukan yang terbaik bg kedua orangtua kita.

Tuhan Punya Cara Lain

Kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuham membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang dibutuhkan untuk menopang cita-cita dan harapan yg kita mintakan. Kita mungkin tidak akan pernah dpat "terbang". Sesungguhnya, Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Kita memohon kekuatan dan Tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan agar membuat kita tegar. 
Kita mohon kebijakan dan Tuhan memberi kita berbagai persoalan hidup utk diselesaikan agar kita menjadi bijaksana. 
Kita mohon keteguhan hati dan Tuhan memberi bencana dan bahaya utk diatasi. 
Kita mohon cinta dan Tuhan memberi kita orang2 yg bermasalah utk diselamatkan dan dicintai. 
Kita mohon kemurahan hati dan Tuhan memberi kita kesempatan yang silih brganti. 
Begitulah cara Tuhan membimbing kita. Apakah jika kita tidak memperoleh apa yg kita inginkan berarti kita tidak mendapatkan segala yang kita butuhkan?


bersambung.........

Kenapa Harus Mengeluh

Hari ini sebelum kita mengeluh tentang rasa dari makanan kita, pikirkan tentang seseorang yg tidak punya apapun utk dimakan. 
Sebelum kita mengeluh tak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yg harus meminta-minta di jalanan. 
Sebelum kita mengeluh bhwa kita buruk, pikirkan tentang seseorang yg berada pd tingkat yg terburuk di dalam hidupnya. 
Sebelum kita mengeluh tentang pasangan kita, pikirkan tentang seseorang yg memohon kepada Tuhan utk diberikan teman hidup. 
Sebelum kita mengeluh tentang nasib hidup, pkirkan tentang seseorang yg meninggal terlalu cepat. 
Sebelum mengeluh tentang jauhnya kita naik kendaraan, pikirkan tentang seseorang yg harus menempuh jarak dengan brjalan. 
Saat kita mengeluh tentang kejenuhan kuliah, pikirkan tentang seseorang yg tdk bisa kuliah karena tak punya biaya. 
Dan, disaat kita lelah dan mengeluh tentang pekerjaan, pikirkan tentang pengangguran dan org2 cacat yg mencari pekerjaan seperti kita.... 
Hari ini sebelum kita mengeluh lelah utk berkegiatan, pkirkan tentang seseorang yang lumpuh menarik kursi rodanya. 
Sebelum kita menunjukkan jari telunjuk untuk menyalahkan org lain, pikirkanlah bhwa ke empat jari kita menunjuk pada kita dan tidak ada org yg tak pernah membuat kesalahan. 
Jika kita mampu berpikir dahulu sebelum mengeluh, maka kita akan bisa bersyukur kepada Tuhan bahwa kehidupan ini begitu indah. Dan semuanya begitu tidak adil jika kita terus mengeluh. 

_kenapa harus mengeluh? Ketika kita bisa bersyukur_ 
.: wi2an's evaluati0n combine with serrafonna's book.

Tangan Ibu

Beberapa tahun yg lalu, ketika ibu saya berkunjung, ia mengajak saya utk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah gaun yg baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dg org lain dan saya bukanlah org yg sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut. Kami mengunjungi setiap toko yg menyediakan gaun wanita. Ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. 
Seiring hari yg berlalu, saya mulai lelah dan ibu mulai frustrasi. Akhirnya, pada toko terakhir kami kunjungi, ibu saya mencoba satu stel gaun biru yg cantik terdiri dari 3 helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian, saya melihat bgmana ia mencoba pakaian tsb dan dg susah mencoba untuk mengikat talinya. Ternyata, tangan2nya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia tidak dpt melakukannya. 
Seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yg dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata saya yg mengalir keluar tanpa saya sadari. Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke kamar ganti utk mengikatkan tali gaun tersebut. Pakaian ini begitu indah dan dia membelinya. 
Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tsb terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya. Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian tsb dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengikat tali blusnya. Kedua tangan yg penuh dg kasih yg pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa utk saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yg paling membekas dalam hati saya. 
Kemudian, pada sore harinxa saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya dan memberitahukannya bahwa kedua tangan beliau adalah tangan yg paling indah di dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dpat melihat dan merasa betapa bernilai dan berharganya kasih sayang seorang ibu. Saya hanya bisa berdoa semoga suatu hari kelak tangan dan hati saya akan memiliki keindahannya trsendiri. 

DUNIA INI MEMILIKI BANYAK KEAJAIBAN. SEGALA CIPTAAN TUHAN YG BEGITU INDAH DAN AGUNG, TETAPI TAK SATUPUN YG DAPAT MENANDINGI KEINDAHAN TANGAN IBU (bev hulsizer) 

copied of Serrafona's book pg. 173-174 
_semoga menginspirasi_

Pernahkah

Pernahkah kamu merasakan bahwa kamu mencintai seseorang meski kamu tahu ia tak lagi sendiri dan meski kamu tahu cintamu mungkin tak berbalas, tapi kamu tetap mencintainya? 
Pernahkah kamu merasakan bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yg kamu cintai meski kamu tau ia takkan pernah peduli ataupun ia peduli dan mengerti tp ia tetap pergi? 
Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta, tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia, bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah? 
Aku pernah ! 
Aku pernah tersenyum meski terluka karena yakin Tuhan akan menjadikannya untukku. 
Aku pernah menangis kala bahagia karena takut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja. 
Aku pernah bersedih kala bersamanya karena takut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti. 
Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya karena sekali lagi cinta tak harus memiliki dan Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yg lain untukku. 
Aku tetap tertawa saat berpisah dgnya karena sekali lg cinta tak harus memiliki dan Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yg lain untukku. 
Aku tetap bisa mencintainya meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku karena memang cinta ada dalam jiwa dan bukan dalam raga. 
Semua org pasti pernah merasakan cinta baik dr org tua, sahabat, kekasih, dan akhirnya pasangan hidupnya. 
Buat temanku yg sedang jatuh cinta, selamat yah! Karna cinta itu sangat indah. Semoga kalian selalu bahagia berbahagia. 
Buat temanku yg sedang terluka karena cinta, hidup itu bagaikan roda yg terus berputar. Satu saat akan berada di bawah dan hidup terasa begitu sulit, tetapi keadaan itu tidak utk selamanya. Bersabarlah dan berdoalah krn cinta yg lain akan datang dan menghampirimu. 
Buat temanku yg tak percaya akan cinta, buka hatimu. Jgn menutup mata akan keindahan yg ada di dunia. Cinta akan membuat hidupmu bahagia. Buat temanku yg mendambakan cinta, bersabarlah karena cinta yg indah tidak trjadi dalam sekejap. Tuhan sdg mempersiapkan sgala yg trbaik bagimu. 
Buat temanku yg mempermainkan cinta, sesuatu yg begitu murni dan tulus bukanlah utk dipermainkan. Cinta bukan suatu kehampaan. Semoga kalian berhenti mempermainkan cinta dan mulai merasakan kebahagiaan yg seutuhnya. 
Jadi hargailah dan nikmatilah cinta yg ada karena tidak ada sesuatu pun di dalam dunia ini yg mampu membuatmu lebih bahagia dr kebahagiaan yg di dapat dari sebuah cinta. 

_copied of serrafonna's book_ 
semoga menginspirasi