Bayangkan bila ada sebuah bank yang memberi anda pinjaman uang sejumlah Rp 86.400,- setiap paginya. Semua uang itu harus anda gunakan. Pada malam hari, bank akan menghapus sisa uang yang tidak anda gunakan selama sehari. Coba tebak, apa yang akan anda lakukan? Tentu saja anda akan menghabiskan semua uang pinjaman itu kan?
Setiap orang sebenarnya memiliki bank seperti itu, bank itu adalah waktu. Setipa pagi dia akan memberi anda 86.400 detik. Pada malam harinya ia akan menghapus sisa waktu yang tidak anda gunakan untuk tujuan baik. Karena ia tidak memberikan sisa waktunya kepada anda maka ia juga tidak memberikan waktu tambahan. Setiap hari ia akan membuat rekening baru untuk anda. Setiap malam ia akan menghanguskan yang tersisa. Jika anda tidak menggunakannya dengan baik maka kerugian akan menimpa anda. Anda tidak bisa menariknya kembali. Anda juga tidak bisa meminta "uang muka" untuk keesokan harinya. Anda harus hidup dengan simpanan hari ini. Untuk itu, investasikanlah untuk kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesan anda.
Jam terus berdetak, gunakan waktu anda dengan sebaik-baiknya.
Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN, maka tanyakanlah pada murid yanggagal naik kelas.
Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN, tanyakanlah pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU, tanyakanlah pada editor majalah mingguan.
Agar tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada teman yang menunggu untuk bertemu.
Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggaln pesawat terbang.
Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru terhindar dari kecelakaan.
Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK, maka anda harus bertanya kepada peraih medali perak Olimpiade.
Saturday, 21 April 2012
On Becoming a Learner
>: terinspirasi setelah membaca buku Andrias Harefa :<
Secara manusiawi kita sebagai manusia lahir
mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tak jauh berbeda dengan manusia
lainnya. Namun terkadang yang membedakan kita dengan manusia lainnya adalah
cara kita menyikapi kehidupan yang akan menentukan seberapa besar tanggung
jawab kita pada masyarakat. Yang perlu kita tahu adalah kita adalah makhluk
yang sengaja di ciptakan oleh Tuhan dengan segala kesempurnaan, dan pusat dari
kesempurnaan itu adalah Otak. Dimana bagian terkecil itulah yang menentukan hal
– hal besar dalam hidup kita. Karena dari situlah segala hal kita proses, (kaya
makanan aja)
Tugas manusia yang pertama adalah sebagai
pembelajar, pembelajar yang belajar terus menerus di sekolah besar kehidupan
nyata untuk semakin memanusiawikan dirinya. Kedua, menjadi pemimpin sejati
dengan cara menerima tanggung jawab yang diberikan untuk menciptakan masa depan
bagi dirinya, lingkungannya, perusahaan dan organisasi dimana ia bekerja.
Ketiga, bertumbuh menjadi guru bagi dirinya (yang hasilnya akan dilihat dari
attitude yang dimilikinya), guru bagi lingkungannya yang merupakan efek dari
keberhasilan dari proses sebelumnya, Namun yang paling mulia adalah mampu
menjadi guru bagi bangsanya, bagi seluruh umat manusia di sekolah besar yang
diberi nama kehidupan.
Konsep tri tugas, tanggung jawab dan panggilan
kemanusiaan ini merupakan gagasan penulis kondang Andrias Harefa, yang ia
merasa kecewa dengan keadaan yang memaksa kita untuk mengamini segala hal yang
di sajikan dalam pendidikan formal yang kadang tak mampu menjawab permasalahan
yang ada dewasa ini.
“
aku tulis buku ini karena
Aku
mendengar, melihat, dan merasakan
Jiwa
bangsaku sekarat berat
Rakyat
lapar dan melarat
Negara
kesepian tak punya teman untuk berutang tanpa ancaman.
Masyarakat
dan pejabat sama tercela, munafik, dan tak bermoral
Umat
telah lama menjadi murtad dari ajaran kitab_Nya
Aku
tulis buku ini karena,
Jiwaku
tersiksa dan meronta – ronta
Menyaksikan
rakyatku saling bertengkar
Menyaksikan
kelompok – kelompok sectarian
Saling
cakar mencakar
Menyaksikan
elit politik, khususnya MPR dan parpol jewer menjewer
Menyaksikan
konglomerat tak kunjung bertobat
Menyaksikan
koruptor yang masih di setor – setor
Menyaksikan
kolusi masih lestari
Menyaksikan
nepotisme- kronisme masih berseri
Menyaksikan
pakar – pakar kehilangan nalar
Kekurangan
gizi dan kasih
Menyaksikan
sikap anarki dan suka main hakim sendiri
Menyaksikan
etnis cina diperkosa sambil tertawa
Menyaksikan
peluru menembus dada mahasiswa
Menyaksikan
pelajar makin kurang ajar
Meyaksikan
ibu pertiwi diancam disintegrasi
Anak
kandungnya sendiri
Menyaksikan
guru – guru dikencingi murid – muridnya sendiri
Menyaksikan
… menyaksikan
Aku
tulis buku ini karena
Aku
masih punya sedikit akal sehat
Aku
masih punya sedikit hati nurani
Aku
masih punya determinasi
Aku
tulis buku ini karena
Aku
berutang pada tuhanku
Aku
berutang pada rakyatku
Aku
berutang pada alam negeriku
Aku
berutang pada diriku
Aku
tulis buku ini karena
Aku
ingin menjadi pembelajar
Yang
mengekspresikan jiwaku lewat perbuatan
Yang
menghitung uang dan waktu dengan nalar
Yang
mengasah ketrampilan dengan perkataan
…..
“Sepenggal
tulisan Andrias Harefa”
Rasanya haruh ketika kita yang notabene sebagai
makhluk pembelajar tak bisa menjawab peliknya kehidupan, rumitnya kasus yang
sengaja diciptakan oleh segelintir orang. Lantas siapakah yang bertanggung
jawab atas out put dari sebuah pendidikan dewasa ini.
Sering kita temui pelatihan, training dan kawan –
kawannya yang tujuannya meningkatkan kinerja dan kualitas pendidikan yang kita
miliki. Sesungguhnya bukan seberapa tenar trainer yang dihadirkan, seberapa
banyak orang yang ada atau seberapa sering kita ikuti pelatihan untuk
mengintegrasikan pendidikan yang kita miliki, tapi seberapa lapang hati kita
untuk berubah dan mengualitaskan diri kita dengan pendidikan yang kita miliki.
Seperti kata Winston Churchil “we are
shaping the world faster than we can change ourselves and we are applying to
the presents the habist of the past” (kita mengubah dunia lebih cepat dari
kemampuan kita mengubah diri sendiri dan kita menerapkan pada masa kini
kebiasaan masa lalu)
Ketika kita mau menerima kebaikan yang
sesungguhnya maka.
jkita bisa Memandang masa depan nanti:
- - Kita akan belajar, bahwa tidaklah penting apa yang kita miliki, tetapi yang penting adalah siapa diri kita ini sebenarnya (sebagai pribadi, sebagai kelompok, sebagai organisasi, dan sebagai bangsa Indonesia)
- - Kita akan belajar bahwa lingkungan akan memoengaruhi pribadi kita, tetapi kita harus bertanggung jawab untuk apa yang kita lakukan
- - Kita akan belajar, bahwa dua manusia dapat melihat hal yang sama persis, tetapi terkadang dari sudut pandang yang amat berbeda, dan itu manusiawi
- - Kita akan belajar bahwa mengampuni diri sendiri dan orang lain itu perlu kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus
- - Kita akan belajar bahwa butuh waktu bertahun – tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya
- - Kita akan belajar bahwa kita tidak dapat memaksa oranglain untuk memaksa oranglain untuk mencintai kita, kita hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang kita cintai
- - Kita akan belajar bahwa kritik yang tulus dari seorang lawan lebih berharga dari pujian palsu seorang kawan
- - Kita akan belajar bahwa sebaik – baiknya pasangan itu adalah mereka yang pasti pernah melukai perasaan kita dan untuk itu kita harus belajar memaafkannya
- - Kita akan belajar bahwa tidak ada yang instan atau serba cepat di dunia ini, semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali kita ingin sakit hati dan dikecewakan
- - Kita akan belajar, bahwa kita harus memilih apakah kita menguasai sikap dan emosi atau kita membiarkan sikap dan emosi itu yang menguasai kita
- - Kita akan belajar, bahwa kita punya hak untuk marah tanpa harus menjadi beringas terhadap sesame
- - Kita akan belajar, bahwa kata – kata manis tanpa tindangan adalah kemunafikan psiko-spiritual
- - Dan kita akan belajar banyak hal ketika kita mau membuka pikiran dan hati kita untuk menjadi manusia pembelajar yang bijak.
“kesenangan belajar memisahkan kaum muda dengan
kaum tua, sepanjang anda mau belajar anda tidak pernah menjadi tua” Rosalyn S.
Yallow
“ orang bijak tak harus terpelajar, dan kaum
terpelajar tak selalu bijak” Robert G.
Subscribe to:
Comments (Atom)
