Saturday, 30 November 2013

Katong Pulang Sudah (Jakarta part 2)


Katong Pulang sudah...
Ini adalah hari jumat, berarti sudah 3 hari kami di Jakarta. Pagi ini kami telah bersiap untuk kunjungan ke Kemendikbud, wajah berseri 5 anakku mengalihkan perutku yang keroncongan karena tak sempat sarapan pagi itu. Aku lega akhirnya mereka bisa membaur dengan teman—temannya, meskipun mereka masih banyak diam. Semoga diam mereka adalah proses mencerna dan belajar. Panitia membagi mereka menjadi 5 kelompok dan membagi bisnya. Beruntung pagi itu tidak macet, pelataran Kemendik menyambut langkah kecil ke 175an peserta KPCI kali itu. Ruangan besar di lantai 3 telah tertata rapi, setelah acara ceremonial selesai tiba saatnya mendengar penganugrahan piala untuk penulis cilik. Berkali aku membesarkan hati anakku, “meskipun kalian tidak ada yang berdiri diatas sana sebagai juara, tapi bagi ibu kalian semua adalah juara buktinya kalian su sampai disini to?,” kataku pada Tresia dan Fikram yang termangu menatap teman—temannya di depan menerima hadiah. Bukan hanya anakku saja yang ingin menerima gelar sebagai juara, pun peseerta lainnya. “Dong hebat ya ibu.” kata fikram
“kalau mau seperti mereka to, kamong harus rajin belajar menulis dan membaca buku.” timpalku. Membaca? Membaca keadaankah? Buku baca untuk anak—anak di tempat mereka masih sangat terbatas, toko bukupun belum ada. Perpustakaan daerah sangat sulit dijangkau karena jaraknya yang jauh. Terlebih untuk anak Pulau, untuk Fakfak dengan kondisi geografis yang unik itu membutuhkan perpustakaan apung sepertinya.
Acara telah usai, peserta putri makan siang sambil menunggu peserta putra solat jumat. Mereka mencari posisi ternyaman untuk makan, ada yang duduk di lantai, bersandar di tembok dan sebagaian di kursi yang tersedia. Aku menyapu lorong lantai 3 mencari dimana Tresia berada, aku menemukan dia duduk di dekat anak tangga. Wajahnya kuyu, seperti tidak bersemangat.
“sudah makan sayang?,” tanyaku sambil jongkok. Dia tak menjawab, hanya menggeleng ringan.
“kenapa? Kamu sakit kah?,” tanyaku lagi. Dia tak menjawab, aku buka kotak makannya. Utuh. Dia tak makan sepertinya. “kamu kenapa tara makan, kau pu perut sakit ka atau pusing?,” tanyaku ulang.
“ibu sa makan macam tara enak, sa pusing makan makanan begini.” jawabnya
“baru kamu tara makan apa– apa, nanti kau pu perut sakit bagaimana?,” balasku.
“Ibu, kapan katong pulang. Katong mau makan keladi.” tambahnya pelan.
Deg, serasa senyap disekitar. Aku tak membayangkan bagaimana rasa rindunya pada keladi. Aku memeluknya, “kamu mau makan keladi? Tapi disini tarada keladi sayang. Makan nasi kosong sudah, sedikit saja. Sebentar kita cari jajan yang kau mau” balasku. Ternyata pagi tadi dia tak makan juga, pantas sepanjang kegiatan ia tak semangat seperti hari sebelumnya. Aku membantunya membereskan makan yang tak dimakan. Aku minta dia masuk ke ruangan bergabung dengan teman—teman kelompoknya. Aku bertanya apakah panitia menyediakan keladi atau kasbi (Singkong) karena Tresia tidak mau makan dari pagi. Well, untung panitia begitu tanggap, tak lama ada yang pergi membelikan ubi dan singkong goreng.
Di satu sisi, keempat anak lelaki itu makan dengan lahab. Tapi banyak lauk yang tak dimakan, mereka bilang itu tidak cukup enak di perut mereka. Maksi makan kue bolu berwarna pink muda itu banyak—banyak. Dia suka nampaknya. Mbak dini, salah satu panitia terlihat senang ketika melihat Maksi makan banyak tidak seperti Tresia tadi. Ketika panitia yang membeli singkong goreng itu datang aku memanggil Tresia, binar wajah Tresia berganti saat melihat singkong goreng di plastik. Ia makan banyak—banyak. Lega, saat senyum Tresia mengembang lagi siang itu.
Karena terlalu banyak, Tresia menyimpannya untuk dimakan sore nanti. Kami kembali ke ruangan. Tak lama setelah makan siang, kami bersiap untuk melanjutkan kegiatan yang ditunggu—tunggu oleh hampir seluruh peserta yaitu ke ‘Kidzania’ . Sebagaian peserta yang datang dari jakarta dan sekitarnya sudah pada tahu tempat apa kidzania itu, tapi tidak untuk 5 anakku. Setelah turun dari bis, semua menghambur ke bangunan penuh lampu itu. Anak—anak menaiki eskalator. Kali itu aku tidak lagi khawatir karena mereka sudah aku training naik eskalator kemarin di bandara Makasar. Setelah masuk di kidzania, wajah semua peserta berubah. Yang tadi sedih menjadi riang, yang sakitpun sembuh instant. Lalu 5 anakku wajahnya sumringah, tak bisa menggambarkan betapa senangnya mereka. Aku membiarkan mereka memilih menu permainan yang mereka suka, Sulthon yang bergabung dengan teman—teman kelompoknya belajar membuat silverqueen, tango dan menikmati menu belajar lainnya. Tresia dengan Novi anak Rote menikmati Modeling Schoolnya Gatsby dan belajar berjalan diatas cat walk. Maksi, Mai dan Fikram mencoba menjadi supir taksi, ikut balap mobil, membuat SIM dan mereka menikmatinnya. Ah, semoga keceriaan mereka bertahan sampai di Fakfak nanti. Mereka mengumpulkan uang yang mereka dapatkan, mereka membelanjakan uangnya di kedai—kedai yang tersedia. Mereka senang bukan main.
Jam tangan Q & Qku menunjukkan pukul 17.30 WIB waktunya kembali ke hotel. Kami menuruni eskalator menuju lobbi depan. Seperti biasa suguhan jakarta dengan macet yang cukup tidak wajar, kami terpaksa harus menunggu bis cukup lama. Wajah ceria yang tadi mereka punya seketika berubah. Aku kembali mengalihkan bosan mereka dengan meminta mereka bercerita menu permainan apa yang sudah mereka coba barusan. Mentah. Mungkin mereka lelah. Kami menikmati 20 menit masa menunggu bis keluar dari parkiran. Berdiri disampingku Maksi dan Tresia, sedangkan yang lain mencari posisi nyamannya. “Ibu, baru katong besok pi mana?,” tanya maksi mengawali.
“Besok kamong jalan—jalan dulu to? Ke Monas, toko buku cari oleh—oleh apa?,” jawabku sambil menundukkan kepalaku demi melihat matanya yang lelah. Dia menaikkan dagu sambil tersenyum datar, senyum yang ia berikan saat lelah dan tidak suka. “baru kapan katong pulang?,” tambahnya.
“Nanti kalau su dapat tiket, sebentar ibu beli tiket dulu.” aku menepuk bahunya.
“Ibu, katong pulang sudah...,” balasnya membuat aku mengernyitkan dahi.
“Maksi, kenapa pengen pulang. Kita belum jalan—jalan lagi.” tambahku. Tresia hanya menjadi pendengar kali itu. “katong su rindu pinang, ibu.” jawabnya jujur. Tresia tertawa kecil, aku menggeleng sambil menghela nafas. Aku tatap mata Maksi dalam, aku mengusap kepalanya berkali.
“Kau, masih bisa tahan tara makan pinang sampai hari senin ka?,” tanyaku, dia tak menjawab ekspresinya sama mengangkat dagu sambil menyunggingkan senyum datarnya.
“disini tarada yang jual pinang lai, bagaimana kalau kau makan gula—gula saja.”tawarku mencari solusi. “Gula—gula tara enak ibu.”timpalnya. Sedangkan Tresia terkekeh saat mendengar pengakuan Maksi tentang Pinang. Aku tidak bisa melarangnya untuk tidak rindu dengan pinang, tapi kali ini aku kehabisan akal bagaimana mencari pinang di Jakarta? Aku merangkulnya.
“Sabar yah, kalau kau su sampai Fakfak kau bisa makan pinang banyak—banyak.” tambahku tak mengobati rindunya. Maafkan ibu nak, tidak menyiapkan apa yang biasa dekat dengan kalian. Batinku sepanjang jalan menuju ke hotel. Mungkin saja kalian rindu dengan mama dan bapak.
Karena ini adalah kali pertama untuk Tresia, Maksi, Sulthon dan Fikram pergi lama dan jauh dari keluarganya. Tapi ibu sudah berusaha menjadi orangtua kalian meskipun tidak sehebat mereka. Ah, aku menitikkan luh juga akhirnya. Aku tak bisa memaksakan anak—anak itu betah di Jakarta dengan kerinduannya pada keladi, pinang yang sesungguhnya itu hanya secuil dari kerinduan mereka pada keluarganya. Macet senja itu terbungkus dengan keharuan mendengar pengakuan rindu dari Tresia dan Maksi. Malam itu juga aku berjanji akan mencari tiket untuk pulang ke Fakfak, mencari penerbangan tercepat dengan budget yang kami punya. Sabar nak, kau hebat pasti bisa menahan rindu sedikit lebih lama dari teman—teman kalian lainnya. Senyum kelima anak hebat itu bermain di langit—langit bis yang aku tumpangi. Gemerlap lampu kota bisu menina bobokan seisi bis yang nampak lelah. Esok akan ada kisah baru bersama mereka... Percayalah :)



Katong Pi Jakarta (Jakarta Part 1)


Ini adalah hari ketiga petualangan mereka di Jakarta. Mengenalkan mereka pada ibu kota negara yang sering diagung—agungkan orang kampung. Baiklah aku akan menceritakan asal muasal kenapa aku dan 5 anak hebat ini ipi kompetisi sesungguhnya. Bahkan sebelumnya mereka tak pernah mengikuti lomba sejenisnya, tapi keberuntungan memihak mereka sehingga keluarlah nama—nama mereka di daftar peserta KPCI. Yah namanya Konferensi Penulis Cilik Indonesia. Tidak mudah untuk bisa sampai di Jakarta, setelah ribet dengan urusan birokrasi dan minimnya dana yang ada menjadikan tantangan apakah mereka berlima bisa hadir di acara tersebut. Aku yakin, Allah akan memberikan jalanNya. Sempurna, ada jalan yang tak disangka. Padahal itu sudah di lobbi juga. Senin sore setelah fix mendapat tiket untuk terbang aku dan salah seorang temanku. Sebut saja Mike nama sesungguhnya, memutuskan untuk naik kampung. Tidak dengan kendaraan umum yang biasa kami pakai untuk ke kota pastinya, karena sudah tidak ada taksi yang jalan di tengah sore menjelang petang begini. Meminjam motor, begitulah jawabnya. Menghitung kilometer yang panjang, 2 jam bersama gelap hutan dan dingin yang menusuk. Sorot jupiter MX itulah yang menjadi penerang sepanjang jalan. Suara jangkrik dan binatang malam menambah sempurna suasana hutan malam itu. Lelah beradu bersama kantuk, kalau tidak sedang dijalan mungkin aku sudah jalan—jalan bersama mimpiku. Ah, aku harus menahannya demi esok pagi. Diujung mata memandang binar lampu kampung Pikpik memancar, memberikan jawaban jika sebentar lagi aku bisa rebahan atau sekedar bersandar. Rumah kepala sekolah SD si Mike menjadi persinggahan pertama dan berlanjut ke rumah hostfam’nya. Setelah merampungkan urusan dengan orangtua murid yang akan ikut berangkat, akhirnya aku bisa benar—benar rebahan di kamar penuh ilmu pengetahuan. Hahhaha, aku suka geli jika menyebut kamar itu. Mike memberi nama kamarnya demikian karena dikamarnya ramai dengan buku—buku. Well, itu tak penting karena esok hari aku harus melanjutkan perjalananku ke kampungku yang kira—kira satu jam dari kampung ini.

sampai di Jakarta. Ajang menulis bergengsi yang diadakan Kemendikbud dan Mizan telah membuka kesempatan bagi anak—anak Fakfak untuk mencic
19 November, aku telah berada di kampungku sekarang. Setelah menyampaikan beberapa hal pada orangtua Sulthon dan Fikram aku kembali lagi ke kota dengan jupiter MX itu lagi. Entah bagaimana ceritanya, Mike lupa ngisi bensin sehingga menyebabkan aku deg—degan setengah mati takut kehabisan bensin ditengah jalan. Ga siap aja dorong motor sampai di kota. Hahhaha, benar saja demi mengurangi resiko ngedorong motor maka setiap jalan turunan kami matikan mesin hahhaha ini demi ngirit. Finally, kami sampai di kota dengan selamat tanpa ngedorong motor. Bagaimana rasa tubuhku saat itu? Akupun tak bisa menceritakan. Kantuk, lelah dan begitu banyak pending matters yang harus diselesaikan ditambah kami langsung ada rapat dengan dinas siang itu. Jika boleh memilih, aku ingin tidur sesiangan. Tapi lagi—lagi demi esok pagi aku harus keluar dari pilihanku dan mengerjakan hal yang semestinya aku kerjakan demi esok pagi.
Malam tidak membiarkan aku tidur lebih cepat karena beberapa hal yang harus aku siapkan. Baik aku akan kenalkan siapa saja yang akan ikut serta dalam petualangan kali itu ada Sulthon yang luar biasa unik, Fikram. Mereka berdua ini dari Sdku. Ada Maksi yang sering dipanggil maksimal, juga Tresia yang paling cantik diantara mereka berlima. Mereka berdua dari SD Mike. Terakhir yang paling cool diantara yang lain adalah si Saharudin, nama beken dikampungnya Mai. Dia dari SD si Fajri. Dan aku sendiri adalah orang yang paling ayu dan ngangenin di antara 6 temanku, hahhaha jangan percaya yah kalu belum ketemu aku.
Nokiaku berbunyi berkali menunjukkan pukul 4, berarti tidurku harus disudahi. Aku membangunkan mereka berlima dan meminta mereka untuk bergegas mandi. Jam 5.30 kami menuju bandara, masih senyap. Ruas—ruas jalan masih kosong, udara pagi itu menusuk pelan.
“ah, aku masih belum percaya jika hari ini anak-anak ini akan berangkat ke Jakarta. Meskipun si Mai sudah pernah mengikuti ajang menulis di bulan kemarin.” batinku sambil menguliti senyum renyah anak –anak dalam taksi. Apron Torea itu sudah penuh dengan orang, karena Wings Air menuju Sorong sudah nangkring di atas lapangan landas. Kami harus melakukan perjalanan jauh  lewat Sorong, pindah pesawat transit Makasar  barulah sampai Jakarta. Ini semua karena tiket Fakfak—Jakarta habis, tak seperti biasanya bukan? Berkali aku sudah mengingatkan anak—anak untuk saling menjaga dan membantu dengan begitu mereka telah menolongku. Ini adalah kali pertama aku melakukan perjalanan jauh dengan 5 anak sekaligus.
Binar mata anak—anak mengatakan betapa mereka bahagia saat menaiki anak tangga Wings air menuju badan pesawat. Perjalanan satu jam menuju Sorong telah habis, doaku saat itu tak banyak mereka mendengar apa kataku dan tidak mabuk perjalanan. Matahari Domine pagi itu sedikit terik, asap rokok mengepul ringan di lorong kedatangan. Setelah mengambil barang—barang kami menyusuri aspalan menuju tempat pemberangkatan.
“Ibu, katong naik pesawat lai jam berapa?,” tanya Maksi
“Jam 11, jadi kita harus nunggu dulu yah.” jawabku sambil mengusap rambut keritingnya.
“ Oh mamae, katong harus menunggu lama begitu Ibu. Sekarang saja baru jam 7.30.” tukas Sulthon.
Benar, kami harus menunggu 3,5 jam ini bukan waktu yang sebentar. Semoga mereka tidak bosan, doa tambahanku. Setelah sarapan soto di kantin bandara, kami hanya duduk—duduk di depan bangku ticketing. Gesture mereka mengatakan ‘bosan’ ditambah terik yang menghardik pagi itu.
“sabar ya nak, sebentar lagi kita bisa check in dan kalian tidak akan kepanasan lagi kalu su di dalam” kataku mencoba menyabarkan mereka. Padahal aku paling tidak sabar menunggu juga, tapi kali itu aku harus memakai topeng untuk menutupi ketidaksabaranku didepan anak—anak.
“Brruuuuk...” suara koper milik Sultho jatuh bersama orangnya. Aku beranjak dari dudukku dan menghampiri dia yang meringis kesakitan.
“Nah, kau tara dengar apa kata ibu to. Jadi syukur kau jatuh...’ kata Fikram ketika melihat sulthon jatuh. “usssst.....” aku memalingkan wajahku pada Fikram dan 3 anak yang lain agar berhenti mengejek. Dari 10 menit yang lalu Sulthon sibuk dengan kopernya, ia duduk diatasnya dan didorong-dorong macam mobilan. Akhirnya ia jatuh.
 ................ bersambung